Selasa, 28 Juli 2026
- Advertisement -

Waspada DBD! Kasus di Kuansing Melonjak, 100 Warga Terserang pada Mei

TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) – Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD). Imbauan ini disampaikan menyusul adanya peningkatan kasus DBD yang tercatat selama enam bulan terakhir.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kuansing, sebanyak 251 kasus DBD ditemukan sepanjang enam bulan pertama 2026. Jumlah kasus tertinggi terjadi pada Mei dengan catatan mencapai 100 kasus dalam satu bulan.

Kepala Dinas Kesehatan Kuansing Aswandi SKM melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kuansing, Helma Muliani SFarm APt, membenarkan adanya peningkatan kasus tersebut, Selasa (28/7/2026).

“Jadi memang ada peningkatan kasus DBD selama enam bulan ini,” ujarnya.

Helma merinci, pada Januari tercatat 19 kasus DBD. Jumlah tersebut kemudian naik menjadi 23 kasus pada Februari dan kembali meningkat menjadi 29 kasus pada Maret.

Baca Juga:  Aletra L8 EV Kini Hadir di Pekanbaru, Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik Sumatera

Memasuki April, kasus DBD mengalami kenaikan cukup signifikan dengan 64 kasus. Angka tersebut kembali melonjak pada Mei hingga mencapai 100 kasus. Sementara pada Juni, jumlah kasus menurun menjadi 16 kasus.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kuansing sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan terhadap DBD sejak awal 2026. Masyarakat diimbau meningkatkan kegiatan kesehatan lingkungan dan melakukan pencegahan secara bersama-sama.

Salah satu langkah yang ditekankan adalah gerakan 3M, yakni menguras, membersihkan, dan menimbun tempat-tempat yang berpotensi menjadi penampungan air. Warga juga diminta menggunakan obat antinyamuk atau kelambu serta memastikan ketersediaan logistik rapid DBD.

Selain itu, pembagian abate dan pelaksanaan fogging juga menjadi bagian dari upaya pengendalian kasus DBD di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Musim Penghujan, Ratusan Warga Bengkalis Diserang DBD

Menurut Helma, peningkatan kasus dalam enam bulan terakhir dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Kondisi lingkungan dan cuaca menjadi salah satu penyebab, terutama ketika curah hujan tinggi yang memicu munculnya genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk.

Perubahan iklim dan kondisi sanitasi yang buruk juga disebut dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kasus DBD. Di sisi lain, perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan turut menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.

Kurangnya kepedulian terhadap penerapan 3M serta menurunnya daya tahan tubuh juga dinilai dapat meningkatkan risiko seseorang terkena DBD.

Meski kasus DBD mengalami peningkatan, hingga saat ini Dinkes Kuansing belum menemukan adanya kasus kematian akibat penyakit tersebut. (dac)

TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) – Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD). Imbauan ini disampaikan menyusul adanya peningkatan kasus DBD yang tercatat selama enam bulan terakhir.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kuansing, sebanyak 251 kasus DBD ditemukan sepanjang enam bulan pertama 2026. Jumlah kasus tertinggi terjadi pada Mei dengan catatan mencapai 100 kasus dalam satu bulan.

Kepala Dinas Kesehatan Kuansing Aswandi SKM melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kuansing, Helma Muliani SFarm APt, membenarkan adanya peningkatan kasus tersebut, Selasa (28/7/2026).

“Jadi memang ada peningkatan kasus DBD selama enam bulan ini,” ujarnya.

Helma merinci, pada Januari tercatat 19 kasus DBD. Jumlah tersebut kemudian naik menjadi 23 kasus pada Februari dan kembali meningkat menjadi 29 kasus pada Maret.

- Advertisement -
Baca Juga:  Sampah Menumpuk di Kuansing, DLH Akui Terkendala Anggaran dan Personel

Memasuki April, kasus DBD mengalami kenaikan cukup signifikan dengan 64 kasus. Angka tersebut kembali melonjak pada Mei hingga mencapai 100 kasus. Sementara pada Juni, jumlah kasus menurun menjadi 16 kasus.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kuansing sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan terhadap DBD sejak awal 2026. Masyarakat diimbau meningkatkan kegiatan kesehatan lingkungan dan melakukan pencegahan secara bersama-sama.

- Advertisement -

Salah satu langkah yang ditekankan adalah gerakan 3M, yakni menguras, membersihkan, dan menimbun tempat-tempat yang berpotensi menjadi penampungan air. Warga juga diminta menggunakan obat antinyamuk atau kelambu serta memastikan ketersediaan logistik rapid DBD.

Selain itu, pembagian abate dan pelaksanaan fogging juga menjadi bagian dari upaya pengendalian kasus DBD di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Cabai Merah Sumbang Inflasi Terbesar

Menurut Helma, peningkatan kasus dalam enam bulan terakhir dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Kondisi lingkungan dan cuaca menjadi salah satu penyebab, terutama ketika curah hujan tinggi yang memicu munculnya genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk.

Perubahan iklim dan kondisi sanitasi yang buruk juga disebut dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kasus DBD. Di sisi lain, perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan turut menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.

Kurangnya kepedulian terhadap penerapan 3M serta menurunnya daya tahan tubuh juga dinilai dapat meningkatkan risiko seseorang terkena DBD.

Meski kasus DBD mengalami peningkatan, hingga saat ini Dinkes Kuansing belum menemukan adanya kasus kematian akibat penyakit tersebut. (dac)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

TELUKKUANTAN (RIAUPOS.CO) – Masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD). Imbauan ini disampaikan menyusul adanya peningkatan kasus DBD yang tercatat selama enam bulan terakhir.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kuansing, sebanyak 251 kasus DBD ditemukan sepanjang enam bulan pertama 2026. Jumlah kasus tertinggi terjadi pada Mei dengan catatan mencapai 100 kasus dalam satu bulan.

Kepala Dinas Kesehatan Kuansing Aswandi SKM melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kuansing, Helma Muliani SFarm APt, membenarkan adanya peningkatan kasus tersebut, Selasa (28/7/2026).

“Jadi memang ada peningkatan kasus DBD selama enam bulan ini,” ujarnya.

Helma merinci, pada Januari tercatat 19 kasus DBD. Jumlah tersebut kemudian naik menjadi 23 kasus pada Februari dan kembali meningkat menjadi 29 kasus pada Maret.

Baca Juga:  Sampah Menumpuk di Kuansing, DLH Akui Terkendala Anggaran dan Personel

Memasuki April, kasus DBD mengalami kenaikan cukup signifikan dengan 64 kasus. Angka tersebut kembali melonjak pada Mei hingga mencapai 100 kasus. Sementara pada Juni, jumlah kasus menurun menjadi 16 kasus.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kuansing sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan terhadap DBD sejak awal 2026. Masyarakat diimbau meningkatkan kegiatan kesehatan lingkungan dan melakukan pencegahan secara bersama-sama.

Salah satu langkah yang ditekankan adalah gerakan 3M, yakni menguras, membersihkan, dan menimbun tempat-tempat yang berpotensi menjadi penampungan air. Warga juga diminta menggunakan obat antinyamuk atau kelambu serta memastikan ketersediaan logistik rapid DBD.

Selain itu, pembagian abate dan pelaksanaan fogging juga menjadi bagian dari upaya pengendalian kasus DBD di tengah masyarakat.

Baca Juga:  PUPR Perbaiki Jembatan Gantung Tepian Narosa

Menurut Helma, peningkatan kasus dalam enam bulan terakhir dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Kondisi lingkungan dan cuaca menjadi salah satu penyebab, terutama ketika curah hujan tinggi yang memicu munculnya genangan air sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk.

Perubahan iklim dan kondisi sanitasi yang buruk juga disebut dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kasus DBD. Di sisi lain, perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan turut menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian.

Kurangnya kepedulian terhadap penerapan 3M serta menurunnya daya tahan tubuh juga dinilai dapat meningkatkan risiko seseorang terkena DBD.

Meski kasus DBD mengalami peningkatan, hingga saat ini Dinkes Kuansing belum menemukan adanya kasus kematian akibat penyakit tersebut. (dac)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari