SIAK (RIAUPOS.CO) — Menjaga wilayah pesisir dari ancaman abrasi menjadi perhatian warga Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Kepala Desa Penyengat Abok Agustinus bersama perangkat desa, warga dan mahasiswa KKN UIN Suska Riau menanam 5.000 bibit mangrove di Dusun III Mungkal.
Untuk mencapai lokasi penanaman, perjalanan tidak bisa ditempuh melalui jalur darat. Rombongan harus menggunakan kapal bermesin dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 hingga 2 jam.
Jarak dan kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat warga. Mereka justru menjadikan kegiatan penanaman mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap pesisir sekaligus kecintaan kepada Indonesia.
Kades Penyengat Abok Agustinus mengatakan, kawasan pesisir seluas satu hektare membutuhkan sedikitnya 10 ribu bibit mangrove untuk ditanam. Pada kegiatan Jumat (15/8), pihaknya membawa sekitar 5.000 batang bibit.
“Untuk 1 hektare kawasan pesisir, diperlukan sedikitnya 10 ribu bibit mangrove siap tanam. Untuk penanaman, Jumat (15/8), kami membawa 5.000 batang,” terang Abok.
Jumlah bibit tersebut nantinya akan terus ditambah. Penanaman juga direncanakan berlangsung secara berkelanjutan karena masyarakat harus berpacu dengan abrasi yang terus menggerus kawasan pesisir.
Semangat menjaga lingkungan juga terlihat dari keterlibatan warga dalam menyediakan bibit. Tidak hanya mengandalkan pembibitan desa, masyarakat menyemai buah mangrove secara mandiri di rumah masing-masing.
Buah mangrove yang telah dipilih kemudian disemai menggunakan polybag berisi lumpur atau tanah pesisir. Bibit dirawat selama sekitar dua hingga tiga bulan hingga tunas dan akar utamanya tumbuh cukup kuat untuk ditanam.
“Meski kami punya pembibitan sendiri, setiap rumah warga juga membuat pembibitan mandiri, sehingga jika diperlukan akan menyumbangkan bibitnya untuk ditanam bersama,” ungkap Abok.
Menurutnya, gerakan tersebut muncul dari keinginan bersama untuk mempertahankan garis pantai agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Pelabuhan Dusun III Mungkal. Abrasi dikhawatirkan terus mengikis kawasan tersebut sehingga penanaman mangrove dilakukan sebagai upaya perlindungan alami.
“Kami dibantu perangkat dan warga Dusun III Mungkal, serta mahasiswa UIN Suska Riau yang sedang KKN di kampung kami,” jelas Abok.
Proses penanaman dilakukan dengan teknik sederhana namun teratur. Pelepah nipah sepanjang sekitar satu meter terlebih dahulu ditancapkan sebagai penanda lokasi bibit.
Setelah itu, bibit diletakkan di samping pelepah. Lubang dibuat menggunakan kayu berujung runcing yang disebut tajak. Bibit kemudian dimasukkan ke dalam lubang, sedangkan polybag diletakkan di atas pelepah sebagai penanda bahwa bibit telah ditanam.
Dengan cara tersebut, sebanyak 5.000 bibit mangrove berhasil ditanam dalam waktu sekitar dua jam.
Abok menjelaskan, mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir. Selain menjadi pelindung alami garis pantai dari abrasi dan badai, kawasan mangrove juga menjadi habitat serta tempat berkembang biak berbagai jenis ikan dan biota laut.
Mangrove juga mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dan mendukung kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.
Karena itu, bibit yang telah ditanam akan terus dirawat agar tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Kami menjaga abrasi bibir pantai dengan menanam mangrove. Dengan menanam mangrove di bibir pantai, mencegah abrasi, alam menjadi lestari, dan Indonesia terjaga,” ucap Abok.
Seluruh kegiatan dilakukan secara swadaya, mulai dari penyediaan bibit, transportasi hingga konsumsi. Semangat tersebut menjadi bentuk gotong royong warga untuk menjaga pesisir tetap lestari. (*nda)

