Jumat, 11 September 2026
- Advertisement -

Hadapi Ancaman Abrasi, 13 Hektare Mangrove di Desa Deluk Direhabilitasi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum bagi Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) wilayah Riau untuk menggelar aksi penanaman mangrove di Desa Deluk, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.

Desa Deluk dipilih sebagai lokasi kegiatan karena wilayah tersebut berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan memiliki kerentanan terhadap ancaman abrasi pantai. Selain itu, desa tersebut juga menjadi salah satu area intervensi strategis Program M4CR Riau dengan total kawasan rehabilitasi mencapai 13 hektare.

Manager PPIU M4CR Riau M. Arif Fahrurozi mengatakan, Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah prioritas dalam agenda pemulihan ekosistem mangrove yang dijalankan Kementerian Kehutanan melalui Program M4CR dengan dukungan Bank Dunia.

Hingga 2026, rehabilitasi mangrove di Provinsi Riau telah mencapai lebih dari 3.200 hektare.

Baca Juga:  630 Ribu Masker Dibagikan Serentak

“Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum krusial bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dan aksi nyata dalam menjaga ekosistem sebagai pelindung alami pesisir,” katanya.

Arif juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis, perangkat daerah terkait, kelompok masyarakat, serta seluruh mitra yang telah ikut berkolaborasi dalam menyukseskan pelaksanaan Program M4CR.

Menurutnya, kerja sama berbagai pihak menjadi fondasi penting untuk memastikan rehabilitasi mangrove dapat berlangsung secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

“Mangrove memiliki peran fundamental bagi kehidupan. Upaya rehabilitasi ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi. Kami optimis bahwa dengan kelestarian mangrove, kemakmuran masyarakat pesisir dapat kembali tegak dan berjaya,” sebutnya.

Sementara itu, Asisten III Setdaprov Riau M Job Kurniawan sekaligus Ketua Harian 2 Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Riau menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Riau dalam memperkuat tata kelola mangrove melalui kerja sama lintas sektor.

Baca Juga:  Pemprov Siapkan Beasiswa Rp109 Miliar Lebih

“Pemerintah Provinsi Riau berupaya memperkuat tata kelola melalui KKMD sebagai platform koordinasi lintas sektor yang menyinergikan peran pusat, daerah, akademisi, hingga sektor swasta. Saat ini, kami tengah memfinalisasi dokumen Rencana Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Mangrove untuk memastikan restorasi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” sebutnya.

Ia menambahkan, keberadaan mangrove memiliki arti penting bagi wilayah kepulauan seperti Kabupaten Bengkalis. Hutan bakau tidak hanya berfungsi sebagai pelindung kawasan pesisir, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan daerah dan generasi mendatang.

“Bagi wilayah kepulauan seperti Bengkalis, mangrove adalah aset ekologis yang sangat berharga. Menjaga kelestarian hutan bakau ini merupakan manifestasi tanggung jawab kita dalam memproteksi masa depan daerah serta generasi yang akan datang,” sebutnya. (sol)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum bagi Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) wilayah Riau untuk menggelar aksi penanaman mangrove di Desa Deluk, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.

Desa Deluk dipilih sebagai lokasi kegiatan karena wilayah tersebut berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan memiliki kerentanan terhadap ancaman abrasi pantai. Selain itu, desa tersebut juga menjadi salah satu area intervensi strategis Program M4CR Riau dengan total kawasan rehabilitasi mencapai 13 hektare.

Manager PPIU M4CR Riau M. Arif Fahrurozi mengatakan, Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah prioritas dalam agenda pemulihan ekosistem mangrove yang dijalankan Kementerian Kehutanan melalui Program M4CR dengan dukungan Bank Dunia.

Hingga 2026, rehabilitasi mangrove di Provinsi Riau telah mencapai lebih dari 3.200 hektare.

Baca Juga:  Pemprov Siapkan Beasiswa Rp109 Miliar Lebih

“Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum krusial bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dan aksi nyata dalam menjaga ekosistem sebagai pelindung alami pesisir,” katanya.

- Advertisement -

Arif juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis, perangkat daerah terkait, kelompok masyarakat, serta seluruh mitra yang telah ikut berkolaborasi dalam menyukseskan pelaksanaan Program M4CR.

Menurutnya, kerja sama berbagai pihak menjadi fondasi penting untuk memastikan rehabilitasi mangrove dapat berlangsung secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

- Advertisement -

“Mangrove memiliki peran fundamental bagi kehidupan. Upaya rehabilitasi ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi. Kami optimis bahwa dengan kelestarian mangrove, kemakmuran masyarakat pesisir dapat kembali tegak dan berjaya,” sebutnya.

Sementara itu, Asisten III Setdaprov Riau M Job Kurniawan sekaligus Ketua Harian 2 Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Riau menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Riau dalam memperkuat tata kelola mangrove melalui kerja sama lintas sektor.

Baca Juga:  Gubri Dukung Gowes Merdeka 2025, Ajak Warga Riau Ramaikan Acara

“Pemerintah Provinsi Riau berupaya memperkuat tata kelola melalui KKMD sebagai platform koordinasi lintas sektor yang menyinergikan peran pusat, daerah, akademisi, hingga sektor swasta. Saat ini, kami tengah memfinalisasi dokumen Rencana Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Mangrove untuk memastikan restorasi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” sebutnya.

Ia menambahkan, keberadaan mangrove memiliki arti penting bagi wilayah kepulauan seperti Kabupaten Bengkalis. Hutan bakau tidak hanya berfungsi sebagai pelindung kawasan pesisir, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan daerah dan generasi mendatang.

“Bagi wilayah kepulauan seperti Bengkalis, mangrove adalah aset ekologis yang sangat berharga. Menjaga kelestarian hutan bakau ini merupakan manifestasi tanggung jawab kita dalam memproteksi masa depan daerah serta generasi yang akan datang,” sebutnya. (sol)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum bagi Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) wilayah Riau untuk menggelar aksi penanaman mangrove di Desa Deluk, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan kawasan pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.

Desa Deluk dipilih sebagai lokasi kegiatan karena wilayah tersebut berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan memiliki kerentanan terhadap ancaman abrasi pantai. Selain itu, desa tersebut juga menjadi salah satu area intervensi strategis Program M4CR Riau dengan total kawasan rehabilitasi mencapai 13 hektare.

Manager PPIU M4CR Riau M. Arif Fahrurozi mengatakan, Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah prioritas dalam agenda pemulihan ekosistem mangrove yang dijalankan Kementerian Kehutanan melalui Program M4CR dengan dukungan Bank Dunia.

Hingga 2026, rehabilitasi mangrove di Provinsi Riau telah mencapai lebih dari 3.200 hektare.

Baca Juga:  Pemprov Riau Mulai Perbaikan Jalan Provinsi di Rohul dan Rohil

“Peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum krusial bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dan aksi nyata dalam menjaga ekosistem sebagai pelindung alami pesisir,” katanya.

Arif juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkalis, perangkat daerah terkait, kelompok masyarakat, serta seluruh mitra yang telah ikut berkolaborasi dalam menyukseskan pelaksanaan Program M4CR.

Menurutnya, kerja sama berbagai pihak menjadi fondasi penting untuk memastikan rehabilitasi mangrove dapat berlangsung secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

“Mangrove memiliki peran fundamental bagi kehidupan. Upaya rehabilitasi ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi. Kami optimis bahwa dengan kelestarian mangrove, kemakmuran masyarakat pesisir dapat kembali tegak dan berjaya,” sebutnya.

Sementara itu, Asisten III Setdaprov Riau M Job Kurniawan sekaligus Ketua Harian 2 Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Riau menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Riau dalam memperkuat tata kelola mangrove melalui kerja sama lintas sektor.

Baca Juga:  Istri Wagubri Kunjungi Masjid Agung Serasa di Medinah

“Pemerintah Provinsi Riau berupaya memperkuat tata kelola melalui KKMD sebagai platform koordinasi lintas sektor yang menyinergikan peran pusat, daerah, akademisi, hingga sektor swasta. Saat ini, kami tengah memfinalisasi dokumen Rencana Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Mangrove untuk memastikan restorasi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” sebutnya.

Ia menambahkan, keberadaan mangrove memiliki arti penting bagi wilayah kepulauan seperti Kabupaten Bengkalis. Hutan bakau tidak hanya berfungsi sebagai pelindung kawasan pesisir, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan daerah dan generasi mendatang.

“Bagi wilayah kepulauan seperti Bengkalis, mangrove adalah aset ekologis yang sangat berharga. Menjaga kelestarian hutan bakau ini merupakan manifestasi tanggung jawab kita dalam memproteksi masa depan daerah serta generasi yang akan datang,” sebutnya. (sol)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari