Senin, 13 Juli 2026
- Advertisement -

Belacan Khas Ketapang Permai

Rahasia Lezat Terasi Meranti, Diolah dari Udang Pepai Segar Hasil Tangkapan Nelayan

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Desa Ketapang Permai di Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, dikenal sebagai sentra penghasil terasi berkualitas. Di desa pesisir yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan ini, belacan berbahan baku udang pepai bukan hanya pelengkap masakan, tetapi juga menjadi penopang utama perekonomian masyarakat.

Aroma khas terasi langsung terasa begitu memasuki Desa Ketapang Permai. Selama puluhan tahun, produk olahan tradisional tersebut telah menjadi sumber penghasilan warga dan kini berkembang sebagai salah satu komoditas unggulan yang membanggakan Kabupaten Kepulauan Meranti.

Keunggulan terasi Ketapang Permai terletak pada bahan bakunya. Para perajin menggunakan udang pepai segar yang diperoleh langsung dari hasil tangkapan nelayan di perairan sekitar Pulau Merbau. Kesegaran udang inilah yang menghasilkan aroma kuat, cita rasa gurih alami, serta kualitas yang membuat produk tersebut terus diminati konsumen.

Saat musim panen udang tiba, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa itu mampu memproduksi sekitar 5.000 keping terasi dalam waktu kurang dari satu bulan. Dengan harga sekitar Rp2.000 per keping, produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Selatpanjang hingga Pekanbaru.

Baca Juga:  Anggaran Minim, Belanja Pilkada Meranti Bakal Dicicil

Kepala Desa Ketapang Permai, Safrizal, mengatakan usaha pengolahan terasi telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi banyak keluarga. Selain memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan, industri rumahan tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

“Produk ini menjadi tambahan pendapatan bagi banyak keluarga di Desa Ketapang Permai,” ujarnya saat berbincang beberapa waktu lalu.

Safrizal menjelaskan, hingga kini para perajin masih mempertahankan proses produksi secara tradisional karena dinilai mampu menjaga cita rasa khas terasi Ketapang Permai. Udang pepai yang baru ditangkap terlebih dahulu dipilih berdasarkan kualitas terbaik, kemudian dibersihkan dan dicampur dengan garam menggunakan komposisi tertentu sebelum difermentasi hingga menghasilkan aroma khas.

Setelah proses fermentasi selesai, adonan digiling hingga halus, dicetak menjadi kepingan, kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar airnya berkurang. Cara tersebut membuat terasi lebih awet tanpa menggunakan bahan pengawet, sekaligus mempertahankan rasa dan kualitasnya.

Baca Juga:  68 Petugas Sensus Ekonomi Siak Resmi Dikukuhkan, Bupati Afni Tekankan Integritas dan Kejujuran

Mutu produk juga dijaga sejak awal proses produksi. Udang pepai yang baru ditangkap langsung diolah agar tetap segar. Area produksi dibersihkan secara rutin, sementara proses penjemuran dilakukan di ruang terbuka agar terasi benar-benar kering secara alami. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga aroma, kualitas, dan keamanan pangan.

Sementara itu, Camat Pulau Merbau, Hermansyah, mengatakan pemerintah kecamatan terus mendorong pengembangan UMKM berbasis hasil perikanan agar memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Menurutnya, potensi tersebut perlu diperkuat melalui dukungan sarana produksi, pendampingan usaha, serta perluasan akses pemasaran sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Potensi ini harus dikembangkan secara serius. Karena itu, kami akan menggandeng instansi terkait untuk memperkuat kapasitas UMKM, mulai dari produksi hingga pemasaran,” ujar Hermansyah.(wir)

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Desa Ketapang Permai di Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, dikenal sebagai sentra penghasil terasi berkualitas. Di desa pesisir yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan ini, belacan berbahan baku udang pepai bukan hanya pelengkap masakan, tetapi juga menjadi penopang utama perekonomian masyarakat.

Aroma khas terasi langsung terasa begitu memasuki Desa Ketapang Permai. Selama puluhan tahun, produk olahan tradisional tersebut telah menjadi sumber penghasilan warga dan kini berkembang sebagai salah satu komoditas unggulan yang membanggakan Kabupaten Kepulauan Meranti.

Keunggulan terasi Ketapang Permai terletak pada bahan bakunya. Para perajin menggunakan udang pepai segar yang diperoleh langsung dari hasil tangkapan nelayan di perairan sekitar Pulau Merbau. Kesegaran udang inilah yang menghasilkan aroma kuat, cita rasa gurih alami, serta kualitas yang membuat produk tersebut terus diminati konsumen.

Saat musim panen udang tiba, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa itu mampu memproduksi sekitar 5.000 keping terasi dalam waktu kurang dari satu bulan. Dengan harga sekitar Rp2.000 per keping, produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Selatpanjang hingga Pekanbaru.

Baca Juga:  68 Petugas Sensus Ekonomi Siak Resmi Dikukuhkan, Bupati Afni Tekankan Integritas dan Kejujuran

Kepala Desa Ketapang Permai, Safrizal, mengatakan usaha pengolahan terasi telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi banyak keluarga. Selain memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan, industri rumahan tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

- Advertisement -

“Produk ini menjadi tambahan pendapatan bagi banyak keluarga di Desa Ketapang Permai,” ujarnya saat berbincang beberapa waktu lalu.

Safrizal menjelaskan, hingga kini para perajin masih mempertahankan proses produksi secara tradisional karena dinilai mampu menjaga cita rasa khas terasi Ketapang Permai. Udang pepai yang baru ditangkap terlebih dahulu dipilih berdasarkan kualitas terbaik, kemudian dibersihkan dan dicampur dengan garam menggunakan komposisi tertentu sebelum difermentasi hingga menghasilkan aroma khas.

- Advertisement -

Setelah proses fermentasi selesai, adonan digiling hingga halus, dicetak menjadi kepingan, kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar airnya berkurang. Cara tersebut membuat terasi lebih awet tanpa menggunakan bahan pengawet, sekaligus mempertahankan rasa dan kualitasnya.

Baca Juga:  Jelang Nataru, Harga Cabai di Meranti dan Inhu Masih Tinggi

Mutu produk juga dijaga sejak awal proses produksi. Udang pepai yang baru ditangkap langsung diolah agar tetap segar. Area produksi dibersihkan secara rutin, sementara proses penjemuran dilakukan di ruang terbuka agar terasi benar-benar kering secara alami. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga aroma, kualitas, dan keamanan pangan.

Sementara itu, Camat Pulau Merbau, Hermansyah, mengatakan pemerintah kecamatan terus mendorong pengembangan UMKM berbasis hasil perikanan agar memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Menurutnya, potensi tersebut perlu diperkuat melalui dukungan sarana produksi, pendampingan usaha, serta perluasan akses pemasaran sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Potensi ini harus dikembangkan secara serius. Karena itu, kami akan menggandeng instansi terkait untuk memperkuat kapasitas UMKM, mulai dari produksi hingga pemasaran,” ujar Hermansyah.(wir)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

SELATPANJANG (RIAUPOS.CO) – Desa Ketapang Permai di Kecamatan Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, dikenal sebagai sentra penghasil terasi berkualitas. Di desa pesisir yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan ini, belacan berbahan baku udang pepai bukan hanya pelengkap masakan, tetapi juga menjadi penopang utama perekonomian masyarakat.

Aroma khas terasi langsung terasa begitu memasuki Desa Ketapang Permai. Selama puluhan tahun, produk olahan tradisional tersebut telah menjadi sumber penghasilan warga dan kini berkembang sebagai salah satu komoditas unggulan yang membanggakan Kabupaten Kepulauan Meranti.

Keunggulan terasi Ketapang Permai terletak pada bahan bakunya. Para perajin menggunakan udang pepai segar yang diperoleh langsung dari hasil tangkapan nelayan di perairan sekitar Pulau Merbau. Kesegaran udang inilah yang menghasilkan aroma kuat, cita rasa gurih alami, serta kualitas yang membuat produk tersebut terus diminati konsumen.

Saat musim panen udang tiba, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di desa itu mampu memproduksi sekitar 5.000 keping terasi dalam waktu kurang dari satu bulan. Dengan harga sekitar Rp2.000 per keping, produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Selatpanjang hingga Pekanbaru.

Baca Juga:  Rakor Perbatasan 2025 Jadi Momentum Meranti Perjuangkan Tiga Kecamatan Prioritas

Kepala Desa Ketapang Permai, Safrizal, mengatakan usaha pengolahan terasi telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi banyak keluarga. Selain memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan, industri rumahan tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

“Produk ini menjadi tambahan pendapatan bagi banyak keluarga di Desa Ketapang Permai,” ujarnya saat berbincang beberapa waktu lalu.

Safrizal menjelaskan, hingga kini para perajin masih mempertahankan proses produksi secara tradisional karena dinilai mampu menjaga cita rasa khas terasi Ketapang Permai. Udang pepai yang baru ditangkap terlebih dahulu dipilih berdasarkan kualitas terbaik, kemudian dibersihkan dan dicampur dengan garam menggunakan komposisi tertentu sebelum difermentasi hingga menghasilkan aroma khas.

Setelah proses fermentasi selesai, adonan digiling hingga halus, dicetak menjadi kepingan, kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar airnya berkurang. Cara tersebut membuat terasi lebih awet tanpa menggunakan bahan pengawet, sekaligus mempertahankan rasa dan kualitasnya.

Baca Juga:  Anggaran Minim, Belanja Pilkada Meranti Bakal Dicicil

Mutu produk juga dijaga sejak awal proses produksi. Udang pepai yang baru ditangkap langsung diolah agar tetap segar. Area produksi dibersihkan secara rutin, sementara proses penjemuran dilakukan di ruang terbuka agar terasi benar-benar kering secara alami. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga aroma, kualitas, dan keamanan pangan.

Sementara itu, Camat Pulau Merbau, Hermansyah, mengatakan pemerintah kecamatan terus mendorong pengembangan UMKM berbasis hasil perikanan agar memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Menurutnya, potensi tersebut perlu diperkuat melalui dukungan sarana produksi, pendampingan usaha, serta perluasan akses pemasaran sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Potensi ini harus dikembangkan secara serius. Karena itu, kami akan menggandeng instansi terkait untuk memperkuat kapasitas UMKM, mulai dari produksi hingga pemasaran,” ujar Hermansyah.(wir)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari