Jumat, 19 Juni 2026
- Advertisement -

Usia Makin Berkurang

Nanti malam, Selasa (31/12), pukul 24.00 WIB, kita memasuki tahun 2020. Tak bedanya dengan malam lainnya. Bulan bintang tetap di atas kita, bumi pun masih berputar, udara yang kita hirup pun masih udara yang sama.
Tapi ada perubahan yang cukup berarti, yakni umur kita semakin berkurang. Sisa usia hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Kita tidak tahu, kapan kita akan dipanggil sang Khaliq. Raut wajah pun mulai mengkerut. Garis-garis kulit mulai nampak. Penyakin pun semakin banyak. Tenaga semakin lemah. Sejumlah ketahanan fisik kita pun makin memudar. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan.
Itu bagi mereka yang menyadari bahwa umurnya semakin berkurang. Tapi tidak semua menyadarinya. Galibnya, di malam tahun baru ini, semua bergembira menyambut berkurangnya jatah umur. Mereka gembira menyambut semakin dekat dengan liang kubur. 
Makanya, sebagian kepala daerah banyak menolak acara penyambutan tahun baru 2020 ini dengan acara-acara yang hingar bingar. Wali Kota Pekanbaru Dr Firdaus MT menolak acara-acara di tahun baru ini. Begitu juga sejumlah kepada daerah kabupaten kota di Riau, mereka mengimbau agar penyambutan tahun baru tidak dengan konvoi dengan menggunakan sepeda motor atau acara yang membahayakan jiwa lainnya.
Pesan menyambut tahun baru dengan sikap keprihatinan setakat ini memang sangat layak. Melihat rentetan musibah menerpa negeri ini. Lihat saja tanah yang bergeser “retak” masih juga mengancam sejumlah provinsi tetangga kita. Banjir menerpa sejumlah wilayah di Riau, dan masih banyak ancaman bencana lainnya yang akan menghadang kita. Layakkah kita menyambut tahun baru ini dengan pesta pora? Jawabannya ada pada diri masing-masing.
Rasanya sudah terlalu banyak pesta-pesta yang digelar di negeri ini. Sementara kemiskinan terus mendekati saudara-saudara kita yang di pedesaan, dan pinggiran kota. Kita sering lupa, bahwa di tengah acara pesta-pesta itu  ada saudara kita yang masih memerlukan uang untuk sekadar bertahan hidup.
Alangkah indahnya jika di saat tahun baru ini kita menikmati hidup dengan sederhana. Misalnya kumpul makan bersama keluarga. Lebih bagusnya, memasuki tahun baru ini dengan ber-muhasabah (intropeksi diri) apa yang telah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan lakukan tahun berikutnya.
Antara perasaan gembira dan sedih batasnya sangat tipis. Hari ini kita gembira karena menyambut tahun baru, namun ada musibah bencana, maka sudah sepatutnya kita memihak pada mereka yang mengalami musibah. Kalau pun kita harus berpesta pora, sepertinya gamang. Pesta yang memalukan. Ibarat gembira di atas penderitaan orang lain.
Mari kita sambut tahun 2020 dengan keperihatinan. Prihatin bukan berarti bersedih. Prihatin dalam arti tidak berlebih-lebihan. Sekali lagi, selamat tahun baru 2020.*** 
Nanti malam, Selasa (31/12), pukul 24.00 WIB, kita memasuki tahun 2020. Tak bedanya dengan malam lainnya. Bulan bintang tetap di atas kita, bumi pun masih berputar, udara yang kita hirup pun masih udara yang sama.
Tapi ada perubahan yang cukup berarti, yakni umur kita semakin berkurang. Sisa usia hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Kita tidak tahu, kapan kita akan dipanggil sang Khaliq. Raut wajah pun mulai mengkerut. Garis-garis kulit mulai nampak. Penyakin pun semakin banyak. Tenaga semakin lemah. Sejumlah ketahanan fisik kita pun makin memudar. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan.
Itu bagi mereka yang menyadari bahwa umurnya semakin berkurang. Tapi tidak semua menyadarinya. Galibnya, di malam tahun baru ini, semua bergembira menyambut berkurangnya jatah umur. Mereka gembira menyambut semakin dekat dengan liang kubur. 
Makanya, sebagian kepala daerah banyak menolak acara penyambutan tahun baru 2020 ini dengan acara-acara yang hingar bingar. Wali Kota Pekanbaru Dr Firdaus MT menolak acara-acara di tahun baru ini. Begitu juga sejumlah kepada daerah kabupaten kota di Riau, mereka mengimbau agar penyambutan tahun baru tidak dengan konvoi dengan menggunakan sepeda motor atau acara yang membahayakan jiwa lainnya.
Pesan menyambut tahun baru dengan sikap keprihatinan setakat ini memang sangat layak. Melihat rentetan musibah menerpa negeri ini. Lihat saja tanah yang bergeser “retak” masih juga mengancam sejumlah provinsi tetangga kita. Banjir menerpa sejumlah wilayah di Riau, dan masih banyak ancaman bencana lainnya yang akan menghadang kita. Layakkah kita menyambut tahun baru ini dengan pesta pora? Jawabannya ada pada diri masing-masing.
Rasanya sudah terlalu banyak pesta-pesta yang digelar di negeri ini. Sementara kemiskinan terus mendekati saudara-saudara kita yang di pedesaan, dan pinggiran kota. Kita sering lupa, bahwa di tengah acara pesta-pesta itu  ada saudara kita yang masih memerlukan uang untuk sekadar bertahan hidup.
Alangkah indahnya jika di saat tahun baru ini kita menikmati hidup dengan sederhana. Misalnya kumpul makan bersama keluarga. Lebih bagusnya, memasuki tahun baru ini dengan ber-muhasabah (intropeksi diri) apa yang telah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan lakukan tahun berikutnya.
Antara perasaan gembira dan sedih batasnya sangat tipis. Hari ini kita gembira karena menyambut tahun baru, namun ada musibah bencana, maka sudah sepatutnya kita memihak pada mereka yang mengalami musibah. Kalau pun kita harus berpesta pora, sepertinya gamang. Pesta yang memalukan. Ibarat gembira di atas penderitaan orang lain.
Mari kita sambut tahun 2020 dengan keperihatinan. Prihatin bukan berarti bersedih. Prihatin dalam arti tidak berlebih-lebihan. Sekali lagi, selamat tahun baru 2020.*** 
Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

Nanti malam, Selasa (31/12), pukul 24.00 WIB, kita memasuki tahun 2020. Tak bedanya dengan malam lainnya. Bulan bintang tetap di atas kita, bumi pun masih berputar, udara yang kita hirup pun masih udara yang sama.
Tapi ada perubahan yang cukup berarti, yakni umur kita semakin berkurang. Sisa usia hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Kita tidak tahu, kapan kita akan dipanggil sang Khaliq. Raut wajah pun mulai mengkerut. Garis-garis kulit mulai nampak. Penyakin pun semakin banyak. Tenaga semakin lemah. Sejumlah ketahanan fisik kita pun makin memudar. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan.
Itu bagi mereka yang menyadari bahwa umurnya semakin berkurang. Tapi tidak semua menyadarinya. Galibnya, di malam tahun baru ini, semua bergembira menyambut berkurangnya jatah umur. Mereka gembira menyambut semakin dekat dengan liang kubur. 
Makanya, sebagian kepala daerah banyak menolak acara penyambutan tahun baru 2020 ini dengan acara-acara yang hingar bingar. Wali Kota Pekanbaru Dr Firdaus MT menolak acara-acara di tahun baru ini. Begitu juga sejumlah kepada daerah kabupaten kota di Riau, mereka mengimbau agar penyambutan tahun baru tidak dengan konvoi dengan menggunakan sepeda motor atau acara yang membahayakan jiwa lainnya.
Pesan menyambut tahun baru dengan sikap keprihatinan setakat ini memang sangat layak. Melihat rentetan musibah menerpa negeri ini. Lihat saja tanah yang bergeser “retak” masih juga mengancam sejumlah provinsi tetangga kita. Banjir menerpa sejumlah wilayah di Riau, dan masih banyak ancaman bencana lainnya yang akan menghadang kita. Layakkah kita menyambut tahun baru ini dengan pesta pora? Jawabannya ada pada diri masing-masing.
Rasanya sudah terlalu banyak pesta-pesta yang digelar di negeri ini. Sementara kemiskinan terus mendekati saudara-saudara kita yang di pedesaan, dan pinggiran kota. Kita sering lupa, bahwa di tengah acara pesta-pesta itu  ada saudara kita yang masih memerlukan uang untuk sekadar bertahan hidup.
Alangkah indahnya jika di saat tahun baru ini kita menikmati hidup dengan sederhana. Misalnya kumpul makan bersama keluarga. Lebih bagusnya, memasuki tahun baru ini dengan ber-muhasabah (intropeksi diri) apa yang telah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan lakukan tahun berikutnya.
Antara perasaan gembira dan sedih batasnya sangat tipis. Hari ini kita gembira karena menyambut tahun baru, namun ada musibah bencana, maka sudah sepatutnya kita memihak pada mereka yang mengalami musibah. Kalau pun kita harus berpesta pora, sepertinya gamang. Pesta yang memalukan. Ibarat gembira di atas penderitaan orang lain.
Mari kita sambut tahun 2020 dengan keperihatinan. Prihatin bukan berarti bersedih. Prihatin dalam arti tidak berlebih-lebihan. Sekali lagi, selamat tahun baru 2020.*** 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari