Senin, 1 Juni 2026
- Advertisement -

Pendukung Kudeta Myanmar Serang Demonstran Antikudeta Militer Myanmar

YANGON (RIAUPOS.CO) – Kelompok yang mengaku sebagai pendukung junta militer Myanmar membawa senjata tajam pisau, pentungan, menembakkan ketapel, dan melempar batu untuk menyerang demonstran yang menolak kudeta. Mereka muncul di pusat kota Yangon, Kamis (25/2/2021), saat unjuk rasa berlangsung. 

Sebelumnya banyak demonstran penentang kudeta berkumpul, sekitar 1.000 pendukung junta militer yang merupakan massa tandingan itu berdatangan. Beberapa dari mereka dilaporkan mengancam wartawan. Gesekan massa meningkat menjadi kekerasan yang lebih serius di beberapa bagian pusat kota. 

Beberapa orang tampak dipukuli oleh sekelompok pria di lokasi demonstrasi. Rekaman video menunjukkan beberapa massa pendukung militer, salah satunya memegang pisau, tampak sedang menyerang seorang pria di luar hotel di pusat kota Yangon. 

Baca Juga:  Puluhan Petani Mitra PTPN V Antusias Pelajari Perpajakan

Petugas darurat datang membantu pria itu saat dia terbaring di trotoar setelah orang-orang yang menyerangnya beranjak pergi. Saat ini, kondisi pria itu belum diketahui pasti. 

“Peristiwa hari ini menunjukkan siapa teroris itu, mereka takut dengan tindakan rakyat untuk demokrasi. Kami tetap akan melanjutkan unjuk rasa damai melawan kediktatoran,” ujar aktivis penentang kudeta, Thin Zar Shun Lei Yi, dikutip Reuters, Kamis (25/2/2021).

Unjuk rasa sudah berjalan selama tiga minggu, di mana penolakan dan aksi mogok kerja berlangsung setiap hari. Kondisi Myanmar semakin kacau sejak tentara merebut kekuasaan pemerintah pada 1 Februari, dan menahan pemimpin pemerintah sipil Aung San Suu Kyi. 

Sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM) di Myanmar mengatakan, hingga Rabu (24/2/2021) sudah ada 728 orang ditangkap, ditahan, dituntut atau dijatuhi hukuman terkait aksi turun ke jalan selama demonstrasi. 

Baca Juga:  Sekali Show di Pekan Mode Capai Rp350 Juta

Kekerasan yang dilakukan massa tandingan itu menambah kekhawatiran akan kondisi Myanmar, di mana sebagian besar layanan telah lumpuh. Baik dosen, guru, perawat, dokter dan kalangan lainnya turun ke jalan. Begitupun dengan pusat bisnis yang memilih tutup sebagai bentuk protes.

Sumber: Reuters/Asia News/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

YANGON (RIAUPOS.CO) – Kelompok yang mengaku sebagai pendukung junta militer Myanmar membawa senjata tajam pisau, pentungan, menembakkan ketapel, dan melempar batu untuk menyerang demonstran yang menolak kudeta. Mereka muncul di pusat kota Yangon, Kamis (25/2/2021), saat unjuk rasa berlangsung. 

Sebelumnya banyak demonstran penentang kudeta berkumpul, sekitar 1.000 pendukung junta militer yang merupakan massa tandingan itu berdatangan. Beberapa dari mereka dilaporkan mengancam wartawan. Gesekan massa meningkat menjadi kekerasan yang lebih serius di beberapa bagian pusat kota. 

Beberapa orang tampak dipukuli oleh sekelompok pria di lokasi demonstrasi. Rekaman video menunjukkan beberapa massa pendukung militer, salah satunya memegang pisau, tampak sedang menyerang seorang pria di luar hotel di pusat kota Yangon. 

Baca Juga:  Soal Skandal Seksual Petenis Putri, Cina Menganggap Dilebih-lebihkan

Petugas darurat datang membantu pria itu saat dia terbaring di trotoar setelah orang-orang yang menyerangnya beranjak pergi. Saat ini, kondisi pria itu belum diketahui pasti. 

“Peristiwa hari ini menunjukkan siapa teroris itu, mereka takut dengan tindakan rakyat untuk demokrasi. Kami tetap akan melanjutkan unjuk rasa damai melawan kediktatoran,” ujar aktivis penentang kudeta, Thin Zar Shun Lei Yi, dikutip Reuters, Kamis (25/2/2021).

- Advertisement -

Unjuk rasa sudah berjalan selama tiga minggu, di mana penolakan dan aksi mogok kerja berlangsung setiap hari. Kondisi Myanmar semakin kacau sejak tentara merebut kekuasaan pemerintah pada 1 Februari, dan menahan pemimpin pemerintah sipil Aung San Suu Kyi. 

Sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM) di Myanmar mengatakan, hingga Rabu (24/2/2021) sudah ada 728 orang ditangkap, ditahan, dituntut atau dijatuhi hukuman terkait aksi turun ke jalan selama demonstrasi. 

- Advertisement -
Baca Juga:  Reza Rahadian Curhat ke Menko Airlangga di Sela Nonton Bioskop

Kekerasan yang dilakukan massa tandingan itu menambah kekhawatiran akan kondisi Myanmar, di mana sebagian besar layanan telah lumpuh. Baik dosen, guru, perawat, dokter dan kalangan lainnya turun ke jalan. Begitupun dengan pusat bisnis yang memilih tutup sebagai bentuk protes.

Sumber: Reuters/Asia News/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

YANGON (RIAUPOS.CO) – Kelompok yang mengaku sebagai pendukung junta militer Myanmar membawa senjata tajam pisau, pentungan, menembakkan ketapel, dan melempar batu untuk menyerang demonstran yang menolak kudeta. Mereka muncul di pusat kota Yangon, Kamis (25/2/2021), saat unjuk rasa berlangsung. 

Sebelumnya banyak demonstran penentang kudeta berkumpul, sekitar 1.000 pendukung junta militer yang merupakan massa tandingan itu berdatangan. Beberapa dari mereka dilaporkan mengancam wartawan. Gesekan massa meningkat menjadi kekerasan yang lebih serius di beberapa bagian pusat kota. 

Beberapa orang tampak dipukuli oleh sekelompok pria di lokasi demonstrasi. Rekaman video menunjukkan beberapa massa pendukung militer, salah satunya memegang pisau, tampak sedang menyerang seorang pria di luar hotel di pusat kota Yangon. 

Baca Juga:  3 Skema Ibadah Haji 1442 H yang Disiapkan Kemenag

Petugas darurat datang membantu pria itu saat dia terbaring di trotoar setelah orang-orang yang menyerangnya beranjak pergi. Saat ini, kondisi pria itu belum diketahui pasti. 

“Peristiwa hari ini menunjukkan siapa teroris itu, mereka takut dengan tindakan rakyat untuk demokrasi. Kami tetap akan melanjutkan unjuk rasa damai melawan kediktatoran,” ujar aktivis penentang kudeta, Thin Zar Shun Lei Yi, dikutip Reuters, Kamis (25/2/2021).

Unjuk rasa sudah berjalan selama tiga minggu, di mana penolakan dan aksi mogok kerja berlangsung setiap hari. Kondisi Myanmar semakin kacau sejak tentara merebut kekuasaan pemerintah pada 1 Februari, dan menahan pemimpin pemerintah sipil Aung San Suu Kyi. 

Sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM) di Myanmar mengatakan, hingga Rabu (24/2/2021) sudah ada 728 orang ditangkap, ditahan, dituntut atau dijatuhi hukuman terkait aksi turun ke jalan selama demonstrasi. 

Baca Juga:  Puluhan Petani Mitra PTPN V Antusias Pelajari Perpajakan

Kekerasan yang dilakukan massa tandingan itu menambah kekhawatiran akan kondisi Myanmar, di mana sebagian besar layanan telah lumpuh. Baik dosen, guru, perawat, dokter dan kalangan lainnya turun ke jalan. Begitupun dengan pusat bisnis yang memilih tutup sebagai bentuk protes.

Sumber: Reuters/Asia News/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari