Senin, 4 Mei 2026
- Advertisement -

Pemerintah Perpanjang Fasilitas Pajak

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pemerintah memperpanjang jangka waktu pemberian fasilitas pajak penghasilan (PPh) dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 hingga 31 Desember 2021. Pemerintah juga melakukan penyesuaian terhadap insentif perpajakan yang diberikan kepada wajib pajak dalam rangka menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Fasilitas PPh tersebut sebagaimana diatur dalam PP 29 tahun 2020 yakni tambahan pengurangan penghasilan netto bagi wajib pajak dalam negeri yang memproduksi alat kesehatan atau perbekalan kesehatan rumah tangga, sumbangan yang dapat menjadi pengurang penghasilan bruto, pengenaan tarif PPh 0 persen dan bersifat final atas tambahan penghasilan yang diterima tenaga kerja di bidang kesehatan, serta pengenaan tarif PPh 0 persen dan bersifat final atas penghasilan berupa kompensasi atau penggantian atas penggunaan harta.

Baca Juga:  136 Anak Yatim Diajak DPD REI Riau untuk Berbuka Bersama

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Neilmaldrin Noor dalam siaran pers mengungkapkan, pemberian insentif perpajakan perlu diberikan secara selektif dengan prioritas kepada sektor tertentu yang tertahan dan perlu lebih didukung laju pemulihannya, seperti jasa kesehatan, jasa pendidikan, jasa angkutan, konstruksi, dan akomodasi.

"Penyesuaian yang dilakukan pemerintah di antaranya insentif PPh pasal 21 untuk karyawan yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di salah satu dari 1.189 bidang usaha tertentu dapat memperoleh insentif pajak penghasilan (PPh) pasal 21 ditanggung pemerintah. Selanjutnya, bagi perusahaan yang mendapatkan fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (kite) dan perusahaan di kawasan berikat tidak lagi mendapat fasilitas ini," jelas Neilmaldrin Noor, Selasa (20/7).

Baca Juga:  Bank BJB Libatkan Ride-O Gelar Fellowship Ride Bandung-Jogjakarta

Sementara Kepala Kanwil DJP Riau, Farid Bachtiar menambahkan, penyesuaian selanjutnya pada insentif pajak UMKM. Bagi pelaku UMKM mendapat insentif PPh final tarif 0,5 persen sesuai pp nomor 23 tahun 2018 (pph final pp 23) yang ditanggung pemerintah.

"Dengan demikian wajib pajak UMKM tidak perlu melakukan setoran pajak. Pihak-pihak yang bertransaksi dengan UMKM juga tidak perlu melakukan pemotongan atau pemungutan pajak pada saat melakukan pembayaran kepada pelaku UMKM," ungkap Farid.

Ditambahkannya,ketentuan selengkapnya dari tentang perubahan insentif pajak dapat dibaca di peraturanmenteri keuangan nomor 82/pmk.03/2021, sedangkan ketentuan perpanjangan pemberianfasilitas PPh dapat dibaca di peraturan menteri keuangan nomor 83/pmk.03/2021. (das)

Laporan: MUJAWAROH ANNAFI, Pekanbaru

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pemerintah memperpanjang jangka waktu pemberian fasilitas pajak penghasilan (PPh) dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 hingga 31 Desember 2021. Pemerintah juga melakukan penyesuaian terhadap insentif perpajakan yang diberikan kepada wajib pajak dalam rangka menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Fasilitas PPh tersebut sebagaimana diatur dalam PP 29 tahun 2020 yakni tambahan pengurangan penghasilan netto bagi wajib pajak dalam negeri yang memproduksi alat kesehatan atau perbekalan kesehatan rumah tangga, sumbangan yang dapat menjadi pengurang penghasilan bruto, pengenaan tarif PPh 0 persen dan bersifat final atas tambahan penghasilan yang diterima tenaga kerja di bidang kesehatan, serta pengenaan tarif PPh 0 persen dan bersifat final atas penghasilan berupa kompensasi atau penggantian atas penggunaan harta.

Baca Juga:  Nilai Jual Tinggi, Alasan Konsumen Pilih Mitsubishi Xpander

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Neilmaldrin Noor dalam siaran pers mengungkapkan, pemberian insentif perpajakan perlu diberikan secara selektif dengan prioritas kepada sektor tertentu yang tertahan dan perlu lebih didukung laju pemulihannya, seperti jasa kesehatan, jasa pendidikan, jasa angkutan, konstruksi, dan akomodasi.

"Penyesuaian yang dilakukan pemerintah di antaranya insentif PPh pasal 21 untuk karyawan yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di salah satu dari 1.189 bidang usaha tertentu dapat memperoleh insentif pajak penghasilan (PPh) pasal 21 ditanggung pemerintah. Selanjutnya, bagi perusahaan yang mendapatkan fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (kite) dan perusahaan di kawasan berikat tidak lagi mendapat fasilitas ini," jelas Neilmaldrin Noor, Selasa (20/7).

Baca Juga:  Telkomsel Ajak Berdonasi untuk Korban Banjir Medan

Sementara Kepala Kanwil DJP Riau, Farid Bachtiar menambahkan, penyesuaian selanjutnya pada insentif pajak UMKM. Bagi pelaku UMKM mendapat insentif PPh final tarif 0,5 persen sesuai pp nomor 23 tahun 2018 (pph final pp 23) yang ditanggung pemerintah.

- Advertisement -

"Dengan demikian wajib pajak UMKM tidak perlu melakukan setoran pajak. Pihak-pihak yang bertransaksi dengan UMKM juga tidak perlu melakukan pemotongan atau pemungutan pajak pada saat melakukan pembayaran kepada pelaku UMKM," ungkap Farid.

Ditambahkannya,ketentuan selengkapnya dari tentang perubahan insentif pajak dapat dibaca di peraturanmenteri keuangan nomor 82/pmk.03/2021, sedangkan ketentuan perpanjangan pemberianfasilitas PPh dapat dibaca di peraturan menteri keuangan nomor 83/pmk.03/2021. (das)

- Advertisement -

Laporan: MUJAWAROH ANNAFI, Pekanbaru

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pemerintah memperpanjang jangka waktu pemberian fasilitas pajak penghasilan (PPh) dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 hingga 31 Desember 2021. Pemerintah juga melakukan penyesuaian terhadap insentif perpajakan yang diberikan kepada wajib pajak dalam rangka menghadapi dampak pandemi Covid-19.

Fasilitas PPh tersebut sebagaimana diatur dalam PP 29 tahun 2020 yakni tambahan pengurangan penghasilan netto bagi wajib pajak dalam negeri yang memproduksi alat kesehatan atau perbekalan kesehatan rumah tangga, sumbangan yang dapat menjadi pengurang penghasilan bruto, pengenaan tarif PPh 0 persen dan bersifat final atas tambahan penghasilan yang diterima tenaga kerja di bidang kesehatan, serta pengenaan tarif PPh 0 persen dan bersifat final atas penghasilan berupa kompensasi atau penggantian atas penggunaan harta.

Baca Juga:  Bank BJB Libatkan Ride-O Gelar Fellowship Ride Bandung-Jogjakarta

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Neilmaldrin Noor dalam siaran pers mengungkapkan, pemberian insentif perpajakan perlu diberikan secara selektif dengan prioritas kepada sektor tertentu yang tertahan dan perlu lebih didukung laju pemulihannya, seperti jasa kesehatan, jasa pendidikan, jasa angkutan, konstruksi, dan akomodasi.

"Penyesuaian yang dilakukan pemerintah di antaranya insentif PPh pasal 21 untuk karyawan yang bekerja pada perusahaan yang bergerak di salah satu dari 1.189 bidang usaha tertentu dapat memperoleh insentif pajak penghasilan (PPh) pasal 21 ditanggung pemerintah. Selanjutnya, bagi perusahaan yang mendapatkan fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (kite) dan perusahaan di kawasan berikat tidak lagi mendapat fasilitas ini," jelas Neilmaldrin Noor, Selasa (20/7).

Baca Juga:  Bangkitkan UMKM Pariwisata, Bukopin Salurkan KUR

Sementara Kepala Kanwil DJP Riau, Farid Bachtiar menambahkan, penyesuaian selanjutnya pada insentif pajak UMKM. Bagi pelaku UMKM mendapat insentif PPh final tarif 0,5 persen sesuai pp nomor 23 tahun 2018 (pph final pp 23) yang ditanggung pemerintah.

"Dengan demikian wajib pajak UMKM tidak perlu melakukan setoran pajak. Pihak-pihak yang bertransaksi dengan UMKM juga tidak perlu melakukan pemotongan atau pemungutan pajak pada saat melakukan pembayaran kepada pelaku UMKM," ungkap Farid.

Ditambahkannya,ketentuan selengkapnya dari tentang perubahan insentif pajak dapat dibaca di peraturanmenteri keuangan nomor 82/pmk.03/2021, sedangkan ketentuan perpanjangan pemberianfasilitas PPh dapat dibaca di peraturan menteri keuangan nomor 83/pmk.03/2021. (das)

Laporan: MUJAWAROH ANNAFI, Pekanbaru

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari