Jumat, 14 Juni 2024

Ilmu dan Ibadah

RIAUPOS.CO – Ramadan telah datang. Umat Islam di berbagai belahan dunia menyambut kedatangan Ramadan dengan suka cita. Seorang muslim dengan didasarkan kepada keimanan yang kuat melaksanakan puasa selama 29 atau 30hari. Tuhan telah menyediakan Ramadan sebagai bulan untuk membersihkan diri.

Berbagai keutamaan ibadah Ramadan dapat dilakukan seorang muslim untuk memperoleh rida dari Allah SWT. Umat muslim bahkan menyebut Ramadan sebagai bulan suci (holy month) karena dalam bulan ini manusia diberikan kesempatan untuk menyucikan diri sehingga dapat meraih derajat ketakwaan.

- Advertisement -

Umat muslim mengisi Ramadan dengan melakukan ibadah. Agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah, maka diperlukan ilmu. Bahkan ilmu menjadi salah satu kunci dalam melaksanakan ibadah. Imam al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin mengumpamakan hubungan ilmu dan ibadah seperti dua pasang permata. Ini bermakna betapa penting ilmu dalam melaksanakan ibadah.

Berkaitan dengan kemulian ilmu, Allah SWT berfirman: “Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui (mempunyai ilmu) bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]; 12).

Selanjutnya seruan Allah kepada umat manusia untuk melaksanakan ibadah terdapat dalam ayat: “Tidakkah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada Ku.” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56). Ini bermakna bahwa manusia harus menjalankan ibadah kepada Allah selama hidup di dunia.

- Advertisement -
Baca Juga:  Rahasia Puasa dan Kesabaran Batiniah

Tentu saja ibadah yang dilakukan manusia harus berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu memadai, bisa saja ibadah yang dilakukan seorang tidak sesuai dengan perintah Allah. Bahkan ilmu lebih diutamakan dahulu dari pada ibadah sebab ilmu akan menjadi penuntut seorang muslim dalam menjalankan ibadah.

Dalam melaksanakan ibadah, kita tidak bisa menuruti kehendak hati atau pikiran sendiri. Setiap ibadah diperintahkan Allah pasti ada dasar keilmuannya.

Ada sebagian orang menjalankan ibadah berdasarkan tradisi atau kebiasaan yang diterima secara turun menurun. Padahal tidak semua kebiasaan atau tradisi dijalankan itu sesuai dengan tuntunan yang disampaikan Allah. Oleh karena itu, setiap muslim mestilah menjadikan ilmu sebagai dasar melaksanakan ibadah kepada Allah.

Dengan ilmu, kita akan bisa memahami siapa yang harus disembah dan mengapa kita menjalankan ibadah. Kita harus paham bahwa Allah memerintahkan kita berpuasa agar kita bertakwa. Kita juga harus mengetahui manfaat yang akan kita peroleh ketika kita menjalankan puasa.

Dengan ilmu, kita mengetahui tatacara dan hukum melaksanakan ibadah. Kita harus mengetahui cara melaksanakan puasa. Ada banyak ketentuan dan larangan yang harus kita ketahui dalam berpuasa.

Dengan ilmu, kita mengetahui aspek batiniah dalam melaksanakan ibadah. Dalam ilmu puasa, puasa tidak hanya sekadar menahan makan dan minum serta hubungan suami istri pada siang hari. Puasa adalah wujud ketakwaan kita kepada Allah. Puasa menjadi sarana untuk penyucian diri bagi umat Muslim.

Baca Juga:  Perputaran Uang Selama Idulfitri Diprediksi Rp157,3 T

Apakah ada perbedaan antara orang yang berlilmu dengan orang yang tidak berilmu dalam melaksanakan ibadah? Tentu saja, proses dan capaian ibadah orang yang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berilmu.

Orang berilmu melaksanakan ibadah dengan tertib, sesuai hukumnya dan penuh rida Allah. Sedangkan orang yang beribadah tanpa ilmu akan melaksanakan ibadah sesuka hatinya, tidak tertib, tidak sesuai hukumnya, dan capaian yang diperoleh tidak sesuai dengan tuntunan Allah.

Capaian takwa melalui ibadah puasa hanya bisa diraih dengan ilmu. Oleh karena itu, mari kita benar-benar memahami hakekat puasa dan jalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan yang telah ditetapkan. Kita harus meningkatkan budaya belajar dalam menjalankan ibadah agar semua ibadah yang kita lakukan mendapatkan rida dari Allah.

Ikutilah majelis-majelis ilmu yang memberikan pemahaman terhadap ibadah yang kita lakukan. Gunakan berbagai media teknologi yang ada saat ini untuk memperoleh ilmu. Cari sumber-sumber ilmu yang dapat dipercayai di berbagai media digital agar ibadah yang kita lakukan lebih terarah sesuai dengan tuntunan Allah.***

oleh JUNAIDI , Rektor Unilak

RIAUPOS.CO – Ramadan telah datang. Umat Islam di berbagai belahan dunia menyambut kedatangan Ramadan dengan suka cita. Seorang muslim dengan didasarkan kepada keimanan yang kuat melaksanakan puasa selama 29 atau 30hari. Tuhan telah menyediakan Ramadan sebagai bulan untuk membersihkan diri.

Berbagai keutamaan ibadah Ramadan dapat dilakukan seorang muslim untuk memperoleh rida dari Allah SWT. Umat muslim bahkan menyebut Ramadan sebagai bulan suci (holy month) karena dalam bulan ini manusia diberikan kesempatan untuk menyucikan diri sehingga dapat meraih derajat ketakwaan.

Umat muslim mengisi Ramadan dengan melakukan ibadah. Agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah, maka diperlukan ilmu. Bahkan ilmu menjadi salah satu kunci dalam melaksanakan ibadah. Imam al-Ghazali dalam kitab Minhajul Abidin mengumpamakan hubungan ilmu dan ibadah seperti dua pasang permata. Ini bermakna betapa penting ilmu dalam melaksanakan ibadah.

Berkaitan dengan kemulian ilmu, Allah SWT berfirman: “Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui (mempunyai ilmu) bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65]; 12).

Selanjutnya seruan Allah kepada umat manusia untuk melaksanakan ibadah terdapat dalam ayat: “Tidakkah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada Ku.” (QS. Adz Dzariyat [51]: 56). Ini bermakna bahwa manusia harus menjalankan ibadah kepada Allah selama hidup di dunia.

Baca Juga:  Puasa dan Kepekaan Sosial

Tentu saja ibadah yang dilakukan manusia harus berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu memadai, bisa saja ibadah yang dilakukan seorang tidak sesuai dengan perintah Allah. Bahkan ilmu lebih diutamakan dahulu dari pada ibadah sebab ilmu akan menjadi penuntut seorang muslim dalam menjalankan ibadah.

Dalam melaksanakan ibadah, kita tidak bisa menuruti kehendak hati atau pikiran sendiri. Setiap ibadah diperintahkan Allah pasti ada dasar keilmuannya.

Ada sebagian orang menjalankan ibadah berdasarkan tradisi atau kebiasaan yang diterima secara turun menurun. Padahal tidak semua kebiasaan atau tradisi dijalankan itu sesuai dengan tuntunan yang disampaikan Allah. Oleh karena itu, setiap muslim mestilah menjadikan ilmu sebagai dasar melaksanakan ibadah kepada Allah.

Dengan ilmu, kita akan bisa memahami siapa yang harus disembah dan mengapa kita menjalankan ibadah. Kita harus paham bahwa Allah memerintahkan kita berpuasa agar kita bertakwa. Kita juga harus mengetahui manfaat yang akan kita peroleh ketika kita menjalankan puasa.

Dengan ilmu, kita mengetahui tatacara dan hukum melaksanakan ibadah. Kita harus mengetahui cara melaksanakan puasa. Ada banyak ketentuan dan larangan yang harus kita ketahui dalam berpuasa.

Dengan ilmu, kita mengetahui aspek batiniah dalam melaksanakan ibadah. Dalam ilmu puasa, puasa tidak hanya sekadar menahan makan dan minum serta hubungan suami istri pada siang hari. Puasa adalah wujud ketakwaan kita kepada Allah. Puasa menjadi sarana untuk penyucian diri bagi umat Muslim.

Baca Juga:  Napi Tetap Produktif selama Ramadan

Apakah ada perbedaan antara orang yang berlilmu dengan orang yang tidak berilmu dalam melaksanakan ibadah? Tentu saja, proses dan capaian ibadah orang yang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berilmu.

Orang berilmu melaksanakan ibadah dengan tertib, sesuai hukumnya dan penuh rida Allah. Sedangkan orang yang beribadah tanpa ilmu akan melaksanakan ibadah sesuka hatinya, tidak tertib, tidak sesuai hukumnya, dan capaian yang diperoleh tidak sesuai dengan tuntunan Allah.

Capaian takwa melalui ibadah puasa hanya bisa diraih dengan ilmu. Oleh karena itu, mari kita benar-benar memahami hakekat puasa dan jalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan yang telah ditetapkan. Kita harus meningkatkan budaya belajar dalam menjalankan ibadah agar semua ibadah yang kita lakukan mendapatkan rida dari Allah.

Ikutilah majelis-majelis ilmu yang memberikan pemahaman terhadap ibadah yang kita lakukan. Gunakan berbagai media teknologi yang ada saat ini untuk memperoleh ilmu. Cari sumber-sumber ilmu yang dapat dipercayai di berbagai media digital agar ibadah yang kita lakukan lebih terarah sesuai dengan tuntunan Allah.***

oleh JUNAIDI , Rektor Unilak

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari