Minggu, 5 Juli 2026
- Advertisement -

CATATAN HARY B KORIUN

Brazil adalah Brazil, Ancelotti Tetaplah Don Carlo

RIAUPOS.CO – BRAZIL, dengan pemain sekualitas apa pun, tetaplah Brazil. Seburuk apa pun generasi yang dilahirkan, mereka tetaplah Brazil yang selalu diunggulkan di setiap perhelatan besar sepakbola dunia dengan pemain-pemain yang menonjol dan permainan yang menawan. Termasuk Piala Dunia 2026 ini.

Banyak orang terkejut ketika Federasi Sepakbola Brazil (Confederação Brasileira de Futebol/CBF) menunjuk Carlo Ancelotti menjadi pelatih menggantikan Dorival Junior  pada Senin (12/5/2025. Dorival dipecat setelah Brazil kalah 1-4 dari Argentina di kualifikasi Piala Dunia 2026. Ancelotti menjadi orang asing kedua yang menangani Selecao. Sebelum dia, ada nama orang Argentina, Filpo Nunez, pada tahun 1965. Sudah sangat lama.

Presiden CBF, Ednaldo Rodrigues, adalah orang yang sangat antusias dengan lelaki Italia berusia 67 tahun ini. Alasanya jelas: prestasi mentereng mantan gelandang AS Roma dan AC Milan itu di level klub. Sebagai pemain, dia mempersembahkan berbagai gelar untuk Roma dan Milan, termasuk dua trofi Liga Champions (dulu masih Piala Champions) untuk Rossonerri. Sedangkan sebagai pelatih, dia lebih garang lagi. Don Carlo mempersembahkan berbagai trofi mayor untuk tim-tim yang ditanganinya seperti Milan, Real Madrid, Parma, Juventus, Napoli, Bayern Muenchen, Paris SG, atau Chelsea. Dia mendapatkan lima gelar Liga Champions bersama Milan (2) dan Madrid (3). Itu pencapaian tertinggi pelatih di Eopa, bahkan dunia, meraih gelar paling bergengsi tersebut. Jika ditambah saat menjadi pemain, dia punya 7 trofi Si Kuping Besar itu. Hanya saat menangani Regiana dan Everton-lah Ancelotti nirgelar.

Namun, kritik tetap muncul. Ini sebabnya: Don Carlo tak pernah menangani tim nasional. Dia hanya pernah menjadi asisten Arrigho Sachi di timnas Italia pada periode 1992-1995. Pencapaiannya: final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Gli Azzurri kalah adu penalti dari Brazil kala itu, ditandai dengan tendangan Roberto Baggio yang membelah langit. Selebihnya, dia memang tak pernah manggung bersama timnas mana pun hingga kemudian dipinang Brazil. Jelas, ada perbedaan signifikan antara menangani klub yang turun di kompetisi dengan timnas yang bermain di turnamen. Yang satu berbasis endurance untuk jangka panjang, yang satu mengandalkan stabilitas jangka pendek.

Baca Juga:  SPANYOL V BRAZIL; Kembalikan Kepercayaan Diri

Bersama klub, seorang pelatih harus memiliki silabus jangka panjang, satu musim –hampir setahun– untuk terjun di berbagai kompetisi. Ini memerlukan endurance. Ini tentang daya tahan yang memerlukan kemampuan resistance terhadap rasa lelah serta cepat melakukan recovery dari pertandingan ke pertandingan dalam jangka waktu lama. Satu musim kompetisi biasanya menyelesaikan 36-38 pertandingan. Belum mengikuti kejuaraan lainnya di musim yang sama. Di sini pelatih harus bisa mengatur ritme, rotasi pemain, menjaga ruang ganti agar tetap stabil, mengatur prilaku bintang, dan sebagainya.

Di timnas, pelatih tetap memerlukan endurance, tetapi dalam jangka pendek. Di Piala Dunia 2026 ini, misalnya, peserta hanya memerlukan 8 pertandingan untuk menjadi juara. Dia harus membuat stabilitas tim terjaga sepanjang turnamen, jika perlu memakai pemain yang sama dalam setiap pertandingan jika dari awal hasilnya bagus. Istilah The Winning Team muncul di sini. Jangan ubah tim yang sudah memenangkan pertandingan sebelumnya. Semua pemain harus memiliki fisik yang prima selama turnamen, fokus, dan harus bermental buas: menghabisi lawan secara maksimal. Dua kondisi ini memerlukan pendekatan dan metode pelatihan berbeda. Di klub, tim dilatih sepanjang tahun. Di timnas, mereka hanya memiliki persiapan sebentar menjelang turnamen dengan durasi yang juga pendek saat turnamen berlangsung.

Di situlah orang meragukan Don Carlo. Dia dianggap tak cocok dengan iklim timnas. Namun, Ancelotti tetaplah Don Carlo. Paling tidak, hingga menyingkirkan Jepang di 32 besar, dia sudah memperlihatkan bahwa dia memang pelatih prakmatis. Hasil akhir adalah segalanya, tak peduli metodenya apa. Saat menghadapi Jepang, meski menyerang sepanjang laga di babak pertama, namun semua buntu. Para penyerang tak bisa melakukan sentuhan akhir ke gawang Zion Suzuki. Pemain sekelas Vinicius Jr yang garang di Madrid –dan pemain depan lainnya– jadi melempem di depan pertahanan berlapis Samurai Biru. Mereka justru kebobolan oleh tendangan dari luar kotak penalti yang dilepaskan Kaishu Sano, pemain yang banyak duduk di bangku cadangan.

Baca Juga:  Turki Lebih Diunggulkan, Australia Andalkan Mental dan Pengalaman

Namun, di babak kedua, Ancelotti mengubah taktik. Dia mengirim teror bertubi-tubi dengan melepaskan serangan ke kotak penalti Jepang dari berbagai arah dan tingkatan. Dalam istilah perang, serangan dari darat,laut, udara, hingga kepolisian. Direct pass lewat bawah maupun udara yang dilakukan terus-menerus, membuat pertahanan Jepang yang dikomandoi Shogo Taniguchi, Takehiro Tomiyasu, dan Hiroki Ito yang dilapis oleh semua pemain lainnya, goyah. Gol Casimero mengubah segalanya. Kepanikan Jepang akhirnya dibayar mahal dengan gol Gabriel Martinelli di menit 95+5.

Di sini kita bisa melihat, Don Carlo jago dalam mencari solusi jangka pendek. Hal yang membuatnya dianggap pelatih tanpa taktik, padahal itulah sebenarnya taktiknya. Dan pola ini pasti akan diterapkan saat menghadapi Norwegia dini hari nanti. Ancelotti pandai berhitung. Dengan karakter pemain-pemain yang dimilikinya, dia bisa mengubah taktik dan strategi dari penguasaan bola hingga teror sporadis yang tetap penuh perhitungan. Taktik ini memang tak mampu menembus pertahanan Maroko di penyisihan grup, namun mereka juga tak kebobolan dan tak kalah.

Menghadapi Norwegia yang mayoritas memiliki pemain-pemain jangkung, Don Carlo tetap akan mencoba dengan penguasaan bola lebih dulu di babak pertama, tetapi pasti punya kotra strategi setelah itu. Karakter pemain-pemain jangkung pasti beda dengan Jepang yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan. Bisa jadi, malah akan lebih mudah dengan penguasaan bola dari kaki ke kaki, umpan-umpan pendek merapat, ketimbang direct ball seperti di babak kedua lawan Jepang.

Tetapi, jangan lupa, Stale Solbakken punya satu monster yang mungkin tak terlihat di sepanjang pertandingan, namun mematikan saat dibiarkan: Erling Haaland! Ini yang dikhawatirkan.***

 

RIAUPOS.CO – BRAZIL, dengan pemain sekualitas apa pun, tetaplah Brazil. Seburuk apa pun generasi yang dilahirkan, mereka tetaplah Brazil yang selalu diunggulkan di setiap perhelatan besar sepakbola dunia dengan pemain-pemain yang menonjol dan permainan yang menawan. Termasuk Piala Dunia 2026 ini.

Banyak orang terkejut ketika Federasi Sepakbola Brazil (Confederação Brasileira de Futebol/CBF) menunjuk Carlo Ancelotti menjadi pelatih menggantikan Dorival Junior  pada Senin (12/5/2025. Dorival dipecat setelah Brazil kalah 1-4 dari Argentina di kualifikasi Piala Dunia 2026. Ancelotti menjadi orang asing kedua yang menangani Selecao. Sebelum dia, ada nama orang Argentina, Filpo Nunez, pada tahun 1965. Sudah sangat lama.

Presiden CBF, Ednaldo Rodrigues, adalah orang yang sangat antusias dengan lelaki Italia berusia 67 tahun ini. Alasanya jelas: prestasi mentereng mantan gelandang AS Roma dan AC Milan itu di level klub. Sebagai pemain, dia mempersembahkan berbagai gelar untuk Roma dan Milan, termasuk dua trofi Liga Champions (dulu masih Piala Champions) untuk Rossonerri. Sedangkan sebagai pelatih, dia lebih garang lagi. Don Carlo mempersembahkan berbagai trofi mayor untuk tim-tim yang ditanganinya seperti Milan, Real Madrid, Parma, Juventus, Napoli, Bayern Muenchen, Paris SG, atau Chelsea. Dia mendapatkan lima gelar Liga Champions bersama Milan (2) dan Madrid (3). Itu pencapaian tertinggi pelatih di Eopa, bahkan dunia, meraih gelar paling bergengsi tersebut. Jika ditambah saat menjadi pemain, dia punya 7 trofi Si Kuping Besar itu. Hanya saat menangani Regiana dan Everton-lah Ancelotti nirgelar.

Namun, kritik tetap muncul. Ini sebabnya: Don Carlo tak pernah menangani tim nasional. Dia hanya pernah menjadi asisten Arrigho Sachi di timnas Italia pada periode 1992-1995. Pencapaiannya: final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Gli Azzurri kalah adu penalti dari Brazil kala itu, ditandai dengan tendangan Roberto Baggio yang membelah langit. Selebihnya, dia memang tak pernah manggung bersama timnas mana pun hingga kemudian dipinang Brazil. Jelas, ada perbedaan signifikan antara menangani klub yang turun di kompetisi dengan timnas yang bermain di turnamen. Yang satu berbasis endurance untuk jangka panjang, yang satu mengandalkan stabilitas jangka pendek.

Baca Juga:  Inggris Percaya Diri Hadapi Fase Gugur, Declan Rice Klaim Timnya Punya Penendang Penalti Terbaik

Bersama klub, seorang pelatih harus memiliki silabus jangka panjang, satu musim –hampir setahun– untuk terjun di berbagai kompetisi. Ini memerlukan endurance. Ini tentang daya tahan yang memerlukan kemampuan resistance terhadap rasa lelah serta cepat melakukan recovery dari pertandingan ke pertandingan dalam jangka waktu lama. Satu musim kompetisi biasanya menyelesaikan 36-38 pertandingan. Belum mengikuti kejuaraan lainnya di musim yang sama. Di sini pelatih harus bisa mengatur ritme, rotasi pemain, menjaga ruang ganti agar tetap stabil, mengatur prilaku bintang, dan sebagainya.

- Advertisement -

Di timnas, pelatih tetap memerlukan endurance, tetapi dalam jangka pendek. Di Piala Dunia 2026 ini, misalnya, peserta hanya memerlukan 8 pertandingan untuk menjadi juara. Dia harus membuat stabilitas tim terjaga sepanjang turnamen, jika perlu memakai pemain yang sama dalam setiap pertandingan jika dari awal hasilnya bagus. Istilah The Winning Team muncul di sini. Jangan ubah tim yang sudah memenangkan pertandingan sebelumnya. Semua pemain harus memiliki fisik yang prima selama turnamen, fokus, dan harus bermental buas: menghabisi lawan secara maksimal. Dua kondisi ini memerlukan pendekatan dan metode pelatihan berbeda. Di klub, tim dilatih sepanjang tahun. Di timnas, mereka hanya memiliki persiapan sebentar menjelang turnamen dengan durasi yang juga pendek saat turnamen berlangsung.

Di situlah orang meragukan Don Carlo. Dia dianggap tak cocok dengan iklim timnas. Namun, Ancelotti tetaplah Don Carlo. Paling tidak, hingga menyingkirkan Jepang di 32 besar, dia sudah memperlihatkan bahwa dia memang pelatih prakmatis. Hasil akhir adalah segalanya, tak peduli metodenya apa. Saat menghadapi Jepang, meski menyerang sepanjang laga di babak pertama, namun semua buntu. Para penyerang tak bisa melakukan sentuhan akhir ke gawang Zion Suzuki. Pemain sekelas Vinicius Jr yang garang di Madrid –dan pemain depan lainnya– jadi melempem di depan pertahanan berlapis Samurai Biru. Mereka justru kebobolan oleh tendangan dari luar kotak penalti yang dilepaskan Kaishu Sano, pemain yang banyak duduk di bangku cadangan.

- Advertisement -
Baca Juga:  Indonesia v Vietnam

Namun, di babak kedua, Ancelotti mengubah taktik. Dia mengirim teror bertubi-tubi dengan melepaskan serangan ke kotak penalti Jepang dari berbagai arah dan tingkatan. Dalam istilah perang, serangan dari darat,laut, udara, hingga kepolisian. Direct pass lewat bawah maupun udara yang dilakukan terus-menerus, membuat pertahanan Jepang yang dikomandoi Shogo Taniguchi, Takehiro Tomiyasu, dan Hiroki Ito yang dilapis oleh semua pemain lainnya, goyah. Gol Casimero mengubah segalanya. Kepanikan Jepang akhirnya dibayar mahal dengan gol Gabriel Martinelli di menit 95+5.

Di sini kita bisa melihat, Don Carlo jago dalam mencari solusi jangka pendek. Hal yang membuatnya dianggap pelatih tanpa taktik, padahal itulah sebenarnya taktiknya. Dan pola ini pasti akan diterapkan saat menghadapi Norwegia dini hari nanti. Ancelotti pandai berhitung. Dengan karakter pemain-pemain yang dimilikinya, dia bisa mengubah taktik dan strategi dari penguasaan bola hingga teror sporadis yang tetap penuh perhitungan. Taktik ini memang tak mampu menembus pertahanan Maroko di penyisihan grup, namun mereka juga tak kebobolan dan tak kalah.

Menghadapi Norwegia yang mayoritas memiliki pemain-pemain jangkung, Don Carlo tetap akan mencoba dengan penguasaan bola lebih dulu di babak pertama, tetapi pasti punya kotra strategi setelah itu. Karakter pemain-pemain jangkung pasti beda dengan Jepang yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan. Bisa jadi, malah akan lebih mudah dengan penguasaan bola dari kaki ke kaki, umpan-umpan pendek merapat, ketimbang direct ball seperti di babak kedua lawan Jepang.

Tetapi, jangan lupa, Stale Solbakken punya satu monster yang mungkin tak terlihat di sepanjang pertandingan, namun mematikan saat dibiarkan: Erling Haaland! Ini yang dikhawatirkan.***

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

RIAUPOS.CO – BRAZIL, dengan pemain sekualitas apa pun, tetaplah Brazil. Seburuk apa pun generasi yang dilahirkan, mereka tetaplah Brazil yang selalu diunggulkan di setiap perhelatan besar sepakbola dunia dengan pemain-pemain yang menonjol dan permainan yang menawan. Termasuk Piala Dunia 2026 ini.

Banyak orang terkejut ketika Federasi Sepakbola Brazil (Confederação Brasileira de Futebol/CBF) menunjuk Carlo Ancelotti menjadi pelatih menggantikan Dorival Junior  pada Senin (12/5/2025. Dorival dipecat setelah Brazil kalah 1-4 dari Argentina di kualifikasi Piala Dunia 2026. Ancelotti menjadi orang asing kedua yang menangani Selecao. Sebelum dia, ada nama orang Argentina, Filpo Nunez, pada tahun 1965. Sudah sangat lama.

Presiden CBF, Ednaldo Rodrigues, adalah orang yang sangat antusias dengan lelaki Italia berusia 67 tahun ini. Alasanya jelas: prestasi mentereng mantan gelandang AS Roma dan AC Milan itu di level klub. Sebagai pemain, dia mempersembahkan berbagai gelar untuk Roma dan Milan, termasuk dua trofi Liga Champions (dulu masih Piala Champions) untuk Rossonerri. Sedangkan sebagai pelatih, dia lebih garang lagi. Don Carlo mempersembahkan berbagai trofi mayor untuk tim-tim yang ditanganinya seperti Milan, Real Madrid, Parma, Juventus, Napoli, Bayern Muenchen, Paris SG, atau Chelsea. Dia mendapatkan lima gelar Liga Champions bersama Milan (2) dan Madrid (3). Itu pencapaian tertinggi pelatih di Eopa, bahkan dunia, meraih gelar paling bergengsi tersebut. Jika ditambah saat menjadi pemain, dia punya 7 trofi Si Kuping Besar itu. Hanya saat menangani Regiana dan Everton-lah Ancelotti nirgelar.

Namun, kritik tetap muncul. Ini sebabnya: Don Carlo tak pernah menangani tim nasional. Dia hanya pernah menjadi asisten Arrigho Sachi di timnas Italia pada periode 1992-1995. Pencapaiannya: final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat (AS). Gli Azzurri kalah adu penalti dari Brazil kala itu, ditandai dengan tendangan Roberto Baggio yang membelah langit. Selebihnya, dia memang tak pernah manggung bersama timnas mana pun hingga kemudian dipinang Brazil. Jelas, ada perbedaan signifikan antara menangani klub yang turun di kompetisi dengan timnas yang bermain di turnamen. Yang satu berbasis endurance untuk jangka panjang, yang satu mengandalkan stabilitas jangka pendek.

Baca Juga:  Brasil vs Maroko di Piala Dunia 2026, Ujian Perdana Ancelotti Bersama Selecao

Bersama klub, seorang pelatih harus memiliki silabus jangka panjang, satu musim –hampir setahun– untuk terjun di berbagai kompetisi. Ini memerlukan endurance. Ini tentang daya tahan yang memerlukan kemampuan resistance terhadap rasa lelah serta cepat melakukan recovery dari pertandingan ke pertandingan dalam jangka waktu lama. Satu musim kompetisi biasanya menyelesaikan 36-38 pertandingan. Belum mengikuti kejuaraan lainnya di musim yang sama. Di sini pelatih harus bisa mengatur ritme, rotasi pemain, menjaga ruang ganti agar tetap stabil, mengatur prilaku bintang, dan sebagainya.

Di timnas, pelatih tetap memerlukan endurance, tetapi dalam jangka pendek. Di Piala Dunia 2026 ini, misalnya, peserta hanya memerlukan 8 pertandingan untuk menjadi juara. Dia harus membuat stabilitas tim terjaga sepanjang turnamen, jika perlu memakai pemain yang sama dalam setiap pertandingan jika dari awal hasilnya bagus. Istilah The Winning Team muncul di sini. Jangan ubah tim yang sudah memenangkan pertandingan sebelumnya. Semua pemain harus memiliki fisik yang prima selama turnamen, fokus, dan harus bermental buas: menghabisi lawan secara maksimal. Dua kondisi ini memerlukan pendekatan dan metode pelatihan berbeda. Di klub, tim dilatih sepanjang tahun. Di timnas, mereka hanya memiliki persiapan sebentar menjelang turnamen dengan durasi yang juga pendek saat turnamen berlangsung.

Di situlah orang meragukan Don Carlo. Dia dianggap tak cocok dengan iklim timnas. Namun, Ancelotti tetaplah Don Carlo. Paling tidak, hingga menyingkirkan Jepang di 32 besar, dia sudah memperlihatkan bahwa dia memang pelatih prakmatis. Hasil akhir adalah segalanya, tak peduli metodenya apa. Saat menghadapi Jepang, meski menyerang sepanjang laga di babak pertama, namun semua buntu. Para penyerang tak bisa melakukan sentuhan akhir ke gawang Zion Suzuki. Pemain sekelas Vinicius Jr yang garang di Madrid –dan pemain depan lainnya– jadi melempem di depan pertahanan berlapis Samurai Biru. Mereka justru kebobolan oleh tendangan dari luar kotak penalti yang dilepaskan Kaishu Sano, pemain yang banyak duduk di bangku cadangan.

Baca Juga:  Madrid Wajibkan Tiga Poin saat Menghadapi Alaves

Namun, di babak kedua, Ancelotti mengubah taktik. Dia mengirim teror bertubi-tubi dengan melepaskan serangan ke kotak penalti Jepang dari berbagai arah dan tingkatan. Dalam istilah perang, serangan dari darat,laut, udara, hingga kepolisian. Direct pass lewat bawah maupun udara yang dilakukan terus-menerus, membuat pertahanan Jepang yang dikomandoi Shogo Taniguchi, Takehiro Tomiyasu, dan Hiroki Ito yang dilapis oleh semua pemain lainnya, goyah. Gol Casimero mengubah segalanya. Kepanikan Jepang akhirnya dibayar mahal dengan gol Gabriel Martinelli di menit 95+5.

Di sini kita bisa melihat, Don Carlo jago dalam mencari solusi jangka pendek. Hal yang membuatnya dianggap pelatih tanpa taktik, padahal itulah sebenarnya taktiknya. Dan pola ini pasti akan diterapkan saat menghadapi Norwegia dini hari nanti. Ancelotti pandai berhitung. Dengan karakter pemain-pemain yang dimilikinya, dia bisa mengubah taktik dan strategi dari penguasaan bola hingga teror sporadis yang tetap penuh perhitungan. Taktik ini memang tak mampu menembus pertahanan Maroko di penyisihan grup, namun mereka juga tak kebobolan dan tak kalah.

Menghadapi Norwegia yang mayoritas memiliki pemain-pemain jangkung, Don Carlo tetap akan mencoba dengan penguasaan bola lebih dulu di babak pertama, tetapi pasti punya kotra strategi setelah itu. Karakter pemain-pemain jangkung pasti beda dengan Jepang yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan. Bisa jadi, malah akan lebih mudah dengan penguasaan bola dari kaki ke kaki, umpan-umpan pendek merapat, ketimbang direct ball seperti di babak kedua lawan Jepang.

Tetapi, jangan lupa, Stale Solbakken punya satu monster yang mungkin tak terlihat di sepanjang pertandingan, namun mematikan saat dibiarkan: Erling Haaland! Ini yang dikhawatirkan.***

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari