Jumat, 21 Agustus 2026
- Advertisement -

Anak Gajah Yuni yang Ditolak Induknya di Kampar Akhirnya Mati, BBKSDA Ungkap Penyebabnya

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Dunia konservasi kembali berduka. Seekor anak gajah betina bernama Yuni yang sempat telantar dan ditolak induknya di Gunung Sahilan, Kampar, akhirnya mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengumumkan kabar ini pada Selasa (12/8), setelah warganet mempertanyakan keberadaan Yuni di media sosial resmi lembaga tersebut. Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menjelaskan bahwa Yuni telah mati pada 11 April 2025 pukul 05.00 WIB.

Supartono meminta maaf karena informasi kematian baru disampaikan beberapa bulan setelah kejadian. Ia menegaskan hal ini bukan upaya menutup-nutupi, melainkan menunggu hasil uji laboratorium yang memerlukan waktu panjang karena dilakukan dua kali.

Baca Juga:  101 Paket Sabu Siap Edar Diamankan Polisi

Yuni sebelumnya dievakuasi dari Desa Gunung Mulya, Gunung Sahilan, Kampar, pada 10 Maret 2025 setelah diduga ditinggalkan induknya. Video Yuni yang mencoba mengikuti kendaraan di jalan sempat viral. Awalnya, tim BBKSDA berupaya mengembalikannya ke induk dan kelompoknya, namun gagal, sehingga Yuni dibawa ke PLG Minas untuk mendapatkan perawatan.

Sayangnya, Yuni tidak mau menyusu formula maupun dari induk gajah lain di PLG Minas. Upaya memindahkannya ke PLG Sebanga, Bengkalis, juga gagal karena induk asuh kembali menolak. Akhirnya Yuni diberi makan buah-buahan, namun perilakunya menjadi hiperaktif hingga perlu dikandangkan sementara dengan pengawasan satu dokter hewan dan tiga mahout.

Pada 8 April 2025, kondisi kesehatan Yuni mulai menurun. Ia berhenti makan dan tim medis memberinya nutrisi berupa air gula, elektrolit, serta cairan infus. Dua hari kemudian kondisinya semakin memburuk hingga Yuni akhirnya mati.

Baca Juga:  Kendaraan Nonplat BM Dirazia

Nekropsi mengungkap adanya peradangan lambung dan usus. Uji laboratorium pertama di Bogor menunjukkan Yuni negatif virus EEHV. Uji kedua di Institut Pertanian Bogor menemukan Yuni mengalami pneumonia, perdarahan paru-paru, gastroenteritis, dehidrasi, serta stres berat yang menurunkan kekebalan tubuh hingga menyebabkan gagal napas.

Supartono menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh anak gajah sebagai langkah pencegahan.(end)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Dunia konservasi kembali berduka. Seekor anak gajah betina bernama Yuni yang sempat telantar dan ditolak induknya di Gunung Sahilan, Kampar, akhirnya mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengumumkan kabar ini pada Selasa (12/8), setelah warganet mempertanyakan keberadaan Yuni di media sosial resmi lembaga tersebut. Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menjelaskan bahwa Yuni telah mati pada 11 April 2025 pukul 05.00 WIB.

Supartono meminta maaf karena informasi kematian baru disampaikan beberapa bulan setelah kejadian. Ia menegaskan hal ini bukan upaya menutup-nutupi, melainkan menunggu hasil uji laboratorium yang memerlukan waktu panjang karena dilakukan dua kali.

Baca Juga:  Harimau Kembali Muncul di Siak, Warga Diminta Hindari Kebun dan Keluar Malam Hari

Yuni sebelumnya dievakuasi dari Desa Gunung Mulya, Gunung Sahilan, Kampar, pada 10 Maret 2025 setelah diduga ditinggalkan induknya. Video Yuni yang mencoba mengikuti kendaraan di jalan sempat viral. Awalnya, tim BBKSDA berupaya mengembalikannya ke induk dan kelompoknya, namun gagal, sehingga Yuni dibawa ke PLG Minas untuk mendapatkan perawatan.

Sayangnya, Yuni tidak mau menyusu formula maupun dari induk gajah lain di PLG Minas. Upaya memindahkannya ke PLG Sebanga, Bengkalis, juga gagal karena induk asuh kembali menolak. Akhirnya Yuni diberi makan buah-buahan, namun perilakunya menjadi hiperaktif hingga perlu dikandangkan sementara dengan pengawasan satu dokter hewan dan tiga mahout.

- Advertisement -

Pada 8 April 2025, kondisi kesehatan Yuni mulai menurun. Ia berhenti makan dan tim medis memberinya nutrisi berupa air gula, elektrolit, serta cairan infus. Dua hari kemudian kondisinya semakin memburuk hingga Yuni akhirnya mati.

Baca Juga:  OJK Riau Ajak Mahasiswa Ikuti Boothcamp Duta Literasi Keuangan

Nekropsi mengungkap adanya peradangan lambung dan usus. Uji laboratorium pertama di Bogor menunjukkan Yuni negatif virus EEHV. Uji kedua di Institut Pertanian Bogor menemukan Yuni mengalami pneumonia, perdarahan paru-paru, gastroenteritis, dehidrasi, serta stres berat yang menurunkan kekebalan tubuh hingga menyebabkan gagal napas.

- Advertisement -

Supartono menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh anak gajah sebagai langkah pencegahan.(end)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Dunia konservasi kembali berduka. Seekor anak gajah betina bernama Yuni yang sempat telantar dan ditolak induknya di Gunung Sahilan, Kampar, akhirnya mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengumumkan kabar ini pada Selasa (12/8), setelah warganet mempertanyakan keberadaan Yuni di media sosial resmi lembaga tersebut. Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menjelaskan bahwa Yuni telah mati pada 11 April 2025 pukul 05.00 WIB.

Supartono meminta maaf karena informasi kematian baru disampaikan beberapa bulan setelah kejadian. Ia menegaskan hal ini bukan upaya menutup-nutupi, melainkan menunggu hasil uji laboratorium yang memerlukan waktu panjang karena dilakukan dua kali.

Baca Juga:  15 Tim Berebut Gelar Juara Riau Pos-HSBL 2026 Bangkinang, Persaingan Diprediksi Sengit

Yuni sebelumnya dievakuasi dari Desa Gunung Mulya, Gunung Sahilan, Kampar, pada 10 Maret 2025 setelah diduga ditinggalkan induknya. Video Yuni yang mencoba mengikuti kendaraan di jalan sempat viral. Awalnya, tim BBKSDA berupaya mengembalikannya ke induk dan kelompoknya, namun gagal, sehingga Yuni dibawa ke PLG Minas untuk mendapatkan perawatan.

Sayangnya, Yuni tidak mau menyusu formula maupun dari induk gajah lain di PLG Minas. Upaya memindahkannya ke PLG Sebanga, Bengkalis, juga gagal karena induk asuh kembali menolak. Akhirnya Yuni diberi makan buah-buahan, namun perilakunya menjadi hiperaktif hingga perlu dikandangkan sementara dengan pengawasan satu dokter hewan dan tiga mahout.

Pada 8 April 2025, kondisi kesehatan Yuni mulai menurun. Ia berhenti makan dan tim medis memberinya nutrisi berupa air gula, elektrolit, serta cairan infus. Dua hari kemudian kondisinya semakin memburuk hingga Yuni akhirnya mati.

Baca Juga:  Waduk Surut Ekstrem, Kampung yang Hilang di PLTA Koto Panjang Muncul Lagi

Nekropsi mengungkap adanya peradangan lambung dan usus. Uji laboratorium pertama di Bogor menunjukkan Yuni negatif virus EEHV. Uji kedua di Institut Pertanian Bogor menemukan Yuni mengalami pneumonia, perdarahan paru-paru, gastroenteritis, dehidrasi, serta stres berat yang menurunkan kekebalan tubuh hingga menyebabkan gagal napas.

Supartono menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh anak gajah sebagai langkah pencegahan.(end)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari