Minggu, 23 Juni 2024

Charger Jiwa dan Raga untuk Mencapai Surga-Nya

RIAUPOS.CO – “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Secara eksplisit, Surat Al-Baqarah Ayat 183 telah mewajibkan umat Islam melakukan ibadah puasa Ramadan agar memperoleh ketakwaan. Dengan ketakwaan, manusia dapat mencegah dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa.

- Advertisement -

Predikat takwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup dan mengisi bulan Ramadan itu dengan berbagai kegiatan yang baik, serta menyikapinya dengan benar.

Bulan Ramadan yang senantiasa disambut Rasulullah SAW seperti menyambut datangnya tamu agung. Bulan yang senantiasa disambut dengan kemeriahan. Inilah bulan yang penuh rahmat, berkah, ampunan, dan jaminan jauh dari api neraka.

Bahkan ada malam yang begitu istimewa, bernilai lebih baik dari 1.000 bulan atau 83 tahun 4 bulan yang diistilahkan dalam Al-Qur’an khairun min alfi syahrin (satu amal kebaikan yang kita lakukan nilai pahalanya sama dengan ibadah seribu bulan). “Marhaban ya Ramadan”.

- Advertisement -

Marhaban berasal dari kata rohba yang berarti luas, lebar, dan lapang. Kata marhaban digunakan untuk menyambut tamu yang agung sehingga dengan demikian kita mengucapkan kata ‘’Marhaban ya Ramadan’’ seakan-akan kita mengucapkan selamat datang Ramadan bulan yang agung, dada kami lapang menerimamu, kami tidak risau, kami bahagia menyambutmu, wahai bulan yang penuh ampunan.

Marhaban juga dapat diartikan sebagai bulan obral yang berarti obral amal yang diberikan Allah SWT, obral dalam baca Al-Qur’an, obral dalam salatnya, obral dalam sedekahnya, dan obral terhadap peduli sesama. Dengan itulah tergambar bahwa hati kita benar-benar lapang mengisi bulan Ramadan.

Rohba juga mempunyai arti tempat beristirahat (rest area) orang yang melakukan perjalanan jauh untuk memperbaiki kendaraannya juga menambah bekal untuk melanjutkan perjalanan. Hal ini dapat diartikan bahwa puasa adalah untuk melakukan perbaikan jasmani, rohani, melalui men-charger jiwa dan raga dengan menambah ketakwaan kepada Allah SWT agar mendapatkan surga-Nya.

Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu, yaitu: Pertama, persiapan ruh dan jasad. Dengan cara mengondisikan diri agar pada bulan Syakban (bulan sebelum Ramadan) kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat dan tubuh sudah terlatih berpuasa.

Sebagaimana yang dikatakan Syekh Abu Bakar al Balkhy: Keberhasilan Rasulullah SAW dalam meraih takwa diawali dengan menjadikan bulan Rajab sebagai bulan menanam, Syakban menyiang tanaman dan Ramadan sebagai memanen tanaman.

Baca Juga:  Gembira Sejati dan Palsu

Jadi proses dan tahapannya sangat jelas. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya. Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Syakban.

Kedua, persiapan materi. Bulan Ramadan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah SAW pada bulan Ramadan ini sangat dermawan dan sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah SAW kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RA: “Sungguh, Rasulullah SAW saat bertemu dengan Malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan”. (HR. Muttafaq ‘Alaih). Santunan dan sikap ini sudah tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

Ketiga, persiapan fikri (Persepsi). Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadan dan keutamaan bulan Ramadhan. Dan dapat memanfaatkan serta mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan konkrit mengantarkannya untuk mencapai ketakwaan.

Ketakwaan tentu bisa didapatkan melalui persiapan yang matang. Dengan persiapan yang matang akan men-charger jiwa dan raga menjadi terbentuk untuk menghadapi puasa.

Puasa men-charger pusat kekuatan, sementara makan dan minum hanya men-charger jaringannya. Puasa menguatkan hati, sedang makan dan minum hanya menguatkan organ tubuh. Padahal sekuat apapun tubuh, tapi jika hatinya lemah tak akan banyak berguna.

Puasa menguatkan hati dengan sabar. Padahal tidak ada kekuatan yang mampu menandingi kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan. Boleh dikata, sabar adalah kekuatan itu sendiri. Sabar adalah kunci sukses dalam usaha, kunci kemenangan dalam peperangan dan kunci keberhasilan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Baca Juga:  Tiga Makna Titah Kewajiban Puasa

Tentu tak lupa dengan kisah perang Thalut melawan Jaluth seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 246-251, mengisahkan yaitu: Setelah berjalan cukup lama, pasukan Thalut yang berjumlah delapan puluh ribu itu mulai kehabisan stok air. Padahal air merupakan logistik utama dalam perang. Mereka pun mulai gelisah dan meminta kepada Nabi Daud AS agar memohon air kepada Allah SWT.

Benarlah akhirnya mereka pun menemukan sebuah sungai. Tapi Allah SWT hendak menguji pasukan tersebut. Bukannya mengizinkan minum, Allah SWT justru memerintahkan agar jangan meminum air sungai tersebut kecuali secidukan tangan.

Dari segi Sunah Kauniyah, perintah ini kontradiktif dengan tuntutan riil yang ada. Kondisi pasukan kehabisan air padahal sebentar lagi harus berperang. Tak hanya itu, mereka juga sudah kalah jumlah. Andaipun kondisi badan mereka bagus karena cukup makan dan minum, mereka harus berjuang keras untuk melawan kedigdayaan Jaluth. Tapi inilah ujian iman. Allah SWT bebas menguji hamba-Nyaa dengan apapun.

Akhirnya, masing-masing personel pun melaksanakan perintah tersebut sesuai dengan iman dalam hatinya, yang kuat imannya, sama sekali tidak menyentuh air sungai tersebut, sehaus apapun tenggorokannya. Sebagian lain mengambil batas minimal dengan meminum secidukan tangan. Kemudian yang kufur hatinya, sama sekali tidak mengindahkan syariat-Nya. Mereka pun meminum sepuasnya.

Setelah itu, ujian ini pun mulai memperlihatkan hasil. Sungguh sayang, tingkat kelulusan pasukan ini sangat rendah. Dari delapan puluh ribu, sebanyak enam puluh ribu yang tidak lulus. Mereka meminum air sungai tersebut dan mengabaikan larangan sang Nabi. Akibatnya, bukan dahaga terpuaskan, air sungai tersebut justru membuat mereka semakin haus.

Ternyata, prediksi logis mereka meleset jauh. Yang taat menjadi kuat. Mereka pun menyerbu pasukan Jaluth. Allah SWT melimpahkan kepada mereka kesabaran dalam hati karena mereka telah berusaha menaati syariat-Nya. Akhirnya mampu mengalahkan pasukan Jaluth yang berjumlah besar.

Begitulah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT memang akan menguatkan jiwa dan raga manusia. Semakin berusaha untuk taat, berlatih diri untuk semakin sabar. Dengan demikian jiwa yang penyabar, pasti akan meraih kesuksesan yang besar. Wallahu’alam.***

oleh Edi Azhar, IKMI Pekanbaru

RIAUPOS.CO – “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Secara eksplisit, Surat Al-Baqarah Ayat 183 telah mewajibkan umat Islam melakukan ibadah puasa Ramadan agar memperoleh ketakwaan. Dengan ketakwaan, manusia dapat mencegah dirinya dari perbuatan maksiat dan dosa.

Predikat takwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup dan mengisi bulan Ramadan itu dengan berbagai kegiatan yang baik, serta menyikapinya dengan benar.

Bulan Ramadan yang senantiasa disambut Rasulullah SAW seperti menyambut datangnya tamu agung. Bulan yang senantiasa disambut dengan kemeriahan. Inilah bulan yang penuh rahmat, berkah, ampunan, dan jaminan jauh dari api neraka.

Bahkan ada malam yang begitu istimewa, bernilai lebih baik dari 1.000 bulan atau 83 tahun 4 bulan yang diistilahkan dalam Al-Qur’an khairun min alfi syahrin (satu amal kebaikan yang kita lakukan nilai pahalanya sama dengan ibadah seribu bulan). “Marhaban ya Ramadan”.

Marhaban berasal dari kata rohba yang berarti luas, lebar, dan lapang. Kata marhaban digunakan untuk menyambut tamu yang agung sehingga dengan demikian kita mengucapkan kata ‘’Marhaban ya Ramadan’’ seakan-akan kita mengucapkan selamat datang Ramadan bulan yang agung, dada kami lapang menerimamu, kami tidak risau, kami bahagia menyambutmu, wahai bulan yang penuh ampunan.

Marhaban juga dapat diartikan sebagai bulan obral yang berarti obral amal yang diberikan Allah SWT, obral dalam baca Al-Qur’an, obral dalam salatnya, obral dalam sedekahnya, dan obral terhadap peduli sesama. Dengan itulah tergambar bahwa hati kita benar-benar lapang mengisi bulan Ramadan.

Rohba juga mempunyai arti tempat beristirahat (rest area) orang yang melakukan perjalanan jauh untuk memperbaiki kendaraannya juga menambah bekal untuk melanjutkan perjalanan. Hal ini dapat diartikan bahwa puasa adalah untuk melakukan perbaikan jasmani, rohani, melalui men-charger jiwa dan raga dengan menambah ketakwaan kepada Allah SWT agar mendapatkan surga-Nya.

Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu, yaitu: Pertama, persiapan ruh dan jasad. Dengan cara mengondisikan diri agar pada bulan Syakban (bulan sebelum Ramadan) kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat dan tubuh sudah terlatih berpuasa.

Sebagaimana yang dikatakan Syekh Abu Bakar al Balkhy: Keberhasilan Rasulullah SAW dalam meraih takwa diawali dengan menjadikan bulan Rajab sebagai bulan menanam, Syakban menyiang tanaman dan Ramadan sebagai memanen tanaman.

Baca Juga:  Gembira Sejati dan Palsu

Jadi proses dan tahapannya sangat jelas. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadan, kondisi ruh dan iman telah membaik, yang selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya. Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita agar kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Syakban.

Kedua, persiapan materi. Bulan Ramadan merupakan bulan muwaasah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah SAW pada bulan Ramadan ini sangat dermawan dan sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah SAW kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RA: “Sungguh, Rasulullah SAW saat bertemu dengan Malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan”. (HR. Muttafaq ‘Alaih). Santunan dan sikap ini sudah tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai.

Ketiga, persiapan fikri (Persepsi). Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadan dan keutamaan bulan Ramadhan. Dan dapat memanfaatkan serta mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan konkrit mengantarkannya untuk mencapai ketakwaan.

Ketakwaan tentu bisa didapatkan melalui persiapan yang matang. Dengan persiapan yang matang akan men-charger jiwa dan raga menjadi terbentuk untuk menghadapi puasa.

Puasa men-charger pusat kekuatan, sementara makan dan minum hanya men-charger jaringannya. Puasa menguatkan hati, sedang makan dan minum hanya menguatkan organ tubuh. Padahal sekuat apapun tubuh, tapi jika hatinya lemah tak akan banyak berguna.

Puasa menguatkan hati dengan sabar. Padahal tidak ada kekuatan yang mampu menandingi kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan. Boleh dikata, sabar adalah kekuatan itu sendiri. Sabar adalah kunci sukses dalam usaha, kunci kemenangan dalam peperangan dan kunci keberhasilan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Baca Juga:  Abrasi Moral di Era Digital

Tentu tak lupa dengan kisah perang Thalut melawan Jaluth seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 246-251, mengisahkan yaitu: Setelah berjalan cukup lama, pasukan Thalut yang berjumlah delapan puluh ribu itu mulai kehabisan stok air. Padahal air merupakan logistik utama dalam perang. Mereka pun mulai gelisah dan meminta kepada Nabi Daud AS agar memohon air kepada Allah SWT.

Benarlah akhirnya mereka pun menemukan sebuah sungai. Tapi Allah SWT hendak menguji pasukan tersebut. Bukannya mengizinkan minum, Allah SWT justru memerintahkan agar jangan meminum air sungai tersebut kecuali secidukan tangan.

Dari segi Sunah Kauniyah, perintah ini kontradiktif dengan tuntutan riil yang ada. Kondisi pasukan kehabisan air padahal sebentar lagi harus berperang. Tak hanya itu, mereka juga sudah kalah jumlah. Andaipun kondisi badan mereka bagus karena cukup makan dan minum, mereka harus berjuang keras untuk melawan kedigdayaan Jaluth. Tapi inilah ujian iman. Allah SWT bebas menguji hamba-Nyaa dengan apapun.

Akhirnya, masing-masing personel pun melaksanakan perintah tersebut sesuai dengan iman dalam hatinya, yang kuat imannya, sama sekali tidak menyentuh air sungai tersebut, sehaus apapun tenggorokannya. Sebagian lain mengambil batas minimal dengan meminum secidukan tangan. Kemudian yang kufur hatinya, sama sekali tidak mengindahkan syariat-Nya. Mereka pun meminum sepuasnya.

Setelah itu, ujian ini pun mulai memperlihatkan hasil. Sungguh sayang, tingkat kelulusan pasukan ini sangat rendah. Dari delapan puluh ribu, sebanyak enam puluh ribu yang tidak lulus. Mereka meminum air sungai tersebut dan mengabaikan larangan sang Nabi. Akibatnya, bukan dahaga terpuaskan, air sungai tersebut justru membuat mereka semakin haus.

Ternyata, prediksi logis mereka meleset jauh. Yang taat menjadi kuat. Mereka pun menyerbu pasukan Jaluth. Allah SWT melimpahkan kepada mereka kesabaran dalam hati karena mereka telah berusaha menaati syariat-Nya. Akhirnya mampu mengalahkan pasukan Jaluth yang berjumlah besar.

Begitulah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT memang akan menguatkan jiwa dan raga manusia. Semakin berusaha untuk taat, berlatih diri untuk semakin sabar. Dengan demikian jiwa yang penyabar, pasti akan meraih kesuksesan yang besar. Wallahu’alam.***

oleh Edi Azhar, IKMI Pekanbaru

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Belajar Jujur dari Puasa Ramadan

Cermin Ramadan

Takwa Puncak Puasa

Puasa dan Kepekaan Sosial

Tiga Makna Titah Kewajiban Puasa

Tak Dapat Buat Bekawan

Gembira Sejati dan Palsu

Abrasi Moral di Era Digital

Ilmu dan Ibadah

Takwa Puncak Puasa

Puasa dan Kepekaan Sosial

Tiga Makna Titah Kewajiban Puasa

Tak Dapat Buat Bekawan

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari