Jumat, 7 Agustus 2026
- Advertisement -

Teror Monyet Berakhir, Dokter Hewan Ungkap Dugaan Alasan Satwa Ini Menyerang Warga

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Teror monyet ekor panjang yang membuat warga Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), resah akhirnya berakhir. Satwa tersebut berhasil diamankan tim gabungan pada Kamis (6/8/2026), setelah sebelumnya menyerang 18 warga.

Serangkaian serangan itu terjadi sejak 23 Juli hingga 5 Agustus 2026. Rentetan kejadian tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai alasan satwa yang pada dasarnya cenderung menghindari manusia justru menunjukkan perilaku agresif.

Dokter hewan drh. Yopan Rakhmatullah mengatakan, perilaku yang ditunjukkan monyet tersebut tidak dapat dianggap sebagai kondisi normal. Secara alami, monyet liar akan berusaha menjauh ketika bertemu manusia di lingkungan tempat hidupnya.

“Tidak bisa dikatakan normal, karena monyet liar secara alami menghindari manusia,” kata Yopan kepada Riaupos.co.

Baca Juga:  Kasus DBD Tembus 211, Dinkes Inhil Lakukan Fogging Massal

Pada awalnya, Yopan menduga serangan terjadi karena monyet merasa terganggu sehingga melakukan perlawanan sebagai bentuk pertahanan diri atau untuk melindungi wilayahnya.

Namun, dugaan tersebut mulai berubah setelah serangan terus terjadi selama hampir dua pekan. Terlebih, kejadian berlangsung di lokasi berbeda dan jumlah warga yang menjadi korban terus bertambah.

“Awal kejadian saya pikir monyet tersebut menyerang orang karena merasa terganggu. Tetapi ternyata serangan tetap berlanjut sampai dua minggu ini, jadi kemungkinan monyet menyerang karena mempertahankan diri atau wilayah kemungkinannya kecil,” jelasnya.

Yopan menyebut terdapat sejumlah kemungkinan yang bisa menjelaskan perubahan perilaku satwa tersebut. Salah satunya adalah dugaan bahwa monyet pernah mendapat perlakuan buruk dari manusia, seperti dipukul atau disiksa. Pengalaman tersebut dinilai dapat membuat satwa memberikan respons agresif saat kembali berhadapan dengan manusia.

Baca Juga:  Kejar PAD Rp255 Miliar, Pemkab Kuansing Kerahkan PPPK Jadi Juru Pungut Pajak

Kemungkinan lain, monyet tersebut merupakan pejantan yang hidup terpisah dari kelompoknya setelah kalah dalam persaingan dengan pejantan yang lebih dominan. Kondisi hidup seorang diri dapat menimbulkan stres dan tekanan yang berpotensi memengaruhi perilakunya.

Meski demikian, Yopan menegaskan seluruh kemungkinan tersebut masih berupa dugaan ilmiah. Penyebab sebenarnya baru dapat diketahui setelah monyet diamankan untuk menjalani identifikasi, observasi, dan pemeriksaan lebih lanjut.

Saat ini, satwa yang diduga menyerang 18 warga tersebut telah berhasil ditangkap. Pemeriksaan selanjutnya akan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya sekaligus mencari tahu faktor yang membuat perilakunya berubah menjadi agresif terhadap manusia.(*2)

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Teror monyet ekor panjang yang membuat warga Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), resah akhirnya berakhir. Satwa tersebut berhasil diamankan tim gabungan pada Kamis (6/8/2026), setelah sebelumnya menyerang 18 warga.

Serangkaian serangan itu terjadi sejak 23 Juli hingga 5 Agustus 2026. Rentetan kejadian tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai alasan satwa yang pada dasarnya cenderung menghindari manusia justru menunjukkan perilaku agresif.

Dokter hewan drh. Yopan Rakhmatullah mengatakan, perilaku yang ditunjukkan monyet tersebut tidak dapat dianggap sebagai kondisi normal. Secara alami, monyet liar akan berusaha menjauh ketika bertemu manusia di lingkungan tempat hidupnya.

“Tidak bisa dikatakan normal, karena monyet liar secara alami menghindari manusia,” kata Yopan kepada Riaupos.co.

Baca Juga:  Turnamen Sepakbola U-17 Diharap Lahirkan Bibit Andal 

Pada awalnya, Yopan menduga serangan terjadi karena monyet merasa terganggu sehingga melakukan perlawanan sebagai bentuk pertahanan diri atau untuk melindungi wilayahnya.

- Advertisement -

Namun, dugaan tersebut mulai berubah setelah serangan terus terjadi selama hampir dua pekan. Terlebih, kejadian berlangsung di lokasi berbeda dan jumlah warga yang menjadi korban terus bertambah.

“Awal kejadian saya pikir monyet tersebut menyerang orang karena merasa terganggu. Tetapi ternyata serangan tetap berlanjut sampai dua minggu ini, jadi kemungkinan monyet menyerang karena mempertahankan diri atau wilayah kemungkinannya kecil,” jelasnya.

- Advertisement -

Yopan menyebut terdapat sejumlah kemungkinan yang bisa menjelaskan perubahan perilaku satwa tersebut. Salah satunya adalah dugaan bahwa monyet pernah mendapat perlakuan buruk dari manusia, seperti dipukul atau disiksa. Pengalaman tersebut dinilai dapat membuat satwa memberikan respons agresif saat kembali berhadapan dengan manusia.

Baca Juga:  Buka Tutup Dilakukan 1 Jam Sekali

Kemungkinan lain, monyet tersebut merupakan pejantan yang hidup terpisah dari kelompoknya setelah kalah dalam persaingan dengan pejantan yang lebih dominan. Kondisi hidup seorang diri dapat menimbulkan stres dan tekanan yang berpotensi memengaruhi perilakunya.

Meski demikian, Yopan menegaskan seluruh kemungkinan tersebut masih berupa dugaan ilmiah. Penyebab sebenarnya baru dapat diketahui setelah monyet diamankan untuk menjalani identifikasi, observasi, dan pemeriksaan lebih lanjut.

Saat ini, satwa yang diduga menyerang 18 warga tersebut telah berhasil ditangkap. Pemeriksaan selanjutnya akan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya sekaligus mencari tahu faktor yang membuat perilakunya berubah menjadi agresif terhadap manusia.(*2)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Teror monyet ekor panjang yang membuat warga Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), resah akhirnya berakhir. Satwa tersebut berhasil diamankan tim gabungan pada Kamis (6/8/2026), setelah sebelumnya menyerang 18 warga.

Serangkaian serangan itu terjadi sejak 23 Juli hingga 5 Agustus 2026. Rentetan kejadian tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai alasan satwa yang pada dasarnya cenderung menghindari manusia justru menunjukkan perilaku agresif.

Dokter hewan drh. Yopan Rakhmatullah mengatakan, perilaku yang ditunjukkan monyet tersebut tidak dapat dianggap sebagai kondisi normal. Secara alami, monyet liar akan berusaha menjauh ketika bertemu manusia di lingkungan tempat hidupnya.

“Tidak bisa dikatakan normal, karena monyet liar secara alami menghindari manusia,” kata Yopan kepada Riaupos.co.

Baca Juga:  Tim Unri Hadirkan Inovasi, Limbah Nanas Kini Punya Nilai Jual Tinggi

Pada awalnya, Yopan menduga serangan terjadi karena monyet merasa terganggu sehingga melakukan perlawanan sebagai bentuk pertahanan diri atau untuk melindungi wilayahnya.

Namun, dugaan tersebut mulai berubah setelah serangan terus terjadi selama hampir dua pekan. Terlebih, kejadian berlangsung di lokasi berbeda dan jumlah warga yang menjadi korban terus bertambah.

“Awal kejadian saya pikir monyet tersebut menyerang orang karena merasa terganggu. Tetapi ternyata serangan tetap berlanjut sampai dua minggu ini, jadi kemungkinan monyet menyerang karena mempertahankan diri atau wilayah kemungkinannya kecil,” jelasnya.

Yopan menyebut terdapat sejumlah kemungkinan yang bisa menjelaskan perubahan perilaku satwa tersebut. Salah satunya adalah dugaan bahwa monyet pernah mendapat perlakuan buruk dari manusia, seperti dipukul atau disiksa. Pengalaman tersebut dinilai dapat membuat satwa memberikan respons agresif saat kembali berhadapan dengan manusia.

Baca Juga:  Nelayan Terima 18 Unit Sampan Motor

Kemungkinan lain, monyet tersebut merupakan pejantan yang hidup terpisah dari kelompoknya setelah kalah dalam persaingan dengan pejantan yang lebih dominan. Kondisi hidup seorang diri dapat menimbulkan stres dan tekanan yang berpotensi memengaruhi perilakunya.

Meski demikian, Yopan menegaskan seluruh kemungkinan tersebut masih berupa dugaan ilmiah. Penyebab sebenarnya baru dapat diketahui setelah monyet diamankan untuk menjalani identifikasi, observasi, dan pemeriksaan lebih lanjut.

Saat ini, satwa yang diduga menyerang 18 warga tersebut telah berhasil ditangkap. Pemeriksaan selanjutnya akan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya sekaligus mencari tahu faktor yang membuat perilakunya berubah menjadi agresif terhadap manusia.(*2)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari