Kamis, 18 Juni 2026
- Advertisement -

Minyakita Mahal di Pekanbaru, Bapanas Minta Produsen Transparan soal Distribusi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional, Indra Wijayanto langsung mengumpulkan seluruh produsen Minyakita yang memiliki pabrik di Riau usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua pasar tradisional Kota Pekanbaru, Senin (11/5). Dalam sidak tersebut, Bapanas menemukan harga Minyakita dijual hingga Rp20 ribu per liter.

Padahal, harga eceran tertinggi (HET) Minyakita di Pekanbaru berada di kisaran Rp15.700 per liter.

Pertemuan itu dihadiri sejumlah perwakilan perusahaan produsen Minyakita, di antaranya PT Intibenua Perkasatama dari Musim Mas Group, Sumber Tani Agung Resources, Sari Dumai Sejati, Kreasijaya Adhikarya, Intan Sejati Andalan, hingga Pelita Agung Industri.

Selain produsen, beberapa peserta juga mengikuti rapat melalui zoom meeting, termasuk distributor seperti ID Food.

Dalam rapat tersebut, Indra menyampaikan bahwa pasokan Minyakita di Pekanbaru sebenarnya masih cukup tersedia. Namun, pihaknya menemukan adanya penjualan Minyakita di atas HET yang telah ditetapkan pemerintah.

Baca Juga:  Targetkan 300 Kantong Darah, IKTS Agendakan Baksos

Selain itu, hasil pemantauan di Pasar Pagi Arengka dan Pasar Dupa menunjukkan hanya ada dua merek Minyakita yang banyak beredar di pasaran, yakni produk dari Permata Hijau Sawit asal Sumatera Utara dan Pelita Agung Industri yang distribusinya dilakukan melalui alokasi 35 persen oleh Perum Bulog.

“Kami tadi sudah keliling ke dua pasar. Kalau sampai 10 pasar pun saya yakin yang ditemukan tetap barang Pelita Agung Agro Industri yang didistribusikan lewat Bulog. Pertanyaannya, untuk pelaku usaha lain, 65 persen distribusi itu ke mana? Barangnya ada di mana dan kenapa tidak ada di pasar?” tanya Indra.

Berdasarkan data Simirah, di Riau terdapat 13 pabrik yang memproduksi Minyakita. Karena itu, Indra menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dari setiap produsen agar pasokan Minyakita tetap tersedia di pasar rakyat, khususnya di Pekanbaru dan wilayah Riau lainnya.

Baca Juga:  504 Mahasiswa Univrab Ikuti KKN Internasional

Ia juga meminta produsen mengalokasikan sebagian distribusi Minyakita untuk pasar-pasar pantauan pemerintah agar harga tetap terkendali dan bisa berada di bawah HET.

“Kami tidak meminta banyak. Misalnya produksi 1.000 ton, sebanyak 35 persen sudah untuk Bulog sesuai Permendag Nomor 34 Tahun 2025. Sisanya 65 persen, kami hanya meminta sebagian kecil dialokasikan untuk pasar rakyat di Riau,” jelasnya.

Indra menambahkan, berdasarkan data Simirah, ada produsen yang mengalokasikan pasokan hingga 1.000 ton kepada distributor. Menurutnya, jika sebagian kecil dari alokasi tersebut disalurkan ke pasar rakyat, maka ketersediaan Minyakita di Riau akan lebih terjamin.

“Kami hanya minta sekitar 20 ton untuk tiap pasar rakyat di Riau. Jumlah itu kecil, tetapi sangat membantu menjaga kecukupan pasokan Minyakita di pasaran,” ujarnya.(ayi/end/yls)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional, Indra Wijayanto langsung mengumpulkan seluruh produsen Minyakita yang memiliki pabrik di Riau usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua pasar tradisional Kota Pekanbaru, Senin (11/5). Dalam sidak tersebut, Bapanas menemukan harga Minyakita dijual hingga Rp20 ribu per liter.

Padahal, harga eceran tertinggi (HET) Minyakita di Pekanbaru berada di kisaran Rp15.700 per liter.

Pertemuan itu dihadiri sejumlah perwakilan perusahaan produsen Minyakita, di antaranya PT Intibenua Perkasatama dari Musim Mas Group, Sumber Tani Agung Resources, Sari Dumai Sejati, Kreasijaya Adhikarya, Intan Sejati Andalan, hingga Pelita Agung Industri.

Selain produsen, beberapa peserta juga mengikuti rapat melalui zoom meeting, termasuk distributor seperti ID Food.

Dalam rapat tersebut, Indra menyampaikan bahwa pasokan Minyakita di Pekanbaru sebenarnya masih cukup tersedia. Namun, pihaknya menemukan adanya penjualan Minyakita di atas HET yang telah ditetapkan pemerintah.

- Advertisement -
Baca Juga:  Tebang Pohon Tanpa Izin, Warga Pekanbaru Disanksi Tanam 30 Pohon

Selain itu, hasil pemantauan di Pasar Pagi Arengka dan Pasar Dupa menunjukkan hanya ada dua merek Minyakita yang banyak beredar di pasaran, yakni produk dari Permata Hijau Sawit asal Sumatera Utara dan Pelita Agung Industri yang distribusinya dilakukan melalui alokasi 35 persen oleh Perum Bulog.

“Kami tadi sudah keliling ke dua pasar. Kalau sampai 10 pasar pun saya yakin yang ditemukan tetap barang Pelita Agung Agro Industri yang didistribusikan lewat Bulog. Pertanyaannya, untuk pelaku usaha lain, 65 persen distribusi itu ke mana? Barangnya ada di mana dan kenapa tidak ada di pasar?” tanya Indra.

- Advertisement -

Berdasarkan data Simirah, di Riau terdapat 13 pabrik yang memproduksi Minyakita. Karena itu, Indra menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dari setiap produsen agar pasokan Minyakita tetap tersedia di pasar rakyat, khususnya di Pekanbaru dan wilayah Riau lainnya.

Baca Juga:  Jelang Ramadan, Gepeng Ditertibkan

Ia juga meminta produsen mengalokasikan sebagian distribusi Minyakita untuk pasar-pasar pantauan pemerintah agar harga tetap terkendali dan bisa berada di bawah HET.

“Kami tidak meminta banyak. Misalnya produksi 1.000 ton, sebanyak 35 persen sudah untuk Bulog sesuai Permendag Nomor 34 Tahun 2025. Sisanya 65 persen, kami hanya meminta sebagian kecil dialokasikan untuk pasar rakyat di Riau,” jelasnya.

Indra menambahkan, berdasarkan data Simirah, ada produsen yang mengalokasikan pasokan hingga 1.000 ton kepada distributor. Menurutnya, jika sebagian kecil dari alokasi tersebut disalurkan ke pasar rakyat, maka ketersediaan Minyakita di Riau akan lebih terjamin.

“Kami hanya minta sekitar 20 ton untuk tiap pasar rakyat di Riau. Jumlah itu kecil, tetapi sangat membantu menjaga kecukupan pasokan Minyakita di pasaran,” ujarnya.(ayi/end/yls)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional, Indra Wijayanto langsung mengumpulkan seluruh produsen Minyakita yang memiliki pabrik di Riau usai melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua pasar tradisional Kota Pekanbaru, Senin (11/5). Dalam sidak tersebut, Bapanas menemukan harga Minyakita dijual hingga Rp20 ribu per liter.

Padahal, harga eceran tertinggi (HET) Minyakita di Pekanbaru berada di kisaran Rp15.700 per liter.

Pertemuan itu dihadiri sejumlah perwakilan perusahaan produsen Minyakita, di antaranya PT Intibenua Perkasatama dari Musim Mas Group, Sumber Tani Agung Resources, Sari Dumai Sejati, Kreasijaya Adhikarya, Intan Sejati Andalan, hingga Pelita Agung Industri.

Selain produsen, beberapa peserta juga mengikuti rapat melalui zoom meeting, termasuk distributor seperti ID Food.

Dalam rapat tersebut, Indra menyampaikan bahwa pasokan Minyakita di Pekanbaru sebenarnya masih cukup tersedia. Namun, pihaknya menemukan adanya penjualan Minyakita di atas HET yang telah ditetapkan pemerintah.

Baca Juga:  RS Otak dan Jantung di Riau Dibangun Multiyears

Selain itu, hasil pemantauan di Pasar Pagi Arengka dan Pasar Dupa menunjukkan hanya ada dua merek Minyakita yang banyak beredar di pasaran, yakni produk dari Permata Hijau Sawit asal Sumatera Utara dan Pelita Agung Industri yang distribusinya dilakukan melalui alokasi 35 persen oleh Perum Bulog.

“Kami tadi sudah keliling ke dua pasar. Kalau sampai 10 pasar pun saya yakin yang ditemukan tetap barang Pelita Agung Agro Industri yang didistribusikan lewat Bulog. Pertanyaannya, untuk pelaku usaha lain, 65 persen distribusi itu ke mana? Barangnya ada di mana dan kenapa tidak ada di pasar?” tanya Indra.

Berdasarkan data Simirah, di Riau terdapat 13 pabrik yang memproduksi Minyakita. Karena itu, Indra menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dari setiap produsen agar pasokan Minyakita tetap tersedia di pasar rakyat, khususnya di Pekanbaru dan wilayah Riau lainnya.

Baca Juga:  Fun Bike Semarak Bhayangkara Diikuti 6 Ribu Peserta

Ia juga meminta produsen mengalokasikan sebagian distribusi Minyakita untuk pasar-pasar pantauan pemerintah agar harga tetap terkendali dan bisa berada di bawah HET.

“Kami tidak meminta banyak. Misalnya produksi 1.000 ton, sebanyak 35 persen sudah untuk Bulog sesuai Permendag Nomor 34 Tahun 2025. Sisanya 65 persen, kami hanya meminta sebagian kecil dialokasikan untuk pasar rakyat di Riau,” jelasnya.

Indra menambahkan, berdasarkan data Simirah, ada produsen yang mengalokasikan pasokan hingga 1.000 ton kepada distributor. Menurutnya, jika sebagian kecil dari alokasi tersebut disalurkan ke pasar rakyat, maka ketersediaan Minyakita di Riau akan lebih terjamin.

“Kami hanya minta sekitar 20 ton untuk tiap pasar rakyat di Riau. Jumlah itu kecil, tetapi sangat membantu menjaga kecukupan pasokan Minyakita di pasaran,” ujarnya.(ayi/end/yls)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari