Rabu, 8 Juli 2026
- Advertisement -

Mudik Selesai, Kasus Covid-19 Tetap Landai

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Masa liburan biasanya diiringi dengan peningkatan kasus Covid-19. Namun, kondisi tersebut kini berubah. Setelah periode mudik Idulfitri berlalu, tidak ada lonjakan kasus yang signifikan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, tingkat mobilitas masyarakat, terutama di bidang ritel dan rekreasi, terus menunjukkan kenaikan sejak Maret hingga Mei 2022.

“Tapi, kenaikan ini tidak diikuti dengan kenaikan kasus positif,” jelas Wiku.

Bahkan, Wiku menyebut mobilitas masyarakat pada masa mudik Idulfitri 2022 terhitung sebagai yang tertinggi sejak pandemi. Namun, hal itu pun tidak diikuti dengan kenaikan indikator kasus dan penularan.

“Itu artinya kasus nasional masih bisa kita tekan bersama-sama,” jelas Wiku.

Saat ini kasus aktif nasional juga terus mengalami penurunan. Posisi kini berada pada angka 0,08 persen atau 4 persen lebih rendah di bawah rata-rata kasus dunia. Dilihat sejak awal pandemi, jika terjadi kenaikan kasus, mobilitas biasanya ditekan semaksimal-maksimalnya. Jika kasus mulai melandai, mobilitas direlaksasi yang sering turut meningkatkan kasus.

Baca Juga:  Ibu Kota Dipindah ke Kaltim

”Kasus positif harian tetap menunjukkan tren penurunan, bahkan dengan mobilitas yang tertinggi selama pandemi,” jelas Wiku.

Meski demikian, data satgas menunjukkan kenaikan kasus di 16 provinsi. Tiga provinsi yang menjadi tujuan utama mudik, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Timur, menempati posisi tertinggi. Meskipun terjadi kenaikan, kata Wiku, hal itu belum dikategorikan sebagai lonjakan kasus.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai, pelonggaran aturan perjalanan yang sudah disampaikan Presiden Joko Widodo akan berdampak baik untuk daya saing pariwisata Indonesia. Menurut Maulana, negara-negara lain lebih dulu menerapkan pelonggaran serupa.

”Artinya, Indonesia berkesempatan mengembalikan daya saingnya sebagai negara yang terbuka untuk dikunjungi wisatawan,” ujar Maulana.

Baca Juga:  Investor Proyek IKN Mundur

Dia menyebutkan, sebelum bicara mengenai dampak permintaan, konsistensi kebijakan dan kejelasan prosedur akan menjadi kunci.

”Wisatawan mancanegara pasti akan melihat konsistensi kebijakan yang diterapkan Indonesia. Jadi, memang kita harus bicara kebijakannya dulu sebelum peningkatan traffic,” jelasnya.

Namun, PHRI tetap optimistis. Pelonggaran aturan pemakaian masker di ruang terbuka mampu meningkatkan konfiden masyarakat untuk bepergian. Apalagi, pada momen lepas Ramadan atau memasuki kuartal ketiga seperti ini, pengusaha hotel biasanya mendapatkan banyak permintaan dari sektor corporate dan government yang mengadakan pertemuan bisnis.

”Kurva di kuartal ketiga demand biasanya diisi pebisnis dan pemerintahan. Jika kebijakan ini konsisten, kita bisa berharap melihat peningkatan permintaan domestik yang bisa berlanjut sampai kuartal keempat oleh momen libur akhir tahun,” jelas Maulana.(tau/agf/c7/oni/jpg)

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Masa liburan biasanya diiringi dengan peningkatan kasus Covid-19. Namun, kondisi tersebut kini berubah. Setelah periode mudik Idulfitri berlalu, tidak ada lonjakan kasus yang signifikan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, tingkat mobilitas masyarakat, terutama di bidang ritel dan rekreasi, terus menunjukkan kenaikan sejak Maret hingga Mei 2022.

“Tapi, kenaikan ini tidak diikuti dengan kenaikan kasus positif,” jelas Wiku.

Bahkan, Wiku menyebut mobilitas masyarakat pada masa mudik Idulfitri 2022 terhitung sebagai yang tertinggi sejak pandemi. Namun, hal itu pun tidak diikuti dengan kenaikan indikator kasus dan penularan.

“Itu artinya kasus nasional masih bisa kita tekan bersama-sama,” jelas Wiku.

- Advertisement -

Saat ini kasus aktif nasional juga terus mengalami penurunan. Posisi kini berada pada angka 0,08 persen atau 4 persen lebih rendah di bawah rata-rata kasus dunia. Dilihat sejak awal pandemi, jika terjadi kenaikan kasus, mobilitas biasanya ditekan semaksimal-maksimalnya. Jika kasus mulai melandai, mobilitas direlaksasi yang sering turut meningkatkan kasus.

Baca Juga:  Pemkab Dukung Pembangunan Lapas Baru

”Kasus positif harian tetap menunjukkan tren penurunan, bahkan dengan mobilitas yang tertinggi selama pandemi,” jelas Wiku.

- Advertisement -

Meski demikian, data satgas menunjukkan kenaikan kasus di 16 provinsi. Tiga provinsi yang menjadi tujuan utama mudik, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Timur, menempati posisi tertinggi. Meskipun terjadi kenaikan, kata Wiku, hal itu belum dikategorikan sebagai lonjakan kasus.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai, pelonggaran aturan perjalanan yang sudah disampaikan Presiden Joko Widodo akan berdampak baik untuk daya saing pariwisata Indonesia. Menurut Maulana, negara-negara lain lebih dulu menerapkan pelonggaran serupa.

”Artinya, Indonesia berkesempatan mengembalikan daya saingnya sebagai negara yang terbuka untuk dikunjungi wisatawan,” ujar Maulana.

Baca Juga:  Bhabinkamtibmas Membebaskannya dari Belenggu Kemiskinan

Dia menyebutkan, sebelum bicara mengenai dampak permintaan, konsistensi kebijakan dan kejelasan prosedur akan menjadi kunci.

”Wisatawan mancanegara pasti akan melihat konsistensi kebijakan yang diterapkan Indonesia. Jadi, memang kita harus bicara kebijakannya dulu sebelum peningkatan traffic,” jelasnya.

Namun, PHRI tetap optimistis. Pelonggaran aturan pemakaian masker di ruang terbuka mampu meningkatkan konfiden masyarakat untuk bepergian. Apalagi, pada momen lepas Ramadan atau memasuki kuartal ketiga seperti ini, pengusaha hotel biasanya mendapatkan banyak permintaan dari sektor corporate dan government yang mengadakan pertemuan bisnis.

”Kurva di kuartal ketiga demand biasanya diisi pebisnis dan pemerintahan. Jika kebijakan ini konsisten, kita bisa berharap melihat peningkatan permintaan domestik yang bisa berlanjut sampai kuartal keempat oleh momen libur akhir tahun,” jelas Maulana.(tau/agf/c7/oni/jpg)

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Masa liburan biasanya diiringi dengan peningkatan kasus Covid-19. Namun, kondisi tersebut kini berubah. Setelah periode mudik Idulfitri berlalu, tidak ada lonjakan kasus yang signifikan.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, tingkat mobilitas masyarakat, terutama di bidang ritel dan rekreasi, terus menunjukkan kenaikan sejak Maret hingga Mei 2022.

“Tapi, kenaikan ini tidak diikuti dengan kenaikan kasus positif,” jelas Wiku.

Bahkan, Wiku menyebut mobilitas masyarakat pada masa mudik Idulfitri 2022 terhitung sebagai yang tertinggi sejak pandemi. Namun, hal itu pun tidak diikuti dengan kenaikan indikator kasus dan penularan.

“Itu artinya kasus nasional masih bisa kita tekan bersama-sama,” jelas Wiku.

Saat ini kasus aktif nasional juga terus mengalami penurunan. Posisi kini berada pada angka 0,08 persen atau 4 persen lebih rendah di bawah rata-rata kasus dunia. Dilihat sejak awal pandemi, jika terjadi kenaikan kasus, mobilitas biasanya ditekan semaksimal-maksimalnya. Jika kasus mulai melandai, mobilitas direlaksasi yang sering turut meningkatkan kasus.

Baca Juga:  FBI Telah Menangkap 235 Pelaku Penyerangan Gedung Capitol

”Kasus positif harian tetap menunjukkan tren penurunan, bahkan dengan mobilitas yang tertinggi selama pandemi,” jelas Wiku.

Meski demikian, data satgas menunjukkan kenaikan kasus di 16 provinsi. Tiga provinsi yang menjadi tujuan utama mudik, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Timur, menempati posisi tertinggi. Meskipun terjadi kenaikan, kata Wiku, hal itu belum dikategorikan sebagai lonjakan kasus.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai, pelonggaran aturan perjalanan yang sudah disampaikan Presiden Joko Widodo akan berdampak baik untuk daya saing pariwisata Indonesia. Menurut Maulana, negara-negara lain lebih dulu menerapkan pelonggaran serupa.

”Artinya, Indonesia berkesempatan mengembalikan daya saingnya sebagai negara yang terbuka untuk dikunjungi wisatawan,” ujar Maulana.

Baca Juga:  Ketua DPR: Jangan Beli Alutsista Bekas

Dia menyebutkan, sebelum bicara mengenai dampak permintaan, konsistensi kebijakan dan kejelasan prosedur akan menjadi kunci.

”Wisatawan mancanegara pasti akan melihat konsistensi kebijakan yang diterapkan Indonesia. Jadi, memang kita harus bicara kebijakannya dulu sebelum peningkatan traffic,” jelasnya.

Namun, PHRI tetap optimistis. Pelonggaran aturan pemakaian masker di ruang terbuka mampu meningkatkan konfiden masyarakat untuk bepergian. Apalagi, pada momen lepas Ramadan atau memasuki kuartal ketiga seperti ini, pengusaha hotel biasanya mendapatkan banyak permintaan dari sektor corporate dan government yang mengadakan pertemuan bisnis.

”Kurva di kuartal ketiga demand biasanya diisi pebisnis dan pemerintahan. Jika kebijakan ini konsisten, kita bisa berharap melihat peningkatan permintaan domestik yang bisa berlanjut sampai kuartal keempat oleh momen libur akhir tahun,” jelas Maulana.(tau/agf/c7/oni/jpg)

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari