Kamis, 22 Oktober 2026
- Advertisement -

Harga Dexlite Melonjak, Antrean Biosolar di Pelalawan Mengular

PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai terasa dampaknya di sejumlah SPBU Kabupaten Pelalawan. Harga dexlite yang naik menjadi Rp24.750 per liter membuat sebagian pengendara beralih menggunakan BBM subsidi jenis biosolar. Akibatnya, antrean kendaraan di jalur biosolar mengular hingga menimbulkan kemacetan.

Penyesuaian harga tersebut dilakukan PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga dan mulai berlaku pada 1 September 2026.

Dexlite tercatat mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp19.700 menjadi Rp24.750 per liter. Artinya, harga produk BBM tersebut naik Rp5.050 untuk setiap liternya.

Perubahan harga itu turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Pengendara yang sebelumnya menggunakan dexlite kini sebagian memilih biosolar karena harganya lebih terjangkau.

Kondisi tersebut terlihat di SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633, Jalan Lintas Timur, Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Rabu (2/9/2026) sore.

Pantauan Riaupos.co menunjukkan antrean kendaraan di jalur biosolar cukup panjang. Kendaraan yang mengantre mulai dari mobil pribadi, truk roda sepuluh hingga bus komersial.

Baca Juga:  Bupati Siak Ajak Pelaku UMKM Gali Potensi Diri

Jumlah kendaraan yang menunggu pengisian biosolar bahkan mencapai sekitar 100 unit. Berbeda dengan jalur BBM nonsubsidi, khususnya dexlite, yang terlihat jauh lebih lengang dan hanya diisi antrean dua hingga tiga kendaraan pribadi.

Perubahan pilihan BBM tersebut membuat sejumlah pengendara harus meluangkan waktu lebih lama di SPBU. Mereka rela menunggu di bawah terik matahari demi mendapatkan BBM subsidi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas pekerjaan.

Supriadi, pengemudi mobil pick up L-300 yang tinggal di Jalan Hangtuah SP 7 Simpang Perak, Kecamatan Kanan, Kabupaten Siak, mengaku sebelumnya sering menggunakan dexlite. Namun, setelah harga mengalami kenaikan, ia memilih beralih ke biosolar.

Pemilik usaha ayam potong tersebut mengatakan sudah memperkirakan antrean panjang di jalur biosolar. Karena itu, ia harus menyediakan waktu lebih banyak ketika hendak mengisi BBM.

“Saya sudah berfirasat pasti bakal antre panjang lah jalur biosolar ini. Jadi, siap-siap saja lah kalau mau ngisi BBM subsidi ini, harus meluangkan waktu dulu agar tidak antre terlalu lama,” kata Supriadi kepada Riaupos.co, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga:  Banjir Jalintim Tinggal 2 Cm, Petugas Gabungan Ditarik

Ia juga mengkhawatirkan meningkatnya jumlah konsumen biosolar dapat memicu kelangkaan BBM subsidi di pasaran. Menurutnya, Pertamina perlu mengantisipasi tingginya permintaan agar kondisi tersebut tidak menjadi persoalan baru bagi masyarakat.

“Saya khawatir biosolar nantinya akan semakin langka karena semua orang pindah ke subsidi. Jadi, harus ada upaya dari pihak Pertamina agar kelangkaan ini nantinya tidak terjadi,” ujarnya.

Pengawas SPBU PT Salindra Perkasa, Erwin A, mengatakan pihaknya menerapkan pembatasan pembelian biosolar. Setiap kendaraan maksimal mendapatkan 80 liter.

Saat ini, stok biosolar yang tersedia di SPBU tersebut mencapai 16 ton, sedangkan dexlite sebanyak 8 ton.

“Stok dexlite kita masih cukup banyak, karena sepi pembeli dampak naiknya harga. Dari stok yang ada, paling banyak cuma habis sebanyak 1 ton. Itu pun yang beli mobil pribadi dan truk lintas provinsi,” jelasnya.

Pembatasan maksimal 80 liter untuk setiap kendaraan diberlakukan sebagai upaya agar lebih banyak pengendara dapat memperoleh biosolar. (amn)

PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai terasa dampaknya di sejumlah SPBU Kabupaten Pelalawan. Harga dexlite yang naik menjadi Rp24.750 per liter membuat sebagian pengendara beralih menggunakan BBM subsidi jenis biosolar. Akibatnya, antrean kendaraan di jalur biosolar mengular hingga menimbulkan kemacetan.

Penyesuaian harga tersebut dilakukan PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga dan mulai berlaku pada 1 September 2026.

Dexlite tercatat mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp19.700 menjadi Rp24.750 per liter. Artinya, harga produk BBM tersebut naik Rp5.050 untuk setiap liternya.

Perubahan harga itu turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Pengendara yang sebelumnya menggunakan dexlite kini sebagian memilih biosolar karena harganya lebih terjangkau.

Kondisi tersebut terlihat di SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633, Jalan Lintas Timur, Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Rabu (2/9/2026) sore.

- Advertisement -

Pantauan Riaupos.co menunjukkan antrean kendaraan di jalur biosolar cukup panjang. Kendaraan yang mengantre mulai dari mobil pribadi, truk roda sepuluh hingga bus komersial.

Baca Juga:  Antrean BBM Mengular di Pekanbaru, Warga Rela Tunggu Hingga Tengah Malam

Jumlah kendaraan yang menunggu pengisian biosolar bahkan mencapai sekitar 100 unit. Berbeda dengan jalur BBM nonsubsidi, khususnya dexlite, yang terlihat jauh lebih lengang dan hanya diisi antrean dua hingga tiga kendaraan pribadi.

- Advertisement -

Perubahan pilihan BBM tersebut membuat sejumlah pengendara harus meluangkan waktu lebih lama di SPBU. Mereka rela menunggu di bawah terik matahari demi mendapatkan BBM subsidi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas pekerjaan.

Supriadi, pengemudi mobil pick up L-300 yang tinggal di Jalan Hangtuah SP 7 Simpang Perak, Kecamatan Kanan, Kabupaten Siak, mengaku sebelumnya sering menggunakan dexlite. Namun, setelah harga mengalami kenaikan, ia memilih beralih ke biosolar.

Pemilik usaha ayam potong tersebut mengatakan sudah memperkirakan antrean panjang di jalur biosolar. Karena itu, ia harus menyediakan waktu lebih banyak ketika hendak mengisi BBM.

“Saya sudah berfirasat pasti bakal antre panjang lah jalur biosolar ini. Jadi, siap-siap saja lah kalau mau ngisi BBM subsidi ini, harus meluangkan waktu dulu agar tidak antre terlalu lama,” kata Supriadi kepada Riaupos.co, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga:  Kejari Lenyapkan Barang Bukti 54 Perkara Inkrah

Ia juga mengkhawatirkan meningkatnya jumlah konsumen biosolar dapat memicu kelangkaan BBM subsidi di pasaran. Menurutnya, Pertamina perlu mengantisipasi tingginya permintaan agar kondisi tersebut tidak menjadi persoalan baru bagi masyarakat.

“Saya khawatir biosolar nantinya akan semakin langka karena semua orang pindah ke subsidi. Jadi, harus ada upaya dari pihak Pertamina agar kelangkaan ini nantinya tidak terjadi,” ujarnya.

Pengawas SPBU PT Salindra Perkasa, Erwin A, mengatakan pihaknya menerapkan pembatasan pembelian biosolar. Setiap kendaraan maksimal mendapatkan 80 liter.

Saat ini, stok biosolar yang tersedia di SPBU tersebut mencapai 16 ton, sedangkan dexlite sebanyak 8 ton.

“Stok dexlite kita masih cukup banyak, karena sepi pembeli dampak naiknya harga. Dari stok yang ada, paling banyak cuma habis sebanyak 1 ton. Itu pun yang beli mobil pribadi dan truk lintas provinsi,” jelasnya.

Pembatasan maksimal 80 liter untuk setiap kendaraan diberlakukan sebagai upaya agar lebih banyak pengendara dapat memperoleh biosolar. (amn)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PANGKALAN KERINCI (RIAUPOS.CO) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai terasa dampaknya di sejumlah SPBU Kabupaten Pelalawan. Harga dexlite yang naik menjadi Rp24.750 per liter membuat sebagian pengendara beralih menggunakan BBM subsidi jenis biosolar. Akibatnya, antrean kendaraan di jalur biosolar mengular hingga menimbulkan kemacetan.

Penyesuaian harga tersebut dilakukan PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga dan mulai berlaku pada 1 September 2026.

Dexlite tercatat mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp19.700 menjadi Rp24.750 per liter. Artinya, harga produk BBM tersebut naik Rp5.050 untuk setiap liternya.

Perubahan harga itu turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Pengendara yang sebelumnya menggunakan dexlite kini sebagian memilih biosolar karena harganya lebih terjangkau.

Kondisi tersebut terlihat di SPBU PT Salindra Perkasa 14.283.633, Jalan Lintas Timur, Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Rabu (2/9/2026) sore.

Pantauan Riaupos.co menunjukkan antrean kendaraan di jalur biosolar cukup panjang. Kendaraan yang mengantre mulai dari mobil pribadi, truk roda sepuluh hingga bus komersial.

Baca Juga:  Ini Cara Polisi di Kuala Kampar Jaga Stabilitas Keamanan Pada Masa Tahapan Pilkada

Jumlah kendaraan yang menunggu pengisian biosolar bahkan mencapai sekitar 100 unit. Berbeda dengan jalur BBM nonsubsidi, khususnya dexlite, yang terlihat jauh lebih lengang dan hanya diisi antrean dua hingga tiga kendaraan pribadi.

Perubahan pilihan BBM tersebut membuat sejumlah pengendara harus meluangkan waktu lebih lama di SPBU. Mereka rela menunggu di bawah terik matahari demi mendapatkan BBM subsidi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas pekerjaan.

Supriadi, pengemudi mobil pick up L-300 yang tinggal di Jalan Hangtuah SP 7 Simpang Perak, Kecamatan Kanan, Kabupaten Siak, mengaku sebelumnya sering menggunakan dexlite. Namun, setelah harga mengalami kenaikan, ia memilih beralih ke biosolar.

Pemilik usaha ayam potong tersebut mengatakan sudah memperkirakan antrean panjang di jalur biosolar. Karena itu, ia harus menyediakan waktu lebih banyak ketika hendak mengisi BBM.

“Saya sudah berfirasat pasti bakal antre panjang lah jalur biosolar ini. Jadi, siap-siap saja lah kalau mau ngisi BBM subsidi ini, harus meluangkan waktu dulu agar tidak antre terlalu lama,” kata Supriadi kepada Riaupos.co, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga:  Polsek Pangkalan Kerinci Dukung Program Asta Cita dan ketahanan Pangan di masa Tahapan Pilkada 2024

Ia juga mengkhawatirkan meningkatnya jumlah konsumen biosolar dapat memicu kelangkaan BBM subsidi di pasaran. Menurutnya, Pertamina perlu mengantisipasi tingginya permintaan agar kondisi tersebut tidak menjadi persoalan baru bagi masyarakat.

“Saya khawatir biosolar nantinya akan semakin langka karena semua orang pindah ke subsidi. Jadi, harus ada upaya dari pihak Pertamina agar kelangkaan ini nantinya tidak terjadi,” ujarnya.

Pengawas SPBU PT Salindra Perkasa, Erwin A, mengatakan pihaknya menerapkan pembatasan pembelian biosolar. Setiap kendaraan maksimal mendapatkan 80 liter.

Saat ini, stok biosolar yang tersedia di SPBU tersebut mencapai 16 ton, sedangkan dexlite sebanyak 8 ton.

“Stok dexlite kita masih cukup banyak, karena sepi pembeli dampak naiknya harga. Dari stok yang ada, paling banyak cuma habis sebanyak 1 ton. Itu pun yang beli mobil pribadi dan truk lintas provinsi,” jelasnya.

Pembatasan maksimal 80 liter untuk setiap kendaraan diberlakukan sebagai upaya agar lebih banyak pengendara dapat memperoleh biosolar. (amn)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari