Minggu, 12 Juli 2026
- Advertisement -

Lima Tahun Direstorasi, Mangrove Teluk Pambang Bengkalis Kini Jadi Sorotan Dunia

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Hamparan hutan mangrove yang kini tumbuh lebat di sepanjang Sungai Kembung, Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, menjadi bukti keberhasilan upaya restorasi yang telah dijalankan selama lima tahun. Keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi masyarakat bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam memulihkan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Rimbunnya pepohonan mangrove yang kini menjadi benteng alami pantai bukan terbentuk dalam waktu singkat. Di balik kondisi tersebut terdapat proses panjang berupa restorasi kawasan, pendampingan masyarakat, serta komitmen bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Selain berfungsi melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi, keberhasilan pemulihan ekosistem mangrove di Desa Teluk Pambang juga mulai mendapat perhatian dunia. Kawasan ini dinilai mampu menggabungkan upaya konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang rutin dilaksanakan YKAN setiap tiga bulan. Bersama Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Teluk Pambang, tim turun langsung meninjau kawasan restorasi sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program di lapangan.

Riau Partnership Coordinator YKAN, Fadil Nandila, mengatakan keberhasilan Desa Teluk Pambang mendapat perhatian internasional karena masyarakat berhasil membangun kesadaran bersama untuk menjaga hutan mangrove sekaligus menghentikan praktik penebangan secara sembarangan.

Menurutnya, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengukur dampak program restorasi sekaligus menjadi bahan evaluasi apabila masih terdapat kendala yang perlu diperbaiki.

“Dengan adanya kegiatan monev ini kita ingin melihat apakah ada dampak perubahan positif terhadap perkembangan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan LPHD Desa Teluk Pambang. Dari situ kita dapat memitigasi apa yang perlu diperbaiki, dibenahi, maupun dipertahankan. Itulah tujuan kami turun langsung ke lapangan,” ujar Fadil.

Baca Juga:  Sudah Sepekan BBM Langka, Warga Bengkalis Masih Antre Panjang

Ia menegaskan, keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari pulihnya kawasan mangrove. Program tersebut juga diarahkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan.

Karena itu, YKAN terus memperkuat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), termasuk KUPS Srikandi Kuliner Biota Mangrove. Kelompok tersebut didorong membangun rantai usaha berbasis hasil hutan mangrove dengan melibatkan perempuan dari berbagai latar belakang.

“Kita ingin ada rantai bisnis, mulai dari perempuan suku asli hingga perempuan multi-etnis yang nantinya mengolah berbagai produk kuliner berbahan hasil mangrove. Selain itu, kawasan ini juga memiliki potensi untuk pengembangan madu, budidaya kepiting bakau, hingga ekowisata,” jelasnya.

Ketua LPHD Teluk Pambang, Indra Sukmawan, mengatakan kegiatan restorasi terus dilakukan secara berkelanjutan. Berbagai program seperti perbaikan parit sekunder, penyulaman tanaman, pembibitan, penanaman, pemantauan, hingga perlindungan kawasan menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian mangrove.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan program tersebut. Selain fokus pada rehabilitasi kawasan, LPHD juga memberikan pelatihan keterampilan usaha melalui pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.

“Kami rutin berdiskusi bersama masyarakat dan kelompok mangrove agar seluruh kegiatan restorasi dan perlindungan dapat dilakukan secara bersama-sama. Dengan begitu, kelestarian lingkungan tetap terjaga dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” kata Indra.

Baca Juga:  Mobil Dinas Wakil Ketua DPRD Bengkalis Kecelakaan, Korban Luka Serius

Ia berharap pendampingan yang diberikan YKAN dapat terus berlanjut sehingga masyarakat semakin mandiri dalam mengelola kawasan mangrove.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Teluk Pambang yang diwakili Sekretaris Desa, Marhadi, mengapresiasi komitmen YKAN dalam mendampingi masyarakat selama proses restorasi berlangsung.

Menurutnya, kehadiran YKAN tidak hanya memperkuat upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa melalui berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Keberadaan tim YKAN sangat membantu masyarakat menjaga hutan mangrove bersama pemerintah desa dan LPHD. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di sini juga memberikan manfaat bagi pelaku UMKM. Kami berharap Desa Teluk Pambang dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” ujarnya.

Setelah pemaparan perkembangan program, rombongan melanjutkan peninjauan ke sejumlah titik kawasan restorasi. Di bawah tegakan mangrove yang kini tumbuh subur, kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga konservasi mampu menghadirkan harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem pesisir.

Kegiatan monitoring dan evaluasi itu turut dihadiri Coastal Resilience Senior Manager YKAN Mariski Nirwan, Director of Development YKAN Ratih Loekito, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkalis Pulau yang diwakili Kepala Tata Usaha Bustami, Bhabinkamtibmas AS Depari, anggota LPHD, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Teluk Pambang.(ksm)

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Hamparan hutan mangrove yang kini tumbuh lebat di sepanjang Sungai Kembung, Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, menjadi bukti keberhasilan upaya restorasi yang telah dijalankan selama lima tahun. Keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi masyarakat bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam memulihkan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Rimbunnya pepohonan mangrove yang kini menjadi benteng alami pantai bukan terbentuk dalam waktu singkat. Di balik kondisi tersebut terdapat proses panjang berupa restorasi kawasan, pendampingan masyarakat, serta komitmen bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Selain berfungsi melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi, keberhasilan pemulihan ekosistem mangrove di Desa Teluk Pambang juga mulai mendapat perhatian dunia. Kawasan ini dinilai mampu menggabungkan upaya konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang rutin dilaksanakan YKAN setiap tiga bulan. Bersama Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Teluk Pambang, tim turun langsung meninjau kawasan restorasi sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program di lapangan.

Riau Partnership Coordinator YKAN, Fadil Nandila, mengatakan keberhasilan Desa Teluk Pambang mendapat perhatian internasional karena masyarakat berhasil membangun kesadaran bersama untuk menjaga hutan mangrove sekaligus menghentikan praktik penebangan secara sembarangan.

- Advertisement -

Menurutnya, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengukur dampak program restorasi sekaligus menjadi bahan evaluasi apabila masih terdapat kendala yang perlu diperbaiki.

“Dengan adanya kegiatan monev ini kita ingin melihat apakah ada dampak perubahan positif terhadap perkembangan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan LPHD Desa Teluk Pambang. Dari situ kita dapat memitigasi apa yang perlu diperbaiki, dibenahi, maupun dipertahankan. Itulah tujuan kami turun langsung ke lapangan,” ujar Fadil.

- Advertisement -
Baca Juga:  Tanam Pohon, Wujud Peduli dan Jaga Kelestarian Lingkungan

Ia menegaskan, keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari pulihnya kawasan mangrove. Program tersebut juga diarahkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan.

Karena itu, YKAN terus memperkuat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), termasuk KUPS Srikandi Kuliner Biota Mangrove. Kelompok tersebut didorong membangun rantai usaha berbasis hasil hutan mangrove dengan melibatkan perempuan dari berbagai latar belakang.

“Kita ingin ada rantai bisnis, mulai dari perempuan suku asli hingga perempuan multi-etnis yang nantinya mengolah berbagai produk kuliner berbahan hasil mangrove. Selain itu, kawasan ini juga memiliki potensi untuk pengembangan madu, budidaya kepiting bakau, hingga ekowisata,” jelasnya.

Ketua LPHD Teluk Pambang, Indra Sukmawan, mengatakan kegiatan restorasi terus dilakukan secara berkelanjutan. Berbagai program seperti perbaikan parit sekunder, penyulaman tanaman, pembibitan, penanaman, pemantauan, hingga perlindungan kawasan menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian mangrove.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan program tersebut. Selain fokus pada rehabilitasi kawasan, LPHD juga memberikan pelatihan keterampilan usaha melalui pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.

“Kami rutin berdiskusi bersama masyarakat dan kelompok mangrove agar seluruh kegiatan restorasi dan perlindungan dapat dilakukan secara bersama-sama. Dengan begitu, kelestarian lingkungan tetap terjaga dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” kata Indra.

Baca Juga:  Kecelakaan Maut di Pekanbaru, Satu Pengendara Motor Meninggal di TKP

Ia berharap pendampingan yang diberikan YKAN dapat terus berlanjut sehingga masyarakat semakin mandiri dalam mengelola kawasan mangrove.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Teluk Pambang yang diwakili Sekretaris Desa, Marhadi, mengapresiasi komitmen YKAN dalam mendampingi masyarakat selama proses restorasi berlangsung.

Menurutnya, kehadiran YKAN tidak hanya memperkuat upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa melalui berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Keberadaan tim YKAN sangat membantu masyarakat menjaga hutan mangrove bersama pemerintah desa dan LPHD. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di sini juga memberikan manfaat bagi pelaku UMKM. Kami berharap Desa Teluk Pambang dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” ujarnya.

Setelah pemaparan perkembangan program, rombongan melanjutkan peninjauan ke sejumlah titik kawasan restorasi. Di bawah tegakan mangrove yang kini tumbuh subur, kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga konservasi mampu menghadirkan harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem pesisir.

Kegiatan monitoring dan evaluasi itu turut dihadiri Coastal Resilience Senior Manager YKAN Mariski Nirwan, Director of Development YKAN Ratih Loekito, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkalis Pulau yang diwakili Kepala Tata Usaha Bustami, Bhabinkamtibmas AS Depari, anggota LPHD, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Teluk Pambang.(ksm)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) – Hamparan hutan mangrove yang kini tumbuh lebat di sepanjang Sungai Kembung, Desa Teluk Pambang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, menjadi bukti keberhasilan upaya restorasi yang telah dijalankan selama lima tahun. Keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi masyarakat bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam memulihkan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Rimbunnya pepohonan mangrove yang kini menjadi benteng alami pantai bukan terbentuk dalam waktu singkat. Di balik kondisi tersebut terdapat proses panjang berupa restorasi kawasan, pendampingan masyarakat, serta komitmen bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Selain berfungsi melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi, keberhasilan pemulihan ekosistem mangrove di Desa Teluk Pambang juga mulai mendapat perhatian dunia. Kawasan ini dinilai mampu menggabungkan upaya konservasi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) yang rutin dilaksanakan YKAN setiap tiga bulan. Bersama Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Teluk Pambang, tim turun langsung meninjau kawasan restorasi sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program di lapangan.

Riau Partnership Coordinator YKAN, Fadil Nandila, mengatakan keberhasilan Desa Teluk Pambang mendapat perhatian internasional karena masyarakat berhasil membangun kesadaran bersama untuk menjaga hutan mangrove sekaligus menghentikan praktik penebangan secara sembarangan.

Menurutnya, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengukur dampak program restorasi sekaligus menjadi bahan evaluasi apabila masih terdapat kendala yang perlu diperbaiki.

“Dengan adanya kegiatan monev ini kita ingin melihat apakah ada dampak perubahan positif terhadap perkembangan kegiatan restorasi mangrove yang dilakukan LPHD Desa Teluk Pambang. Dari situ kita dapat memitigasi apa yang perlu diperbaiki, dibenahi, maupun dipertahankan. Itulah tujuan kami turun langsung ke lapangan,” ujar Fadil.

Baca Juga:  Mobil Dinas Wakil Ketua DPRD Bengkalis Kecelakaan, Korban Luka Serius

Ia menegaskan, keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari pulihnya kawasan mangrove. Program tersebut juga diarahkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan.

Karena itu, YKAN terus memperkuat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), termasuk KUPS Srikandi Kuliner Biota Mangrove. Kelompok tersebut didorong membangun rantai usaha berbasis hasil hutan mangrove dengan melibatkan perempuan dari berbagai latar belakang.

“Kita ingin ada rantai bisnis, mulai dari perempuan suku asli hingga perempuan multi-etnis yang nantinya mengolah berbagai produk kuliner berbahan hasil mangrove. Selain itu, kawasan ini juga memiliki potensi untuk pengembangan madu, budidaya kepiting bakau, hingga ekowisata,” jelasnya.

Ketua LPHD Teluk Pambang, Indra Sukmawan, mengatakan kegiatan restorasi terus dilakukan secara berkelanjutan. Berbagai program seperti perbaikan parit sekunder, penyulaman tanaman, pembibitan, penanaman, pemantauan, hingga perlindungan kawasan menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian mangrove.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan program tersebut. Selain fokus pada rehabilitasi kawasan, LPHD juga memberikan pelatihan keterampilan usaha melalui pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.

“Kami rutin berdiskusi bersama masyarakat dan kelompok mangrove agar seluruh kegiatan restorasi dan perlindungan dapat dilakukan secara bersama-sama. Dengan begitu, kelestarian lingkungan tetap terjaga dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” kata Indra.

Baca Juga:  Warga Diimbau Langganan Air Tirta Siak

Ia berharap pendampingan yang diberikan YKAN dapat terus berlanjut sehingga masyarakat semakin mandiri dalam mengelola kawasan mangrove.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Teluk Pambang yang diwakili Sekretaris Desa, Marhadi, mengapresiasi komitmen YKAN dalam mendampingi masyarakat selama proses restorasi berlangsung.

Menurutnya, kehadiran YKAN tidak hanya memperkuat upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa melalui berbagai kegiatan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Keberadaan tim YKAN sangat membantu masyarakat menjaga hutan mangrove bersama pemerintah desa dan LPHD. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan di sini juga memberikan manfaat bagi pelaku UMKM. Kami berharap Desa Teluk Pambang dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” ujarnya.

Setelah pemaparan perkembangan program, rombongan melanjutkan peninjauan ke sejumlah titik kawasan restorasi. Di bawah tegakan mangrove yang kini tumbuh subur, kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga konservasi mampu menghadirkan harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem pesisir.

Kegiatan monitoring dan evaluasi itu turut dihadiri Coastal Resilience Senior Manager YKAN Mariski Nirwan, Director of Development YKAN Ratih Loekito, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkalis Pulau yang diwakili Kepala Tata Usaha Bustami, Bhabinkamtibmas AS Depari, anggota LPHD, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Teluk Pambang.(ksm)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari