Kamis, 5 November 2026
- Advertisement -

Subsidi Listrik 2027 Diusulkan Rp117 Triliun, Naik Rp17 Triliun dari Tahun Ini

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran subsidi listrik dalam RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar Rp17 triliun dibandingkan alokasi subsidi listrik dalam APBN 2026 yang mencapai Rp100,83 triliun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, besaran usulan tersebut disusun berdasarkan sejumlah asumsi ekonomi yang digunakan pemerintah. Salah satunya adalah harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel.

Selain ICP, pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar Rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS serta tingkat inflasi 2,5 persen.

“Usulan subsidi listrik pada RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun dengan asumsi ICP 75 dolar AS per barel, dengan nilai tukar Rp17.500, tingkat inflasi sebesar 2,5 persen,” kata Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8).

Baca Juga:  Kemenkeu Ungkap Penarikan Utang Baru Sudah Tembus Rp127,3 Triliun

Menurut Bahlil, angka subsidi tersebut masih dapat berubah apabila kondisi sejumlah indikator ekonomi bergerak di luar perkiraan pemerintah.

Perubahan harga minyak mentah, nilai tukar Rupiah, maupun inflasi dapat menjadi faktor yang mendorong kebutuhan subsidi listrik menjadi lebih besar.

“Jadi kalau harganya naik asumsi naiknya menjadi 80 dolar per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi termasuk nilai tukar. Ya kita berdoa aja mudah-mudahan nilai tukar tidak terlalu banyak terkoreksi,” ujarnya.

Sementara itu, realisasi subsidi listrik hingga Juni 2026 telah mencapai Rp46,36 triliun. Adapun tagihan untuk Juli sebesar Rp8,12 triliun serta koreksi triwulan I-2026 senilai Rp1,21 triliun masih dalam proses verifikasi oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

Di sisi lain, ESDM juga menaikkan target produksi minyak bumi nasional dalam RAPBN 2027 menjadi 612.500 barel per hari (bph). Target itu sedikit lebih tinggi dibandingkan sasaran lifting minyak bumi pada APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 610.000 bph.

Baca Juga:  Meterisasi PJU, Pemko Pekanbaru Hemat Rp1 Miliar per Bulan

Bahlil mengatakan target tersebut telah dibahas bersama sejumlah pemangku kepentingan. Ia berharap tambahan produksi dapat berasal dari sejumlah sumur baru yang mulai berproduksi pada 2027.

Menurutnya, terdapat beberapa sumber tambahan produksi yang diharapkan mendukung pencapaian target tersebut. Di antaranya sumur Petronas di wilayah Madura, sejumlah sumur yang menggunakan teknologi enhanced oil recovery (EOR), serta potensi sumur baru di wilayah Sumatra.

“Kita memang sekarang kan di 2027 itu ada terjadi beberapa penambahan sumur, seperti Petronas yang ada di wilayah Madura. Terus ada beberapa penambahan sumur kita yang memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur kita yang ada di Sumatra,” ungkapnya. (jpg)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran subsidi listrik dalam RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar Rp17 triliun dibandingkan alokasi subsidi listrik dalam APBN 2026 yang mencapai Rp100,83 triliun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, besaran usulan tersebut disusun berdasarkan sejumlah asumsi ekonomi yang digunakan pemerintah. Salah satunya adalah harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel.

Selain ICP, pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar Rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS serta tingkat inflasi 2,5 persen.

“Usulan subsidi listrik pada RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun dengan asumsi ICP 75 dolar AS per barel, dengan nilai tukar Rp17.500, tingkat inflasi sebesar 2,5 persen,” kata Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8).

Baca Juga:  BRI Bantu Mobil Ambulans ke Kodim 0303/Bengkalis

Menurut Bahlil, angka subsidi tersebut masih dapat berubah apabila kondisi sejumlah indikator ekonomi bergerak di luar perkiraan pemerintah.

- Advertisement -

Perubahan harga minyak mentah, nilai tukar Rupiah, maupun inflasi dapat menjadi faktor yang mendorong kebutuhan subsidi listrik menjadi lebih besar.

“Jadi kalau harganya naik asumsi naiknya menjadi 80 dolar per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi termasuk nilai tukar. Ya kita berdoa aja mudah-mudahan nilai tukar tidak terlalu banyak terkoreksi,” ujarnya.

- Advertisement -

Sementara itu, realisasi subsidi listrik hingga Juni 2026 telah mencapai Rp46,36 triliun. Adapun tagihan untuk Juli sebesar Rp8,12 triliun serta koreksi triwulan I-2026 senilai Rp1,21 triliun masih dalam proses verifikasi oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

Di sisi lain, ESDM juga menaikkan target produksi minyak bumi nasional dalam RAPBN 2027 menjadi 612.500 barel per hari (bph). Target itu sedikit lebih tinggi dibandingkan sasaran lifting minyak bumi pada APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 610.000 bph.

Baca Juga:  Motor Listrik Diklaim Tekan Emisi Karbon 40 Persen

Bahlil mengatakan target tersebut telah dibahas bersama sejumlah pemangku kepentingan. Ia berharap tambahan produksi dapat berasal dari sejumlah sumur baru yang mulai berproduksi pada 2027.

Menurutnya, terdapat beberapa sumber tambahan produksi yang diharapkan mendukung pencapaian target tersebut. Di antaranya sumur Petronas di wilayah Madura, sejumlah sumur yang menggunakan teknologi enhanced oil recovery (EOR), serta potensi sumur baru di wilayah Sumatra.

“Kita memang sekarang kan di 2027 itu ada terjadi beberapa penambahan sumur, seperti Petronas yang ada di wilayah Madura. Terus ada beberapa penambahan sumur kita yang memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur kita yang ada di Sumatra,” ungkapnya. (jpg)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran subsidi listrik dalam RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar Rp17 triliun dibandingkan alokasi subsidi listrik dalam APBN 2026 yang mencapai Rp100,83 triliun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, besaran usulan tersebut disusun berdasarkan sejumlah asumsi ekonomi yang digunakan pemerintah. Salah satunya adalah harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel.

Selain ICP, pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar Rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS serta tingkat inflasi 2,5 persen.

“Usulan subsidi listrik pada RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun dengan asumsi ICP 75 dolar AS per barel, dengan nilai tukar Rp17.500, tingkat inflasi sebesar 2,5 persen,” kata Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8).

Baca Juga:  Aryaduta Pekanbaru Hadirkan Sap7a Rasa

Menurut Bahlil, angka subsidi tersebut masih dapat berubah apabila kondisi sejumlah indikator ekonomi bergerak di luar perkiraan pemerintah.

Perubahan harga minyak mentah, nilai tukar Rupiah, maupun inflasi dapat menjadi faktor yang mendorong kebutuhan subsidi listrik menjadi lebih besar.

“Jadi kalau harganya naik asumsi naiknya menjadi 80 dolar per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi termasuk nilai tukar. Ya kita berdoa aja mudah-mudahan nilai tukar tidak terlalu banyak terkoreksi,” ujarnya.

Sementara itu, realisasi subsidi listrik hingga Juni 2026 telah mencapai Rp46,36 triliun. Adapun tagihan untuk Juli sebesar Rp8,12 triliun serta koreksi triwulan I-2026 senilai Rp1,21 triliun masih dalam proses verifikasi oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

Di sisi lain, ESDM juga menaikkan target produksi minyak bumi nasional dalam RAPBN 2027 menjadi 612.500 barel per hari (bph). Target itu sedikit lebih tinggi dibandingkan sasaran lifting minyak bumi pada APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 610.000 bph.

Baca Juga:  Rencana Pemadaman Bergilir Dibatalkan

Bahlil mengatakan target tersebut telah dibahas bersama sejumlah pemangku kepentingan. Ia berharap tambahan produksi dapat berasal dari sejumlah sumur baru yang mulai berproduksi pada 2027.

Menurutnya, terdapat beberapa sumber tambahan produksi yang diharapkan mendukung pencapaian target tersebut. Di antaranya sumur Petronas di wilayah Madura, sejumlah sumur yang menggunakan teknologi enhanced oil recovery (EOR), serta potensi sumur baru di wilayah Sumatra.

“Kita memang sekarang kan di 2027 itu ada terjadi beberapa penambahan sumur, seperti Petronas yang ada di wilayah Madura. Terus ada beberapa penambahan sumur kita yang memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur kita yang ada di Sumatra,” ungkapnya. (jpg)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari