Jumat, 23 Januari 2026
- Advertisement -
spot_img

Pemulihan Listrik Aceh Terkendala, PLN Minta Maaf dan Percepat Normalisasi

BANDA ACEH (RIAUPOS.CO) — PT PLN (Persero) menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh karena pasokan listrik pascabencana banjir bandang dan tanah longsor hingga kini belum sepenuhnya pulih. Kondisi di lapangan yang berat membuat proses pemulihan mengalami sejumlah kendala.

Permohonan maaf tersebut disampaikan Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam agenda laporan dan rapat koordinasi bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang digelar secara daring dari Banda Aceh, Selasa (9/12).

Sebelumnya, dalam kunjungan di Bireuen pada Ahad (7/12), Darmawan Prasodjo melaporkan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Presiden Prabowo Subianto bahwa pasokan listrik di Aceh ditargetkan menyala hingga 93 persen pada Ahad malam. Namun, kondisi di lapangan yang penuh tantangan menyebabkan target tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Baca Juga:  Tracking Berujung Hilang Kontak, 24 Orang Termasuk Mahasiswa Unand Dicari Tim SAR

“Setelah terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor, terdapat kerusakan yang sangat masif pada sistem kelistrikan di Aceh,” jelas Darmawan.

Ia mengungkapkan, kerusakan paling parah terjadi pada jaringan transmisi, khususnya di jalur Bireuen–Arun. Enam tower transmisi roboh akibat terjangan banjir bandang yang juga memperlebar badan sungai hingga ratusan meter. Akibatnya, pembangkit di Arun tidak dapat menyalurkan listrik ke Banda Aceh secara optimal sehingga terjadi pemadaman bergilir.

PLN sempat melakukan proses sinkronisasi sistem dari pembangkit Arun ke jaringan Aceh. Pada 8 Desember 2025, PLTMG Arun kembali menyuplai listrik ke gardu induk hingga wilayah Bireuen, Takengon, dan Samalanga. Namun, saat proses perluasan sinkronisasi menuju Sigli dan Banda Aceh, muncul kendala teknis sehingga penyaluran listrik harus dihentikan sementara.

Baca Juga:  Jalan Lintas Telukkuantan-Sumbar Buka Tutup

Dalam upaya pemulihan, PLN mengerahkan langkah luar biasa, termasuk pengangkutan material berat melalui jalur udara karena akses darat terputus. Material perbaikan tower dengan bobot mencapai 35 ton terpaksa diangkut menggunakan helikopter secara bertahap.

Darmawan menegaskan, PLN tetap berkomitmen mempercepat pemulihan listrik meski menghadapi tantangan berat. Proses sinkronisasi sistem terus diupayakan secara bertahap dengan pengamanan yang lebih ketat guna mencegah gangguan lanjutan. (adv)

BANDA ACEH (RIAUPOS.CO) — PT PLN (Persero) menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh karena pasokan listrik pascabencana banjir bandang dan tanah longsor hingga kini belum sepenuhnya pulih. Kondisi di lapangan yang berat membuat proses pemulihan mengalami sejumlah kendala.

Permohonan maaf tersebut disampaikan Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam agenda laporan dan rapat koordinasi bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang digelar secara daring dari Banda Aceh, Selasa (9/12).

Sebelumnya, dalam kunjungan di Bireuen pada Ahad (7/12), Darmawan Prasodjo melaporkan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Presiden Prabowo Subianto bahwa pasokan listrik di Aceh ditargetkan menyala hingga 93 persen pada Ahad malam. Namun, kondisi di lapangan yang penuh tantangan menyebabkan target tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Baca Juga:  Jalan Lintas Telukkuantan-Sumbar Buka Tutup

“Setelah terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor, terdapat kerusakan yang sangat masif pada sistem kelistrikan di Aceh,” jelas Darmawan.

Ia mengungkapkan, kerusakan paling parah terjadi pada jaringan transmisi, khususnya di jalur Bireuen–Arun. Enam tower transmisi roboh akibat terjangan banjir bandang yang juga memperlebar badan sungai hingga ratusan meter. Akibatnya, pembangkit di Arun tidak dapat menyalurkan listrik ke Banda Aceh secara optimal sehingga terjadi pemadaman bergilir.

- Advertisement -

PLN sempat melakukan proses sinkronisasi sistem dari pembangkit Arun ke jaringan Aceh. Pada 8 Desember 2025, PLTMG Arun kembali menyuplai listrik ke gardu induk hingga wilayah Bireuen, Takengon, dan Samalanga. Namun, saat proses perluasan sinkronisasi menuju Sigli dan Banda Aceh, muncul kendala teknis sehingga penyaluran listrik harus dihentikan sementara.

Baca Juga:  Maksimalkan Pengerjaan Jalur Lembah Anai

Dalam upaya pemulihan, PLN mengerahkan langkah luar biasa, termasuk pengangkutan material berat melalui jalur udara karena akses darat terputus. Material perbaikan tower dengan bobot mencapai 35 ton terpaksa diangkut menggunakan helikopter secara bertahap.

- Advertisement -

Darmawan menegaskan, PLN tetap berkomitmen mempercepat pemulihan listrik meski menghadapi tantangan berat. Proses sinkronisasi sistem terus diupayakan secara bertahap dengan pengamanan yang lebih ketat guna mencegah gangguan lanjutan. (adv)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

BANDA ACEH (RIAUPOS.CO) — PT PLN (Persero) menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh karena pasokan listrik pascabencana banjir bandang dan tanah longsor hingga kini belum sepenuhnya pulih. Kondisi di lapangan yang berat membuat proses pemulihan mengalami sejumlah kendala.

Permohonan maaf tersebut disampaikan Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam agenda laporan dan rapat koordinasi bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang digelar secara daring dari Banda Aceh, Selasa (9/12).

Sebelumnya, dalam kunjungan di Bireuen pada Ahad (7/12), Darmawan Prasodjo melaporkan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Presiden Prabowo Subianto bahwa pasokan listrik di Aceh ditargetkan menyala hingga 93 persen pada Ahad malam. Namun, kondisi di lapangan yang penuh tantangan menyebabkan target tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Baca Juga:  PLN Nusantara Power Kaji Naikkan Kapasitas PLTS Terapung Cirata

“Setelah terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor, terdapat kerusakan yang sangat masif pada sistem kelistrikan di Aceh,” jelas Darmawan.

Ia mengungkapkan, kerusakan paling parah terjadi pada jaringan transmisi, khususnya di jalur Bireuen–Arun. Enam tower transmisi roboh akibat terjangan banjir bandang yang juga memperlebar badan sungai hingga ratusan meter. Akibatnya, pembangkit di Arun tidak dapat menyalurkan listrik ke Banda Aceh secara optimal sehingga terjadi pemadaman bergilir.

PLN sempat melakukan proses sinkronisasi sistem dari pembangkit Arun ke jaringan Aceh. Pada 8 Desember 2025, PLTMG Arun kembali menyuplai listrik ke gardu induk hingga wilayah Bireuen, Takengon, dan Samalanga. Namun, saat proses perluasan sinkronisasi menuju Sigli dan Banda Aceh, muncul kendala teknis sehingga penyaluran listrik harus dihentikan sementara.

Baca Juga:  PLN Catatkan Kenaikan Transaksi SPKLU Hampir 5 Kali Lipat selama Arus Mudik

Dalam upaya pemulihan, PLN mengerahkan langkah luar biasa, termasuk pengangkutan material berat melalui jalur udara karena akses darat terputus. Material perbaikan tower dengan bobot mencapai 35 ton terpaksa diangkut menggunakan helikopter secara bertahap.

Darmawan menegaskan, PLN tetap berkomitmen mempercepat pemulihan listrik meski menghadapi tantangan berat. Proses sinkronisasi sistem terus diupayakan secara bertahap dengan pengamanan yang lebih ketat guna mencegah gangguan lanjutan. (adv)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari