Kamis, 28 Mei 2026
- Advertisement -

Rumah Apung Pemancingan, Program Dosen UMRI Berdayakan Nelayan Sungai Siak

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menghadirkan program pengabdian kepada masyarakat berupa rumah apung pemancingan di Sungai Siak, Kelurahan Palas, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Program ini tak hanya membuka layanan wisata memancing, tetapi juga menjadi peluang usaha baru bagi nelayan setempat.

Dipimpin Ir Sunaryo ST MT bersama Israyandi ST MT, St Nova Meirizha ST MT, serta tiga mahasiswa, program ini berjalan sejak 25 Mei 2025. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kemendikbudristek melalui skema PKM, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Umri bersama Kelompok Nelayan Usaha Bersama.

Hasilnya, sejak 1 Juli 2025, lima unit rumah apung pemancingan resmi beroperasi di tepian Sungai Siak. Tak hanya itu, ada juga satu unit rakit pelabuhan bersandar yang kini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  Pemprov Riau Salurkan Bantuan Banjir ke Enam Kabupaten/Kota

“Program PKM ini sangat membantu ekonomi keluarga kami. Dulu kami tidak punya rumah apung, sekarang sudah ada lima unit. Saya juga bisa berjualan dan melayani pemancing yang datang,” ungkap Rais, Ketua Kelompok Nelayan Usaha Bersama, Selasa (9/9).

Setiap rumah apung dilengkapi panel surya berkapasitas 100 Wp untuk penerangan malam. Nelayan juga mendapat satu unit kapal bermesin 7 HP dengan panel surya serupa guna menunjang mobilitas.

Menurut St Nova Meirizha, biaya sewa rumah apung hanya Rp5.000 per orang setiap kali memancing. Rata-rata, 10–15 orang menggunakan fasilitas ini per hari. Ditambah dengan penjualan makanan dan minuman, pendapatan nelayan pun makin meningkat.

“Program ini sudah berjalan dua bulan dan terbukti membantu ekonomi warga. Kami juga memberikan pelatihan pengelolaan usaha agar layanan pemancingan bisa lebih berkembang,” jelas Nova.

Baca Juga:  Penertiban Tak Efektif, PKL Tetap Jualan di Lokasi Lama

Ketua tim, Ir Sunaryo, menegaskan bahwa rumah apung ini bukan hanya tempat memancing, melainkan juga sarana pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. “Dengan adanya panel surya, rumah apung bisa dipakai siang dan malam. Harapannya, mitra nelayan semakin mandiri dalam mengelola usaha,” ujarnya.(ali)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menghadirkan program pengabdian kepada masyarakat berupa rumah apung pemancingan di Sungai Siak, Kelurahan Palas, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Program ini tak hanya membuka layanan wisata memancing, tetapi juga menjadi peluang usaha baru bagi nelayan setempat.

Dipimpin Ir Sunaryo ST MT bersama Israyandi ST MT, St Nova Meirizha ST MT, serta tiga mahasiswa, program ini berjalan sejak 25 Mei 2025. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kemendikbudristek melalui skema PKM, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Umri bersama Kelompok Nelayan Usaha Bersama.

Hasilnya, sejak 1 Juli 2025, lima unit rumah apung pemancingan resmi beroperasi di tepian Sungai Siak. Tak hanya itu, ada juga satu unit rakit pelabuhan bersandar yang kini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  Santri SMP IT Tahfiz Al Fatih Pekanbaru Turun ke Desa, Tebar Manfaat Lewat “Al Fatih Goes to Public II”

“Program PKM ini sangat membantu ekonomi keluarga kami. Dulu kami tidak punya rumah apung, sekarang sudah ada lima unit. Saya juga bisa berjualan dan melayani pemancing yang datang,” ungkap Rais, Ketua Kelompok Nelayan Usaha Bersama, Selasa (9/9).

Setiap rumah apung dilengkapi panel surya berkapasitas 100 Wp untuk penerangan malam. Nelayan juga mendapat satu unit kapal bermesin 7 HP dengan panel surya serupa guna menunjang mobilitas.

- Advertisement -

Menurut St Nova Meirizha, biaya sewa rumah apung hanya Rp5.000 per orang setiap kali memancing. Rata-rata, 10–15 orang menggunakan fasilitas ini per hari. Ditambah dengan penjualan makanan dan minuman, pendapatan nelayan pun makin meningkat.

“Program ini sudah berjalan dua bulan dan terbukti membantu ekonomi warga. Kami juga memberikan pelatihan pengelolaan usaha agar layanan pemancingan bisa lebih berkembang,” jelas Nova.

- Advertisement -
Baca Juga:  Wawako Pekanbaru Motivasi Mahasiswa Baru USTI: Kuasai Sains dan Teknologi

Ketua tim, Ir Sunaryo, menegaskan bahwa rumah apung ini bukan hanya tempat memancing, melainkan juga sarana pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. “Dengan adanya panel surya, rumah apung bisa dipakai siang dan malam. Harapannya, mitra nelayan semakin mandiri dalam mengelola usaha,” ujarnya.(ali)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Tim dosen Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menghadirkan program pengabdian kepada masyarakat berupa rumah apung pemancingan di Sungai Siak, Kelurahan Palas, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Program ini tak hanya membuka layanan wisata memancing, tetapi juga menjadi peluang usaha baru bagi nelayan setempat.

Dipimpin Ir Sunaryo ST MT bersama Israyandi ST MT, St Nova Meirizha ST MT, serta tiga mahasiswa, program ini berjalan sejak 25 Mei 2025. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kemendikbudristek melalui skema PKM, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Umri bersama Kelompok Nelayan Usaha Bersama.

Hasilnya, sejak 1 Juli 2025, lima unit rumah apung pemancingan resmi beroperasi di tepian Sungai Siak. Tak hanya itu, ada juga satu unit rakit pelabuhan bersandar yang kini menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  Imigrasi Fokus Perbaikan Pelayanan

“Program PKM ini sangat membantu ekonomi keluarga kami. Dulu kami tidak punya rumah apung, sekarang sudah ada lima unit. Saya juga bisa berjualan dan melayani pemancing yang datang,” ungkap Rais, Ketua Kelompok Nelayan Usaha Bersama, Selasa (9/9).

Setiap rumah apung dilengkapi panel surya berkapasitas 100 Wp untuk penerangan malam. Nelayan juga mendapat satu unit kapal bermesin 7 HP dengan panel surya serupa guna menunjang mobilitas.

Menurut St Nova Meirizha, biaya sewa rumah apung hanya Rp5.000 per orang setiap kali memancing. Rata-rata, 10–15 orang menggunakan fasilitas ini per hari. Ditambah dengan penjualan makanan dan minuman, pendapatan nelayan pun makin meningkat.

“Program ini sudah berjalan dua bulan dan terbukti membantu ekonomi warga. Kami juga memberikan pelatihan pengelolaan usaha agar layanan pemancingan bisa lebih berkembang,” jelas Nova.

Baca Juga:  Penertiban Tak Efektif, PKL Tetap Jualan di Lokasi Lama

Ketua tim, Ir Sunaryo, menegaskan bahwa rumah apung ini bukan hanya tempat memancing, melainkan juga sarana pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. “Dengan adanya panel surya, rumah apung bisa dipakai siang dan malam. Harapannya, mitra nelayan semakin mandiri dalam mengelola usaha,” ujarnya.(ali)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari