Kamis, 16 April 2026
- Advertisement -

Saat Kera-kera “Serbu” Kantor Gubernur Riau

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Raungan suara "kera" silih-berganti bersahutan di halaman Kantor Gubernur Riau, Rabu (29/1) sore. Ratusan pasang mata menyaksikan secara langsung para "kera" yang diperankan oleh para anak muda dari Komunitas Syair Kera Network Pekanbaru.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam, kain sarung serta wajah yang dirias layaknya kera. Para pelakon tersebut berlarian dan ada juga yang membacakan "Syair Kera" karya almarhum Tenas Effendy. Para pelakon begitu tampak menjiwai perannya masing-masing.

Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al azhar mengatakan, "Syair Kera" adalah salah satu karya almarhum H Tenas Effendy. Syair ini bercerita tentang hewan-hewan yang hidup di hutan rimba. Mereka cemas tempat tinggalnya akan hilang, karena ada manusia mau mengubahnya menjadi kebun yang luas.

Baca Juga:  Wakil Ketua MPR Apresiasi kepada Seluruh Buruh di Indonesia

"'Syair Kera' ditulis oleh almarhum Tenas Effendy pada tahun 1995. Pada masa itu, hutan rimba sudah banyak yang rusak," katanya.

Dikatakan Al azhar, almarhum Tenas Effendy menulis "Syair Kera" sebelum Riau dilanda kabut asap. Atau dengan kata lain, syair ini ditulis mendahului fenomena Riau yakni di kala musim kering dilanda asap, dan musim hujan dilanda banjir.

"Alasan beliau menulis 'Syair Kera' ini yakni, beliau menganggap manusia saat ini sudah sulit untuk mengikuti perkataan manusia lainnya dalam menjaga alam. Untuk itu, ia berusaha menyampaikan suara hewan sebagai makhluk Tuhan agar manusia bisa lebih sadar dan bersabar dalam menjaga lingkungan," sebutnya.

Pementasan "Syair Kera" ini dalam rangka Kolaborasi Hentikan Polusi Asap Pembakar Hutan dan Lahan kerja sama Jikalahari dan Syair Kera Network, yang didukung Al azhar. Pementasan teaterikal ini untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa musim kemarau akan datang sebentar lagi memasuki Februari 2020.

Baca Juga:  Nyawa Perempuan Ini Selamat Berkat Baterai yang Tahan Lama

Laporan: Soleh Saputra
Editor: Hary B Koriun

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Raungan suara "kera" silih-berganti bersahutan di halaman Kantor Gubernur Riau, Rabu (29/1) sore. Ratusan pasang mata menyaksikan secara langsung para "kera" yang diperankan oleh para anak muda dari Komunitas Syair Kera Network Pekanbaru.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam, kain sarung serta wajah yang dirias layaknya kera. Para pelakon tersebut berlarian dan ada juga yang membacakan "Syair Kera" karya almarhum Tenas Effendy. Para pelakon begitu tampak menjiwai perannya masing-masing.

Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al azhar mengatakan, "Syair Kera" adalah salah satu karya almarhum H Tenas Effendy. Syair ini bercerita tentang hewan-hewan yang hidup di hutan rimba. Mereka cemas tempat tinggalnya akan hilang, karena ada manusia mau mengubahnya menjadi kebun yang luas.

Baca Juga:  Dosen Faperta Unri Kembangkan Agrobisnis Berbasis Limbah Usaha Jamur Tiram

"'Syair Kera' ditulis oleh almarhum Tenas Effendy pada tahun 1995. Pada masa itu, hutan rimba sudah banyak yang rusak," katanya.

Dikatakan Al azhar, almarhum Tenas Effendy menulis "Syair Kera" sebelum Riau dilanda kabut asap. Atau dengan kata lain, syair ini ditulis mendahului fenomena Riau yakni di kala musim kering dilanda asap, dan musim hujan dilanda banjir.

- Advertisement -

"Alasan beliau menulis 'Syair Kera' ini yakni, beliau menganggap manusia saat ini sudah sulit untuk mengikuti perkataan manusia lainnya dalam menjaga alam. Untuk itu, ia berusaha menyampaikan suara hewan sebagai makhluk Tuhan agar manusia bisa lebih sadar dan bersabar dalam menjaga lingkungan," sebutnya.

Pementasan "Syair Kera" ini dalam rangka Kolaborasi Hentikan Polusi Asap Pembakar Hutan dan Lahan kerja sama Jikalahari dan Syair Kera Network, yang didukung Al azhar. Pementasan teaterikal ini untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa musim kemarau akan datang sebentar lagi memasuki Februari 2020.

- Advertisement -
Baca Juga:  Menteri LHK Ajak Siswa Sekolah Global Mandiri Jaga Lingkungan Hidup

Laporan: Soleh Saputra
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Raungan suara "kera" silih-berganti bersahutan di halaman Kantor Gubernur Riau, Rabu (29/1) sore. Ratusan pasang mata menyaksikan secara langsung para "kera" yang diperankan oleh para anak muda dari Komunitas Syair Kera Network Pekanbaru.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam, kain sarung serta wajah yang dirias layaknya kera. Para pelakon tersebut berlarian dan ada juga yang membacakan "Syair Kera" karya almarhum Tenas Effendy. Para pelakon begitu tampak menjiwai perannya masing-masing.

Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al azhar mengatakan, "Syair Kera" adalah salah satu karya almarhum H Tenas Effendy. Syair ini bercerita tentang hewan-hewan yang hidup di hutan rimba. Mereka cemas tempat tinggalnya akan hilang, karena ada manusia mau mengubahnya menjadi kebun yang luas.

Baca Juga:  Awal Tahun, Harga BBM Nonsubsidi Turun

"'Syair Kera' ditulis oleh almarhum Tenas Effendy pada tahun 1995. Pada masa itu, hutan rimba sudah banyak yang rusak," katanya.

Dikatakan Al azhar, almarhum Tenas Effendy menulis "Syair Kera" sebelum Riau dilanda kabut asap. Atau dengan kata lain, syair ini ditulis mendahului fenomena Riau yakni di kala musim kering dilanda asap, dan musim hujan dilanda banjir.

"Alasan beliau menulis 'Syair Kera' ini yakni, beliau menganggap manusia saat ini sudah sulit untuk mengikuti perkataan manusia lainnya dalam menjaga alam. Untuk itu, ia berusaha menyampaikan suara hewan sebagai makhluk Tuhan agar manusia bisa lebih sadar dan bersabar dalam menjaga lingkungan," sebutnya.

Pementasan "Syair Kera" ini dalam rangka Kolaborasi Hentikan Polusi Asap Pembakar Hutan dan Lahan kerja sama Jikalahari dan Syair Kera Network, yang didukung Al azhar. Pementasan teaterikal ini untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa musim kemarau akan datang sebentar lagi memasuki Februari 2020.

Baca Juga:  Potong Anggaran DPR, Fahri Hamzah Geram ke Sri Mulyani

Laporan: Soleh Saputra
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari