KAMPAR (RIAUPOS.CO) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan kepada siswa, ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, dan balita di Desa Sungai Tonang, Kecamatan Kampar Utara, Kabupaten Kampar, menuai keluhan dari masyarakat.
Keluhan tersebut terutama terkait keterlambatan distribusi serta kualitas makanan yang dinilai kurang layak konsumsi dan tidak sesuai dengan standar harga per ompreng yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTsN 6 Kampar, Khairul Anwar, mengatakan sejumlah orang tua murid dan warga mengeluhkan makanan MBG yang kerap datang setelah jam pulang sekolah. Selain itu, kualitas makanan juga diragukan, mulai dari menu yang dianggap tidak sesuai standar gizi hingga dugaan makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi.
“Kami mendukung penuh program MBG, karena tujuannya sangat baik untuk meningkatkan gizi anak-anak. Namun, kami berharap pelaksanaannya benar-benar diperhatikan, baik dari segi waktu distribusi, kebersihan, kualitas, maupun kandungan gizinya,” ujarnya.
Pihak sekolah menegaskan, mereka tidak menentang kebijakan pemerintah, melainkan memberikan masukan agar program tersebut dapat berjalan maksimal dan bertanggung jawab. Mereka berharap siswa menerima makanan yang segar, aman, dan bergizi sesuai tujuan program.(kom)
Keluhan serupa juga disampaikan Kader Posyandu Desa Sungai Tonang, Heni. Ia mengungkapkan adanya beberapa permasalahan terkait menu MBG yang disalurkan melalui dapur SPPG, seperti lauk yang berbau amis dan buah yang kurang segar.
“Setiap temuan sudah kami laporkan dan komunikasikan kepada pihak dapur pengelola SPPG,” kata Heni.
Ia menjelaskan, penyaluran MBG dilakukan dua kali dalam sepekan dengan jumlah penerima manfaat sekitar 280 orang yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Meski beberapa perbaikan telah dilakukan, keluhan terkait kualitas dan porsi makanan masih ditemukan.
Menurutnya, komunikasi dengan pihak pengelola MBG juga dinilai belum berjalan optimal. Beberapa upaya untuk menghubungi pihak terkait belum mendapatkan kejelasan.
Sementara itu, Kepala Desa Sungai Tonang, Yeni Rahman, mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti berbagai keluhan masyarakat, baik dari orang tua murid maupun kader posyandu. Ia menegaskan perannya adalah menyampaikan aspirasi warga dan memastikan kebenaran informasi di lapangan.
“Sebagai kepala desa, tentu saya menyampaikan aspirasi masyarakat. Kita cek terlebih dahulu kebenarannya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Yayasan Alfatah Kampar, Ulul Amri Azmi, belum memberikan tanggapan terkait keluhan tersebut. Pesan konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp belum mendapat respons hingga berita ini diterbitkan.

