Sabtu, 2 Mei 2026
- Advertisement -

Tak Jauh dari Pelabuhan, KRI Sultan Hasanuddin Selamat dari Ledakan di Beirut

BEIRUT (RIAUPOS.CO) – Ledakan dahsyat yang terjadi di Beirut, ibukota Lebanon, pada Selasa (4/8/2020), nyaris meratakan seperempat dari kota tersebut. 

Dalam insiden itu, Kapal Angkatan Laut Indonesia, KRI Sultan Hasanuddin-366, selamat dari ledakan di Pelabuhan Beirut, karena saat kejadian tengah berlayar di Turki.

Petugas Humas KRI Sultan Hasanuddin, Didie Putri, mengatakan, KRI Sultan Hasanuddin saat itu sedang melaksanakan latihan bilateral dengan Angkatan Laut Turki.

KRI Sultan Hasanuddin-366 dikirim karena sedang melaksanakan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. KRI Hasanuddin berada di perairan Lebanon bersama kapal perang dari negara lain dalam rangka Maritime Task Force (MTF) United Nations Interim Force (UNIFIL) atau Pasukan Sementara PBB.

Baca Juga:  OTT Turun, Sidang Praperadilan Minta Ditunda 3 Pekan

"Selamat dari kejadian tersebut, KRI Sultan Hasanuddin-366 melaksanakan latihan bilateral dengan Angkatan Laut Turki sebelum kembali ke daerah operasi AMO sebagai duta bangsa dalam misi UNIFIL di Perairan Mediterania," kata Didie dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8).

Saat ledakan tersebut, KRI Sultan Hasanuddin-366 membawa 119 prajurit dikomandani Letkol Laut (P) Ludfy hendak meninggalkan pangkalan militer di Mersin, Turki, tidak jauh dari Pelabuhan Beirut yang menjadi titik pusat ledakan.

Ledakan dashyat di Lebanon terjadi pada Selasa (4/8) petang waktu setempat. Pemerintah Lebanon menetapkan pejabat pelabuhan Kota Beirut sebagai tahanan rumah atas kejadian ledakan tersebut.

Dari hasil investigasi otoritas setempat, diduga ledakan bersumber dari 2.750 ton monium nitrat yang telah tersimpan di salah satu gudang pelabuhan selama enam tahun.

Baca Juga:  Pemerintah Tidak Memulangkan WNI Eks ISIS

Hingga hari ini, tercatat 137 orang korban meninggal akibat ledakan tersebut. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan 5.000 orang luka-luka akibat kejadian itu.

Gubernur Beirut, Marwan Abboud, menyatakan, jumlah kerugian akibat ledakan ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal akibat rusak terkena dampak ledakan.

Sumber: AFP/CNN/Daily Mail
Editor: Hary B Koriun

BEIRUT (RIAUPOS.CO) – Ledakan dahsyat yang terjadi di Beirut, ibukota Lebanon, pada Selasa (4/8/2020), nyaris meratakan seperempat dari kota tersebut. 

Dalam insiden itu, Kapal Angkatan Laut Indonesia, KRI Sultan Hasanuddin-366, selamat dari ledakan di Pelabuhan Beirut, karena saat kejadian tengah berlayar di Turki.

Petugas Humas KRI Sultan Hasanuddin, Didie Putri, mengatakan, KRI Sultan Hasanuddin saat itu sedang melaksanakan latihan bilateral dengan Angkatan Laut Turki.

KRI Sultan Hasanuddin-366 dikirim karena sedang melaksanakan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. KRI Hasanuddin berada di perairan Lebanon bersama kapal perang dari negara lain dalam rangka Maritime Task Force (MTF) United Nations Interim Force (UNIFIL) atau Pasukan Sementara PBB.

Baca Juga:  OTT Turun, Sidang Praperadilan Minta Ditunda 3 Pekan

"Selamat dari kejadian tersebut, KRI Sultan Hasanuddin-366 melaksanakan latihan bilateral dengan Angkatan Laut Turki sebelum kembali ke daerah operasi AMO sebagai duta bangsa dalam misi UNIFIL di Perairan Mediterania," kata Didie dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8).

- Advertisement -

Saat ledakan tersebut, KRI Sultan Hasanuddin-366 membawa 119 prajurit dikomandani Letkol Laut (P) Ludfy hendak meninggalkan pangkalan militer di Mersin, Turki, tidak jauh dari Pelabuhan Beirut yang menjadi titik pusat ledakan.

Ledakan dashyat di Lebanon terjadi pada Selasa (4/8) petang waktu setempat. Pemerintah Lebanon menetapkan pejabat pelabuhan Kota Beirut sebagai tahanan rumah atas kejadian ledakan tersebut.

- Advertisement -

Dari hasil investigasi otoritas setempat, diduga ledakan bersumber dari 2.750 ton monium nitrat yang telah tersimpan di salah satu gudang pelabuhan selama enam tahun.

Baca Juga:  Sejumlah Langkah Harus Diambil Pemerintah Berangus Praktik Mafia Migor

Hingga hari ini, tercatat 137 orang korban meninggal akibat ledakan tersebut. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan 5.000 orang luka-luka akibat kejadian itu.

Gubernur Beirut, Marwan Abboud, menyatakan, jumlah kerugian akibat ledakan ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal akibat rusak terkena dampak ledakan.

Sumber: AFP/CNN/Daily Mail
Editor: Hary B Koriun

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

BEIRUT (RIAUPOS.CO) – Ledakan dahsyat yang terjadi di Beirut, ibukota Lebanon, pada Selasa (4/8/2020), nyaris meratakan seperempat dari kota tersebut. 

Dalam insiden itu, Kapal Angkatan Laut Indonesia, KRI Sultan Hasanuddin-366, selamat dari ledakan di Pelabuhan Beirut, karena saat kejadian tengah berlayar di Turki.

Petugas Humas KRI Sultan Hasanuddin, Didie Putri, mengatakan, KRI Sultan Hasanuddin saat itu sedang melaksanakan latihan bilateral dengan Angkatan Laut Turki.

KRI Sultan Hasanuddin-366 dikirim karena sedang melaksanakan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. KRI Hasanuddin berada di perairan Lebanon bersama kapal perang dari negara lain dalam rangka Maritime Task Force (MTF) United Nations Interim Force (UNIFIL) atau Pasukan Sementara PBB.

Baca Juga:  Kalau Banyak Orang Kayak Pak Andi, Petani Bunga Raya Lebih Sejahtera

"Selamat dari kejadian tersebut, KRI Sultan Hasanuddin-366 melaksanakan latihan bilateral dengan Angkatan Laut Turki sebelum kembali ke daerah operasi AMO sebagai duta bangsa dalam misi UNIFIL di Perairan Mediterania," kata Didie dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8).

Saat ledakan tersebut, KRI Sultan Hasanuddin-366 membawa 119 prajurit dikomandani Letkol Laut (P) Ludfy hendak meninggalkan pangkalan militer di Mersin, Turki, tidak jauh dari Pelabuhan Beirut yang menjadi titik pusat ledakan.

Ledakan dashyat di Lebanon terjadi pada Selasa (4/8) petang waktu setempat. Pemerintah Lebanon menetapkan pejabat pelabuhan Kota Beirut sebagai tahanan rumah atas kejadian ledakan tersebut.

Dari hasil investigasi otoritas setempat, diduga ledakan bersumber dari 2.750 ton monium nitrat yang telah tersimpan di salah satu gudang pelabuhan selama enam tahun.

Baca Juga:  Polda Riau Menangkan Praperadilan dari Tersangka Dugaan Penipuan

Hingga hari ini, tercatat 137 orang korban meninggal akibat ledakan tersebut. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan 5.000 orang luka-luka akibat kejadian itu.

Gubernur Beirut, Marwan Abboud, menyatakan, jumlah kerugian akibat ledakan ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal akibat rusak terkena dampak ledakan.

Sumber: AFP/CNN/Daily Mail
Editor: Hary B Koriun

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari