Kamis, 26 Maret 2026
- Advertisement -

Unik dan Sakral, Sepak Rago Tinggi Kopah Meriahkan Idulfitri

Tradisi Sepak Rago Tinggi Hidup Kembali di Kuansing, Warisan Leluhur yang Memikat

KUANSING (RIAUPOS.CO) — Permainan tradisional Sepak Rago Tinggi kembali digelar dan menjadi daya tarik masyarakat Kenegerian Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Senin (23/3/2026). Tradisi turun-temurun ini rutin ditampilkan setiap hari ketiga Idulfitri.

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Pasar Sotu Desa Titian Modang Kopah itu dipadati warga yang antusias menyaksikan atraksi para pemain. Sejumlah pejabat dan tokoh adat turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing Ir Emmerson, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, serta para penghulu suku.

Sepak Rago Tinggi merupakan permainan tradisional yang berasal dari kesepakatan masyarakat adat Kopah sejak masa lampau. Permainan ini diperkirakan telah ada sejak tahun 1833, bahkan disebut-sebut memiliki akar dari Kesultanan Malaka pada abad ke-15, yang dahulu hanya dimainkan kalangan kerajaan.

Kini, permainan tersebut dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Dalam pelaksanaannya, Sepak Rago Tinggi memiliki perbedaan dengan sepak takraw, terutama pada penggunaan payung terbalik sebagai sasaran bola yang digantung di tengah lingkaran permainan.

Ketua Pusat Sepak Rago Tinggi Kenegerian Kopah (PUSAKO), Riokasyter Wandra, menjelaskan bahwa permainan ini dulunya menggunakan sistem tim, namun kini dimainkan secara bersama oleh tujuh hingga 15 orang.

Peralatan permainan juga mengalami perkembangan. Sebelum menggunakan payung seperti sekarang, masyarakat dahulu membuat alat dari bambu atau aur yang dibentuk menyerupai payung. Sejak tahun 1962, penggunaan payung dianggap lebih praktis.

Baca Juga:  120 Sepeda Motor Berknalpot Brong Diamankan

Permainan ini memiliki aturan adat yang ketat. Sebelum bermain, para pemain diwajibkan berwudhu dan mengenakan pakaian adat Melayu lengkap dengan songket, peci, serta pelindung kaki dari kulit.

Prosesi dimulai dengan ritual pembakaran kemenyan oleh ninik mamak sebagai bentuk doa. Setelah itu, bola rago dilempar sebagai tanda permainan dimulai.

Dalam permainan, pemain pertama disebut sumandan, sedangkan penerima bola berikutnya disebut tunangan. Para pemain harus menjaga bola tetap di udara dan berusaha memasukkannya ke dalam payung yang tingginya mencapai 7 hingga 12 meter.

Permainan semakin semarak dengan iringan musik tradisional rarak godang. Para dayang atau gadis turut hadir membawa carano berisi sirih, pinang, dan kapur, yang memiliki makna simbolis dalam tradisi tersebut.

Jika ada pemain yang berhasil memasukkan bola atau terjatuh, dayang akan menjemput dan memberikan sirih sebagai bagian dari tradisi. Dahulu, dayang bahkan merupakan pasangan dari pemain yang belum menikah sebagai bentuk dukungan.

Bola yang digunakan dalam permainan ini terbuat dari rotan khusus yang direndam dan dibentuk menjadi ukuran kecil. Pemain juga menggunakan alas kaki dari kulit untuk menghasilkan bunyi sekaligus melindungi kaki.

Permainan biasanya berlangsung antara 15 hingga 60 menit dan dilaksanakan di lapangan terbuka atau depan balai adat. Sebelum kegiatan dimulai, masyarakat akan diberi pemberitahuan melalui bunyi canang.

Baca Juga:  Pasar Induk Beroperasi Setelah Idulfitri

Sepak Rago Tinggi umumnya digelar pada momen tertentu, seperti musim panen atau hari besar keagamaan. Kehadiran penghulu, ninik mamak, dan tokoh adat dari empat suku menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi ini.

Setelah permainan selesai, para tetua adat bermusyawarah menentukan pemenang, yang biasanya diberikan hadiah berupa sarung dan peci.

Permainan ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai budaya dan filosofi mendalam, seperti kebersamaan, gotong royong, hingga nilai religius dalam kehidupan masyarakat.

Sepak Rago Tinggi juga telah menorehkan berbagai prestasi nasional, di antaranya peringkat VI Festival Olahraga Tradisional Indonesia 2020, peringkat VIII FOTNAS 2022, serta peringkat III Anugerah Pesona Indonesia 2023.

Selain itu, tradisi ini telah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Kementerian Hukum RI dan beberapa kali tampil di televisi nasional.

Riokasyter berharap, ke depan Sepak Rago Tinggi dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia asal Kuantan Singingi.

Sementara itu, Kepala Dinas Budpar Kuansing Ir Emmerson menilai tradisi ini memiliki nilai budaya tinggi yang harus terus dijaga. Ia menegaskan, pemerintah daerah saat ini tengah mengusulkan Sepak Rago Tinggi sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke Kementerian Kebudayaan RI.(dac)

KUANSING (RIAUPOS.CO) — Permainan tradisional Sepak Rago Tinggi kembali digelar dan menjadi daya tarik masyarakat Kenegerian Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Senin (23/3/2026). Tradisi turun-temurun ini rutin ditampilkan setiap hari ketiga Idulfitri.

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Pasar Sotu Desa Titian Modang Kopah itu dipadati warga yang antusias menyaksikan atraksi para pemain. Sejumlah pejabat dan tokoh adat turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing Ir Emmerson, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, serta para penghulu suku.

Sepak Rago Tinggi merupakan permainan tradisional yang berasal dari kesepakatan masyarakat adat Kopah sejak masa lampau. Permainan ini diperkirakan telah ada sejak tahun 1833, bahkan disebut-sebut memiliki akar dari Kesultanan Malaka pada abad ke-15, yang dahulu hanya dimainkan kalangan kerajaan.

Kini, permainan tersebut dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Dalam pelaksanaannya, Sepak Rago Tinggi memiliki perbedaan dengan sepak takraw, terutama pada penggunaan payung terbalik sebagai sasaran bola yang digantung di tengah lingkaran permainan.

Ketua Pusat Sepak Rago Tinggi Kenegerian Kopah (PUSAKO), Riokasyter Wandra, menjelaskan bahwa permainan ini dulunya menggunakan sistem tim, namun kini dimainkan secara bersama oleh tujuh hingga 15 orang.

- Advertisement -

Peralatan permainan juga mengalami perkembangan. Sebelum menggunakan payung seperti sekarang, masyarakat dahulu membuat alat dari bambu atau aur yang dibentuk menyerupai payung. Sejak tahun 1962, penggunaan payung dianggap lebih praktis.

Baca Juga:  XL Axiata Siap Hadapi Lonjakan Trafik di Libur Idulfitri

Permainan ini memiliki aturan adat yang ketat. Sebelum bermain, para pemain diwajibkan berwudhu dan mengenakan pakaian adat Melayu lengkap dengan songket, peci, serta pelindung kaki dari kulit.

- Advertisement -

Prosesi dimulai dengan ritual pembakaran kemenyan oleh ninik mamak sebagai bentuk doa. Setelah itu, bola rago dilempar sebagai tanda permainan dimulai.

Dalam permainan, pemain pertama disebut sumandan, sedangkan penerima bola berikutnya disebut tunangan. Para pemain harus menjaga bola tetap di udara dan berusaha memasukkannya ke dalam payung yang tingginya mencapai 7 hingga 12 meter.

Permainan semakin semarak dengan iringan musik tradisional rarak godang. Para dayang atau gadis turut hadir membawa carano berisi sirih, pinang, dan kapur, yang memiliki makna simbolis dalam tradisi tersebut.

Jika ada pemain yang berhasil memasukkan bola atau terjatuh, dayang akan menjemput dan memberikan sirih sebagai bagian dari tradisi. Dahulu, dayang bahkan merupakan pasangan dari pemain yang belum menikah sebagai bentuk dukungan.

Bola yang digunakan dalam permainan ini terbuat dari rotan khusus yang direndam dan dibentuk menjadi ukuran kecil. Pemain juga menggunakan alas kaki dari kulit untuk menghasilkan bunyi sekaligus melindungi kaki.

Permainan biasanya berlangsung antara 15 hingga 60 menit dan dilaksanakan di lapangan terbuka atau depan balai adat. Sebelum kegiatan dimulai, masyarakat akan diberi pemberitahuan melalui bunyi canang.

Baca Juga:  Belum Sebulan Mulus, Jalan Sako–Sungai Langsat Kuansing Rusak Lagi

Sepak Rago Tinggi umumnya digelar pada momen tertentu, seperti musim panen atau hari besar keagamaan. Kehadiran penghulu, ninik mamak, dan tokoh adat dari empat suku menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi ini.

Setelah permainan selesai, para tetua adat bermusyawarah menentukan pemenang, yang biasanya diberikan hadiah berupa sarung dan peci.

Permainan ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai budaya dan filosofi mendalam, seperti kebersamaan, gotong royong, hingga nilai religius dalam kehidupan masyarakat.

Sepak Rago Tinggi juga telah menorehkan berbagai prestasi nasional, di antaranya peringkat VI Festival Olahraga Tradisional Indonesia 2020, peringkat VIII FOTNAS 2022, serta peringkat III Anugerah Pesona Indonesia 2023.

Selain itu, tradisi ini telah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Kementerian Hukum RI dan beberapa kali tampil di televisi nasional.

Riokasyter berharap, ke depan Sepak Rago Tinggi dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia asal Kuantan Singingi.

Sementara itu, Kepala Dinas Budpar Kuansing Ir Emmerson menilai tradisi ini memiliki nilai budaya tinggi yang harus terus dijaga. Ia menegaskan, pemerintah daerah saat ini tengah mengusulkan Sepak Rago Tinggi sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke Kementerian Kebudayaan RI.(dac)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

KUANSING (RIAUPOS.CO) — Permainan tradisional Sepak Rago Tinggi kembali digelar dan menjadi daya tarik masyarakat Kenegerian Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Senin (23/3/2026). Tradisi turun-temurun ini rutin ditampilkan setiap hari ketiga Idulfitri.

Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Pasar Sotu Desa Titian Modang Kopah itu dipadati warga yang antusias menyaksikan atraksi para pemain. Sejumlah pejabat dan tokoh adat turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing Ir Emmerson, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, serta para penghulu suku.

Sepak Rago Tinggi merupakan permainan tradisional yang berasal dari kesepakatan masyarakat adat Kopah sejak masa lampau. Permainan ini diperkirakan telah ada sejak tahun 1833, bahkan disebut-sebut memiliki akar dari Kesultanan Malaka pada abad ke-15, yang dahulu hanya dimainkan kalangan kerajaan.

Kini, permainan tersebut dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Dalam pelaksanaannya, Sepak Rago Tinggi memiliki perbedaan dengan sepak takraw, terutama pada penggunaan payung terbalik sebagai sasaran bola yang digantung di tengah lingkaran permainan.

Ketua Pusat Sepak Rago Tinggi Kenegerian Kopah (PUSAKO), Riokasyter Wandra, menjelaskan bahwa permainan ini dulunya menggunakan sistem tim, namun kini dimainkan secara bersama oleh tujuh hingga 15 orang.

Peralatan permainan juga mengalami perkembangan. Sebelum menggunakan payung seperti sekarang, masyarakat dahulu membuat alat dari bambu atau aur yang dibentuk menyerupai payung. Sejak tahun 1962, penggunaan payung dianggap lebih praktis.

Baca Juga:  KUA PPAS Perubahan 2025 Kuansing Bertambah Rp28,5 M

Permainan ini memiliki aturan adat yang ketat. Sebelum bermain, para pemain diwajibkan berwudhu dan mengenakan pakaian adat Melayu lengkap dengan songket, peci, serta pelindung kaki dari kulit.

Prosesi dimulai dengan ritual pembakaran kemenyan oleh ninik mamak sebagai bentuk doa. Setelah itu, bola rago dilempar sebagai tanda permainan dimulai.

Dalam permainan, pemain pertama disebut sumandan, sedangkan penerima bola berikutnya disebut tunangan. Para pemain harus menjaga bola tetap di udara dan berusaha memasukkannya ke dalam payung yang tingginya mencapai 7 hingga 12 meter.

Permainan semakin semarak dengan iringan musik tradisional rarak godang. Para dayang atau gadis turut hadir membawa carano berisi sirih, pinang, dan kapur, yang memiliki makna simbolis dalam tradisi tersebut.

Jika ada pemain yang berhasil memasukkan bola atau terjatuh, dayang akan menjemput dan memberikan sirih sebagai bagian dari tradisi. Dahulu, dayang bahkan merupakan pasangan dari pemain yang belum menikah sebagai bentuk dukungan.

Bola yang digunakan dalam permainan ini terbuat dari rotan khusus yang direndam dan dibentuk menjadi ukuran kecil. Pemain juga menggunakan alas kaki dari kulit untuk menghasilkan bunyi sekaligus melindungi kaki.

Permainan biasanya berlangsung antara 15 hingga 60 menit dan dilaksanakan di lapangan terbuka atau depan balai adat. Sebelum kegiatan dimulai, masyarakat akan diberi pemberitahuan melalui bunyi canang.

Baca Juga:  Warga Diminta Tetap Waspada

Sepak Rago Tinggi umumnya digelar pada momen tertentu, seperti musim panen atau hari besar keagamaan. Kehadiran penghulu, ninik mamak, dan tokoh adat dari empat suku menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tradisi ini.

Setelah permainan selesai, para tetua adat bermusyawarah menentukan pemenang, yang biasanya diberikan hadiah berupa sarung dan peci.

Permainan ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai budaya dan filosofi mendalam, seperti kebersamaan, gotong royong, hingga nilai religius dalam kehidupan masyarakat.

Sepak Rago Tinggi juga telah menorehkan berbagai prestasi nasional, di antaranya peringkat VI Festival Olahraga Tradisional Indonesia 2020, peringkat VIII FOTNAS 2022, serta peringkat III Anugerah Pesona Indonesia 2023.

Selain itu, tradisi ini telah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Kementerian Hukum RI dan beberapa kali tampil di televisi nasional.

Riokasyter berharap, ke depan Sepak Rago Tinggi dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia asal Kuantan Singingi.

Sementara itu, Kepala Dinas Budpar Kuansing Ir Emmerson menilai tradisi ini memiliki nilai budaya tinggi yang harus terus dijaga. Ia menegaskan, pemerintah daerah saat ini tengah mengusulkan Sepak Rago Tinggi sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke Kementerian Kebudayaan RI.(dac)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari