Rabu, 17 Juni 2026
- Advertisement -

Umrah Dihentikan Sementara, Pengusaha Travel Merugi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Beberapa waktu lalu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Arab Saudi mengumumkan sebanyak 20 negara tidak diperkenankan masuk ke dalam negaranya, termasuk Indonesia. Kebijakan ini berimbas pada pengusaha travel, bahkan beberapa di antaranya mengalami kerugian.

"Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Arab Saudi tersebut sangat berdampak kepada pendapatan para pengusaha travel. Kondisi tersebut bahkan membuat pihak travel merugi," kata salah seorang pengusaha travel di Pekanbaru, Riau, Dede Firmansyah, Ahad (14/2).

Dede menyebutkan, sebagian travel sudah melakukan pemesanan dan membayar tiket pesawat juga penginapan para jamaah di Tanah Suci. "Untuk program umrah Februari 2021 saja sudah dibeli tiket pesawatnya, sudah dibayar penginapan di Madinah, dan juga di Makkah," ujar Dede.

"Ini membuat pihak travel merugi. Setelah cukup lama terpuruk tanpa ada pendapatan, kini harus menanggung beban lagi," tambah  pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kelembagaan dan Pemerintah DPP Association of Indonesia Tour and Travel Agency (Asita) ini.

Baca Juga:  Rencana Aksi Mogok Nasional Buruh Tetap Berlangsung

Dede berharap, Kedutaan Besar Indonesia yang ada di Arab Saudi bisa melakukan lobi. Apalagi menurutnya Indonesia masuk dalam 20 negara tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Menurut Dede, jika yang menjadi tolak ukurnya adalah kasus Covid-19 masih ada, masih banyak lagi negara lain yang jumlah kasusnya lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

"Apalagi Indonesia termasuk negara penyumbang devisa terbesar kepada Saudi karena memiliki jamaah terbesar setiap tahunnya. Data 2017 saja jumlah jamaah umrah kita 750 ribu  orang dan haji 250 ribu orang," sebutnya.

Selain itu, Dede menyebutkan kedutaan Indonesia di sana harus mengambil sikap terkait hal tersebut. Ditambahkannya, setiap jamaah yang akan berangkat ke Tanah Suci, juga menjalankan prosedur khusus, termasuk wajib vaksin, dan beragam protokol kesehatan, sehingga dipastikan aman untuk berangkat ke tanah suci.

Baca Juga:  Bank Panin dan Mahasiswa UIN Tanam Pohon di Pandau Jaya

"Selain itu, setiap jamaah juga pasti selalu menjaga agar tidak terkena virus corona. Jadi apa pertimbangan Arab Saudi sebenarnya memasukkan Indonesia dalam 20 negara yang dibatasi tersebut," ucapnya.

Dede berharap, agar ke­bi­jakan ini bisa segera diubah oleh pemerintah Saudi, sehingga jamaah bisa diberangkatkan. "Oke­lah sekarang dibatasi, tapi Maret atau minimal April kita harapkan sudah dibuka kembali sehingga jamaah bisa melaksanakan ibadah pada saat Ra­madan. Karena banyak ma­syarakat yang ingin me­laksanakan umrah di Ra­madan," ujar­nya.(anf)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Beberapa waktu lalu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Arab Saudi mengumumkan sebanyak 20 negara tidak diperkenankan masuk ke dalam negaranya, termasuk Indonesia. Kebijakan ini berimbas pada pengusaha travel, bahkan beberapa di antaranya mengalami kerugian.

"Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Arab Saudi tersebut sangat berdampak kepada pendapatan para pengusaha travel. Kondisi tersebut bahkan membuat pihak travel merugi," kata salah seorang pengusaha travel di Pekanbaru, Riau, Dede Firmansyah, Ahad (14/2).

Dede menyebutkan, sebagian travel sudah melakukan pemesanan dan membayar tiket pesawat juga penginapan para jamaah di Tanah Suci. "Untuk program umrah Februari 2021 saja sudah dibeli tiket pesawatnya, sudah dibayar penginapan di Madinah, dan juga di Makkah," ujar Dede.

"Ini membuat pihak travel merugi. Setelah cukup lama terpuruk tanpa ada pendapatan, kini harus menanggung beban lagi," tambah  pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kelembagaan dan Pemerintah DPP Association of Indonesia Tour and Travel Agency (Asita) ini.

Baca Juga:  JNE Raih Dua Penghargaan di Ajang The 4th Annual Infobrand.id Summit 2024

Dede berharap, Kedutaan Besar Indonesia yang ada di Arab Saudi bisa melakukan lobi. Apalagi menurutnya Indonesia masuk dalam 20 negara tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Menurut Dede, jika yang menjadi tolak ukurnya adalah kasus Covid-19 masih ada, masih banyak lagi negara lain yang jumlah kasusnya lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

- Advertisement -

"Apalagi Indonesia termasuk negara penyumbang devisa terbesar kepada Saudi karena memiliki jamaah terbesar setiap tahunnya. Data 2017 saja jumlah jamaah umrah kita 750 ribu  orang dan haji 250 ribu orang," sebutnya.

Selain itu, Dede menyebutkan kedutaan Indonesia di sana harus mengambil sikap terkait hal tersebut. Ditambahkannya, setiap jamaah yang akan berangkat ke Tanah Suci, juga menjalankan prosedur khusus, termasuk wajib vaksin, dan beragam protokol kesehatan, sehingga dipastikan aman untuk berangkat ke tanah suci.

- Advertisement -
Baca Juga:  BPJS Ketenagakerjaan Dumai Gencar Sosialisasi ke Badan Usaha

"Selain itu, setiap jamaah juga pasti selalu menjaga agar tidak terkena virus corona. Jadi apa pertimbangan Arab Saudi sebenarnya memasukkan Indonesia dalam 20 negara yang dibatasi tersebut," ucapnya.

Dede berharap, agar ke­bi­jakan ini bisa segera diubah oleh pemerintah Saudi, sehingga jamaah bisa diberangkatkan. "Oke­lah sekarang dibatasi, tapi Maret atau minimal April kita harapkan sudah dibuka kembali sehingga jamaah bisa melaksanakan ibadah pada saat Ra­madan. Karena banyak ma­syarakat yang ingin me­laksanakan umrah di Ra­madan," ujar­nya.(anf)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Beberapa waktu lalu, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Arab Saudi mengumumkan sebanyak 20 negara tidak diperkenankan masuk ke dalam negaranya, termasuk Indonesia. Kebijakan ini berimbas pada pengusaha travel, bahkan beberapa di antaranya mengalami kerugian.

"Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Arab Saudi tersebut sangat berdampak kepada pendapatan para pengusaha travel. Kondisi tersebut bahkan membuat pihak travel merugi," kata salah seorang pengusaha travel di Pekanbaru, Riau, Dede Firmansyah, Ahad (14/2).

Dede menyebutkan, sebagian travel sudah melakukan pemesanan dan membayar tiket pesawat juga penginapan para jamaah di Tanah Suci. "Untuk program umrah Februari 2021 saja sudah dibeli tiket pesawatnya, sudah dibayar penginapan di Madinah, dan juga di Makkah," ujar Dede.

"Ini membuat pihak travel merugi. Setelah cukup lama terpuruk tanpa ada pendapatan, kini harus menanggung beban lagi," tambah  pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kelembagaan dan Pemerintah DPP Association of Indonesia Tour and Travel Agency (Asita) ini.

Baca Juga:  Warga Okura Diajarkan Masak Mi Sagu

Dede berharap, Kedutaan Besar Indonesia yang ada di Arab Saudi bisa melakukan lobi. Apalagi menurutnya Indonesia masuk dalam 20 negara tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Menurut Dede, jika yang menjadi tolak ukurnya adalah kasus Covid-19 masih ada, masih banyak lagi negara lain yang jumlah kasusnya lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

"Apalagi Indonesia termasuk negara penyumbang devisa terbesar kepada Saudi karena memiliki jamaah terbesar setiap tahunnya. Data 2017 saja jumlah jamaah umrah kita 750 ribu  orang dan haji 250 ribu orang," sebutnya.

Selain itu, Dede menyebutkan kedutaan Indonesia di sana harus mengambil sikap terkait hal tersebut. Ditambahkannya, setiap jamaah yang akan berangkat ke Tanah Suci, juga menjalankan prosedur khusus, termasuk wajib vaksin, dan beragam protokol kesehatan, sehingga dipastikan aman untuk berangkat ke tanah suci.

Baca Juga:  JNE Raih Dua Penghargaan di Ajang The 4th Annual Infobrand.id Summit 2024

"Selain itu, setiap jamaah juga pasti selalu menjaga agar tidak terkena virus corona. Jadi apa pertimbangan Arab Saudi sebenarnya memasukkan Indonesia dalam 20 negara yang dibatasi tersebut," ucapnya.

Dede berharap, agar ke­bi­jakan ini bisa segera diubah oleh pemerintah Saudi, sehingga jamaah bisa diberangkatkan. "Oke­lah sekarang dibatasi, tapi Maret atau minimal April kita harapkan sudah dibuka kembali sehingga jamaah bisa melaksanakan ibadah pada saat Ra­madan. Karena banyak ma­syarakat yang ingin me­laksanakan umrah di Ra­madan," ujar­nya.(anf)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari