PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Menjelang masuknya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, kembali menunaikan tradisi Balimau Kasai yang telah mengakar dalam kehidupan adat mereka.
Anak-anak tampak berlarian di antara kerumunan warga. Kaum ibu membawa wadah berisi air limau, sementara para tetua adat bersiap memimpin doa. Aroma jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas yang diperas ke dalam air menyatu dengan semilir angin Sungai Tapung, menghadirkan suasana khas menjelang Ramadan.
Balimau berasal dari kata “limau”, yakni jeruk yang dicampurkan ke dalam air untuk mandi. Sementara kasai merupakan ramuan wangi-wangian yang digunakan saat berkeramas. Dalam tradisi Melayu Rokan Hulu, kasai menjadi simbol pembersihan pikiran dari dengki dan prasangka sebelum memasuki bulan puasa.
Prosesi ini dilaksanakan mengikuti tata aturan adat yang dijaga turun-temurun. Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, kemudian warga mandi secara bergantian di sungai sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin. Nilai sakral tradisi ini tidak hanya terletak pada ritualnya, tetapi juga pada makna spiritual dan sosial yang menyertainya.
Tradisi yang diselenggarakan oleh Lembaga Kerapatan Adat Tandun tersebut turut diramaikan dengan berbagai permainan tradisional. Lomba anak-anak, permainan bagi kaum ibu, hingga panjat pinang menambah semarak kebersamaan. Balimau Kasai menjadi ruang temu lintas generasi, tempat nilai adat diwariskan melalui pengalaman langsung.
Di tengah pelaksanaan kegiatan, PTPN IV PalmCo melalui PTPN IV Regional III ambil bagian mendukung penyelenggaraan sebagai wujud komitmen merawat kearifan lokal di wilayah operasionalnya.
Ketua LKA Tandun Datuk Bandaro Zulhaimar menyampaikan apresiasi atas konsistensi perusahaan dalam mendukung kegiatan adat tersebut. Menurutnya, kehadiran perusahaan menunjukkan kepedulian terhadap identitas budaya masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PTPN IV Regional III yang terus bersama kami menjaga tradisi Balimau Kasai. Dukungan ini memperkuat semangat masyarakat untuk tetap melestarikan adat yang menjadi jati diri kami,” ujarnya.
Ia menegaskan, Balimau Kasai bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi simbol syukur dan kegembiraan menyambut bulan penuh berkah. Tradisi ini juga menjadi momentum refleksi dan pembersihan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.
Kepala Bagian Sekretariat dan Hukum PTPN IV Regional III, Andiansyah Hamdani, mengatakan pelestarian budaya lokal merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan.
“Perusahaan tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Karena itu, kami memandang penting untuk terus mendukung kegiatan adat seperti Balimau Kasai agar tetap lestari dan memberi manfaat sosial,” katanya.
Menjelang senja, saat matahari meredup di ufuk barat, warga perlahan meninggalkan tepian sungai. Wajah-wajah yang basah oleh air limau memancarkan ketenangan. Di tengah gemericik air dan tawa anak-anak, Balimau Kasai kembali menjadi penanda bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.(ifr)

