Selasa, 18 Juni 2024

Banjir Jalan Lintas Timur Sumatera di Pelalawan Masih Tinggi

Buka Tutup Dilakukan 1 Jam Sekali

PELALAWAN (RIAUPOS.CO) – Banjir yang merendam badan Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, tak kunjung surut hingga Ahad (7/1).

Rekayasa lalu lintas pun dilakukan dengan sistem buka tutup setiap satu jam sekali.

- Advertisement -

“Jadi, sesuai instruksi Pak Kapolda, rekayasa lalu lintas ini masih kami lakukan, seperti sistem buka tutup jalan dengan durasi maksimal 1 jam sekali,’’ ujar Kapolres Pelalawan AKBP Suwinto SH SIK melalui Kasat Lantas AKP Akira Ceria SIK MM, Ahad (7/1).

‘’Artinya, aktivitas kendaraan dari arah Pekanbaru menuju Rengat kami biarkan berjalan. Dan setelah satu jam kemudian, giliran kendaraan dari arah Rengat menuju Pekanbaru kami biarkan melintas. Dan pola ini berlaku setiap satu jam sekali,” tambahnya.

Akira Ceria mengatakan, meskipun upaya tersebut tidak bisa serta merta membuat arus lalu lintas menjadi normal. Namun, strategi tersebut diharapkan bisa membuat arus lalu lintas terus mengalir agar kemacetan tidak terus mengular dan memanjang.

- Advertisement -

Mantan Kasat Lantas Polres Dumai ini menjelaskan, tinggi air di badan Jalan Lintas Timur Sumatera KM 76 hingga KM 83 di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras masih bervariasai. Di KM 76, tinggi air masih mencapai antara 30 centimenter (cm) hingga 50 cm.

Kemudian di titik KM 78, tinggi air antara 50 cm hingga 70 cm disertai dengan arus yang cukup deras. Sedangkan tinggi air di KM 80 hingg KM 83, tinggi air hampir mencapai dada orang dewasa atau diperkirakan tingginya 100 cm (1 meter).

“Jadi, melalui sistem buka tutup ini, kendaraan roda dua hingga roda empat sudah tidak dibenarkan melintas di badan jalintim yang direndam banjir. Kecuali menggunakan jasa angkut mobil gendong yakni kendaraan roda enam ke atas. Dan jika tidak ingin memanfaatkan jasa mobil gendong, kendaraan roda enam ke bawah ini kita minta putar balik dan mencari jalan alternatif menuju Lintas Tengah di Kabupaten Kuansing,’’ ujarnya.

‘’Meski upaya rekayasa lalu lintas ini belum maksimal mengurai kemacetan, namun alhamdulillah kepadatan dan antrean panjang kendaraan roda enam ke atas telah mulai berangsur berkurang. Artinya, saat ini kemacetan hanya kurang lebih 10 km ke bawah,” lanjutnya.

Akira menegaskan, pihaknya akan terus intens melakukan pengaturan lalu lintas di Jalintim Sumatera ini sehingga arus lalu lintas dapat kembali berjalan dengan normal. “Namun demikian, kita tentunya berharap intensitas curah hujan dapat segera menurun dan banjir surut sehingga aktivitas para pengguna jalan dapat kembali berjalan lancar,” tuturnya.

Pantauan Riau Pos di lapangan, simpul-simpul keramaian masyarakat yang sebelumnya memadati jalan ini telah mulai berkurang. Pasalnya, para pengguna jalan, khususnya sepeda motor telah banyak beralih memanfaatkan armada penyeberangan gratis yakni kapal pompong atau kucai yang disediakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan di Dusun Simpang Kualo, Kelurahan Pangkalanerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

Guntoro, salah seorang pengendara sepeda motor saat ditemui di Dusun Simpang Kualo merasa cukup gembira. Dirinya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya jasa penyeberangan. Namun demikian, antrean panjang para pengendara roda dua lainnya membuat dirinya harus bersabar.

“Ya, sabar saja sedikit asal tidak keluar uang banyak. Memang cukup melelahkan menunggu giliran bisa masuk ke dalam pompong karena banyaknya pengendara roda lainnya. Ini saja sudah hampir tiga jam saya menunggu antrean biar bisa menyeberang gratis pakai pompong yang disediakan pemerintah daerah,” ujar Guntoro yang mengaku ingin menemui keluarga sakit di Rengat Kabupaten Inhu.

Kondisi serupa juga disampaikan Sumirah. Warga asal Kelurahan Sorek, Kecamatan Pangkalan Kuras pengemudi roda empat ini juga harus rela menunggu antrean cukup lama untuk mendapatkan jasa angkutan mobil gendong.

Baca Juga:  Drainase Tak Berfungsi, Jalan Tergenang 

“Saya dan keluarga sudah menunggu penyeberangan menggunakan jasa mobil gendong sejak pukul 08.00 WIB. Tapi hingga pukul 15.00 WIB, baru dapat jasa mobil gendong. Itu pun juga di dalam mobil gendong ini masih tetap ikut antrean,” paparnya.

Dikatakan ibu rumah tangga (IRT) yang akrab disapa bu Ira ini, dirinya tidak menyangka akan terjebak kemacetan panjang yang cukup melelahkan. Namun demikian, hal ini merupakan risiko yang harus diterimanya bersama keluarga.

“Saya bersama anak dan empat orang adik saya baru pulang dari Kota Medan Sumatera Utara untuk melayat orang tua yang meninggal dunia sebelum akhir tahun 2023 lalu atau tepatnya sebelum banjir merendam badan Jalintim ini. Tapi, begitu ingin kembali ke kediaman kami di Sorek, ternyata malah terjebak banjir dan macet,” ujarnya.

Banjir yang tak kunjung surut di Jalintim Sumatera di Desa Kemang ini juga berdampak terhadap opersional angkutan sampah di Kota Pelalawan. Alhasil, sampah rumah tangga atau B3 menggunung di mana-mana. Hal itu terlihat di sepanjang Jalan Lintas Timur/ Maharaja Indra, Jalan Seminai, Jalan Akasia, Jalan Pemda,  BTN Lama dan beberapa permukiman penduduk lainnya.

Bau tak sedap tercium ditumpukan sampah. Membuat warga sekitar resah. Apalagi sudah hampir satu pekan belakangan ini limbah rumah tangga itu tidak diangkut petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Pelalawan.

“Sudahlah air menggenangi banyak rumah dampak banjir, sampah pun menumpuk di mana-mana. Kami minta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui instansi terkait untuk segera mengatasi keresahan warga ini,” terang salah seorang warga, Perdi kepada Riau Pos, Ahad (7/1).

Diungkapkan warga Jalan Seminai Pangkalankerinci ini, informasi dari warga sampah menumpuk karena mobil petugas kebersihan tidak dapat melintas ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) di Desa Kemang, Kecamatan Pangkan Kuras.

“Katanya mobil truk sampah mau ke TPA, harus lewat Jalan Lintas Timur. Tapi sekarang tak bisa melintas karena banjir. Makanya sampah sudah hampir sepekan tak diangkut dan menumpuk dimana-mana yang telah mengeluarkan bau busuk,’’ ujarnya.

‘’Harusnya kan bisa di tampung di tempat sementara di tanah kosong yang ada di Pangkalankerinci ini. Kan aset tanah milik Pemkab Pelalawan masih banyak yang kosong. Seperti di samping GOR Tengku Pangeran Pangkalankerinci,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala DLH Kabupaten Pelalawan, Eko Novitra ketika dikonfirmasi membenarkan adanya sampah masyarakat yang belum diangkut tersebut. Sebanyak 19 unit armada truk sampah milik DLHK Pelalawan saat ini sudah full atau padat muatan sehingga armada sudah tidak bisa menjemput sampah ke rumah-rumah warga.

“Jadi, seluruh armada saat ini berada di tempat pembuangan sampah sementara di Dusun Simpang Kualo, Kelurahan Pangkalankerinci Kota. Dan seluruh armada sudah full muatan. Dengan kondisi ini, maka armada sampah telah berhenti beroperasi sajak satu pekan lalu karena tidak bisa melintas banjir. Dan sampah akan kembali diangkut jika kondisi banjir di Jalintim Desa Kemang telah surut dan bisa dilintasi armada,” ujarnya.

Namun demikian, mantan Kabid Amdal DLH Pelalawan ini menambahkan, pihaknya tidak berpangku tangan dan sedang berupaya mencari lokasi tempat penampungan sampah sementara (TPSS) lainnya sehingga armada bisa beroperasional mengambil sampah dari permukiman warga.

“Tapi, memang kendalanya sangat sulit. Maklumlah, ini kan sampah. Tidak bisa sembarang lokasi karena kita akan jadi sasaran komplen warga. Untuk itu, kami berharap ada warga yang bersedia meminjamkan lahan untuk TPSS jelang menunggu banjir surut dan armada sampah bisa melintas untuk mengantarkan ke TPA Kemang serta mengambil sampah rumah tangga kembali,” tuturnya.

Baca Juga:  Bupati Saksikan Kurban di Sejumlah OPD

Di Inhu Mulai Surut
Sementara itu, di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) banjir di bagian hulu sudah mulai surut. Bahkan hingga Ahad (7/1), luapan air Sungai Indragiri surut mencapai 20 cm hingga 50 cm.

Namun demikian, rumah warga khususnya di bagian daratan rendah sepanjang daerah aliran sungai (DAS) masih terendam. Sedangkan curah hujan pada status intensitas ringan.

Kapolres Inhu, AKBP Dody Wirawijaya SIK melalui Kapolsek Peranap, Iptu Dodi Hajri SH mengatakan, debit air Sungai Indragiri saat ini rata-rata 100 cm hingga 200 cm. “Alhamdulillah, sejak kemarin terus surut,” ujar Dodi Hajri, Ahad (7/1).

Menurutnya, dengan kondisi luapan air Sungai Indragiri saat ini, masih ada sembilan desa di Kecamatan Peranap dan tiga desa di Kecamatan Batang Peranap yang terendam banjir.

Seperti di Desa Setako Raya Kecamatan Peranap, masih terdapat sebanyak 252 unit rumah yang terendam, termasuk sejumlah fasilitas umum seperti, SDN 012 Setako Raya, tiga musala, satu masjid, kantor desa, dan jalan semenisasi sepanjang 500 meter.

Kemudian di Desa Pauh Ranap, Kecamatan Peranap terdapat 116 unit rumah terendam serta fasilitas umum seperti kantor desa dan SDN 02 Pauh Ranap. “Dua desa ini terparah di Kacamatan Peranap,” ungkapnya.

Musibah banjir yang terjadi ini sudah menjadi perhatian Bupati Inhu, Rezita Meylani Yopi SE. Setidaknya, sudah empat hari terakhir, orang nomor satu di Kabupaten Inhu turun dan menyerahkan bantuan.

Seperti pada Sabtu (6/1) kemarin, Bupati Inhu dan rombongan meninjau di Desa Kuantan Tenang dan Kampung Bunga Kecamatan Rakit Kulim. Selain menyerahkan bantuan, Bupati juga memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak.

Bupati mengimbau juga masyarakat tetap tenang dan waspada serta menyelamatkan barang-barang berharga seperti ijazah, sertipikat tanah, buku nikah, uang tunai, perhiasan, dan lainnya. “Tetap waspada dan terus pantau ketinggian air,” ucapnya.

Kemudian, Bupati mengingatkan kepada para orang tua agar bisa memperhatikan keselamatan anak-anak. “Saat ini luapan air dijadikan tempat mandi dan ini bisa membahayakan,” imbaunya.

Sungai Kuantan Naik
Sementara itu, di Kuantan Singingi, air Sungai Kuantan kembali naik, Ahad (7/1). Petugas Hidrologi Wilayah Sungai Sumatera III Provinsi Riau yang berada di Desa Lubuk Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan, Erianto menyebutkan memang sempat terjadi kenaikan air Sungai Kuantan di bagian hulu Kuansing. Namun, Ahad (7/1) siang sudah surut kembali.

“Kalau Sabtu (6/1) malam terjadi kenaikan sekitar 2 meter. Tapi, Ahad (7/1) siang terjadi penyusutan sekitar 1 meter lebih. Bisa jadi bagian hilir terendam banjir malam harinya karena luapan Sungai Kuantan dari hulu baru akan sampai dua hari ke bagian hilir,” katanya.

Terkait isu banjir besar yang terjadi di aliran sungai Ombilin, Sinamar dan Batang Pelangki, Erianto tidak menapik isu tersebut. Bahkan dirinya telah menghubungi beberapa sumber di daerah tersebut. Dari hasil konfirmasi masyarakat di Kabupaten Sijunjung memang benar terjadi banjir besar.

“Bisa saja disana banjir besar.  Apalagi ditambah oleh curah hujan yang tingggi, sehingga banjir melebar. Namun, hingga Ahad (7/1) sore, banjir besar itu belum sampai ke Kuansing. Muda-mudahan, itu hanya karena curah hujan di sana, kalau di tempat kita belum ada curah hujan yang tinggi dua hari belakangan,” kata Erianto.(amn/kas/yas)

PELALAWAN (RIAUPOS.CO) – Banjir yang merendam badan Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, tak kunjung surut hingga Ahad (7/1).

Rekayasa lalu lintas pun dilakukan dengan sistem buka tutup setiap satu jam sekali.

“Jadi, sesuai instruksi Pak Kapolda, rekayasa lalu lintas ini masih kami lakukan, seperti sistem buka tutup jalan dengan durasi maksimal 1 jam sekali,’’ ujar Kapolres Pelalawan AKBP Suwinto SH SIK melalui Kasat Lantas AKP Akira Ceria SIK MM, Ahad (7/1).

‘’Artinya, aktivitas kendaraan dari arah Pekanbaru menuju Rengat kami biarkan berjalan. Dan setelah satu jam kemudian, giliran kendaraan dari arah Rengat menuju Pekanbaru kami biarkan melintas. Dan pola ini berlaku setiap satu jam sekali,” tambahnya.

Akira Ceria mengatakan, meskipun upaya tersebut tidak bisa serta merta membuat arus lalu lintas menjadi normal. Namun, strategi tersebut diharapkan bisa membuat arus lalu lintas terus mengalir agar kemacetan tidak terus mengular dan memanjang.

Mantan Kasat Lantas Polres Dumai ini menjelaskan, tinggi air di badan Jalan Lintas Timur Sumatera KM 76 hingga KM 83 di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras masih bervariasai. Di KM 76, tinggi air masih mencapai antara 30 centimenter (cm) hingga 50 cm.

Kemudian di titik KM 78, tinggi air antara 50 cm hingga 70 cm disertai dengan arus yang cukup deras. Sedangkan tinggi air di KM 80 hingg KM 83, tinggi air hampir mencapai dada orang dewasa atau diperkirakan tingginya 100 cm (1 meter).

“Jadi, melalui sistem buka tutup ini, kendaraan roda dua hingga roda empat sudah tidak dibenarkan melintas di badan jalintim yang direndam banjir. Kecuali menggunakan jasa angkut mobil gendong yakni kendaraan roda enam ke atas. Dan jika tidak ingin memanfaatkan jasa mobil gendong, kendaraan roda enam ke bawah ini kita minta putar balik dan mencari jalan alternatif menuju Lintas Tengah di Kabupaten Kuansing,’’ ujarnya.

‘’Meski upaya rekayasa lalu lintas ini belum maksimal mengurai kemacetan, namun alhamdulillah kepadatan dan antrean panjang kendaraan roda enam ke atas telah mulai berangsur berkurang. Artinya, saat ini kemacetan hanya kurang lebih 10 km ke bawah,” lanjutnya.

Akira menegaskan, pihaknya akan terus intens melakukan pengaturan lalu lintas di Jalintim Sumatera ini sehingga arus lalu lintas dapat kembali berjalan dengan normal. “Namun demikian, kita tentunya berharap intensitas curah hujan dapat segera menurun dan banjir surut sehingga aktivitas para pengguna jalan dapat kembali berjalan lancar,” tuturnya.

Pantauan Riau Pos di lapangan, simpul-simpul keramaian masyarakat yang sebelumnya memadati jalan ini telah mulai berkurang. Pasalnya, para pengguna jalan, khususnya sepeda motor telah banyak beralih memanfaatkan armada penyeberangan gratis yakni kapal pompong atau kucai yang disediakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan di Dusun Simpang Kualo, Kelurahan Pangkalanerinci Kota, Kecamatan Pangkalankerinci.

Guntoro, salah seorang pengendara sepeda motor saat ditemui di Dusun Simpang Kualo merasa cukup gembira. Dirinya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya jasa penyeberangan. Namun demikian, antrean panjang para pengendara roda dua lainnya membuat dirinya harus bersabar.

“Ya, sabar saja sedikit asal tidak keluar uang banyak. Memang cukup melelahkan menunggu giliran bisa masuk ke dalam pompong karena banyaknya pengendara roda lainnya. Ini saja sudah hampir tiga jam saya menunggu antrean biar bisa menyeberang gratis pakai pompong yang disediakan pemerintah daerah,” ujar Guntoro yang mengaku ingin menemui keluarga sakit di Rengat Kabupaten Inhu.

Kondisi serupa juga disampaikan Sumirah. Warga asal Kelurahan Sorek, Kecamatan Pangkalan Kuras pengemudi roda empat ini juga harus rela menunggu antrean cukup lama untuk mendapatkan jasa angkutan mobil gendong.

Baca Juga:  Gencar Bagikan Hidangan Sahur dan Buka Puasa untuk Yatim dan Duafa Pekanbaru

“Saya dan keluarga sudah menunggu penyeberangan menggunakan jasa mobil gendong sejak pukul 08.00 WIB. Tapi hingga pukul 15.00 WIB, baru dapat jasa mobil gendong. Itu pun juga di dalam mobil gendong ini masih tetap ikut antrean,” paparnya.

Dikatakan ibu rumah tangga (IRT) yang akrab disapa bu Ira ini, dirinya tidak menyangka akan terjebak kemacetan panjang yang cukup melelahkan. Namun demikian, hal ini merupakan risiko yang harus diterimanya bersama keluarga.

“Saya bersama anak dan empat orang adik saya baru pulang dari Kota Medan Sumatera Utara untuk melayat orang tua yang meninggal dunia sebelum akhir tahun 2023 lalu atau tepatnya sebelum banjir merendam badan Jalintim ini. Tapi, begitu ingin kembali ke kediaman kami di Sorek, ternyata malah terjebak banjir dan macet,” ujarnya.

Banjir yang tak kunjung surut di Jalintim Sumatera di Desa Kemang ini juga berdampak terhadap opersional angkutan sampah di Kota Pelalawan. Alhasil, sampah rumah tangga atau B3 menggunung di mana-mana. Hal itu terlihat di sepanjang Jalan Lintas Timur/ Maharaja Indra, Jalan Seminai, Jalan Akasia, Jalan Pemda,  BTN Lama dan beberapa permukiman penduduk lainnya.

Bau tak sedap tercium ditumpukan sampah. Membuat warga sekitar resah. Apalagi sudah hampir satu pekan belakangan ini limbah rumah tangga itu tidak diangkut petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Pelalawan.

“Sudahlah air menggenangi banyak rumah dampak banjir, sampah pun menumpuk di mana-mana. Kami minta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui instansi terkait untuk segera mengatasi keresahan warga ini,” terang salah seorang warga, Perdi kepada Riau Pos, Ahad (7/1).

Diungkapkan warga Jalan Seminai Pangkalankerinci ini, informasi dari warga sampah menumpuk karena mobil petugas kebersihan tidak dapat melintas ke Tempat Pembuangan Sampah (TPA) di Desa Kemang, Kecamatan Pangkan Kuras.

“Katanya mobil truk sampah mau ke TPA, harus lewat Jalan Lintas Timur. Tapi sekarang tak bisa melintas karena banjir. Makanya sampah sudah hampir sepekan tak diangkut dan menumpuk dimana-mana yang telah mengeluarkan bau busuk,’’ ujarnya.

‘’Harusnya kan bisa di tampung di tempat sementara di tanah kosong yang ada di Pangkalankerinci ini. Kan aset tanah milik Pemkab Pelalawan masih banyak yang kosong. Seperti di samping GOR Tengku Pangeran Pangkalankerinci,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala DLH Kabupaten Pelalawan, Eko Novitra ketika dikonfirmasi membenarkan adanya sampah masyarakat yang belum diangkut tersebut. Sebanyak 19 unit armada truk sampah milik DLHK Pelalawan saat ini sudah full atau padat muatan sehingga armada sudah tidak bisa menjemput sampah ke rumah-rumah warga.

“Jadi, seluruh armada saat ini berada di tempat pembuangan sampah sementara di Dusun Simpang Kualo, Kelurahan Pangkalankerinci Kota. Dan seluruh armada sudah full muatan. Dengan kondisi ini, maka armada sampah telah berhenti beroperasi sajak satu pekan lalu karena tidak bisa melintas banjir. Dan sampah akan kembali diangkut jika kondisi banjir di Jalintim Desa Kemang telah surut dan bisa dilintasi armada,” ujarnya.

Namun demikian, mantan Kabid Amdal DLH Pelalawan ini menambahkan, pihaknya tidak berpangku tangan dan sedang berupaya mencari lokasi tempat penampungan sampah sementara (TPSS) lainnya sehingga armada bisa beroperasional mengambil sampah dari permukiman warga.

“Tapi, memang kendalanya sangat sulit. Maklumlah, ini kan sampah. Tidak bisa sembarang lokasi karena kita akan jadi sasaran komplen warga. Untuk itu, kami berharap ada warga yang bersedia meminjamkan lahan untuk TPSS jelang menunggu banjir surut dan armada sampah bisa melintas untuk mengantarkan ke TPA Kemang serta mengambil sampah rumah tangga kembali,” tuturnya.

Baca Juga:  SK Plt Rektor Beredar, UIN Suska Bungkam

Di Inhu Mulai Surut
Sementara itu, di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) banjir di bagian hulu sudah mulai surut. Bahkan hingga Ahad (7/1), luapan air Sungai Indragiri surut mencapai 20 cm hingga 50 cm.

Namun demikian, rumah warga khususnya di bagian daratan rendah sepanjang daerah aliran sungai (DAS) masih terendam. Sedangkan curah hujan pada status intensitas ringan.

Kapolres Inhu, AKBP Dody Wirawijaya SIK melalui Kapolsek Peranap, Iptu Dodi Hajri SH mengatakan, debit air Sungai Indragiri saat ini rata-rata 100 cm hingga 200 cm. “Alhamdulillah, sejak kemarin terus surut,” ujar Dodi Hajri, Ahad (7/1).

Menurutnya, dengan kondisi luapan air Sungai Indragiri saat ini, masih ada sembilan desa di Kecamatan Peranap dan tiga desa di Kecamatan Batang Peranap yang terendam banjir.

Seperti di Desa Setako Raya Kecamatan Peranap, masih terdapat sebanyak 252 unit rumah yang terendam, termasuk sejumlah fasilitas umum seperti, SDN 012 Setako Raya, tiga musala, satu masjid, kantor desa, dan jalan semenisasi sepanjang 500 meter.

Kemudian di Desa Pauh Ranap, Kecamatan Peranap terdapat 116 unit rumah terendam serta fasilitas umum seperti kantor desa dan SDN 02 Pauh Ranap. “Dua desa ini terparah di Kacamatan Peranap,” ungkapnya.

Musibah banjir yang terjadi ini sudah menjadi perhatian Bupati Inhu, Rezita Meylani Yopi SE. Setidaknya, sudah empat hari terakhir, orang nomor satu di Kabupaten Inhu turun dan menyerahkan bantuan.

Seperti pada Sabtu (6/1) kemarin, Bupati Inhu dan rombongan meninjau di Desa Kuantan Tenang dan Kampung Bunga Kecamatan Rakit Kulim. Selain menyerahkan bantuan, Bupati juga memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak.

Bupati mengimbau juga masyarakat tetap tenang dan waspada serta menyelamatkan barang-barang berharga seperti ijazah, sertipikat tanah, buku nikah, uang tunai, perhiasan, dan lainnya. “Tetap waspada dan terus pantau ketinggian air,” ucapnya.

Kemudian, Bupati mengingatkan kepada para orang tua agar bisa memperhatikan keselamatan anak-anak. “Saat ini luapan air dijadikan tempat mandi dan ini bisa membahayakan,” imbaunya.

Sungai Kuantan Naik
Sementara itu, di Kuantan Singingi, air Sungai Kuantan kembali naik, Ahad (7/1). Petugas Hidrologi Wilayah Sungai Sumatera III Provinsi Riau yang berada di Desa Lubuk Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan, Erianto menyebutkan memang sempat terjadi kenaikan air Sungai Kuantan di bagian hulu Kuansing. Namun, Ahad (7/1) siang sudah surut kembali.

“Kalau Sabtu (6/1) malam terjadi kenaikan sekitar 2 meter. Tapi, Ahad (7/1) siang terjadi penyusutan sekitar 1 meter lebih. Bisa jadi bagian hilir terendam banjir malam harinya karena luapan Sungai Kuantan dari hulu baru akan sampai dua hari ke bagian hilir,” katanya.

Terkait isu banjir besar yang terjadi di aliran sungai Ombilin, Sinamar dan Batang Pelangki, Erianto tidak menapik isu tersebut. Bahkan dirinya telah menghubungi beberapa sumber di daerah tersebut. Dari hasil konfirmasi masyarakat di Kabupaten Sijunjung memang benar terjadi banjir besar.

“Bisa saja disana banjir besar.  Apalagi ditambah oleh curah hujan yang tingggi, sehingga banjir melebar. Namun, hingga Ahad (7/1) sore, banjir besar itu belum sampai ke Kuansing. Muda-mudahan, itu hanya karena curah hujan di sana, kalau di tempat kita belum ada curah hujan yang tinggi dua hari belakangan,” kata Erianto.(amn/kas/yas)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari