PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Cuaca panas ekstrem di Madinah mulai dirasakan jemaah calon haji (JCH) asal Riau, dengan suhu mencapai 43 derajat Celsius pada Selasa (5/5/2026), yang memicu gangguan kesehatan ringan pada sebagian jemaah.
Kondisi tersebut terutama dialami oleh jemaah yang tergabung dalam Kloter BTH 3. Beberapa di antaranya mengeluhkan batuk, pilek, serta alergi akibat kulit kering yang dipicu perbedaan suhu cukup signifikan.
Ketua Kloter BTH 3, Faulina Riska, menyampaikan bahwa kondisi kesehatan jemaah secara umum masih terjaga dan keluhan yang muncul tergolong ringan.
“Memang ada beberapa jemaah yang mengalami batuk, pilek, dan alergi karena cuaca panas. Namun secara keseluruhan kondisi jemaah tetap sehat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tim kesehatan terus melakukan pemantauan dan memberikan penanganan cepat terhadap jemaah yang mengalami keluhan. Jemaah juga diimbau untuk memperbanyak konsumsi cairan serta membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu sedang tinggi.
Dalam pelaksanaan ibadah, perhatian khusus diberikan kepada jemaah lanjut usia (lansia) dan berisiko tinggi (resti). Pendampingan dilakukan secara intensif, termasuk bagi jemaah yang membutuhkan bantuan kursi roda.
“Fokus kami memastikan seluruh jemaah, terutama lansia dan resti, dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman,” tambahnya.
Sementara itu, seluruh jemaah haji Riau yang tergabung dalam Gelombang I telah diberangkatkan ke Arab Saudi. Kloter terakhir, BTH 12, berangkat dari Bandara Hang Nadim Batam menuju Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah pada Selasa (5/5).
Dalam kloter tersebut, satu jemaah asal Rokan Hulu batal berangkat, sementara tiga jemaah lainnya masih menjalani perawatan di Batam. Selain itu, terdapat mutasi masuk dari kloter lain untuk melengkapi rombongan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Riau, Defizon, menyebutkan total 4.422 jemaah dan petugas telah diberangkatkan hingga 5 Mei 2026.
Jumlah tersebut terdiri dari 4.357 jemaah haji, 20 petugas haji daerah, 5 pembimbing KBIHU, serta 40 petugas haji.
Namun demikian, sejumlah jemaah tercatat mengalami penundaan keberangkatan dengan berbagai alasan, termasuk kondisi kesehatan, kehamilan, hingga ada yang meninggal dunia di daerah.
Defizon juga mengingatkan pentingnya menjaga Kartu Nusuk sebagai identitas utama selama pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi.
“Kartu Nusuk wajib dibawa karena menjadi akses utama untuk memasuki berbagai lokasi ibadah, termasuk Makkah, Madinah, hingga kawasan Armuzna,” jelasnya.
Ia menambahkan, kartu tersebut merupakan identitas resmi berbasis digital yang memuat data pribadi, riwayat kesehatan, serta jadwal ibadah jemaah.
Di sisi lain, kondisi jemaah asal Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dilaporkan dalam keadaan sehat. Seluruh jemaah telah menjalankan berbagai rangkaian ibadah seperti arbain, manasik di Masjid Nabawi, hingga ziarah ke lokasi bersejarah.
“Alhamdulillah seluruh jemaah Kuansing dalam kondisi sehat dan telah menjalankan ibadah dengan baik,” ujar Kepala BPKAD Kuansing, Jafrinaldi.
Sementara itu, satu jemaah asal Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dilaporkan tertunda keberangkatannya karena sakit saat berada di Batam. Jemaah tersebut saat ini masih menjalani perawatan dan pemantauan kesehatan di Asrama Haji Batam.(ilo/dac/*2)

