Kamis, 30 April 2026
- Advertisement -

Harbuknas dan Minat Baca

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). Namun kini buku punya tantangan tersendiri terkait minat baca. Apa itu? Internet. Buku dan internet ini menjadi perenungan saat memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas) baru-baru ini. 

Tujuan peringatan Harbuknas antara lain untuk memacu minat baca masyarakat Indonesia sekaligus menaikkan penjualan buku. Namun, tujuan memacu minat baca buku memperoleh tantangan dari kemudahan internet. Pasalnya, aktivitas berinternet menenggelamkan minat baca buku tersebut. Banyak yang berpikiran demikian: daripada baca buku, lebih baik searching bahan bacaan di berinternet.

Bayangkan, awal tahun 2021 ini, pengguna internet di negeri kita sudah mencapai 202,6 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. Angka itu dimuat dalam laporan yang dirilis HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk "Digital 2021".

Masih di laporan yang sama, pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit untuk berselancar di internet. Aktivitas yang paling digemari adalah bermedia sosial. Saat ini, ada 170 juta jiwa orang Indonesia yang merupakan pengguna aktif media sosial. Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu 3 jam 14 menit di platform jejaring sosial.

Sungguh, internet merupakan tantangan berat ketika minat baca kita sangat rendah. UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca! Fakta inilah yang menempatkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Minat baca adalah ketertarikan yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan, memperhatikan, merasa menikmati, dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga individu tersebut melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Ini tentu memprihatinkan. Padahal membaca buku-buku berkualitas merupakan ciri sumberdaya manusia berkualitas di negara-negara maju.

Fakta lain adalah pandemi membuat penjualan buku tersendat. Mengutip ikapi.org, sebanyak 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan melebihi 50 persen dari biasanya. Kemudian 29,6 persen penerbit mengalami penurunan penjualan 31–50 persen; sebanyak 8,2 persen penerbit turun 10 persen sampai 30 persen; dan hanya 4,1 persen penerbit dengan kondisi penjualan relatif sama dengan hari-hari biasa.

Inilah wajah perbukuan kita. Sudah dihantam internet, didera pandemi pula. Urusan pandemi memang musti bersabar saja. Tetapi, urusan dengan internet masih bisa kompromi. Mau tak mau di era internet ini pelaku perbukuan masuk ke e-book. Atau bisa juga kampanye minat baca lewat internet. Termasuk juga pegiat medsos yang memiliki jutaan follower dapat dijadikan duta baca. Intinya kembali membaca buku jauh lebih baik dan berkualitas. Bukan hanya informasi dan budaya instan. Semoga.***

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). Namun kini buku punya tantangan tersendiri terkait minat baca. Apa itu? Internet. Buku dan internet ini menjadi perenungan saat memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas) baru-baru ini. 

Tujuan peringatan Harbuknas antara lain untuk memacu minat baca masyarakat Indonesia sekaligus menaikkan penjualan buku. Namun, tujuan memacu minat baca buku memperoleh tantangan dari kemudahan internet. Pasalnya, aktivitas berinternet menenggelamkan minat baca buku tersebut. Banyak yang berpikiran demikian: daripada baca buku, lebih baik searching bahan bacaan di berinternet.

Bayangkan, awal tahun 2021 ini, pengguna internet di negeri kita sudah mencapai 202,6 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. Angka itu dimuat dalam laporan yang dirilis HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk "Digital 2021".

Masih di laporan yang sama, pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit untuk berselancar di internet. Aktivitas yang paling digemari adalah bermedia sosial. Saat ini, ada 170 juta jiwa orang Indonesia yang merupakan pengguna aktif media sosial. Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu 3 jam 14 menit di platform jejaring sosial.

Sungguh, internet merupakan tantangan berat ketika minat baca kita sangat rendah. UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca! Fakta inilah yang menempatkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

- Advertisement -

Minat baca adalah ketertarikan yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan, memperhatikan, merasa menikmati, dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga individu tersebut melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Ini tentu memprihatinkan. Padahal membaca buku-buku berkualitas merupakan ciri sumberdaya manusia berkualitas di negara-negara maju.

Fakta lain adalah pandemi membuat penjualan buku tersendat. Mengutip ikapi.org, sebanyak 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan melebihi 50 persen dari biasanya. Kemudian 29,6 persen penerbit mengalami penurunan penjualan 31–50 persen; sebanyak 8,2 persen penerbit turun 10 persen sampai 30 persen; dan hanya 4,1 persen penerbit dengan kondisi penjualan relatif sama dengan hari-hari biasa.

- Advertisement -

Inilah wajah perbukuan kita. Sudah dihantam internet, didera pandemi pula. Urusan pandemi memang musti bersabar saja. Tetapi, urusan dengan internet masih bisa kompromi. Mau tak mau di era internet ini pelaku perbukuan masuk ke e-book. Atau bisa juga kampanye minat baca lewat internet. Termasuk juga pegiat medsos yang memiliki jutaan follower dapat dijadikan duta baca. Intinya kembali membaca buku jauh lebih baik dan berkualitas. Bukan hanya informasi dan budaya instan. Semoga.***

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). Namun kini buku punya tantangan tersendiri terkait minat baca. Apa itu? Internet. Buku dan internet ini menjadi perenungan saat memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas) baru-baru ini. 

Tujuan peringatan Harbuknas antara lain untuk memacu minat baca masyarakat Indonesia sekaligus menaikkan penjualan buku. Namun, tujuan memacu minat baca buku memperoleh tantangan dari kemudahan internet. Pasalnya, aktivitas berinternet menenggelamkan minat baca buku tersebut. Banyak yang berpikiran demikian: daripada baca buku, lebih baik searching bahan bacaan di berinternet.

Bayangkan, awal tahun 2021 ini, pengguna internet di negeri kita sudah mencapai 202,6 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. Angka itu dimuat dalam laporan yang dirilis HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk "Digital 2021".

Masih di laporan yang sama, pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit untuk berselancar di internet. Aktivitas yang paling digemari adalah bermedia sosial. Saat ini, ada 170 juta jiwa orang Indonesia yang merupakan pengguna aktif media sosial. Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu 3 jam 14 menit di platform jejaring sosial.

Sungguh, internet merupakan tantangan berat ketika minat baca kita sangat rendah. UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca! Fakta inilah yang menempatkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Minat baca adalah ketertarikan yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan, memperhatikan, merasa menikmati, dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga individu tersebut melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Ini tentu memprihatinkan. Padahal membaca buku-buku berkualitas merupakan ciri sumberdaya manusia berkualitas di negara-negara maju.

Fakta lain adalah pandemi membuat penjualan buku tersendat. Mengutip ikapi.org, sebanyak 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan melebihi 50 persen dari biasanya. Kemudian 29,6 persen penerbit mengalami penurunan penjualan 31–50 persen; sebanyak 8,2 persen penerbit turun 10 persen sampai 30 persen; dan hanya 4,1 persen penerbit dengan kondisi penjualan relatif sama dengan hari-hari biasa.

Inilah wajah perbukuan kita. Sudah dihantam internet, didera pandemi pula. Urusan pandemi memang musti bersabar saja. Tetapi, urusan dengan internet masih bisa kompromi. Mau tak mau di era internet ini pelaku perbukuan masuk ke e-book. Atau bisa juga kampanye minat baca lewat internet. Termasuk juga pegiat medsos yang memiliki jutaan follower dapat dijadikan duta baca. Intinya kembali membaca buku jauh lebih baik dan berkualitas. Bukan hanya informasi dan budaya instan. Semoga.***

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari