RIAUPOS.CO –Â semakin percaya diri menghadapi fase gugur Piala Dunia 2026. Gelandang Declan Rice menilai skuad The Three Lions saat ini memiliki deretan penendang penalti terbaik yang pernah dimiliki Inggris. Keyakinan itu menjadi modal penting menjelang duel melawan Kongo DR pada babak 32 besar di Atlanta, Rabu (1/7/2026) malam WIB.
Pelatih Thomas Tuchel sebelumnya menyebut peluang Inggris menjadi juara dunia sangat mungkin ditentukan melalui adu penalti. Menurutnya, timnya kemungkinan harus memenangi setidaknya satu adu penalti untuk bisa mengangkat trofi.
Rice mengaku optimistis Inggris telah mempersiapkan diri dengan sangat baik untuk menghadapi situasi tersebut. Ia bahkan memasukkan dirinya dalam daftar penendang penalti yang siap diandalkan setelah sukses mengeksekusi penalti pada final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain.
“Saya melihat kelompok pemain ini sekarang, saya rasa tidak ada kelompok penendang penalti yang lebih baik yang pernah dimiliki Inggris,” ujar Rice.
Ia kemudian menyebut sejumlah pemain yang dinilainya memiliki kualitas tinggi dalam mengeksekusi penalti, seperti Harry Kane, Ivan Toney, Marcus Rashford, Anthony Gordon, Bukayo Saka, Jude Bellingham, termasuk dirinya sendiri.
“Saya merasa seiring berjalannya turnamen, statistik akan menunjukkan bahwa sebuah tim harus memenangi adu penalti untuk bisa mencapai final atau menjadi juara. Kami sadar itu sangat mungkin terjadi dan kami akan benar-benar siap menghadapinya,” katanya.
Rice mengakui dirinya dulu bukan penendang penalti terbaik. Namun, seiring berjalannya waktu, terutama setelah tampil di final Liga Champions, rasa percaya dirinya meningkat drastis.
“Saya tidak tahu apa penyebabnya, tetapi sekarang saya memiliki proses sendiri dan tahu persis ke mana saya akan menendang bola,” ucapnya.
Ia menjelaskan selalu mempelajari posisi penjaga gawang sebelum mengambil penalti. Menurut Rice, keberhasilan penalti juga ditentukan oleh permainan psikologis antara penendang dan kiper.
“Saya memperhatikan posisi kiper dan mencoba membaca ke mana dia mengira saya akan menendang. Semua itu adalah permainan pikiran, tetapi saya merasa sangat tenang saat melakukannya,” tuturnya.
Rice juga menilai Inggris memiliki sosok Harry Kane yang selama ini dikenal sebagai salah satu eksekutor penalti terbaik. Meski demikian, ia mengatakan setiap pemain di tim memiliki metode dan teknik masing-masing dalam mengambil tendangan dari titik putih.
Saat ditanya apakah para pemain saling berdiskusi mengenai teknik penalti, Rice mengatakan hal tersebut hampir tidak diperlukan, terutama kepada Kane.
“Saya tidak mungkin mendatangi Harry dan mengajarinya soal penalti karena dia adalah penendang penalti terbaik. Kami tidak perlu membahasnya,” katanya.
Menurut Rice, Kane memiliki rutinitas yang sangat konsisten. Bahkan sebelum pertandingan dimulai, sang kapten sudah mengetahui ke mana arah tendangan jika mendapatkan hadiah penalti.
“Saya rasa Harry memiliki proses yang luar biasa. Bahkan sebelum pertandingan dimulai, jika besok dia mendapat penalti, dia sudah tahu ke mana akan menendang tanpa sedikit pun keraguan,” ujarnya.
Rice menambahkan banyak pemain Inggris juga menerapkan pendekatan serupa. Mereka mempelajari karakter penjaga gawang, tetapi tetap mengandalkan keyakinan terhadap teknik dan proses yang telah dipersiapkan.
“Jika bola ditendang dengan keras dan tepat dari jarak 12 yard, apalagi mengarah ke sudut gawang, akan sangat sulit bagi kiper untuk menghentikannya. Karena itu, yang paling penting adalah memiliki proses yang jelas dan mental yang kuat,” tutup Rice.

