Jumat, 22 Mei 2026
- Advertisement -

Bappenas Hitung Ulang Pembiayaan Pemindahan Ibu Kota Baru

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Keperluan biaya untuk pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke sebagian wilayah Kutai Kertanegara dan sebagian wilayah Penajem Paser Utara rupanya belum final. Kementerian PPN/Bappenas menyatakan akan menghitung anggaran yang akan diperlukan demi pembangunan di ibu kota baru tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Regional PPN/Bappenas Rudy Seoprihadi menyatakan, anggaran Rp466 triliun yang diusulkan oleh Bappenas ke Jokowi dirancang untuk tiga alternatif provinsi ibu kota baru. Namun, ketika lokasi ibu kota telah dipilih oleh Jokowi, maka pihaknya akan menghitung ulang biaya yang diperlukan untuk pembangunan pada provinsi tersebut.

"Kemarin biayanya berbasis tiga alternatif. Yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Maka itu, kami harus menghitung ulang secara spesifik besaran keperluan dananya," kata Rudy di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (10/9).

Baca Juga:  Polres Turut Jaga Kesehatan Masyarakat

Rudy menambahkan, pihaknya akan mengkaji secara mendalam terkait keperluan biaya pembangunan ibu kota baru tersebut. Harapannya, agar pembangunan ibu kota baru bisa lebih optimal lagi. Namun demikian, pihaknya belum bisa membeberkan lebih rinci apakah nanti pembiayaannya malah akan menjadi lebih membengkak atau tidak.

"Kita belum tahu (lebih tinggi atau tidak). Perkiraan biaya yang sesuai untuk keperluan pembangunan tersebut akan bisa diselesaikan akhir tahun ini," bebernya.

Di sisi lain, ia memastikan pengerjaan pembangunan ibu kota baru pada tahap pertama tetap akan dilakukan pada awal tahun 2021 mendatang. Untuk saat ini, pihaknya akan menyiapkan masterplan desain untuk pembangunan yang dilakukan tahun depan.

Baca Juga:  Soroti Retribusi Pendapatan Asli Daerah

"Kita siapkan masterplannya, termasuk engineering desainnya, siteplannya, nanti akan kita buat seoptimal mungkin, setajam mungkin," tegas dia.

Sebelumnya, presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, sumber pendanaan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur tak semuanya dibebankan dari APBN. Total yang diperlukan mencapai Rp466 triliun.

Adapun sumber pendanaan ibu kota berasal dari APBN memaksimalkan kerja sama dengan skema badan usaha, pelaku usaha maupun BUMN. Jokowi memastikan pembiayaan ibu kota yang dari APBN hanya sebesar 19 persen dari Rp466 triliun.

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Keperluan biaya untuk pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke sebagian wilayah Kutai Kertanegara dan sebagian wilayah Penajem Paser Utara rupanya belum final. Kementerian PPN/Bappenas menyatakan akan menghitung anggaran yang akan diperlukan demi pembangunan di ibu kota baru tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Regional PPN/Bappenas Rudy Seoprihadi menyatakan, anggaran Rp466 triliun yang diusulkan oleh Bappenas ke Jokowi dirancang untuk tiga alternatif provinsi ibu kota baru. Namun, ketika lokasi ibu kota telah dipilih oleh Jokowi, maka pihaknya akan menghitung ulang biaya yang diperlukan untuk pembangunan pada provinsi tersebut.

"Kemarin biayanya berbasis tiga alternatif. Yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Maka itu, kami harus menghitung ulang secara spesifik besaran keperluan dananya," kata Rudy di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (10/9).

Baca Juga:  Firli: Azis Syamsuddin yang Pertemukan Penyidik KPK dengan Walikota Tanjungbalai

Rudy menambahkan, pihaknya akan mengkaji secara mendalam terkait keperluan biaya pembangunan ibu kota baru tersebut. Harapannya, agar pembangunan ibu kota baru bisa lebih optimal lagi. Namun demikian, pihaknya belum bisa membeberkan lebih rinci apakah nanti pembiayaannya malah akan menjadi lebih membengkak atau tidak.

"Kita belum tahu (lebih tinggi atau tidak). Perkiraan biaya yang sesuai untuk keperluan pembangunan tersebut akan bisa diselesaikan akhir tahun ini," bebernya.

- Advertisement -

Di sisi lain, ia memastikan pengerjaan pembangunan ibu kota baru pada tahap pertama tetap akan dilakukan pada awal tahun 2021 mendatang. Untuk saat ini, pihaknya akan menyiapkan masterplan desain untuk pembangunan yang dilakukan tahun depan.

Baca Juga:  Fiat Chrysler Italia Tutup Pabrik Sementara

"Kita siapkan masterplannya, termasuk engineering desainnya, siteplannya, nanti akan kita buat seoptimal mungkin, setajam mungkin," tegas dia.

- Advertisement -

Sebelumnya, presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, sumber pendanaan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur tak semuanya dibebankan dari APBN. Total yang diperlukan mencapai Rp466 triliun.

Adapun sumber pendanaan ibu kota berasal dari APBN memaksimalkan kerja sama dengan skema badan usaha, pelaku usaha maupun BUMN. Jokowi memastikan pembiayaan ibu kota yang dari APBN hanya sebesar 19 persen dari Rp466 triliun.

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Keperluan biaya untuk pemindahan ibu kota dari DKI Jakarta ke sebagian wilayah Kutai Kertanegara dan sebagian wilayah Penajem Paser Utara rupanya belum final. Kementerian PPN/Bappenas menyatakan akan menghitung anggaran yang akan diperlukan demi pembangunan di ibu kota baru tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Regional PPN/Bappenas Rudy Seoprihadi menyatakan, anggaran Rp466 triliun yang diusulkan oleh Bappenas ke Jokowi dirancang untuk tiga alternatif provinsi ibu kota baru. Namun, ketika lokasi ibu kota telah dipilih oleh Jokowi, maka pihaknya akan menghitung ulang biaya yang diperlukan untuk pembangunan pada provinsi tersebut.

"Kemarin biayanya berbasis tiga alternatif. Yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Maka itu, kami harus menghitung ulang secara spesifik besaran keperluan dananya," kata Rudy di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (10/9).

Baca Juga:  Ironis, Rakyat Papua Berduka, Anggota DPRD Malah Plesiran ke Luar Negeri

Rudy menambahkan, pihaknya akan mengkaji secara mendalam terkait keperluan biaya pembangunan ibu kota baru tersebut. Harapannya, agar pembangunan ibu kota baru bisa lebih optimal lagi. Namun demikian, pihaknya belum bisa membeberkan lebih rinci apakah nanti pembiayaannya malah akan menjadi lebih membengkak atau tidak.

"Kita belum tahu (lebih tinggi atau tidak). Perkiraan biaya yang sesuai untuk keperluan pembangunan tersebut akan bisa diselesaikan akhir tahun ini," bebernya.

Di sisi lain, ia memastikan pengerjaan pembangunan ibu kota baru pada tahap pertama tetap akan dilakukan pada awal tahun 2021 mendatang. Untuk saat ini, pihaknya akan menyiapkan masterplan desain untuk pembangunan yang dilakukan tahun depan.

Baca Juga:  Setiap Kali Lolos Diupah Rp20 Juta

"Kita siapkan masterplannya, termasuk engineering desainnya, siteplannya, nanti akan kita buat seoptimal mungkin, setajam mungkin," tegas dia.

Sebelumnya, presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, sumber pendanaan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur tak semuanya dibebankan dari APBN. Total yang diperlukan mencapai Rp466 triliun.

Adapun sumber pendanaan ibu kota berasal dari APBN memaksimalkan kerja sama dengan skema badan usaha, pelaku usaha maupun BUMN. Jokowi memastikan pembiayaan ibu kota yang dari APBN hanya sebesar 19 persen dari Rp466 triliun.

Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi

 

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari