JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Tim SAR Gabungan resmi menghentikan operasi pencarian lima jurnalis foto dan tiga kru speedboat yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Keputusan berat tersebut diambil setelah penyisiran intensif selama 10 hari, terhitung sejak laporan hilang kontak diterima pada Senin (7/9) lalu, tidak membuahkan hasil.
Gubernur Banten Andra Soni mengonfirmasi bahwa penyisiran darat, laut, hingga udara telah dilakukan secara optimal, bahkan diperluas hingga perairan Samudera Hindia, Pesisir Lampung, Pesisir Bengkulu, serta pulau-pulau tak berpenghuni di sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut,” kata Gubernur Banten Andra Soni.
Andra menjelaskan, selama masa operasi pencarian standar 7 hari ditambah perpanjangan 3 hari, tim tidak menemukan jejak kapal maupun seluruh penumpang yang terdiri dari lima jurnalis foto dan tiga kru.
Adapun rombongan tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat sedang bertugas meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Temuan 13 objek di perairan selama masa pencarian juga telah dikonfirmasi dan dipastikan tidak memiliki keterkaitan dengan keberadaan speedboat yang dicari.
“Maka dengan berat hati, pelaksanaan operasi gabungan ini, oleh pihak yang berkepentingan, pihak yang memiliki kewenangan, dinyatakan dihentikan,” kata Andra Soni.
Adapun delapan korban yang menjadi fokus pencarian tim gabungan ini meliputi Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), dan Heriyanto (guide).
Sementara lima jurnalis yang ikut dalam rombongan tersebut yakni M Bagus Khoerunnas (Antara), Arie Basuki (Merdeka), Yudhistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi (Anadolu), serta Donal Husni (jurnalis freelance).
Meski operasi gabungan dihentikan, Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menegaskan pihaknya akan terus siaga memantau perkembangan informasi dari kapal-kapal patroli maupun nelayan yang melintas di Selat Sunda.
“Yang akan menjadi ujung tombak kami bila menemukan tanda-tanda lebih lanjut,” imbuh Al Amrad.
Senada dengan hal tersebut, Andra Soni menambahkan bahwa operasi pencarian dapat segera diaktifkan kembali jika sewaktu-waktu ditemukan petunjuk atau bukti baru di lapangan.
“Bilamana ada informasi dari masyarakat, baik nelayan atau kapal yang melintas, atau pihak mana pun, operasi ini bisa dihidupkan kembali atau dilaksanakan kembali bilamana ada penemuan baru,” ujarnya.

