Rabu, 15 April 2026
- Advertisement -

DPRD Pekanbaru Undang Pakar Jepang, Sampah Bisa Jadi Pupuk dalam 24 Jam

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru menghadirkan pakar teknologi Prof Dr Eng Jaswar Koto dalam rapat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Dinas Pertanian, serta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru, Senin (2/3), guna membahas konsep pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi ala Jepang.

Rapat tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kota Pekanbaru Muhammad Isa Lahamid dan Ketua Komisi IV Rois. Dalam pertemuan itu, Jaswar Koto bersama tim memaparkan skema pengelolaan sampah terintegrasi yang dikombinasikan dengan sektor agrobisnis pertanian dan peternakan.

Usai rapat, Isa Lahamid menyampaikan apresiasi atas gagasan yang disampaikan. Ia berharap pemaparan tersebut dapat menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di Kota Pekanbaru.

Baca Juga:  Ranperda Kabel Jaringan, Jadi Prioritas Pembahasan

“Hari ini kami sengaja mengundang Bapenda Kota Pekanbaru untuk mendengarkan dan mendiskusikan hasil pemaparan dari Prof Dr Eng Jaswar Koto. Beliau ini menggunakan teknologi asal Pekanbaru yang sekarang tinggal di Jepang,” ujarnya.

Dalam paparannya, Jaswar menjelaskan bahwa melalui sistem pengelolaan sampah terpadu, limbah yang masuk dapat diolah menjadi pupuk dalam waktu 24 jam.

Menurutnya, realisasi program tersebut membutuhkan dukungan kebijakan dari Pemerintah Kota Pekanbaru, termasuk penentuan skema pengelolaan, apakah dilaksanakan langsung oleh pemko, melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), atau melibatkan pihak ketiga.

“Kita ingin bagaimana ini bisa terwujud. Tentunya perlu telaah lebih lanjut terkait sistem pengelolaannya,” katanya.

Jaswar juga menyebutkan, konsep pengolahan sampah menjadi pupuk tersebut berpotensi menjadi investasi yang menguntungkan, terutama untuk mendukung sektor pertanian dan peternakan.

Baca Juga:  Pertama, Pameran Arsitektur dengan Teknologi Augmented Reality

Ia mengklaim, dengan kebutuhan modal awal sekitar Rp37 miliar, pengelolaan sampah terpadu itu diproyeksikan mampu menghasilkan pemasukan hingga Rp74 miliar per tahun. Namun, skema pendanaan apakah melalui investasi murni, BUMD, atau pemerintah, masih perlu pembahasan lanjutan.

Teknologi yang ditawarkan menggunakan metode gravitasi, serupa dengan sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Jepang. Dengan metode tersebut, sampah yang masuk pada hari yang sama dapat langsung terproses dan tidak menumpuk hingga keesokan harinya.

“Kami putra Pekanbaru berharap masyarakat bisa mengambil contoh dari Jepang yang telah berhasil mengelola sampah dengan baik,” ujar Jaswar.(end)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru menghadirkan pakar teknologi Prof Dr Eng Jaswar Koto dalam rapat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Dinas Pertanian, serta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru, Senin (2/3), guna membahas konsep pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi ala Jepang.

Rapat tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kota Pekanbaru Muhammad Isa Lahamid dan Ketua Komisi IV Rois. Dalam pertemuan itu, Jaswar Koto bersama tim memaparkan skema pengelolaan sampah terintegrasi yang dikombinasikan dengan sektor agrobisnis pertanian dan peternakan.

Usai rapat, Isa Lahamid menyampaikan apresiasi atas gagasan yang disampaikan. Ia berharap pemaparan tersebut dapat menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di Kota Pekanbaru.

Baca Juga:  Pemko Pekanbaru Perpanjang Pendaftaran Beasiswa 2025 hingga 9 Desember

“Hari ini kami sengaja mengundang Bapenda Kota Pekanbaru untuk mendengarkan dan mendiskusikan hasil pemaparan dari Prof Dr Eng Jaswar Koto. Beliau ini menggunakan teknologi asal Pekanbaru yang sekarang tinggal di Jepang,” ujarnya.

Dalam paparannya, Jaswar menjelaskan bahwa melalui sistem pengelolaan sampah terpadu, limbah yang masuk dapat diolah menjadi pupuk dalam waktu 24 jam.

- Advertisement -

Menurutnya, realisasi program tersebut membutuhkan dukungan kebijakan dari Pemerintah Kota Pekanbaru, termasuk penentuan skema pengelolaan, apakah dilaksanakan langsung oleh pemko, melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), atau melibatkan pihak ketiga.

“Kita ingin bagaimana ini bisa terwujud. Tentunya perlu telaah lebih lanjut terkait sistem pengelolaannya,” katanya.

- Advertisement -

Jaswar juga menyebutkan, konsep pengolahan sampah menjadi pupuk tersebut berpotensi menjadi investasi yang menguntungkan, terutama untuk mendukung sektor pertanian dan peternakan.

Baca Juga:  DLHK Pekanbaru Tertibkan Jadwal Buang Sampah, Petugas Jaga TPS

Ia mengklaim, dengan kebutuhan modal awal sekitar Rp37 miliar, pengelolaan sampah terpadu itu diproyeksikan mampu menghasilkan pemasukan hingga Rp74 miliar per tahun. Namun, skema pendanaan apakah melalui investasi murni, BUMD, atau pemerintah, masih perlu pembahasan lanjutan.

Teknologi yang ditawarkan menggunakan metode gravitasi, serupa dengan sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Jepang. Dengan metode tersebut, sampah yang masuk pada hari yang sama dapat langsung terproses dan tidak menumpuk hingga keesokan harinya.

“Kami putra Pekanbaru berharap masyarakat bisa mengambil contoh dari Jepang yang telah berhasil mengelola sampah dengan baik,” ujar Jaswar.(end)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru menghadirkan pakar teknologi Prof Dr Eng Jaswar Koto dalam rapat bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Dinas Pertanian, serta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru, Senin (2/3), guna membahas konsep pengelolaan sampah terpadu berbasis teknologi ala Jepang.

Rapat tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kota Pekanbaru Muhammad Isa Lahamid dan Ketua Komisi IV Rois. Dalam pertemuan itu, Jaswar Koto bersama tim memaparkan skema pengelolaan sampah terintegrasi yang dikombinasikan dengan sektor agrobisnis pertanian dan peternakan.

Usai rapat, Isa Lahamid menyampaikan apresiasi atas gagasan yang disampaikan. Ia berharap pemaparan tersebut dapat menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di Kota Pekanbaru.

Baca Juga:  Pasar Murah Harus Jangkau Pinggiran Kota

“Hari ini kami sengaja mengundang Bapenda Kota Pekanbaru untuk mendengarkan dan mendiskusikan hasil pemaparan dari Prof Dr Eng Jaswar Koto. Beliau ini menggunakan teknologi asal Pekanbaru yang sekarang tinggal di Jepang,” ujarnya.

Dalam paparannya, Jaswar menjelaskan bahwa melalui sistem pengelolaan sampah terpadu, limbah yang masuk dapat diolah menjadi pupuk dalam waktu 24 jam.

Menurutnya, realisasi program tersebut membutuhkan dukungan kebijakan dari Pemerintah Kota Pekanbaru, termasuk penentuan skema pengelolaan, apakah dilaksanakan langsung oleh pemko, melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), atau melibatkan pihak ketiga.

“Kita ingin bagaimana ini bisa terwujud. Tentunya perlu telaah lebih lanjut terkait sistem pengelolaannya,” katanya.

Jaswar juga menyebutkan, konsep pengolahan sampah menjadi pupuk tersebut berpotensi menjadi investasi yang menguntungkan, terutama untuk mendukung sektor pertanian dan peternakan.

Baca Juga:  Hindari Razia, Motor Diceburkan ke Parit

Ia mengklaim, dengan kebutuhan modal awal sekitar Rp37 miliar, pengelolaan sampah terpadu itu diproyeksikan mampu menghasilkan pemasukan hingga Rp74 miliar per tahun. Namun, skema pendanaan apakah melalui investasi murni, BUMD, atau pemerintah, masih perlu pembahasan lanjutan.

Teknologi yang ditawarkan menggunakan metode gravitasi, serupa dengan sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Jepang. Dengan metode tersebut, sampah yang masuk pada hari yang sama dapat langsung terproses dan tidak menumpuk hingga keesokan harinya.

“Kami putra Pekanbaru berharap masyarakat bisa mengambil contoh dari Jepang yang telah berhasil mengelola sampah dengan baik,” ujar Jaswar.(end)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari