Rabu, 13 Mei 2026
- Advertisement -

Kasus Ikan Mati di Kampar, Nelayan Tunggu Hasil Uji dan Kompensasi

KAMPAR (RIAUPOS.CO) – Dugaan pencemaran Sungai Tapung di Kecamatan Tapung Hilir masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar, sementara nelayan mulai mendesak adanya kompensasi atas kerugian yang mereka alami.

Peristiwa ini mencuat setelah ditemukan sekitar 30 ton ikan mati mendadak pada Senin (30/3) lalu di aliran Sungai Tapung yang melintasi Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Koto Aman.

Camat Tapung Hilir, Nurmansyah, menyampaikan bahwa hasil uji laboratorium dari DLH diperkirakan akan segera keluar sesuai dengan kesepakatan dalam rapat dengar pendapat sebelumnya.

Ia mengatakan, pihak kecamatan saat ini masih menunggu hasil tersebut dengan harapan dapat memberikan kejelasan terkait penyebab kejadian.

Menurutnya, kondisi sungai saat ini mulai menunjukkan perbaikan dan masyarakat sudah kembali melakukan aktivitas menangkap ikan, meskipun hasil tangkapan belum kembali normal.

Dampak paling besar dirasakan oleh nelayan tangkap di wilayah Sekijang, Koto Aman, dan Kota Garo, serta petani keramba yang mengalami kerugian akibat kematian ikan.

Baca Juga:  Momen Mengharukan, Tahanan Polres Kampar Mantap Masuk Islam

Berdasarkan data sementara, sekitar 450 warga terdampak dari kejadian ini, dengan total kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Nurmansyah menyebutkan, dalam satu bulan terakhir kerugian yang dialami masyarakat diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar.

Saat ini, pemerintah kecamatan bersama masyarakat mendorong perusahaan yang diduga menjadi penyebab pencemaran untuk segera memberikan kompensasi.

Ia menegaskan, pihak perusahaan sebelumnya telah menyatakan kesediaannya memberikan ganti rugi apabila terbukti bersalah.

Namun hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari perusahaan, baik dalam bentuk bantuan maupun kunjungan langsung ke lokasi terdampak.

Perwakilan nelayan dari sejumlah desa juga telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak perusahaan, namun belum mendapatkan respons yang memadai.

Pemerintah kecamatan sendiri telah mengirimkan surat resmi kepada perusahaan berisi data kerugian masyarakat dan kini masih menunggu tindak lanjut.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kampar, Agus Risna, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima surat dari DLH, namun belum membukanya karena masih berada di luar daerah.

Baca Juga:  Jaga Kamtibmas Jelang Pilkada, Polres Kampar Pastikan Tidak Ada Ruang Bagi Pelaku Kejahatan

Ia menyebutkan, surat tersebut akan ditelaah setelah dirinya kembali, sebelum menentukan langkah lanjutan seperti kemungkinan menggelar rapat dengar pendapat.

Di sisi lain, pihak DLH Kampar melalui Plt Kepala Dinas belum memberikan keterangan terkait hasil uji laboratorium dugaan pencemaran tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian serupa telah terjadi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir, yakni pada Desember 2025, Februari 2026, dan Maret 2026, dengan insiden terakhir menjadi yang paling parah.

Dari temuan di lapangan, di bagian hulu Sungai Tapung terdapat aktivitas pabrik kelapa sawit dan perkebunan yang sedang melakukan peremajaan.

Proses tersebut diduga menggunakan bahan tertentu yang berpotensi mencemari aliran sungai, meskipun hal ini masih menunggu hasil resmi dari uji laboratorium DLH Kampar.

KAMPAR (RIAUPOS.CO) – Dugaan pencemaran Sungai Tapung di Kecamatan Tapung Hilir masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar, sementara nelayan mulai mendesak adanya kompensasi atas kerugian yang mereka alami.

Peristiwa ini mencuat setelah ditemukan sekitar 30 ton ikan mati mendadak pada Senin (30/3) lalu di aliran Sungai Tapung yang melintasi Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Koto Aman.

Camat Tapung Hilir, Nurmansyah, menyampaikan bahwa hasil uji laboratorium dari DLH diperkirakan akan segera keluar sesuai dengan kesepakatan dalam rapat dengar pendapat sebelumnya.

Ia mengatakan, pihak kecamatan saat ini masih menunggu hasil tersebut dengan harapan dapat memberikan kejelasan terkait penyebab kejadian.

Menurutnya, kondisi sungai saat ini mulai menunjukkan perbaikan dan masyarakat sudah kembali melakukan aktivitas menangkap ikan, meskipun hasil tangkapan belum kembali normal.

- Advertisement -

Dampak paling besar dirasakan oleh nelayan tangkap di wilayah Sekijang, Koto Aman, dan Kota Garo, serta petani keramba yang mengalami kerugian akibat kematian ikan.

Baca Juga:  Kasus Viral Guru Banting Kotak Nasi, Kepsek Dinonaktifkan dan Dua Guru Komite SDN 021 Tarai Bangun Diberhentikan

Berdasarkan data sementara, sekitar 450 warga terdampak dari kejadian ini, dengan total kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.

- Advertisement -

Nurmansyah menyebutkan, dalam satu bulan terakhir kerugian yang dialami masyarakat diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar.

Saat ini, pemerintah kecamatan bersama masyarakat mendorong perusahaan yang diduga menjadi penyebab pencemaran untuk segera memberikan kompensasi.

Ia menegaskan, pihak perusahaan sebelumnya telah menyatakan kesediaannya memberikan ganti rugi apabila terbukti bersalah.

Namun hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari perusahaan, baik dalam bentuk bantuan maupun kunjungan langsung ke lokasi terdampak.

Perwakilan nelayan dari sejumlah desa juga telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak perusahaan, namun belum mendapatkan respons yang memadai.

Pemerintah kecamatan sendiri telah mengirimkan surat resmi kepada perusahaan berisi data kerugian masyarakat dan kini masih menunggu tindak lanjut.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kampar, Agus Risna, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima surat dari DLH, namun belum membukanya karena masih berada di luar daerah.

Baca Juga:  Deputi II KSP Bersama Bupati Kampar Bahas Masalah Agraria dan Koperasi

Ia menyebutkan, surat tersebut akan ditelaah setelah dirinya kembali, sebelum menentukan langkah lanjutan seperti kemungkinan menggelar rapat dengar pendapat.

Di sisi lain, pihak DLH Kampar melalui Plt Kepala Dinas belum memberikan keterangan terkait hasil uji laboratorium dugaan pencemaran tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian serupa telah terjadi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir, yakni pada Desember 2025, Februari 2026, dan Maret 2026, dengan insiden terakhir menjadi yang paling parah.

Dari temuan di lapangan, di bagian hulu Sungai Tapung terdapat aktivitas pabrik kelapa sawit dan perkebunan yang sedang melakukan peremajaan.

Proses tersebut diduga menggunakan bahan tertentu yang berpotensi mencemari aliran sungai, meskipun hal ini masih menunggu hasil resmi dari uji laboratorium DLH Kampar.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

KAMPAR (RIAUPOS.CO) – Dugaan pencemaran Sungai Tapung di Kecamatan Tapung Hilir masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kampar, sementara nelayan mulai mendesak adanya kompensasi atas kerugian yang mereka alami.

Peristiwa ini mencuat setelah ditemukan sekitar 30 ton ikan mati mendadak pada Senin (30/3) lalu di aliran Sungai Tapung yang melintasi Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Koto Aman.

Camat Tapung Hilir, Nurmansyah, menyampaikan bahwa hasil uji laboratorium dari DLH diperkirakan akan segera keluar sesuai dengan kesepakatan dalam rapat dengar pendapat sebelumnya.

Ia mengatakan, pihak kecamatan saat ini masih menunggu hasil tersebut dengan harapan dapat memberikan kejelasan terkait penyebab kejadian.

Menurutnya, kondisi sungai saat ini mulai menunjukkan perbaikan dan masyarakat sudah kembali melakukan aktivitas menangkap ikan, meskipun hasil tangkapan belum kembali normal.

Dampak paling besar dirasakan oleh nelayan tangkap di wilayah Sekijang, Koto Aman, dan Kota Garo, serta petani keramba yang mengalami kerugian akibat kematian ikan.

Baca Juga:  Enam Pelayan Wanita dan Pemilik Karaoke yang Diamankan saat Razia di Pasir Putih Membayar Denda dan Membuat Pernyataan

Berdasarkan data sementara, sekitar 450 warga terdampak dari kejadian ini, dengan total kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.

Nurmansyah menyebutkan, dalam satu bulan terakhir kerugian yang dialami masyarakat diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar.

Saat ini, pemerintah kecamatan bersama masyarakat mendorong perusahaan yang diduga menjadi penyebab pencemaran untuk segera memberikan kompensasi.

Ia menegaskan, pihak perusahaan sebelumnya telah menyatakan kesediaannya memberikan ganti rugi apabila terbukti bersalah.

Namun hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari perusahaan, baik dalam bentuk bantuan maupun kunjungan langsung ke lokasi terdampak.

Perwakilan nelayan dari sejumlah desa juga telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak perusahaan, namun belum mendapatkan respons yang memadai.

Pemerintah kecamatan sendiri telah mengirimkan surat resmi kepada perusahaan berisi data kerugian masyarakat dan kini masih menunggu tindak lanjut.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kampar, Agus Risna, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima surat dari DLH, namun belum membukanya karena masih berada di luar daerah.

Baca Juga:  Kapolres Didik Priyo Berikan Kue Ulang Tahun kepada Kajari Kampar

Ia menyebutkan, surat tersebut akan ditelaah setelah dirinya kembali, sebelum menentukan langkah lanjutan seperti kemungkinan menggelar rapat dengar pendapat.

Di sisi lain, pihak DLH Kampar melalui Plt Kepala Dinas belum memberikan keterangan terkait hasil uji laboratorium dugaan pencemaran tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian serupa telah terjadi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir, yakni pada Desember 2025, Februari 2026, dan Maret 2026, dengan insiden terakhir menjadi yang paling parah.

Dari temuan di lapangan, di bagian hulu Sungai Tapung terdapat aktivitas pabrik kelapa sawit dan perkebunan yang sedang melakukan peremajaan.

Proses tersebut diduga menggunakan bahan tertentu yang berpotensi mencemari aliran sungai, meskipun hal ini masih menunggu hasil resmi dari uji laboratorium DLH Kampar.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari