Senin, 4 Mei 2026
- Advertisement -

Percepat Bersih-Bersih Garuda

Maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia, memasuki fase terburuknya. Kasus penyeludupan motor gede (moge) Harley-Davidson dan sepeda Brompton yang mengaitkan dengan Ari Askhara, Direktur Utamanya menjadi pintu masuk untuk membuka tabir. Mulai buruknya tata manajemen hingga munculnya dugaan pidana seperti pemaksanaan pramugari untuk melayani nafsu syahwat para petinggi maskapai pelat merat tersebut. 
Yang membuat lebih malu, kasus itu benar-benar mendapat perhatian banyak lapisan masyarakat. Termasuk komunitas internasional yang sangat sensitif terhadap isu-isu seperti itu oleh maskapai. Sejumlah media asing ternama pun ikut memberitakannya. Apalagi April lalu Garuda Indonesia diterpa skandal manipulasi laporan keuangan. Manyulap dari yang rugi menjadi untung. 
Kasus-kasus tersebut membuat banyak kalangan kembali mengingat peristiwa peracunan aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Belanda. Hal-hal yang membuat nama maskapai itu tergerus.
Kendati demikian, optimisme tak boleh hilang. Upaya benah-benah manajemen yang segera dilakukan harus didukung penuh. Sekaligus momentum untuk bersih-bersih BUMN lainnya. 
Era keterbukaan dan kompetisi dunia bisnis modern seharusnya membuat banyak manajemen bisnis menyesuaikan diri. Transparansi, sistem meritokrasi yang adil, dan parameter penilaian kinerja yang benar-benar terukur haruslah menjadi panglimanya. Bukan zamannya lagi seorang direktur utama berbuat lalim seolah menjadi raja kecil yang harus diikuti kehendaknya.
Semua tindakannya harus benar-benar terukur dengan parameter yang baik dan transparan. Agar menutup celah baginya untuk menggunakan uang rakyat (melalui BUMN) demi kepentingan yang tidak memiliki kaitan dengan perusahaan.
Kendati diterpa banyak skandal, Garusa Indonesia bukan tanpa prestasi. Maskapai itu meraih The World’s Best Cabin Crew lima kali berturut-turut dari Skytrax. Artinya, Garuda Indonesia masih mempunyai modal berupa awak kabin yang berkelas dunia. Bersih-bersih harus secepatnya dilakukan, pembenahan harus segera terjadi, dan sudah waktunya Garuda Indonesia kembali terbang menjadi maskapai pelat merah yang diakui secara internasional.***
Maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia, memasuki fase terburuknya. Kasus penyeludupan motor gede (moge) Harley-Davidson dan sepeda Brompton yang mengaitkan dengan Ari Askhara, Direktur Utamanya menjadi pintu masuk untuk membuka tabir. Mulai buruknya tata manajemen hingga munculnya dugaan pidana seperti pemaksanaan pramugari untuk melayani nafsu syahwat para petinggi maskapai pelat merat tersebut. 
Yang membuat lebih malu, kasus itu benar-benar mendapat perhatian banyak lapisan masyarakat. Termasuk komunitas internasional yang sangat sensitif terhadap isu-isu seperti itu oleh maskapai. Sejumlah media asing ternama pun ikut memberitakannya. Apalagi April lalu Garuda Indonesia diterpa skandal manipulasi laporan keuangan. Manyulap dari yang rugi menjadi untung. 
Kasus-kasus tersebut membuat banyak kalangan kembali mengingat peristiwa peracunan aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Belanda. Hal-hal yang membuat nama maskapai itu tergerus.
Kendati demikian, optimisme tak boleh hilang. Upaya benah-benah manajemen yang segera dilakukan harus didukung penuh. Sekaligus momentum untuk bersih-bersih BUMN lainnya. 
Era keterbukaan dan kompetisi dunia bisnis modern seharusnya membuat banyak manajemen bisnis menyesuaikan diri. Transparansi, sistem meritokrasi yang adil, dan parameter penilaian kinerja yang benar-benar terukur haruslah menjadi panglimanya. Bukan zamannya lagi seorang direktur utama berbuat lalim seolah menjadi raja kecil yang harus diikuti kehendaknya.
Semua tindakannya harus benar-benar terukur dengan parameter yang baik dan transparan. Agar menutup celah baginya untuk menggunakan uang rakyat (melalui BUMN) demi kepentingan yang tidak memiliki kaitan dengan perusahaan.
Kendati diterpa banyak skandal, Garusa Indonesia bukan tanpa prestasi. Maskapai itu meraih The World’s Best Cabin Crew lima kali berturut-turut dari Skytrax. Artinya, Garuda Indonesia masih mempunyai modal berupa awak kabin yang berkelas dunia. Bersih-bersih harus secepatnya dilakukan, pembenahan harus segera terjadi, dan sudah waktunya Garuda Indonesia kembali terbang menjadi maskapai pelat merah yang diakui secara internasional.***
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia, memasuki fase terburuknya. Kasus penyeludupan motor gede (moge) Harley-Davidson dan sepeda Brompton yang mengaitkan dengan Ari Askhara, Direktur Utamanya menjadi pintu masuk untuk membuka tabir. Mulai buruknya tata manajemen hingga munculnya dugaan pidana seperti pemaksanaan pramugari untuk melayani nafsu syahwat para petinggi maskapai pelat merat tersebut. 
Yang membuat lebih malu, kasus itu benar-benar mendapat perhatian banyak lapisan masyarakat. Termasuk komunitas internasional yang sangat sensitif terhadap isu-isu seperti itu oleh maskapai. Sejumlah media asing ternama pun ikut memberitakannya. Apalagi April lalu Garuda Indonesia diterpa skandal manipulasi laporan keuangan. Manyulap dari yang rugi menjadi untung. 
Kasus-kasus tersebut membuat banyak kalangan kembali mengingat peristiwa peracunan aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Belanda. Hal-hal yang membuat nama maskapai itu tergerus.
Kendati demikian, optimisme tak boleh hilang. Upaya benah-benah manajemen yang segera dilakukan harus didukung penuh. Sekaligus momentum untuk bersih-bersih BUMN lainnya. 
Era keterbukaan dan kompetisi dunia bisnis modern seharusnya membuat banyak manajemen bisnis menyesuaikan diri. Transparansi, sistem meritokrasi yang adil, dan parameter penilaian kinerja yang benar-benar terukur haruslah menjadi panglimanya. Bukan zamannya lagi seorang direktur utama berbuat lalim seolah menjadi raja kecil yang harus diikuti kehendaknya.
Semua tindakannya harus benar-benar terukur dengan parameter yang baik dan transparan. Agar menutup celah baginya untuk menggunakan uang rakyat (melalui BUMN) demi kepentingan yang tidak memiliki kaitan dengan perusahaan.
Kendati diterpa banyak skandal, Garusa Indonesia bukan tanpa prestasi. Maskapai itu meraih The World’s Best Cabin Crew lima kali berturut-turut dari Skytrax. Artinya, Garuda Indonesia masih mempunyai modal berupa awak kabin yang berkelas dunia. Bersih-bersih harus secepatnya dilakukan, pembenahan harus segera terjadi, dan sudah waktunya Garuda Indonesia kembali terbang menjadi maskapai pelat merah yang diakui secara internasional.***

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari