Sabtu, 8 Agustus 2026
- Advertisement -

Penggulingan Pemerintah Bukan Isu Mahasiswa

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Demonstrasi mahasiswa yang masif menentang pengesahan sejumah Undang-undang bermasalah terus menuai kontroversi. Namun tidak sedikit juga kalangan yang mengapresiasi aksi itu.

Pasalnya, sudah menjadi kewajiban mahasiswa untuk aktif mengawal dan kritis terhadap jalannya pemerintahan. Sebab, salah satu kekuatan kritik itu ada di kampus.

Direktur Humas Duta Remaja Indonesia Gifari Shadad mengatakan, mahasiswa yang dikatakan Antonio Gramscy sebagai intelektual organik harus menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat dan memantik sebuah pergerakan revolusioner. Karena itu pergerakan mahasiswa yang murni dari hati nurani dan keresahan bersama, harus tetap dijaga.

"Jangan sampai ditunggangi dan tanpa sadar menjadi "kuda" yang diarahkan untuk kepentingan kelompok dan golongan tertentu," kata Gifari dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Ahad (29/9).

Baca Juga:  Empat Pelaku Pencurian

Lebih lanjut, Gifari juga menuturkan, sudah selayaknya mahasiswa bersikap kritis mengawal kebijakan pemerintah sesuai koridor konstitusional dan bukan menimbulkan kegaduhan di mana-mana.

"Kita harus mencegah jangan sampai ada kepentingan yang mengganggu kemurnian dari aspirasi mahasiswa, atau bahkan dijadikan alat untuk tujuan inkonstitusional, seperti menjatuhkan pemerintahan yang sudah terpilih secara konstitusional," imbuh mantan Menteri Luar Negeri BEM Uhamka Jakarta ini.

Namun ia memastikan, dari hasil diskusinya dengan mahasiswa-mahasiswa BEM dan beberapa mantan ketua BEM, tuntutan yang disuarakan dalam aksi demonstrasi itu tidak sama sekali mendorong penggagalan pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Maruf Amin.

"Apabila ada oknum-oknum yang sengaja ingin merusak instrumen demokrasi dengan melakukan gerakan penolakan pelantikan. Maka kami, siap mengadang hal itu dan siap mengawal pelantikan Jokowi-Amin," tegasnya.

Baca Juga:  KNPI Rohil Kembali Berikan Bantuan Sembako 

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Demonstrasi mahasiswa yang masif menentang pengesahan sejumah Undang-undang bermasalah terus menuai kontroversi. Namun tidak sedikit juga kalangan yang mengapresiasi aksi itu.

Pasalnya, sudah menjadi kewajiban mahasiswa untuk aktif mengawal dan kritis terhadap jalannya pemerintahan. Sebab, salah satu kekuatan kritik itu ada di kampus.

Direktur Humas Duta Remaja Indonesia Gifari Shadad mengatakan, mahasiswa yang dikatakan Antonio Gramscy sebagai intelektual organik harus menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat dan memantik sebuah pergerakan revolusioner. Karena itu pergerakan mahasiswa yang murni dari hati nurani dan keresahan bersama, harus tetap dijaga.

"Jangan sampai ditunggangi dan tanpa sadar menjadi "kuda" yang diarahkan untuk kepentingan kelompok dan golongan tertentu," kata Gifari dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Ahad (29/9).

Baca Juga:  Tak Ada yang Kebal dari Covid-19

Lebih lanjut, Gifari juga menuturkan, sudah selayaknya mahasiswa bersikap kritis mengawal kebijakan pemerintah sesuai koridor konstitusional dan bukan menimbulkan kegaduhan di mana-mana.

- Advertisement -

"Kita harus mencegah jangan sampai ada kepentingan yang mengganggu kemurnian dari aspirasi mahasiswa, atau bahkan dijadikan alat untuk tujuan inkonstitusional, seperti menjatuhkan pemerintahan yang sudah terpilih secara konstitusional," imbuh mantan Menteri Luar Negeri BEM Uhamka Jakarta ini.

Namun ia memastikan, dari hasil diskusinya dengan mahasiswa-mahasiswa BEM dan beberapa mantan ketua BEM, tuntutan yang disuarakan dalam aksi demonstrasi itu tidak sama sekali mendorong penggagalan pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Maruf Amin.

- Advertisement -

"Apabila ada oknum-oknum yang sengaja ingin merusak instrumen demokrasi dengan melakukan gerakan penolakan pelantikan. Maka kami, siap mengadang hal itu dan siap mengawal pelantikan Jokowi-Amin," tegasnya.

Baca Juga:  Wakil Wali Kota Dumai Bakal Dikebumikan di Makam Pahlawan

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Demonstrasi mahasiswa yang masif menentang pengesahan sejumah Undang-undang bermasalah terus menuai kontroversi. Namun tidak sedikit juga kalangan yang mengapresiasi aksi itu.

Pasalnya, sudah menjadi kewajiban mahasiswa untuk aktif mengawal dan kritis terhadap jalannya pemerintahan. Sebab, salah satu kekuatan kritik itu ada di kampus.

Direktur Humas Duta Remaja Indonesia Gifari Shadad mengatakan, mahasiswa yang dikatakan Antonio Gramscy sebagai intelektual organik harus menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat dan memantik sebuah pergerakan revolusioner. Karena itu pergerakan mahasiswa yang murni dari hati nurani dan keresahan bersama, harus tetap dijaga.

"Jangan sampai ditunggangi dan tanpa sadar menjadi "kuda" yang diarahkan untuk kepentingan kelompok dan golongan tertentu," kata Gifari dalam keterangan tertulisnya pada JawaPos.com, Ahad (29/9).

Baca Juga:  Target 50 Calon ke Tahap Selanjutnya

Lebih lanjut, Gifari juga menuturkan, sudah selayaknya mahasiswa bersikap kritis mengawal kebijakan pemerintah sesuai koridor konstitusional dan bukan menimbulkan kegaduhan di mana-mana.

"Kita harus mencegah jangan sampai ada kepentingan yang mengganggu kemurnian dari aspirasi mahasiswa, atau bahkan dijadikan alat untuk tujuan inkonstitusional, seperti menjatuhkan pemerintahan yang sudah terpilih secara konstitusional," imbuh mantan Menteri Luar Negeri BEM Uhamka Jakarta ini.

Namun ia memastikan, dari hasil diskusinya dengan mahasiswa-mahasiswa BEM dan beberapa mantan ketua BEM, tuntutan yang disuarakan dalam aksi demonstrasi itu tidak sama sekali mendorong penggagalan pelantikan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Maruf Amin.

"Apabila ada oknum-oknum yang sengaja ingin merusak instrumen demokrasi dengan melakukan gerakan penolakan pelantikan. Maka kami, siap mengadang hal itu dan siap mengawal pelantikan Jokowi-Amin," tegasnya.

Baca Juga:  Airlangga: Pemerintah Hentikan Sementara Pemberian Visa WNA dari India

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari