Kamis, 5 Maret 2026
- Advertisement -

Dari Rp4.700 ke Rp2.700, Harga Kelapa Inhil Anjlok Nyaris 40 Persen

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali mengalami penurunan tajam. Jika pada awal 2026 masih berada di kisaran Rp4.700 per kilogram, kini di tingkat petani hanya berkisar Rp2.700 hingga Rp2.800 per kilogram. Penurunan hampir 40 persen itu terjadi hanya dalam hitungan minggu.

Kondisi tersebut dirasakan semakin berat karena terjadi di bulan Ramadan menjelang Idulfitri, saat kebutuhan rumah tangga meningkat. Di sisi lain, harga pupuk, ongkos angkut, dan bahan pokok tidak mengalami penurunan.

“Di bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri ini kelapa malah anjlok, sedangkan kebutuhan pokok tinggi,” keluh Mulyadi, petani asal Kecamatan Gaung, Rabu (4/3/2026).

Keluhan serupa disampaikan Salman. Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga.

Baca Juga:  Pemkab Inhil Raih Piagam KI Riau Award 2024

“Kami hanya bergantung dari kelapa. Kalau harga jatuh seperti ini, otomatis belanja rumah tangga terganggu. Minimal ada patokan harga supaya tidak terlalu anjlok,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Hilirisasi Kelapa Inhil, TM Syaifullah, menjelaskan bahwa penurunan harga merupakan pola tahunan. Pada awal tahun, sejumlah perusahaan belum menetapkan kebutuhan produksi sehingga pembelian belum berjalan maksimal. Beberapa pembeli juga menunggu momentum pasca-Idulfitri untuk menghitung kebutuhan riil industri.

Menurutnya, peningkatan pasokan karena petani memperbanyak panen menjelang Ramadan tidak diimbangi permintaan pasar. Akibatnya, harga tertekan mengikuti mekanisme pasar.

Ia juga menyoroti belum adanya regulasi harga acuan sebagai persoalan mendasar. Kelapa hingga kini belum memiliki skema Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Patokan Minimum (HPM), sehingga posisi tawar petani relatif lemah.

Baca Juga:  Satpol PP Diharapkan Makin Profesional

Tim Hilirisasi, lanjutnya, telah mengusulkan regulasi harga kepada Bappenas. Sementara pemerintah daerah menyatakan terus memantau perkembangan pasar sesuai kewenangan yang dimiliki.

Sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Riau, stabilitas harga dinilai krusial untuk menjaga daya beli dan ketahanan ekonomi masyarakat di Indragiri Hilir.(*2)

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali mengalami penurunan tajam. Jika pada awal 2026 masih berada di kisaran Rp4.700 per kilogram, kini di tingkat petani hanya berkisar Rp2.700 hingga Rp2.800 per kilogram. Penurunan hampir 40 persen itu terjadi hanya dalam hitungan minggu.

Kondisi tersebut dirasakan semakin berat karena terjadi di bulan Ramadan menjelang Idulfitri, saat kebutuhan rumah tangga meningkat. Di sisi lain, harga pupuk, ongkos angkut, dan bahan pokok tidak mengalami penurunan.

“Di bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri ini kelapa malah anjlok, sedangkan kebutuhan pokok tinggi,” keluh Mulyadi, petani asal Kecamatan Gaung, Rabu (4/3/2026).

Keluhan serupa disampaikan Salman. Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga.

Baca Juga:  Catat! Sekolah di Meranti Libur 16–29 Maret, Masuk Kembali 30 Maret

“Kami hanya bergantung dari kelapa. Kalau harga jatuh seperti ini, otomatis belanja rumah tangga terganggu. Minimal ada patokan harga supaya tidak terlalu anjlok,” ujarnya.

- Advertisement -

Sementara itu, Ketua Tim Hilirisasi Kelapa Inhil, TM Syaifullah, menjelaskan bahwa penurunan harga merupakan pola tahunan. Pada awal tahun, sejumlah perusahaan belum menetapkan kebutuhan produksi sehingga pembelian belum berjalan maksimal. Beberapa pembeli juga menunggu momentum pasca-Idulfitri untuk menghitung kebutuhan riil industri.

Menurutnya, peningkatan pasokan karena petani memperbanyak panen menjelang Ramadan tidak diimbangi permintaan pasar. Akibatnya, harga tertekan mengikuti mekanisme pasar.

- Advertisement -

Ia juga menyoroti belum adanya regulasi harga acuan sebagai persoalan mendasar. Kelapa hingga kini belum memiliki skema Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Patokan Minimum (HPM), sehingga posisi tawar petani relatif lemah.

Baca Juga:  2 Wanita Pelaku Penipuan Investasi Bodong Senilai Rp6,3 M Ditangkap

Tim Hilirisasi, lanjutnya, telah mengusulkan regulasi harga kepada Bappenas. Sementara pemerintah daerah menyatakan terus memantau perkembangan pasar sesuai kewenangan yang dimiliki.

Sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Riau, stabilitas harga dinilai krusial untuk menjaga daya beli dan ketahanan ekonomi masyarakat di Indragiri Hilir.(*2)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) – Harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kembali mengalami penurunan tajam. Jika pada awal 2026 masih berada di kisaran Rp4.700 per kilogram, kini di tingkat petani hanya berkisar Rp2.700 hingga Rp2.800 per kilogram. Penurunan hampir 40 persen itu terjadi hanya dalam hitungan minggu.

Kondisi tersebut dirasakan semakin berat karena terjadi di bulan Ramadan menjelang Idulfitri, saat kebutuhan rumah tangga meningkat. Di sisi lain, harga pupuk, ongkos angkut, dan bahan pokok tidak mengalami penurunan.

“Di bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri ini kelapa malah anjlok, sedangkan kebutuhan pokok tinggi,” keluh Mulyadi, petani asal Kecamatan Gaung, Rabu (4/3/2026).

Keluhan serupa disampaikan Salman. Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga.

Baca Juga:  Pj Bupati Buka Pasar Murah di Kempas

“Kami hanya bergantung dari kelapa. Kalau harga jatuh seperti ini, otomatis belanja rumah tangga terganggu. Minimal ada patokan harga supaya tidak terlalu anjlok,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Hilirisasi Kelapa Inhil, TM Syaifullah, menjelaskan bahwa penurunan harga merupakan pola tahunan. Pada awal tahun, sejumlah perusahaan belum menetapkan kebutuhan produksi sehingga pembelian belum berjalan maksimal. Beberapa pembeli juga menunggu momentum pasca-Idulfitri untuk menghitung kebutuhan riil industri.

Menurutnya, peningkatan pasokan karena petani memperbanyak panen menjelang Ramadan tidak diimbangi permintaan pasar. Akibatnya, harga tertekan mengikuti mekanisme pasar.

Ia juga menyoroti belum adanya regulasi harga acuan sebagai persoalan mendasar. Kelapa hingga kini belum memiliki skema Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Patokan Minimum (HPM), sehingga posisi tawar petani relatif lemah.

Baca Juga:  Harga Kelapa Naik Tajam, Pedagang Santan Terpaksa Hentikan Usaha

Tim Hilirisasi, lanjutnya, telah mengusulkan regulasi harga kepada Bappenas. Sementara pemerintah daerah menyatakan terus memantau perkembangan pasar sesuai kewenangan yang dimiliki.

Sebagai salah satu sentra kelapa terbesar di Riau, stabilitas harga dinilai krusial untuk menjaga daya beli dan ketahanan ekonomi masyarakat di Indragiri Hilir.(*2)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari