Senin, 27 April 2026
- Advertisement -

Petani Sawit Langgam Mengadu ke Apkasindo

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Petani sawit perwakilan dari ratusan petani dari Desa Langkan, Kecamatan Langgam, Pelalawan yang kebun sawit mereka terancam ditumbangkan dari eksekusi lahan oleh perusahaan besar, mengadukan nasib mereka pada Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau, Senin (20/1).

Di hadapan Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung dan Ketua DPW Apkasindo Riau Santa Buana, mereka menceritakan bahwa saat ini eksekusi lahan kebun sawit dengan cara ditumbangkan menggunakan alat berat telah berlangsung, di mana lahan milik ratusan petani dan PT Peputra Supra Jaya (PSJ) seluas 3.323 hektare akan dieksekusi Pengadilan Negeri Pelalawan dan tim kejaksaan serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau dengan dikawal ratusan personel Polres Pelalawan serta Brimob Polda Riau.

Baca Juga:  Optimis Bisa Selesai dalam Lima Tahun

"Lahan kami merupakan pola kelompok tani (KKPA) yang bekerja sama dengan PT PSJ di Desa Gondai, Langgam, Pelalawan, Riau. Dan di lahan itu kami telah menanam sawit sejak 1995 silam atau sudah lebih dari 23 tahun," ucap Salam Paisal dari Koperasi Gonde Bersatu.

Dikatakannya, eksekusi itu merupakan pelaksanaan dari putusan Mahkamah Agung MA Nomor 1087/Pid.Sus.LH/2018 tanggal 17 Desember 2018. Total 3.323 hektare hamparan sawit yang menjadi target eksekusi. Putusan itu ditembuskan ke PT Nusa Warna Raya (NWR), perusahaan tanaman industri.

Menyikapi hal ini, Ketua DPP Apkasindo Gulat ME Manurung sangat menyesalkan adanya tindakan eksekusi dengan menumbangkan sawit produktif milik masyarakat.

Baca Juga:  Kemenag Siapkan Sembilan Ekor Sapi Kurban

"Kita menghormati hukum yang sedang berjalan, namun juga perlu dipikirkan juga bagaimana selanjutnya dengan nasib masyarakat petani kecil ini, pikirkan juga dampak sosial yang akan timbul jika ini terus berlangsung. Harus dicari jalan tengah. Petani sawit harus diselamatkan," ucap Gulat.

Hal senada juga diungkapkan Santa Buana, pihak Apkasindo akan menindaklanjuti laporan dari anggotanya.

"Penumbangan pohon sawit tidak seharusnya dilakukan dengan tergesa-gesa," ucapnya.(izl)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Petani sawit perwakilan dari ratusan petani dari Desa Langkan, Kecamatan Langgam, Pelalawan yang kebun sawit mereka terancam ditumbangkan dari eksekusi lahan oleh perusahaan besar, mengadukan nasib mereka pada Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau, Senin (20/1).

Di hadapan Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung dan Ketua DPW Apkasindo Riau Santa Buana, mereka menceritakan bahwa saat ini eksekusi lahan kebun sawit dengan cara ditumbangkan menggunakan alat berat telah berlangsung, di mana lahan milik ratusan petani dan PT Peputra Supra Jaya (PSJ) seluas 3.323 hektare akan dieksekusi Pengadilan Negeri Pelalawan dan tim kejaksaan serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau dengan dikawal ratusan personel Polres Pelalawan serta Brimob Polda Riau.

Baca Juga:  Kemenag Siapkan Sembilan Ekor Sapi Kurban

"Lahan kami merupakan pola kelompok tani (KKPA) yang bekerja sama dengan PT PSJ di Desa Gondai, Langgam, Pelalawan, Riau. Dan di lahan itu kami telah menanam sawit sejak 1995 silam atau sudah lebih dari 23 tahun," ucap Salam Paisal dari Koperasi Gonde Bersatu.

Dikatakannya, eksekusi itu merupakan pelaksanaan dari putusan Mahkamah Agung MA Nomor 1087/Pid.Sus.LH/2018 tanggal 17 Desember 2018. Total 3.323 hektare hamparan sawit yang menjadi target eksekusi. Putusan itu ditembuskan ke PT Nusa Warna Raya (NWR), perusahaan tanaman industri.

Menyikapi hal ini, Ketua DPP Apkasindo Gulat ME Manurung sangat menyesalkan adanya tindakan eksekusi dengan menumbangkan sawit produktif milik masyarakat.

- Advertisement -
Baca Juga:  Takbir Keliling Ditiadakan

"Kita menghormati hukum yang sedang berjalan, namun juga perlu dipikirkan juga bagaimana selanjutnya dengan nasib masyarakat petani kecil ini, pikirkan juga dampak sosial yang akan timbul jika ini terus berlangsung. Harus dicari jalan tengah. Petani sawit harus diselamatkan," ucap Gulat.

Hal senada juga diungkapkan Santa Buana, pihak Apkasindo akan menindaklanjuti laporan dari anggotanya.

- Advertisement -

"Penumbangan pohon sawit tidak seharusnya dilakukan dengan tergesa-gesa," ucapnya.(izl)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Petani sawit perwakilan dari ratusan petani dari Desa Langkan, Kecamatan Langgam, Pelalawan yang kebun sawit mereka terancam ditumbangkan dari eksekusi lahan oleh perusahaan besar, mengadukan nasib mereka pada Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Riau, Senin (20/1).

Di hadapan Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung dan Ketua DPW Apkasindo Riau Santa Buana, mereka menceritakan bahwa saat ini eksekusi lahan kebun sawit dengan cara ditumbangkan menggunakan alat berat telah berlangsung, di mana lahan milik ratusan petani dan PT Peputra Supra Jaya (PSJ) seluas 3.323 hektare akan dieksekusi Pengadilan Negeri Pelalawan dan tim kejaksaan serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau dengan dikawal ratusan personel Polres Pelalawan serta Brimob Polda Riau.

Baca Juga:  Tim Unri Dorong Peningkatan Keterampilan Guru SD di Bengkalis

"Lahan kami merupakan pola kelompok tani (KKPA) yang bekerja sama dengan PT PSJ di Desa Gondai, Langgam, Pelalawan, Riau. Dan di lahan itu kami telah menanam sawit sejak 1995 silam atau sudah lebih dari 23 tahun," ucap Salam Paisal dari Koperasi Gonde Bersatu.

Dikatakannya, eksekusi itu merupakan pelaksanaan dari putusan Mahkamah Agung MA Nomor 1087/Pid.Sus.LH/2018 tanggal 17 Desember 2018. Total 3.323 hektare hamparan sawit yang menjadi target eksekusi. Putusan itu ditembuskan ke PT Nusa Warna Raya (NWR), perusahaan tanaman industri.

Menyikapi hal ini, Ketua DPP Apkasindo Gulat ME Manurung sangat menyesalkan adanya tindakan eksekusi dengan menumbangkan sawit produktif milik masyarakat.

Baca Juga:  Dua Pekan, Ungkap 1.053 Gram Sabu dan 12.787 Butir Esktasi

"Kita menghormati hukum yang sedang berjalan, namun juga perlu dipikirkan juga bagaimana selanjutnya dengan nasib masyarakat petani kecil ini, pikirkan juga dampak sosial yang akan timbul jika ini terus berlangsung. Harus dicari jalan tengah. Petani sawit harus diselamatkan," ucap Gulat.

Hal senada juga diungkapkan Santa Buana, pihak Apkasindo akan menindaklanjuti laporan dari anggotanya.

"Penumbangan pohon sawit tidak seharusnya dilakukan dengan tergesa-gesa," ucapnya.(izl)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari