Jumat, 17 Juli 2026
- Advertisement -

Polisi Ungkap Temuan Baru Kematian Dokter PPDS di Siak, Dua Jenis Obat Disita dari TKP

SIAK (RIAUPOS.CO) – Penyelidikan kasus meninggalnya dokter spesialis anestesi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUD Tengku Rafian Siak, Alex Cristo Lotis (30), masih terus berlangsung. Hingga kini, polisi menyatakan belum menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban berdasarkan pengamatan awal di lokasi.

Kasat Reskrim Polres Siak AKP Dr Raja Kosmos mengatakan, kesimpulan tersebut hanya didasarkan pada pemeriksaan secara kasat mata dan bukan hasil pemeriksaan medis ataupun forensik.

Menurutnya, penyidik hingga saat ini juga belum menerima hasil resmi visum maupun otopsi sehingga belum dapat memberikan keterangan lebih jauh mengenai penyebab kematian korban.

“Jadi terkait hal tersebut belum bisa kami tanggapi,” ujar AKP Raja Kosmos.

Baca Juga:  Tetap Jaga Kesehatan di Cuaca Ekstrem

Ia kembali menegaskan bahwa dari hasil pengamatan awal tidak ditemukan luka yang mengarah pada dugaan tindak kekerasan.

“Secara kasat mata tidak ditemukan luka-luka akibat tanda kekerasan. Apa yang kami lakukan secara kasat mata, bukan melalui pemeriksaan ahli atau medis. Sama-sama kita tunggu hasil visum resminya ya,” katanya.

Selain melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), penyidik juga menemukan dua jenis obat yang berada di dalam tas korban. Masing-masing obat ditemukan sebanyak tiga ampul. AKP Raja Kosmos menyebut obat tersebut diduga fentanyl citrate dan rocuronium bromide.

Barang bukti tersebut kini telah dikirim ke Laboratorium Forensik (Labfor) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Penemuan obat itu juga sudah dikirimkan ke Labfor untuk pemeriksaan, hari ini diantarkan,” terangnya.

Baca Juga:  Ikuti Sidang Pelanggaran Prokes, Denda Rp50 Ribu

Di sisi lain, dokter forensik meminta dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap sejumlah sampel di laboratorium guna memastikan penyebab pasti kematian korban.

Penyidik juga memeriksa sejumlah pihak, termasuk senior korban, untuk memastikan tidak ada unsur kekerasan maupun dugaan perundungan selama korban menjalani pendidikan kedokteran, khususnya di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Seluruh hubungan emosional korban dalam dua pekan terakhir turut didalami sebagai bagian dari proses penyelidikan.(mng)

SIAK (RIAUPOS.CO) – Penyelidikan kasus meninggalnya dokter spesialis anestesi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUD Tengku Rafian Siak, Alex Cristo Lotis (30), masih terus berlangsung. Hingga kini, polisi menyatakan belum menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban berdasarkan pengamatan awal di lokasi.

Kasat Reskrim Polres Siak AKP Dr Raja Kosmos mengatakan, kesimpulan tersebut hanya didasarkan pada pemeriksaan secara kasat mata dan bukan hasil pemeriksaan medis ataupun forensik.

Menurutnya, penyidik hingga saat ini juga belum menerima hasil resmi visum maupun otopsi sehingga belum dapat memberikan keterangan lebih jauh mengenai penyebab kematian korban.

“Jadi terkait hal tersebut belum bisa kami tanggapi,” ujar AKP Raja Kosmos.

Baca Juga:  Siak Menuju Nihil Karhutla

Ia kembali menegaskan bahwa dari hasil pengamatan awal tidak ditemukan luka yang mengarah pada dugaan tindak kekerasan.

- Advertisement -

“Secara kasat mata tidak ditemukan luka-luka akibat tanda kekerasan. Apa yang kami lakukan secara kasat mata, bukan melalui pemeriksaan ahli atau medis. Sama-sama kita tunggu hasil visum resminya ya,” katanya.

Selain melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), penyidik juga menemukan dua jenis obat yang berada di dalam tas korban. Masing-masing obat ditemukan sebanyak tiga ampul. AKP Raja Kosmos menyebut obat tersebut diduga fentanyl citrate dan rocuronium bromide.

- Advertisement -

Barang bukti tersebut kini telah dikirim ke Laboratorium Forensik (Labfor) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Penemuan obat itu juga sudah dikirimkan ke Labfor untuk pemeriksaan, hari ini diantarkan,” terangnya.

Baca Juga:  Kodim 0322/Siak Gelar LKTJ TMMD 

Di sisi lain, dokter forensik meminta dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap sejumlah sampel di laboratorium guna memastikan penyebab pasti kematian korban.

Penyidik juga memeriksa sejumlah pihak, termasuk senior korban, untuk memastikan tidak ada unsur kekerasan maupun dugaan perundungan selama korban menjalani pendidikan kedokteran, khususnya di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Seluruh hubungan emosional korban dalam dua pekan terakhir turut didalami sebagai bagian dari proses penyelidikan.(mng)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

SIAK (RIAUPOS.CO) – Penyelidikan kasus meninggalnya dokter spesialis anestesi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUD Tengku Rafian Siak, Alex Cristo Lotis (30), masih terus berlangsung. Hingga kini, polisi menyatakan belum menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban berdasarkan pengamatan awal di lokasi.

Kasat Reskrim Polres Siak AKP Dr Raja Kosmos mengatakan, kesimpulan tersebut hanya didasarkan pada pemeriksaan secara kasat mata dan bukan hasil pemeriksaan medis ataupun forensik.

Menurutnya, penyidik hingga saat ini juga belum menerima hasil resmi visum maupun otopsi sehingga belum dapat memberikan keterangan lebih jauh mengenai penyebab kematian korban.

“Jadi terkait hal tersebut belum bisa kami tanggapi,” ujar AKP Raja Kosmos.

Baca Juga:  Siak Menuju Nihil Karhutla

Ia kembali menegaskan bahwa dari hasil pengamatan awal tidak ditemukan luka yang mengarah pada dugaan tindak kekerasan.

“Secara kasat mata tidak ditemukan luka-luka akibat tanda kekerasan. Apa yang kami lakukan secara kasat mata, bukan melalui pemeriksaan ahli atau medis. Sama-sama kita tunggu hasil visum resminya ya,” katanya.

Selain melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), penyidik juga menemukan dua jenis obat yang berada di dalam tas korban. Masing-masing obat ditemukan sebanyak tiga ampul. AKP Raja Kosmos menyebut obat tersebut diduga fentanyl citrate dan rocuronium bromide.

Barang bukti tersebut kini telah dikirim ke Laboratorium Forensik (Labfor) untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Penemuan obat itu juga sudah dikirimkan ke Labfor untuk pemeriksaan, hari ini diantarkan,” terangnya.

Baca Juga:  Jalan Siak Menuju Bungaraya Licin

Di sisi lain, dokter forensik meminta dilakukan pemeriksaan lanjutan terhadap sejumlah sampel di laboratorium guna memastikan penyebab pasti kematian korban.

Penyidik juga memeriksa sejumlah pihak, termasuk senior korban, untuk memastikan tidak ada unsur kekerasan maupun dugaan perundungan selama korban menjalani pendidikan kedokteran, khususnya di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Seluruh hubungan emosional korban dalam dua pekan terakhir turut didalami sebagai bagian dari proses penyelidikan.(mng)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari