Rabu, 17 April 2024

Cermin Ramadan

RIAUPOS.CO – Ramadan adalah bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam di seantero dunia. Lebih hebat lagi penantian Ramadan oleh orang-orang yang mencapai halawatul iman (kemanisan iman). Penikmat keimanan, merasakan begitu indah dan moleknya Ramadan sehingga alpa bahwa kekasihnya itu hanya hadir antara 29 dan 30 hari setahun.

Penikmat iman seringkali tergoda dengan kemolekan Ramadan, sampai lupa sudah hampir berakhir perjumpaan dengan kekasihnya yang teramat menawan itu.

- Advertisement -

Panggilan iman bagi orang yang berpuasa mempunyai maksud intrinsik, di mana ada perbedaan antara Islam dengan iman. Berislam yang tunduk dan patuh kepada ajaran yang dibawa oleh baginda Nabi SAW. Sedangkan beriman tashdiq fi qalbi, ikrar bi lisan, dan shadaqahul amal.

Berislam haruslah kafah dan holistik. Islam kafah artinya internalitas diri terbangun komprehensif dalam kehidupan. Makna Islam kafah inilah yang dimaksud dengan makna iman di atas. Berislam dengan makna sederhana belumlah cukup. Karena berislam mestilah dengan beriman. Seolah kita mengatakan saya beriman, maka saya adalah orang berislam secara kafah.

Baca Juga:  Tiga Makna Titah Kewajiban Puasa

Beragama atau memahami agama tidak boleh setengah-setengah. Bahkan beragama harus holistik dan kafah. Islam mengajarkan banyak hal, ada kewajiban ada hak. Perolehan hak mestilah ada kewajiban. Menuntut hak adalah wajib, tetapi memaksakan hak dengan tidak melunasi kewajiban adalah nista.

- Advertisement -

Islam menawarkan sejumlah maslahat yang membuat penganutnya damai, tenteram, dan bahagia. Sebagai contoh, Allah SWT mewajibkan puasa. Dilihat sepintas puasa terasa berat karena zahirnya yang harus menahan diri untuk tidak makan, minum, jimak, dan segala yang membatalkan ibadah tersebut. Namun apabila ditelaah, ternyata puasa dapat menyehatkan jiwa dan raga.

Realitasnya apa yang diwajibkan pastilah bernilai maslahat yang besar bagi pengamalnya. Contoh lain, Allah melarang bersuuzan, berhujat, memfitnah. Karena jika berhenti dari yang dilarang semesta jadi damai dan tenteram. Sayangmya banyak yang tidak menyadari bahwa pelarangan Allah memiliki maslahat bagi pribadi dan umat.

Baca Juga:  Charger Jiwa dan Raga untuk Mencapai Surga-Nya

Ramadan adalah cermin dari maslahat yang mengantarkan seorang mukmin berperilaku positif dengan didikan spektakuler sebulan penuh. Ramadan mendidik orang bercermin, introspeksi diri bahwa kenyataannya kita memiliki kekurangan yang perlu dilengkapi dengan kebersamaan, bahu membahu, dan saling membantu satu sama lain.

Berkah Ramadan untuk semua dan terlahir sebagai fitrah di Syawal nanti. Aamiin.***

Oleh : Khairunnas Rajab, Rektor UIN Suska Riau

RIAUPOS.CO – Ramadan adalah bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam di seantero dunia. Lebih hebat lagi penantian Ramadan oleh orang-orang yang mencapai halawatul iman (kemanisan iman). Penikmat keimanan, merasakan begitu indah dan moleknya Ramadan sehingga alpa bahwa kekasihnya itu hanya hadir antara 29 dan 30 hari setahun.

Penikmat iman seringkali tergoda dengan kemolekan Ramadan, sampai lupa sudah hampir berakhir perjumpaan dengan kekasihnya yang teramat menawan itu.

Panggilan iman bagi orang yang berpuasa mempunyai maksud intrinsik, di mana ada perbedaan antara Islam dengan iman. Berislam yang tunduk dan patuh kepada ajaran yang dibawa oleh baginda Nabi SAW. Sedangkan beriman tashdiq fi qalbi, ikrar bi lisan, dan shadaqahul amal.

Berislam haruslah kafah dan holistik. Islam kafah artinya internalitas diri terbangun komprehensif dalam kehidupan. Makna Islam kafah inilah yang dimaksud dengan makna iman di atas. Berislam dengan makna sederhana belumlah cukup. Karena berislam mestilah dengan beriman. Seolah kita mengatakan saya beriman, maka saya adalah orang berislam secara kafah.

Baca Juga:  Ramadan Menebar Kasih Sayang dan Silaturahmi

Beragama atau memahami agama tidak boleh setengah-setengah. Bahkan beragama harus holistik dan kafah. Islam mengajarkan banyak hal, ada kewajiban ada hak. Perolehan hak mestilah ada kewajiban. Menuntut hak adalah wajib, tetapi memaksakan hak dengan tidak melunasi kewajiban adalah nista.

Islam menawarkan sejumlah maslahat yang membuat penganutnya damai, tenteram, dan bahagia. Sebagai contoh, Allah SWT mewajibkan puasa. Dilihat sepintas puasa terasa berat karena zahirnya yang harus menahan diri untuk tidak makan, minum, jimak, dan segala yang membatalkan ibadah tersebut. Namun apabila ditelaah, ternyata puasa dapat menyehatkan jiwa dan raga.

Realitasnya apa yang diwajibkan pastilah bernilai maslahat yang besar bagi pengamalnya. Contoh lain, Allah melarang bersuuzan, berhujat, memfitnah. Karena jika berhenti dari yang dilarang semesta jadi damai dan tenteram. Sayangmya banyak yang tidak menyadari bahwa pelarangan Allah memiliki maslahat bagi pribadi dan umat.

Baca Juga:  Takwa Puncak Puasa

Ramadan adalah cermin dari maslahat yang mengantarkan seorang mukmin berperilaku positif dengan didikan spektakuler sebulan penuh. Ramadan mendidik orang bercermin, introspeksi diri bahwa kenyataannya kita memiliki kekurangan yang perlu dilengkapi dengan kebersamaan, bahu membahu, dan saling membantu satu sama lain.

Berkah Ramadan untuk semua dan terlahir sebagai fitrah di Syawal nanti. Aamiin.***

Oleh : Khairunnas Rajab, Rektor UIN Suska Riau

Berita Lainnya

Belajar Jujur dari Puasa Ramadan

Takwa Puncak Puasa

Puasa dan Kepekaan Sosial

Tiga Makna Titah Kewajiban Puasa

Tak Dapat Buat Bekawan

Gembira Sejati dan Palsu

Abrasi Moral di Era Digital

Ilmu dan Ibadah

Puasa dan Kepekaan Sosial

Tiga Makna Titah Kewajiban Puasa

Tak Dapat Buat Bekawan

Gembira Sejati dan Palsu

spot_img
spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari