Sabtu, 11 Juli 2026
- Advertisement -

120 Pebulutangkis Muda Masih Bertahan, Perebutan Super Tiket Audisi PB Djarum di Pekanbaru Makin Sengit

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Persaingan memperebutkan super tiket pada Audisi Umum PB Djarum 2026 di Pekanbaru semakin ketat. Sekitar 120 peserta yang masih bertahan di kategori putra U-11 dan KU-12 terus berjuang pada babak turnamen yang berlangsung di GOR Angkasa, Jumat (10/7), demi menjaga peluang bergabung dengan PB Djarum.

Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Leonard Holvy de Pauw, mengapresiasi perkembangan pembinaan bulutangkis usia dini di luar Pulau Jawa. Menurutnya, kualitas permainan yang diperlihatkan para peserta di Pekanbaru cukup mengejutkan karena sudah berada pada level yang kompetitif.

Dari hasil pengamatannya selama audisi, Holvy menilai sejumlah daerah kini mulai menunjukkan kemajuan dalam membina atlet muda. Hal tersebut menjadi sinyal positif lahirnya bibit-bibit pebulutangkis yang layak diproyeksikan ke jenjang pembinaan yang lebih tinggi.

Ia menjelaskan, tim pencari bakat memiliki sejumlah indikator dalam menilai calon atlet putra. Fondasi teknik dasar menjadi aspek utama, seperti kualitas pukulan dan footwork. Sementara postur tubuh menjadi nilai tambah, namun bukan satu-satunya penentu.

Selain kemampuan teknik, Holvy juga memperhatikan kecerdasan bermain, kemampuan membaca arah bola, serta semangat juang yang tinggi saat bertanding.

“Saya cukup kaget tapi juga bangga dengan kemajuan bulutangkis di luar Pulau Jawa,” ujarnya.

“Buat saya, talenta yang bagus punya fondasi dasar badminton mumpuni. Dari pukulan, footwork, itu harus ada. Selain itu, postur jadi nilai tambah, lalu kepintaran di lapangan, kemampuan membaca bola, dan daya juang yang tidak gampang menyerah juga masuk kriteria kami,” tambahnya.

Baca Juga:  Indonesia Tanpa Tunggal Putri di All England

Holvy juga menilai pembinaan atlet tunggal putra harus terus beradaptasi dengan perkembangan persaingan internasional yang semakin ketat. Apalagi, muncul wacana perubahan sistem pertandingan menjadi gim 15 poin yang menuntut pemain tampil lebih efektif.

Menurutnya, atlet masa kini harus memiliki tiga modal utama, yakni kecepatan, kekuatan, dan konsistensi permainan. Di samping peningkatan teknik dan kondisi fisik, pembinaan juga perlu didukung kompetisi internal, turnamen berjenjang, penerapan sports science, analisis video, serta dukungan lingkungan yang baik.

“Kalau melihat perkembangan tunggal putra sekarang, hal yang perlu ditingkatkan bagi seorang atlet adalah speed, power, dan konsistensi. Selain penguatan kualitas teknik dan fisik, kompetisi internal, turnamen berjenjang, support system, sports science, sampai analisis video juga sangat penting untuk membantu atlet berkembang dan siap bersaing di level tertinggi,” katanya.

Sementara itu, pertandingan sektor U-11 putra menghadirkan duel sengit. Shaqeel Alghifari Farzani berhasil bangkit setelah kalah pada gim pertama saat menghadapi Azka Putra Irwan.

Pebulutangkis asal PB Allstars Juniors Kota Payakumbuh itu sempat tertinggal usai kalah 14-21 pada gim pembuka. Namun, ia membalas dengan kemenangan 21-9 di gim kedua sebelum memastikan kemenangan dramatis 23-21 pada gim penentuan.

Shaqeel mengaku berhasil membalikkan keadaan setelah mengikuti instruksi pelatih untuk mengombinasikan pukulan ke depan dan belakang sehingga membuat lawannya kesulitan.

“Pertandingan sengit, saya sempat mengalami kekalahan di gim pertama. Saya baru bisa tampil percaya diri di gim kedua, meski sempat naik turun di gim ketiga lantaran sudah mulai lelah. Saya mengikuti arahan pelatih untuk mengombinasikan arah bola ke depan dan ke belakang. Strategi itu cukup berhasil karena lawan terlihat kesulitan dan kelelahan mengejar bola,” ujarnya.

Baca Juga:  Momo Geisha Berduka, Ibunda Tercinta Tutup Usia di Malang

Meski puas meraih kemenangan, siswa kelas V sekolah dasar tersebut mengakui masih memiliki sejumlah kekurangan. Ia menilai servis dan kesiapan menemukan ritme permainan sejak awal pertandingan menjadi aspek yang harus segera diperbaiki.

“Saya tentu senang bisa memenangi pertandingan. Tapi penampilan saya masih ada kurangnya, terutama saat melakukan servis karena beberapa kali bola keluar. Saya juga harus bisa lebih cepat panas supaya bisa memaksimalkan peluang untuk menang,” tuturnya.

Di kategori KU-12 putra, atlet tuan rumah Pekanbaru, Alvaro Wiryawan Andito, juga tampil meyakinkan. Pada laga pertama, ia mengalahkan Muhammad Zhafran Khairy dengan skor 21-8 dan 21-3.

Penampilan apik itu berlanjut saat Alvaro menundukkan M Gilbran Alvaro Hidayat dua gim langsung dengan skor 21-5 dan 21-11.

Meski meraih dua kemenangan beruntun, pebulutangkis berusia 11 tahun tersebut mengaku belum puas dengan performanya. Ia masih menemukan sejumlah kelemahan yang ingin diperbaiki sebelum menghadapi pertandingan berikutnya yang diprediksi lebih berat.

“Bagi saya pertandingan tadi tidak berjalan mudah dan belum puas dengan permainan sendiri. Pukulan dropshot saya belum bagus dan masih banyak bola pukulan saya yang keluar. Saya juga kurang sabar dan langkah kaki belum maksimal. Jadi, saya ingin memperbaiki itu semua supaya bisa lebih siap karena lawannya pasti akan lebih sulit di pertandingan berikutnya,” kata Alvaro.(sol)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Persaingan memperebutkan super tiket pada Audisi Umum PB Djarum 2026 di Pekanbaru semakin ketat. Sekitar 120 peserta yang masih bertahan di kategori putra U-11 dan KU-12 terus berjuang pada babak turnamen yang berlangsung di GOR Angkasa, Jumat (10/7), demi menjaga peluang bergabung dengan PB Djarum.

Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Leonard Holvy de Pauw, mengapresiasi perkembangan pembinaan bulutangkis usia dini di luar Pulau Jawa. Menurutnya, kualitas permainan yang diperlihatkan para peserta di Pekanbaru cukup mengejutkan karena sudah berada pada level yang kompetitif.

Dari hasil pengamatannya selama audisi, Holvy menilai sejumlah daerah kini mulai menunjukkan kemajuan dalam membina atlet muda. Hal tersebut menjadi sinyal positif lahirnya bibit-bibit pebulutangkis yang layak diproyeksikan ke jenjang pembinaan yang lebih tinggi.

Ia menjelaskan, tim pencari bakat memiliki sejumlah indikator dalam menilai calon atlet putra. Fondasi teknik dasar menjadi aspek utama, seperti kualitas pukulan dan footwork. Sementara postur tubuh menjadi nilai tambah, namun bukan satu-satunya penentu.

Selain kemampuan teknik, Holvy juga memperhatikan kecerdasan bermain, kemampuan membaca arah bola, serta semangat juang yang tinggi saat bertanding.

- Advertisement -

“Saya cukup kaget tapi juga bangga dengan kemajuan bulutangkis di luar Pulau Jawa,” ujarnya.

“Buat saya, talenta yang bagus punya fondasi dasar badminton mumpuni. Dari pukulan, footwork, itu harus ada. Selain itu, postur jadi nilai tambah, lalu kepintaran di lapangan, kemampuan membaca bola, dan daya juang yang tidak gampang menyerah juga masuk kriteria kami,” tambahnya.

- Advertisement -
Baca Juga:  Spence Cedera, Ugas Jadi Lawan Pacquiao

Holvy juga menilai pembinaan atlet tunggal putra harus terus beradaptasi dengan perkembangan persaingan internasional yang semakin ketat. Apalagi, muncul wacana perubahan sistem pertandingan menjadi gim 15 poin yang menuntut pemain tampil lebih efektif.

Menurutnya, atlet masa kini harus memiliki tiga modal utama, yakni kecepatan, kekuatan, dan konsistensi permainan. Di samping peningkatan teknik dan kondisi fisik, pembinaan juga perlu didukung kompetisi internal, turnamen berjenjang, penerapan sports science, analisis video, serta dukungan lingkungan yang baik.

“Kalau melihat perkembangan tunggal putra sekarang, hal yang perlu ditingkatkan bagi seorang atlet adalah speed, power, dan konsistensi. Selain penguatan kualitas teknik dan fisik, kompetisi internal, turnamen berjenjang, support system, sports science, sampai analisis video juga sangat penting untuk membantu atlet berkembang dan siap bersaing di level tertinggi,” katanya.

Sementara itu, pertandingan sektor U-11 putra menghadirkan duel sengit. Shaqeel Alghifari Farzani berhasil bangkit setelah kalah pada gim pertama saat menghadapi Azka Putra Irwan.

Pebulutangkis asal PB Allstars Juniors Kota Payakumbuh itu sempat tertinggal usai kalah 14-21 pada gim pembuka. Namun, ia membalas dengan kemenangan 21-9 di gim kedua sebelum memastikan kemenangan dramatis 23-21 pada gim penentuan.

Shaqeel mengaku berhasil membalikkan keadaan setelah mengikuti instruksi pelatih untuk mengombinasikan pukulan ke depan dan belakang sehingga membuat lawannya kesulitan.

“Pertandingan sengit, saya sempat mengalami kekalahan di gim pertama. Saya baru bisa tampil percaya diri di gim kedua, meski sempat naik turun di gim ketiga lantaran sudah mulai lelah. Saya mengikuti arahan pelatih untuk mengombinasikan arah bola ke depan dan ke belakang. Strategi itu cukup berhasil karena lawan terlihat kesulitan dan kelelahan mengejar bola,” ujarnya.

Baca Juga:  GM Utut Adianto Lantik Ketua Percasi Riau Kordias Pasaribu

Meski puas meraih kemenangan, siswa kelas V sekolah dasar tersebut mengakui masih memiliki sejumlah kekurangan. Ia menilai servis dan kesiapan menemukan ritme permainan sejak awal pertandingan menjadi aspek yang harus segera diperbaiki.

“Saya tentu senang bisa memenangi pertandingan. Tapi penampilan saya masih ada kurangnya, terutama saat melakukan servis karena beberapa kali bola keluar. Saya juga harus bisa lebih cepat panas supaya bisa memaksimalkan peluang untuk menang,” tuturnya.

Di kategori KU-12 putra, atlet tuan rumah Pekanbaru, Alvaro Wiryawan Andito, juga tampil meyakinkan. Pada laga pertama, ia mengalahkan Muhammad Zhafran Khairy dengan skor 21-8 dan 21-3.

Penampilan apik itu berlanjut saat Alvaro menundukkan M Gilbran Alvaro Hidayat dua gim langsung dengan skor 21-5 dan 21-11.

Meski meraih dua kemenangan beruntun, pebulutangkis berusia 11 tahun tersebut mengaku belum puas dengan performanya. Ia masih menemukan sejumlah kelemahan yang ingin diperbaiki sebelum menghadapi pertandingan berikutnya yang diprediksi lebih berat.

“Bagi saya pertandingan tadi tidak berjalan mudah dan belum puas dengan permainan sendiri. Pukulan dropshot saya belum bagus dan masih banyak bola pukulan saya yang keluar. Saya juga kurang sabar dan langkah kaki belum maksimal. Jadi, saya ingin memperbaiki itu semua supaya bisa lebih siap karena lawannya pasti akan lebih sulit di pertandingan berikutnya,” kata Alvaro.(sol)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Persaingan memperebutkan super tiket pada Audisi Umum PB Djarum 2026 di Pekanbaru semakin ketat. Sekitar 120 peserta yang masih bertahan di kategori putra U-11 dan KU-12 terus berjuang pada babak turnamen yang berlangsung di GOR Angkasa, Jumat (10/7), demi menjaga peluang bergabung dengan PB Djarum.

Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Leonard Holvy de Pauw, mengapresiasi perkembangan pembinaan bulutangkis usia dini di luar Pulau Jawa. Menurutnya, kualitas permainan yang diperlihatkan para peserta di Pekanbaru cukup mengejutkan karena sudah berada pada level yang kompetitif.

Dari hasil pengamatannya selama audisi, Holvy menilai sejumlah daerah kini mulai menunjukkan kemajuan dalam membina atlet muda. Hal tersebut menjadi sinyal positif lahirnya bibit-bibit pebulutangkis yang layak diproyeksikan ke jenjang pembinaan yang lebih tinggi.

Ia menjelaskan, tim pencari bakat memiliki sejumlah indikator dalam menilai calon atlet putra. Fondasi teknik dasar menjadi aspek utama, seperti kualitas pukulan dan footwork. Sementara postur tubuh menjadi nilai tambah, namun bukan satu-satunya penentu.

Selain kemampuan teknik, Holvy juga memperhatikan kecerdasan bermain, kemampuan membaca arah bola, serta semangat juang yang tinggi saat bertanding.

“Saya cukup kaget tapi juga bangga dengan kemajuan bulutangkis di luar Pulau Jawa,” ujarnya.

“Buat saya, talenta yang bagus punya fondasi dasar badminton mumpuni. Dari pukulan, footwork, itu harus ada. Selain itu, postur jadi nilai tambah, lalu kepintaran di lapangan, kemampuan membaca bola, dan daya juang yang tidak gampang menyerah juga masuk kriteria kami,” tambahnya.

Baca Juga:  Nadal Tembus ke Semifinal

Holvy juga menilai pembinaan atlet tunggal putra harus terus beradaptasi dengan perkembangan persaingan internasional yang semakin ketat. Apalagi, muncul wacana perubahan sistem pertandingan menjadi gim 15 poin yang menuntut pemain tampil lebih efektif.

Menurutnya, atlet masa kini harus memiliki tiga modal utama, yakni kecepatan, kekuatan, dan konsistensi permainan. Di samping peningkatan teknik dan kondisi fisik, pembinaan juga perlu didukung kompetisi internal, turnamen berjenjang, penerapan sports science, analisis video, serta dukungan lingkungan yang baik.

“Kalau melihat perkembangan tunggal putra sekarang, hal yang perlu ditingkatkan bagi seorang atlet adalah speed, power, dan konsistensi. Selain penguatan kualitas teknik dan fisik, kompetisi internal, turnamen berjenjang, support system, sports science, sampai analisis video juga sangat penting untuk membantu atlet berkembang dan siap bersaing di level tertinggi,” katanya.

Sementara itu, pertandingan sektor U-11 putra menghadirkan duel sengit. Shaqeel Alghifari Farzani berhasil bangkit setelah kalah pada gim pertama saat menghadapi Azka Putra Irwan.

Pebulutangkis asal PB Allstars Juniors Kota Payakumbuh itu sempat tertinggal usai kalah 14-21 pada gim pembuka. Namun, ia membalas dengan kemenangan 21-9 di gim kedua sebelum memastikan kemenangan dramatis 23-21 pada gim penentuan.

Shaqeel mengaku berhasil membalikkan keadaan setelah mengikuti instruksi pelatih untuk mengombinasikan pukulan ke depan dan belakang sehingga membuat lawannya kesulitan.

“Pertandingan sengit, saya sempat mengalami kekalahan di gim pertama. Saya baru bisa tampil percaya diri di gim kedua, meski sempat naik turun di gim ketiga lantaran sudah mulai lelah. Saya mengikuti arahan pelatih untuk mengombinasikan arah bola ke depan dan ke belakang. Strategi itu cukup berhasil karena lawan terlihat kesulitan dan kelelahan mengejar bola,” ujarnya.

Baca Juga:  Tim Pengabdian Unri Ubah Limbah Nanas Jadi Produk Unggulan

Meski puas meraih kemenangan, siswa kelas V sekolah dasar tersebut mengakui masih memiliki sejumlah kekurangan. Ia menilai servis dan kesiapan menemukan ritme permainan sejak awal pertandingan menjadi aspek yang harus segera diperbaiki.

“Saya tentu senang bisa memenangi pertandingan. Tapi penampilan saya masih ada kurangnya, terutama saat melakukan servis karena beberapa kali bola keluar. Saya juga harus bisa lebih cepat panas supaya bisa memaksimalkan peluang untuk menang,” tuturnya.

Di kategori KU-12 putra, atlet tuan rumah Pekanbaru, Alvaro Wiryawan Andito, juga tampil meyakinkan. Pada laga pertama, ia mengalahkan Muhammad Zhafran Khairy dengan skor 21-8 dan 21-3.

Penampilan apik itu berlanjut saat Alvaro menundukkan M Gilbran Alvaro Hidayat dua gim langsung dengan skor 21-5 dan 21-11.

Meski meraih dua kemenangan beruntun, pebulutangkis berusia 11 tahun tersebut mengaku belum puas dengan performanya. Ia masih menemukan sejumlah kelemahan yang ingin diperbaiki sebelum menghadapi pertandingan berikutnya yang diprediksi lebih berat.

“Bagi saya pertandingan tadi tidak berjalan mudah dan belum puas dengan permainan sendiri. Pukulan dropshot saya belum bagus dan masih banyak bola pukulan saya yang keluar. Saya juga kurang sabar dan langkah kaki belum maksimal. Jadi, saya ingin memperbaiki itu semua supaya bisa lebih siap karena lawannya pasti akan lebih sulit di pertandingan berikutnya,” kata Alvaro.(sol)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari