Minggu, 16 Agustus 2026
- Advertisement -

Abrasi Hantam 1.700 Hektare Kebun Warga, Pemerintah Siapkan Rehabilitasi Mangrove Besar-besaran

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) — Abrasi yang terjadi sejak 2021 telah berdampak terhadap sekitar 1.700 hektare (ha) kebun masyarakat di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Kondisi itu membuat pemulihan kawasan pesisir menjadi perhatian pemerintah dan berbagai pihak melalui rehabilitasi mangrove dalam skala besar.

Upaya tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau yang digelar di Kuala Selat, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan itu dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wamen PPA/TPPO Veronica Tan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Bupati Inhil Herman, Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, Sosiolog Robertus Robet, serta sejumlah pejabat dan tokoh lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, selain dilakukan penanaman mangrove, masyarakat juga menerima bantuan sembako, ketinting dan matching grants yang diberikan kepada 13 kelompok masyarakat dampingan PPIU M4CR Riau.

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menilai Kuala Selat membutuhkan penanganan lingkungan secara besar-besaran. Karena itu, ia menyatakan komitmen untuk mendorong penanaman mangrove seluas 500 hektare di kawasan yang terdampak abrasi.

Baca Juga:  Tanam Pohon, Wujud Peduli dan Jaga Kelestarian Lingkungan

Target tersebut, menurutnya, diharapkan dapat diperluas hingga mencapai 1.000 hektare sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus membantu mengembalikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

“Saya berkomitmen untuk ikut memastikan penanaman mangrove 500 hektare di tempat yang terabrasi. Mudah-mudahan bisa terpenuhi 1.000 hektare untuk ditanam di wilayah ini sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemulihan sosial ekonomi,” kata Jumhur.

Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove. Proses pembibitan dan pemeliharaan juga akan dilakukan dan dianggarkan selama tiga tahun.

Masyarakat akan dilibatkan dalam tahapan pemeliharaan tersebut sehingga selain membantu menjaga keberlangsungan mangrove, mereka juga dapat memperoleh manfaat ekonomi.

“Jadi bukan sekadar menanam lalu ditinggalkan. Mulai dari pembibitan, penanaman sampai pemeliharaan itu teranggarkan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan honor untuk pemeliharaan selama tiga tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menyebut Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan bentuk kehadiran negara di wilayah pesisir. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk merespons langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga:  Nopriadi Pimpin LLDIKTI Riau dan Kepri

Menurut Herry, abrasi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam lahan dan mata pencaharian warga.

“Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya,” ujarnya.

Penanganan abrasi di Kuala Selat juga menghadapi tantangan geografis. Dari Mako Polsek Kateman menuju kawasan terdampak, perjalanan mencapai sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh 45 hingga 60 menit menggunakan speedboat.

Kondisi perairan juga dipengaruhi pasang surut, sedangkan kawasan pantainya memiliki lumpur cukup dalam, mulai setinggi lutut hingga paha.

Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau merupakan rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menyasar kawasan pesisir, wilayah terluar dan daerah yang memiliki keterbatasan akses.

Di Kuala Selat, kegiatan diarahkan tidak hanya untuk membantu masyarakat, tetapi juga memulihkan kawasan yang terdampak abrasi. Rehabilitasi mangrove diharapkan menjadi benteng alami sekaligus memberikan peluang ekonomi melalui keterlibatan warga dalam pembibitan dan pemeliharaan. (*2)

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) — Abrasi yang terjadi sejak 2021 telah berdampak terhadap sekitar 1.700 hektare (ha) kebun masyarakat di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Kondisi itu membuat pemulihan kawasan pesisir menjadi perhatian pemerintah dan berbagai pihak melalui rehabilitasi mangrove dalam skala besar.

Upaya tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau yang digelar di Kuala Selat, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan itu dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wamen PPA/TPPO Veronica Tan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Bupati Inhil Herman, Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, Sosiolog Robertus Robet, serta sejumlah pejabat dan tokoh lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, selain dilakukan penanaman mangrove, masyarakat juga menerima bantuan sembako, ketinting dan matching grants yang diberikan kepada 13 kelompok masyarakat dampingan PPIU M4CR Riau.

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menilai Kuala Selat membutuhkan penanganan lingkungan secara besar-besaran. Karena itu, ia menyatakan komitmen untuk mendorong penanaman mangrove seluas 500 hektare di kawasan yang terdampak abrasi.

- Advertisement -
Baca Juga:  PSU TPS 005 Disetujui KPU Kepulauan Meranti

Target tersebut, menurutnya, diharapkan dapat diperluas hingga mencapai 1.000 hektare sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus membantu mengembalikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

“Saya berkomitmen untuk ikut memastikan penanaman mangrove 500 hektare di tempat yang terabrasi. Mudah-mudahan bisa terpenuhi 1.000 hektare untuk ditanam di wilayah ini sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemulihan sosial ekonomi,” kata Jumhur.

- Advertisement -

Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove. Proses pembibitan dan pemeliharaan juga akan dilakukan dan dianggarkan selama tiga tahun.

Masyarakat akan dilibatkan dalam tahapan pemeliharaan tersebut sehingga selain membantu menjaga keberlangsungan mangrove, mereka juga dapat memperoleh manfaat ekonomi.

“Jadi bukan sekadar menanam lalu ditinggalkan. Mulai dari pembibitan, penanaman sampai pemeliharaan itu teranggarkan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan honor untuk pemeliharaan selama tiga tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menyebut Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan bentuk kehadiran negara di wilayah pesisir. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk merespons langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga:  Telaga Air Merah, Bukti Ketangguhan Desa di Tengah Pandemi

Menurut Herry, abrasi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam lahan dan mata pencaharian warga.

“Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya,” ujarnya.

Penanganan abrasi di Kuala Selat juga menghadapi tantangan geografis. Dari Mako Polsek Kateman menuju kawasan terdampak, perjalanan mencapai sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh 45 hingga 60 menit menggunakan speedboat.

Kondisi perairan juga dipengaruhi pasang surut, sedangkan kawasan pantainya memiliki lumpur cukup dalam, mulai setinggi lutut hingga paha.

Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau merupakan rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menyasar kawasan pesisir, wilayah terluar dan daerah yang memiliki keterbatasan akses.

Di Kuala Selat, kegiatan diarahkan tidak hanya untuk membantu masyarakat, tetapi juga memulihkan kawasan yang terdampak abrasi. Rehabilitasi mangrove diharapkan menjadi benteng alami sekaligus memberikan peluang ekonomi melalui keterlibatan warga dalam pembibitan dan pemeliharaan. (*2)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) — Abrasi yang terjadi sejak 2021 telah berdampak terhadap sekitar 1.700 hektare (ha) kebun masyarakat di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Kondisi itu membuat pemulihan kawasan pesisir menjadi perhatian pemerintah dan berbagai pihak melalui rehabilitasi mangrove dalam skala besar.

Upaya tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau yang digelar di Kuala Selat, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan itu dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wamen PPA/TPPO Veronica Tan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Bupati Inhil Herman, Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, Sosiolog Robertus Robet, serta sejumlah pejabat dan tokoh lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, selain dilakukan penanaman mangrove, masyarakat juga menerima bantuan sembako, ketinting dan matching grants yang diberikan kepada 13 kelompok masyarakat dampingan PPIU M4CR Riau.

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menilai Kuala Selat membutuhkan penanganan lingkungan secara besar-besaran. Karena itu, ia menyatakan komitmen untuk mendorong penanaman mangrove seluas 500 hektare di kawasan yang terdampak abrasi.

Baca Juga:  Wujudkan Ramadan Aman dan Nyaman, Polda Riau Gelar Operasi Cipta Kondisi

Target tersebut, menurutnya, diharapkan dapat diperluas hingga mencapai 1.000 hektare sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus membantu mengembalikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

“Saya berkomitmen untuk ikut memastikan penanaman mangrove 500 hektare di tempat yang terabrasi. Mudah-mudahan bisa terpenuhi 1.000 hektare untuk ditanam di wilayah ini sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemulihan sosial ekonomi,” kata Jumhur.

Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove. Proses pembibitan dan pemeliharaan juga akan dilakukan dan dianggarkan selama tiga tahun.

Masyarakat akan dilibatkan dalam tahapan pemeliharaan tersebut sehingga selain membantu menjaga keberlangsungan mangrove, mereka juga dapat memperoleh manfaat ekonomi.

“Jadi bukan sekadar menanam lalu ditinggalkan. Mulai dari pembibitan, penanaman sampai pemeliharaan itu teranggarkan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan honor untuk pemeliharaan selama tiga tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menyebut Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan bentuk kehadiran negara di wilayah pesisir. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk merespons langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga:  Peduli Meranti dari Abrasi, Polisi Tanam Kayu Api-api

Menurut Herry, abrasi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam lahan dan mata pencaharian warga.

“Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya,” ujarnya.

Penanganan abrasi di Kuala Selat juga menghadapi tantangan geografis. Dari Mako Polsek Kateman menuju kawasan terdampak, perjalanan mencapai sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh 45 hingga 60 menit menggunakan speedboat.

Kondisi perairan juga dipengaruhi pasang surut, sedangkan kawasan pantainya memiliki lumpur cukup dalam, mulai setinggi lutut hingga paha.

Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau merupakan rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan ini menyasar kawasan pesisir, wilayah terluar dan daerah yang memiliki keterbatasan akses.

Di Kuala Selat, kegiatan diarahkan tidak hanya untuk membantu masyarakat, tetapi juga memulihkan kawasan yang terdampak abrasi. Rehabilitasi mangrove diharapkan menjadi benteng alami sekaligus memberikan peluang ekonomi melalui keterlibatan warga dalam pembibitan dan pemeliharaan. (*2)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari