Senin, 22 April 2024

Empat Tahun, Ekspor Pengolahan Daging Naik 80 Persen

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Sektor pengolahan daging berpotensi besar untuk tumbuh lebih pesat. Terbukti, pertumbuhan ekspor meningkat sampai 80 persen dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menyatakan, permintaan masyarakat terhadap produk pangan olahan terus meningkat. Ditambah lagi, konsumsi daging nasional terbilang masih rendah. Itulah peluang bagi industri pengolahan daging untuk mengembangkan pasar produk di dalam negeri.

- Advertisement -

‘’Hal ini juga beriringan dengan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi protein hewani nasional dalam rangka menekan angka stunting dan gizi buruk,’’ katanya akhir pekan lalu, Ahad (20/1).

Putu memaparkan, industri pengolahan daging saat ini berjumlah 64 perusahaan dengan nilai investasi Rp3,45 triliun dan tenaga kerja sebanyak 25.839 orang. Kinerja ekspor kode produksi HS 1601 dan 1602 pada tahun lalu meningkat signifikan. Yakni, mencapai 80 persen bila dibandingkan pada 2019. Tahun lalu kinerja ekspor mencapai 3,5 juta dolar AS, meningkat dari capaian 2019 sebesar 2,8 juta dolar AS.

Baca Juga:  Omnibus Law Justru akan Buat Investor Berpersepsi Negatif ke Indonesia

‘’Nilai ekspor tersebut memang masih kecil bila dibandingkan dengan negara produsen utama di dunia, tetapi menunjukkan bahwa potensi ekspor produk olahan daging cukup tinggi dan mengalami pertumbuhan yang signifikan,’’ paparnya.

- Advertisement -

Putu mengungkapkan, kinerja industri pengolahan daging juga dipengaruhi perubahan pola hidup sebagian masyarakat perkotaan yang dituntut lebih cepat dan instan. Hal ini mendorong peningkatan konsumsi makanan olahan. ‘’Pertumbuhan konsumsi daging sapi dan unggas pada 2023 mengalami peningkatan berturut-turut sebesar 8,20 persen dan 12,03 persen jika dibandingkan pada 2019,’’ ungkapnya.

Dia menyampaikan, pertumbuhan konsumsi daging sapi RI di negara ASEAN berada pada posisi ketiga setelah Vietnam dan Malaysia. Untuk pertumbuhan konsumsi daging unggas, Indonesia berada pada posisi ketiga setelah Vietnam dan Filipina.

Baca Juga:  Mie Sagu Akan Diluncurkan pada HUT Ke-75 RI

Sektor pengolahan daging merupakan salah satu industri yang dapat bertahan menghadapi tantangan global dan tetap mengalami pertumbuhan yang positif. Menurut Putu, tantangan ke depan semakin dinamis. ‘’Perubahan yang cepat menuntut industri untuk terus berinovasi dan beradaptasi agar tidak hanya bisa eksis, tapi juga berkembang menjadi lebih baik sesuai dengan tuntutan zaman,’’ tuturnya.

Industri makanan dan minuman, termasuk pengolahan daging, juga akan dihadapkan pada tantangan dunia yang semakin kompleks. Mulai kondisi geopolitik karena perang Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina.(agf/dio)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Sektor pengolahan daging berpotensi besar untuk tumbuh lebih pesat. Terbukti, pertumbuhan ekspor meningkat sampai 80 persen dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menyatakan, permintaan masyarakat terhadap produk pangan olahan terus meningkat. Ditambah lagi, konsumsi daging nasional terbilang masih rendah. Itulah peluang bagi industri pengolahan daging untuk mengembangkan pasar produk di dalam negeri.

‘’Hal ini juga beriringan dengan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi protein hewani nasional dalam rangka menekan angka stunting dan gizi buruk,’’ katanya akhir pekan lalu, Ahad (20/1).

Putu memaparkan, industri pengolahan daging saat ini berjumlah 64 perusahaan dengan nilai investasi Rp3,45 triliun dan tenaga kerja sebanyak 25.839 orang. Kinerja ekspor kode produksi HS 1601 dan 1602 pada tahun lalu meningkat signifikan. Yakni, mencapai 80 persen bila dibandingkan pada 2019. Tahun lalu kinerja ekspor mencapai 3,5 juta dolar AS, meningkat dari capaian 2019 sebesar 2,8 juta dolar AS.

Baca Juga:  Filagam PT KPI Unit Pakning Jadi Kandidat Proper Emas 2021

‘’Nilai ekspor tersebut memang masih kecil bila dibandingkan dengan negara produsen utama di dunia, tetapi menunjukkan bahwa potensi ekspor produk olahan daging cukup tinggi dan mengalami pertumbuhan yang signifikan,’’ paparnya.

Putu mengungkapkan, kinerja industri pengolahan daging juga dipengaruhi perubahan pola hidup sebagian masyarakat perkotaan yang dituntut lebih cepat dan instan. Hal ini mendorong peningkatan konsumsi makanan olahan. ‘’Pertumbuhan konsumsi daging sapi dan unggas pada 2023 mengalami peningkatan berturut-turut sebesar 8,20 persen dan 12,03 persen jika dibandingkan pada 2019,’’ ungkapnya.

Dia menyampaikan, pertumbuhan konsumsi daging sapi RI di negara ASEAN berada pada posisi ketiga setelah Vietnam dan Malaysia. Untuk pertumbuhan konsumsi daging unggas, Indonesia berada pada posisi ketiga setelah Vietnam dan Filipina.

Baca Juga:  Realisasi Investasi Kuartal I Indonesia Capai Rp282,4 T

Sektor pengolahan daging merupakan salah satu industri yang dapat bertahan menghadapi tantangan global dan tetap mengalami pertumbuhan yang positif. Menurut Putu, tantangan ke depan semakin dinamis. ‘’Perubahan yang cepat menuntut industri untuk terus berinovasi dan beradaptasi agar tidak hanya bisa eksis, tapi juga berkembang menjadi lebih baik sesuai dengan tuntutan zaman,’’ tuturnya.

Industri makanan dan minuman, termasuk pengolahan daging, juga akan dihadapkan pada tantangan dunia yang semakin kompleks. Mulai kondisi geopolitik karena perang Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina.(agf/dio)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img
spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari