Sabtu, 19 September 2026
- Advertisement -

Gajah Diego Mati di PLG Minas, Kematian Gajah Kelima di Riau Sepanjang 2026

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Duka kembali menyelimuti dunia konservasi satwa di Riau setelah gajah jinak bernama Diego mati di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, pada Rabu (16/9/2026).

Kematian gajah binaan berusia 17 tahun tersebut menjadi kasus kematian gajah kelima yang tercatat di Provinsi Riau sepanjang tahun 2026.

Rentetan catatan kelam ini dimulai pada 2 Februari 2026, ketika seekor gajah liar jantan berumur 40 tahun ditemukan mati tertembak tanpa gading di areal konsesi PT RAPP Distrik Ukui, Pelalawan.

Tak berselang lama, pada 26 Februari 2026, seekor anak gajah liar berusia 5 tahun ditemukan tewas terjerat di kebun perambah Resort Lancang Kuning, Taman Nasional Teso Nilo (TNTN), Pelalawan.

Kasus berikutnya menimpa gajah jinak jantan bernama Indro (45) yang mati di TNTN pada 29 Juni 2026 pascapembiusan.

Baca Juga:  Miris! Tiga Anak di Siak Setiap Hari Mengemis, Orang Tua Diberi Ultimatum

Selanjutnya pada 3 Agustus 2026, gajah jinak jantan bernama Jovi (46) mengembuskan napas terakhir di PLG Minas setelah berjuang melawan komplikasi pencernaan dan otot berat selama 34 hari.

Adapun kasus terbaru menimpa Diego yang diduga akibat infeksi saluran pencernaan kronis.

Plh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Ujang Holisudin, mengarahkan bahwa kondisi kesehatan Diego mulai menurun sejak 10 September 2026 dengan gejala diare dan nafsu makan menyusut.

Diagnosa awal menduga Diego mengalami cacingan lantaran ditemukannya cacing pada kotorannya. Tim medis langsung menyuntikkan antibiotik, antiinflamasi, serta obat cacing hingga kondisinya sempat membaik.

Namun, hasil uji laboratorium di PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo Pekanbaru menunjukkan sampel feses Diego justru negatif cacing. Kesehatannya pun mendadak drop kembali pada 15 September 2026.

Baca Juga:  Didominasi Hasil Tracing Kontak

”Gejala klinisnya, tidak mau makan sama sekali, diare dengan frekuensi sering dengan bentuk hanya cairan yang keluar, dan kondisi fisik sangat lemah. Aktivitas minum sangat minim dimana minum pagi hari 5 tegukan, siang hari ketika mau diberi obat 3 tegukan, sore ketika dimandikan 1 tegukan,” lanjut Ujang.

Meski tim medis BBKSDA Riau telah memasang cairan infus dan memberikan obat-obatan penunjang, nyawa Diego tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB keesokan harinya.

Berdasarkan hasil nekropsi, kematian gajah muda ini disimpulkan akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Duka kembali menyelimuti dunia konservasi satwa di Riau setelah gajah jinak bernama Diego mati di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, pada Rabu (16/9/2026).

Kematian gajah binaan berusia 17 tahun tersebut menjadi kasus kematian gajah kelima yang tercatat di Provinsi Riau sepanjang tahun 2026.

Rentetan catatan kelam ini dimulai pada 2 Februari 2026, ketika seekor gajah liar jantan berumur 40 tahun ditemukan mati tertembak tanpa gading di areal konsesi PT RAPP Distrik Ukui, Pelalawan.

Tak berselang lama, pada 26 Februari 2026, seekor anak gajah liar berusia 5 tahun ditemukan tewas terjerat di kebun perambah Resort Lancang Kuning, Taman Nasional Teso Nilo (TNTN), Pelalawan.

Kasus berikutnya menimpa gajah jinak jantan bernama Indro (45) yang mati di TNTN pada 29 Juni 2026 pascapembiusan.

- Advertisement -
Baca Juga:  Pembuat Surat Hasil Swab Palsu Diringkus di Bandara SSK II

Selanjutnya pada 3 Agustus 2026, gajah jinak jantan bernama Jovi (46) mengembuskan napas terakhir di PLG Minas setelah berjuang melawan komplikasi pencernaan dan otot berat selama 34 hari.

Adapun kasus terbaru menimpa Diego yang diduga akibat infeksi saluran pencernaan kronis.

- Advertisement -

Plh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Ujang Holisudin, mengarahkan bahwa kondisi kesehatan Diego mulai menurun sejak 10 September 2026 dengan gejala diare dan nafsu makan menyusut.

Diagnosa awal menduga Diego mengalami cacingan lantaran ditemukannya cacing pada kotorannya. Tim medis langsung menyuntikkan antibiotik, antiinflamasi, serta obat cacing hingga kondisinya sempat membaik.

Namun, hasil uji laboratorium di PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo Pekanbaru menunjukkan sampel feses Diego justru negatif cacing. Kesehatannya pun mendadak drop kembali pada 15 September 2026.

Baca Juga:  SMAN 2 Tualang Jumpa SMAN 1 Lubuk Dalam di Final Riau Pos HSBL 2025 seri VI Perawang

”Gejala klinisnya, tidak mau makan sama sekali, diare dengan frekuensi sering dengan bentuk hanya cairan yang keluar, dan kondisi fisik sangat lemah. Aktivitas minum sangat minim dimana minum pagi hari 5 tegukan, siang hari ketika mau diberi obat 3 tegukan, sore ketika dimandikan 1 tegukan,” lanjut Ujang.

Meski tim medis BBKSDA Riau telah memasang cairan infus dan memberikan obat-obatan penunjang, nyawa Diego tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB keesokan harinya.

Berdasarkan hasil nekropsi, kematian gajah muda ini disimpulkan akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis.

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Duka kembali menyelimuti dunia konservasi satwa di Riau setelah gajah jinak bernama Diego mati di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, pada Rabu (16/9/2026).

Kematian gajah binaan berusia 17 tahun tersebut menjadi kasus kematian gajah kelima yang tercatat di Provinsi Riau sepanjang tahun 2026.

Rentetan catatan kelam ini dimulai pada 2 Februari 2026, ketika seekor gajah liar jantan berumur 40 tahun ditemukan mati tertembak tanpa gading di areal konsesi PT RAPP Distrik Ukui, Pelalawan.

Tak berselang lama, pada 26 Februari 2026, seekor anak gajah liar berusia 5 tahun ditemukan tewas terjerat di kebun perambah Resort Lancang Kuning, Taman Nasional Teso Nilo (TNTN), Pelalawan.

Kasus berikutnya menimpa gajah jinak jantan bernama Indro (45) yang mati di TNTN pada 29 Juni 2026 pascapembiusan.

Baca Juga:  Kronologi Lengkap Pembunuhan Nenek di Siak, Pelaku Sudah Merencanakan

Selanjutnya pada 3 Agustus 2026, gajah jinak jantan bernama Jovi (46) mengembuskan napas terakhir di PLG Minas setelah berjuang melawan komplikasi pencernaan dan otot berat selama 34 hari.

Adapun kasus terbaru menimpa Diego yang diduga akibat infeksi saluran pencernaan kronis.

Plh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Ujang Holisudin, mengarahkan bahwa kondisi kesehatan Diego mulai menurun sejak 10 September 2026 dengan gejala diare dan nafsu makan menyusut.

Diagnosa awal menduga Diego mengalami cacingan lantaran ditemukannya cacing pada kotorannya. Tim medis langsung menyuntikkan antibiotik, antiinflamasi, serta obat cacing hingga kondisinya sempat membaik.

Namun, hasil uji laboratorium di PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo Pekanbaru menunjukkan sampel feses Diego justru negatif cacing. Kesehatannya pun mendadak drop kembali pada 15 September 2026.

Baca Juga:  PWNU Riau Gerak Cepat

”Gejala klinisnya, tidak mau makan sama sekali, diare dengan frekuensi sering dengan bentuk hanya cairan yang keluar, dan kondisi fisik sangat lemah. Aktivitas minum sangat minim dimana minum pagi hari 5 tegukan, siang hari ketika mau diberi obat 3 tegukan, sore ketika dimandikan 1 tegukan,” lanjut Ujang.

Meski tim medis BBKSDA Riau telah memasang cairan infus dan memberikan obat-obatan penunjang, nyawa Diego tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB keesokan harinya.

Berdasarkan hasil nekropsi, kematian gajah muda ini disimpulkan akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis.

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari