SEOUL (RIAUPOS.CO) – PEMERINTAH Korea Selatan (Korsel) memulai penyelidikan atas kematian seorang perempuan 80 tahun. Ambulans yang mengangkut lansia itu ditolak masuk ke beberapa RS. Situasi tersebut terjadi di tengah hiruk pikuk aksi mogok para dokter.
Dilansir dari BBC, pasien itu dilaporkan meninggal setelah mengalami serangan jantung. Pada Jumat (23/2) waktu setempat, paramedis di Kota Daejeon menelepon tujuh RS agar mengambil pasien tersebut. Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan kurangnya staf dan tempat tidur.
Lansia itu lantas dirawat di sebuah RS Universitas Negeri sekitar 67 menit setelah telepon meminta bantuan. Namun, dia dinyatakan meninggal saat kedatangan.
Selasa (27/2) pejabat peĀmerintah menyatakan, akan menyelidiki kasus yang viral diberitakan berbagai media di Korsel tersebut. Peristiwa itu diyakini sebagai kematian pertama yang berkaitan dengan aksi pemogokan dokter yang tengah terjadi. Sekitar 70 persen dokter junior melakukan pemogokan selama seminggu terakhir untuk memprotes rencana melatih lebih banyak dokter.
Sejalan dengan itu, Menteri KeĀsehatan Cho Kyoo-hong menegaskan bahwa para dokĀter trainee yang mogok akan menghadapi konsekuensi hukum. Termasuk peĀnangguhan izin praktik mereka. Sanksi itu bisa dicabut asal mereka kembali bekerja besok, Kamis (29/2).
āJika melakukannya (kembali bekerja,red), mereka tidak akan bertanggung jawab atas tindakan sebelumnya,āā jelas Kyoo-hong dilansir dari kantor berita Yonhap. Sekitar 9.000 dokter trainee dilaporkan telah meninggalkan tempat kerjanya pada hari kedelapan protes.(dee/bay/esi)
Laporan JPG, Seoul
SEOUL (RIAUPOS.CO) – PEMERINTAH Korea Selatan (Korsel) memulai penyelidikan atas kematian seorang perempuan 80 tahun. Ambulans yang mengangkut lansia itu ditolak masuk ke beberapa RS. Situasi tersebut terjadi di tengah hiruk pikuk aksi mogok para dokter.
Dilansir dari BBC, pasien itu dilaporkan meninggal setelah mengalami serangan jantung. Pada Jumat (23/2) waktu setempat, paramedis di Kota Daejeon menelepon tujuh RS agar mengambil pasien tersebut. Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan kurangnya staf dan tempat tidur.
Lansia itu lantas dirawat di sebuah RS Universitas Negeri sekitar 67 menit setelah telepon meminta bantuan. Namun, dia dinyatakan meninggal saat kedatangan.
Selasa (27/2) pejabat peĀmerintah menyatakan, akan menyelidiki kasus yang viral diberitakan berbagai media di Korsel tersebut. Peristiwa itu diyakini sebagai kematian pertama yang berkaitan dengan aksi pemogokan dokter yang tengah terjadi. Sekitar 70 persen dokter junior melakukan pemogokan selama seminggu terakhir untuk memprotes rencana melatih lebih banyak dokter.
Sejalan dengan itu, Menteri KeĀsehatan Cho Kyoo-hong menegaskan bahwa para dokĀter trainee yang mogok akan menghadapi konsekuensi hukum. Termasuk peĀnangguhan izin praktik mereka. Sanksi itu bisa dicabut asal mereka kembali bekerja besok, Kamis (29/2).
āJika melakukannya (kembali bekerja,red), mereka tidak akan bertanggung jawab atas tindakan sebelumnya,āā jelas Kyoo-hong dilansir dari kantor berita Yonhap. Sekitar 9.000 dokter trainee dilaporkan telah meninggalkan tempat kerjanya pada hari kedelapan protes.(dee/bay/esi)
Laporan JPG, Seoul