TEMBILAHAN, (RIAUPOS.CO) — Monyet liar yang menyerang warga di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), hingga kini masih belum berhasil diamankan. Bahkan, jumlah korban terus bertambah menjadi 17 orang sejak insiden pertama terjadi pada 23 Juli 2026. Pada Selasa (4/8), dua warga kembali menjadi korban serangan satwa tersebut.
Bertambahnya jumlah korban membuat tim gabungan yang terdiri dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Inhil, Polres Inhil, TNI, BPBD, pemerintah kecamatan, serta unsur masyarakat terus meningkatkan upaya pencarian terhadap monyet liar yang masih berkeliaran di kawasan permukiman.
Berbagai langkah penanganan dilakukan, termasuk penyisiran di sejumlah titik yang diduga menjadi lokasi persembunyian satwa tersebut.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Inhil, Junaidi Ismail, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah cara untuk menangkap monyet liar tersebut. Salah satunya dengan memasang jerat dan melakukan pengasapan di sekitar lokasi kemunculan satwa.
“Kami memasang jerat dan pengasapan di sekitar lokasi kemunculan satwa untuk mendorong monyet keluar dari tempat persembunyiannya. Namun sampai saat ini belum teratasi,” ujarnya, kemarin.
Sementara itu, Kapolres Inhil AKBP Doni Eko Listianto mengingatkan masyarakat agar lebih waspada, terutama dalam mengawasi anak-anak saat beraktivitas di luar rumah. Ia juga meminta warga tidak mencoba menangkap monyet tersebut secara mandiri karena berisiko membahayakan keselamatan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan tidak melakukan penangkapan sendiri. Serahkan penanganannya kepada tim yang sudah melakukan upaya di lapangan,” tegas Kapolres.
Berdasarkan data dari Kelurahan Tembilahan Hilir, sejak 23 Juli hingga 4 Agustus 2026 tercatat sebanyak 17 warga telah menjadi korban serangan monyet liar tersebut. Hingga kini, tim gabungan masih terus berupaya mengamankan satwa itu agar tidak kembali menyerang masyarakat. (*2)

