Kamis, 22 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Populasi Gajah Sumatera di Riau Tercatat 216 Ekor, BBKSDA Perkuat Habitat

MINAS (RIAUPOS.CO) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau terus memperkuat perlindungan gajah Sumatera di tengah ancaman penyusutan populasi. Saat ini, jumlah gajah liar di Provinsi Riau diperkirakan mencapai 216 ekor yang tersebar di delapan kantong habitat.

Data tersebut disampaikan Kepala BBKSDA Riau, Supartono, dalam kegiatan Bincang-Bincang Konservasi bersama awak media bertema “Bersinergi untuk Masa Depan Gajah Sumatera: Edukasi, Kolaborasi, dan Konservasi” yang digelar di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Sabtu (13/12).

Supartono menjelaskan, delapan kantong habitat gajah di Riau membentang dari wilayah perbatasan Sumatera Utara hingga perbatasan Provinsi Jambi. Meski jumlah tersebut menurun dibandingkan dekade 1980-an, kondisi populasi gajah Sumatera di Riau saat ini masih tergolong cukup aman.

Baca Juga:  Kemungkinan PSBB Riau Tidak Diperpanjang Dibahas Lintas Kementrian

“Berdasarkan kajian lapangan, kami masih menemukan banyak anak gajah, terutama di kantong habitat Tesso dan kawasan Giam Siak Kecil (GSK),” ujarnya.

Ia mengungkapkan, penurunan populasi gajah disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti perburuan liar, kematian alami, serta kasus kematian akibat racun. Karena itu, BBKSDA Riau berkomitmen mempertahankan seluruh kantong habitat yang masih tersisa.

Sebagai upaya jangka panjang, BBKSDA Riau juga memprioritaskan pembangunan koridor satwa untuk menghubungkan beberapa kantong habitat utama. Empat kawasan yang menjadi fokus penghubung koridor tersebut meliputi GSK–Suaka Margasatwa Balai Raja, Tesso Utara, dan Tesso Tenggara.

“Koridor ini penting agar pergerakan gajah tetap aman dan keberlanjutan habitatnya terjaga,” jelas Supartono.

Baca Juga:  Pesta Rakyat Dilaksanakan Tiga Hari

Ia juga memaparkan peran PLG yang dibentuk sejak era 1980-an sebagai pusat penanganan konflik antara gajah dan manusia. Gajah-gajah konflik yang ditangkap kemudian dilatih untuk membantu mitigasi konflik di lapangan.

Seiring waktu, peran gajah binaan berkembang, tidak hanya untuk mitigasi konflik, tetapi juga patroli kawasan hutan dan edukasi konservasi kepada masyarakat.

Saat ini, BBKSDA Riau mengelola 23 ekor gajah binaan yang tersebar di PLG Sebangga, PLG Minas, dan PKG Bulu Cina. Khusus di PLG Minas, terdapat 14 ekor gajah yang terdiri dari 10 jantan dan 4 betina.

“Setiap gajah memiliki keahlian masing-masing. Umumnya gajah jantan lebih sering dilibatkan dalam mitigasi konflik, tergantung tingkat kesulitan di lapangan,” tuturnya.(akh)

MINAS (RIAUPOS.CO) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau terus memperkuat perlindungan gajah Sumatera di tengah ancaman penyusutan populasi. Saat ini, jumlah gajah liar di Provinsi Riau diperkirakan mencapai 216 ekor yang tersebar di delapan kantong habitat.

Data tersebut disampaikan Kepala BBKSDA Riau, Supartono, dalam kegiatan Bincang-Bincang Konservasi bersama awak media bertema “Bersinergi untuk Masa Depan Gajah Sumatera: Edukasi, Kolaborasi, dan Konservasi” yang digelar di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Sabtu (13/12).

Supartono menjelaskan, delapan kantong habitat gajah di Riau membentang dari wilayah perbatasan Sumatera Utara hingga perbatasan Provinsi Jambi. Meski jumlah tersebut menurun dibandingkan dekade 1980-an, kondisi populasi gajah Sumatera di Riau saat ini masih tergolong cukup aman.

Baca Juga:  Hasil LCM B2SA Dijadikan Kuliner Khas Rohul

“Berdasarkan kajian lapangan, kami masih menemukan banyak anak gajah, terutama di kantong habitat Tesso dan kawasan Giam Siak Kecil (GSK),” ujarnya.

Ia mengungkapkan, penurunan populasi gajah disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti perburuan liar, kematian alami, serta kasus kematian akibat racun. Karena itu, BBKSDA Riau berkomitmen mempertahankan seluruh kantong habitat yang masih tersisa.

- Advertisement -

Sebagai upaya jangka panjang, BBKSDA Riau juga memprioritaskan pembangunan koridor satwa untuk menghubungkan beberapa kantong habitat utama. Empat kawasan yang menjadi fokus penghubung koridor tersebut meliputi GSK–Suaka Margasatwa Balai Raja, Tesso Utara, dan Tesso Tenggara.

“Koridor ini penting agar pergerakan gajah tetap aman dan keberlanjutan habitatnya terjaga,” jelas Supartono.

- Advertisement -
Baca Juga:  71 Orang PDP Negatif, 19.663 Jiwa Masih ODP

Ia juga memaparkan peran PLG yang dibentuk sejak era 1980-an sebagai pusat penanganan konflik antara gajah dan manusia. Gajah-gajah konflik yang ditangkap kemudian dilatih untuk membantu mitigasi konflik di lapangan.

Seiring waktu, peran gajah binaan berkembang, tidak hanya untuk mitigasi konflik, tetapi juga patroli kawasan hutan dan edukasi konservasi kepada masyarakat.

Saat ini, BBKSDA Riau mengelola 23 ekor gajah binaan yang tersebar di PLG Sebangga, PLG Minas, dan PKG Bulu Cina. Khusus di PLG Minas, terdapat 14 ekor gajah yang terdiri dari 10 jantan dan 4 betina.

“Setiap gajah memiliki keahlian masing-masing. Umumnya gajah jantan lebih sering dilibatkan dalam mitigasi konflik, tergantung tingkat kesulitan di lapangan,” tuturnya.(akh)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

MINAS (RIAUPOS.CO) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau terus memperkuat perlindungan gajah Sumatera di tengah ancaman penyusutan populasi. Saat ini, jumlah gajah liar di Provinsi Riau diperkirakan mencapai 216 ekor yang tersebar di delapan kantong habitat.

Data tersebut disampaikan Kepala BBKSDA Riau, Supartono, dalam kegiatan Bincang-Bincang Konservasi bersama awak media bertema “Bersinergi untuk Masa Depan Gajah Sumatera: Edukasi, Kolaborasi, dan Konservasi” yang digelar di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Sabtu (13/12).

Supartono menjelaskan, delapan kantong habitat gajah di Riau membentang dari wilayah perbatasan Sumatera Utara hingga perbatasan Provinsi Jambi. Meski jumlah tersebut menurun dibandingkan dekade 1980-an, kondisi populasi gajah Sumatera di Riau saat ini masih tergolong cukup aman.

Baca Juga:  Pasutri Terciduk Curi Benda Bersejarah di Istana Peraduan Siak

“Berdasarkan kajian lapangan, kami masih menemukan banyak anak gajah, terutama di kantong habitat Tesso dan kawasan Giam Siak Kecil (GSK),” ujarnya.

Ia mengungkapkan, penurunan populasi gajah disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti perburuan liar, kematian alami, serta kasus kematian akibat racun. Karena itu, BBKSDA Riau berkomitmen mempertahankan seluruh kantong habitat yang masih tersisa.

Sebagai upaya jangka panjang, BBKSDA Riau juga memprioritaskan pembangunan koridor satwa untuk menghubungkan beberapa kantong habitat utama. Empat kawasan yang menjadi fokus penghubung koridor tersebut meliputi GSK–Suaka Margasatwa Balai Raja, Tesso Utara, dan Tesso Tenggara.

“Koridor ini penting agar pergerakan gajah tetap aman dan keberlanjutan habitatnya terjaga,” jelas Supartono.

Baca Juga:  8 Bulan Menunggak, Mobil Dinas Bupati Siak di Ambang Penarikan

Ia juga memaparkan peran PLG yang dibentuk sejak era 1980-an sebagai pusat penanganan konflik antara gajah dan manusia. Gajah-gajah konflik yang ditangkap kemudian dilatih untuk membantu mitigasi konflik di lapangan.

Seiring waktu, peran gajah binaan berkembang, tidak hanya untuk mitigasi konflik, tetapi juga patroli kawasan hutan dan edukasi konservasi kepada masyarakat.

Saat ini, BBKSDA Riau mengelola 23 ekor gajah binaan yang tersebar di PLG Sebangga, PLG Minas, dan PKG Bulu Cina. Khusus di PLG Minas, terdapat 14 ekor gajah yang terdiri dari 10 jantan dan 4 betina.

“Setiap gajah memiliki keahlian masing-masing. Umumnya gajah jantan lebih sering dilibatkan dalam mitigasi konflik, tergantung tingkat kesulitan di lapangan,” tuturnya.(akh)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari