Kamis, 28 Mei 2026
- Advertisement -

Berawal dari Hobi, Suherman Sukses Sulap Lahan di Siak Jadi Kebun Anggur Viral

SIAK (RIAUPOS.CO) – Berawal dari hobi menanam anggur sejak lima hingga enam tahun lalu, Suherman kini mulai menikmati hasil dari ketekunannya. Kebun anggur miliknya di Siak belakangan ramai diperbincangkan warga setelah video dan foto buah anggur yang tumbuh subur di lahannya viral di media sosial dan warung kopi.

Meski belum memasuki masa panen, banyak warga sudah datang untuk melihat langsung sekaligus berniat membeli buah anggur tersebut. Namun, Suherman mengaku belum menjual hasil kebunnya karena panen baru akan dilakukan pada Juni ini.

Warga yang datang akhirnya hanya berfoto di bawah rindangnya pohon anggur dengan buah yang menjuntai. Di kebun itu terdapat berbagai jenis anggur seperti shine muscat, tamaki, jupiter, sansekerta, baikonur hingga heliodor dengan cita rasa yang berbeda-beda.

Saat ditemui Riaupos.co, Suherman mempersilakan mencoba dua jenis anggur, yakni sansekerta dan jupiter. Sambil menyerahkan gunting kecil, ia mempersilakan buah dipetik langsung dari pohonnya.

“Silakan dicoba,” ujar Suherman sambil menunjukkan anggur jenis jupiter yang disebutnya paling disukai anak-anak.

Anggur sansekerta memiliki ukuran lebih besar dengan tekstur sangat renyah. Rasanya disebut berbeda dibanding anggur yang banyak dijual di pasaran. Meski memiliki biji, kesegaran buah yang baru dipetik tetap terasa saat dikunyah.

Sementara itu, jenis jupiter memiliki tekstur lebih lembut dengan aroma harum yang khas di mulut.

Baca Juga:  Riau Pos Didoakan dari Makkah

“Ini sebenarnya buah yang hidup di dataran tinggi. Tapi kalau tekun merawatnya, bisa hidup dan berbuah di dataran rendah seperti Siak ini,” jelasnya.

Suherman menyebut satu pohon anggur mampu menghasilkan sekitar lima hingga 10 kilogram buah. Dalam setahun, panen bahkan bisa dilakukan hingga tiga kali.

Namun, menurutnya, pohon harus diberi jeda setelah panen pertama dan kedua agar batang kembali memperoleh nutrisi sebelum dipersiapkan untuk berbuah lagi.

“Dari panen pertama dan kedua harus ada jeda sebulan atau dua bulan, agar batang-batangnya mendapatkan nutrisi terlebih dahulu, baru dipersiapkan untuk kembali berbuah,” terangnya.

Ia menambahkan, jika pohon dipaksa terus berbuah tanpa jeda, hasil panen tidak akan maksimal dan tanaman bisa kering hingga mati akibat kekurangan nutrisi.

Dalam proses budidaya, tanaman anggur memerlukan perawatan khusus. Tanaman harus mendapat cahaya matahari, namun tidak boleh terkena sinar secara langsung. Karena itu, Suherman membangun green house untuk menjaga pertumbuhan tanaman tetap optimal.

“Awalnya bibit dari Jogjakarta, harganya sampai Rp500 ribu. Sekarang kami di Siak sudah ada komunitas namanya Komunitas Pengangguran Siak,” ungkapnya.

Melalui komunitas tersebut, para pembudidaya anggur rutin berdiskusi dan saling berbagi pengalaman. Untuk wilayah Siak sendiri, saat ini terdapat tiga pembudidaya anggur, termasuk di Kecamatan Bungaraya.

Suherman juga menjelaskan teknik budidaya yang digunakannya, mulai dari sambung drafting, sambung sisip hingga sambung pucuk.

Baca Juga:  Rp6,4 M untuk Tumbuhkan Usaha Mikro Baru 

Karena hasil budidayanya mulai terlihat, kini Suherman mengembangkan kebun anggur baru di samping lahannya. Pengembangan itu dilakukan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam).

“Kami membuat budidaya anggur untuk dijadikan agrowisata, bila perlu ada kafenya,” katanya.

Saat ini terdapat 24 batang pohon anggur yang dirawat di area green house yang lebih luas. Jika pengembangan selesai, lokasi tersebut direncanakan menjadi tempat edukasi bagi anak-anak sekolah untuk belajar menanam dan membudidayakan anggur.

Atas kemampuannya itu, Suherman juga pernah diminta menjadi pembicara untuk menjelaskan teknik budidaya anggur. Namun, ia memilih menolak karena merasa belum percaya diri berbicara di depan umum.

“Saya enggak bisa bicara di depan publik, jadi saya tolak. Saya bisa menjelaskan kalau ditanya seperti ini. Perbendaharaan kata saya belum banyak, mungkin saya perlu belajar lagi,” ujarnya.

Bagi Suherman, keberhasilan yang diraih saat ini tidak lepas dari proses panjang dan dukungan keluarga yang selalu mendampinginya sejak awal merintis.

Ia berharap ilmu yang dimilikinya bisa bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi motivasi agar tidak mudah menyerah saat menjalani proses.

“Semua ada prosesnya. Saat berproses jangan mudah menyerah, terus gali dan tekuni. Insya Allah pada satu titik akan ketemu hasil dari ketekunan itu,” tutupnya.(mng)

SIAK (RIAUPOS.CO) – Berawal dari hobi menanam anggur sejak lima hingga enam tahun lalu, Suherman kini mulai menikmati hasil dari ketekunannya. Kebun anggur miliknya di Siak belakangan ramai diperbincangkan warga setelah video dan foto buah anggur yang tumbuh subur di lahannya viral di media sosial dan warung kopi.

Meski belum memasuki masa panen, banyak warga sudah datang untuk melihat langsung sekaligus berniat membeli buah anggur tersebut. Namun, Suherman mengaku belum menjual hasil kebunnya karena panen baru akan dilakukan pada Juni ini.

Warga yang datang akhirnya hanya berfoto di bawah rindangnya pohon anggur dengan buah yang menjuntai. Di kebun itu terdapat berbagai jenis anggur seperti shine muscat, tamaki, jupiter, sansekerta, baikonur hingga heliodor dengan cita rasa yang berbeda-beda.

Saat ditemui Riaupos.co, Suherman mempersilakan mencoba dua jenis anggur, yakni sansekerta dan jupiter. Sambil menyerahkan gunting kecil, ia mempersilakan buah dipetik langsung dari pohonnya.

“Silakan dicoba,” ujar Suherman sambil menunjukkan anggur jenis jupiter yang disebutnya paling disukai anak-anak.

- Advertisement -

Anggur sansekerta memiliki ukuran lebih besar dengan tekstur sangat renyah. Rasanya disebut berbeda dibanding anggur yang banyak dijual di pasaran. Meski memiliki biji, kesegaran buah yang baru dipetik tetap terasa saat dikunyah.

Sementara itu, jenis jupiter memiliki tekstur lebih lembut dengan aroma harum yang khas di mulut.

- Advertisement -
Baca Juga:  Kunjungi Riau Pos, Kabid Humas Polda Riau Soroti Tantangan Informasi Publik

“Ini sebenarnya buah yang hidup di dataran tinggi. Tapi kalau tekun merawatnya, bisa hidup dan berbuah di dataran rendah seperti Siak ini,” jelasnya.

Suherman menyebut satu pohon anggur mampu menghasilkan sekitar lima hingga 10 kilogram buah. Dalam setahun, panen bahkan bisa dilakukan hingga tiga kali.

Namun, menurutnya, pohon harus diberi jeda setelah panen pertama dan kedua agar batang kembali memperoleh nutrisi sebelum dipersiapkan untuk berbuah lagi.

“Dari panen pertama dan kedua harus ada jeda sebulan atau dua bulan, agar batang-batangnya mendapatkan nutrisi terlebih dahulu, baru dipersiapkan untuk kembali berbuah,” terangnya.

Ia menambahkan, jika pohon dipaksa terus berbuah tanpa jeda, hasil panen tidak akan maksimal dan tanaman bisa kering hingga mati akibat kekurangan nutrisi.

Dalam proses budidaya, tanaman anggur memerlukan perawatan khusus. Tanaman harus mendapat cahaya matahari, namun tidak boleh terkena sinar secara langsung. Karena itu, Suherman membangun green house untuk menjaga pertumbuhan tanaman tetap optimal.

“Awalnya bibit dari Jogjakarta, harganya sampai Rp500 ribu. Sekarang kami di Siak sudah ada komunitas namanya Komunitas Pengangguran Siak,” ungkapnya.

Melalui komunitas tersebut, para pembudidaya anggur rutin berdiskusi dan saling berbagi pengalaman. Untuk wilayah Siak sendiri, saat ini terdapat tiga pembudidaya anggur, termasuk di Kecamatan Bungaraya.

Suherman juga menjelaskan teknik budidaya yang digunakannya, mulai dari sambung drafting, sambung sisip hingga sambung pucuk.

Baca Juga:  Heboh Suara Dentuman di Jembatan Siak II, Tim BPJN Pastikan Tak Ada Kerusakan

Karena hasil budidayanya mulai terlihat, kini Suherman mengembangkan kebun anggur baru di samping lahannya. Pengembangan itu dilakukan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam).

“Kami membuat budidaya anggur untuk dijadikan agrowisata, bila perlu ada kafenya,” katanya.

Saat ini terdapat 24 batang pohon anggur yang dirawat di area green house yang lebih luas. Jika pengembangan selesai, lokasi tersebut direncanakan menjadi tempat edukasi bagi anak-anak sekolah untuk belajar menanam dan membudidayakan anggur.

Atas kemampuannya itu, Suherman juga pernah diminta menjadi pembicara untuk menjelaskan teknik budidaya anggur. Namun, ia memilih menolak karena merasa belum percaya diri berbicara di depan umum.

“Saya enggak bisa bicara di depan publik, jadi saya tolak. Saya bisa menjelaskan kalau ditanya seperti ini. Perbendaharaan kata saya belum banyak, mungkin saya perlu belajar lagi,” ujarnya.

Bagi Suherman, keberhasilan yang diraih saat ini tidak lepas dari proses panjang dan dukungan keluarga yang selalu mendampinginya sejak awal merintis.

Ia berharap ilmu yang dimilikinya bisa bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi motivasi agar tidak mudah menyerah saat menjalani proses.

“Semua ada prosesnya. Saat berproses jangan mudah menyerah, terus gali dan tekuni. Insya Allah pada satu titik akan ketemu hasil dari ketekunan itu,” tutupnya.(mng)

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari

SIAK (RIAUPOS.CO) – Berawal dari hobi menanam anggur sejak lima hingga enam tahun lalu, Suherman kini mulai menikmati hasil dari ketekunannya. Kebun anggur miliknya di Siak belakangan ramai diperbincangkan warga setelah video dan foto buah anggur yang tumbuh subur di lahannya viral di media sosial dan warung kopi.

Meski belum memasuki masa panen, banyak warga sudah datang untuk melihat langsung sekaligus berniat membeli buah anggur tersebut. Namun, Suherman mengaku belum menjual hasil kebunnya karena panen baru akan dilakukan pada Juni ini.

Warga yang datang akhirnya hanya berfoto di bawah rindangnya pohon anggur dengan buah yang menjuntai. Di kebun itu terdapat berbagai jenis anggur seperti shine muscat, tamaki, jupiter, sansekerta, baikonur hingga heliodor dengan cita rasa yang berbeda-beda.

Saat ditemui Riaupos.co, Suherman mempersilakan mencoba dua jenis anggur, yakni sansekerta dan jupiter. Sambil menyerahkan gunting kecil, ia mempersilakan buah dipetik langsung dari pohonnya.

“Silakan dicoba,” ujar Suherman sambil menunjukkan anggur jenis jupiter yang disebutnya paling disukai anak-anak.

Anggur sansekerta memiliki ukuran lebih besar dengan tekstur sangat renyah. Rasanya disebut berbeda dibanding anggur yang banyak dijual di pasaran. Meski memiliki biji, kesegaran buah yang baru dipetik tetap terasa saat dikunyah.

Sementara itu, jenis jupiter memiliki tekstur lebih lembut dengan aroma harum yang khas di mulut.

Baca Juga:  Murid SD Islam Nurul Haq Tualang Belajar Dunia Jurnalistik di Riau Pos

“Ini sebenarnya buah yang hidup di dataran tinggi. Tapi kalau tekun merawatnya, bisa hidup dan berbuah di dataran rendah seperti Siak ini,” jelasnya.

Suherman menyebut satu pohon anggur mampu menghasilkan sekitar lima hingga 10 kilogram buah. Dalam setahun, panen bahkan bisa dilakukan hingga tiga kali.

Namun, menurutnya, pohon harus diberi jeda setelah panen pertama dan kedua agar batang kembali memperoleh nutrisi sebelum dipersiapkan untuk berbuah lagi.

“Dari panen pertama dan kedua harus ada jeda sebulan atau dua bulan, agar batang-batangnya mendapatkan nutrisi terlebih dahulu, baru dipersiapkan untuk kembali berbuah,” terangnya.

Ia menambahkan, jika pohon dipaksa terus berbuah tanpa jeda, hasil panen tidak akan maksimal dan tanaman bisa kering hingga mati akibat kekurangan nutrisi.

Dalam proses budidaya, tanaman anggur memerlukan perawatan khusus. Tanaman harus mendapat cahaya matahari, namun tidak boleh terkena sinar secara langsung. Karena itu, Suherman membangun green house untuk menjaga pertumbuhan tanaman tetap optimal.

“Awalnya bibit dari Jogjakarta, harganya sampai Rp500 ribu. Sekarang kami di Siak sudah ada komunitas namanya Komunitas Pengangguran Siak,” ungkapnya.

Melalui komunitas tersebut, para pembudidaya anggur rutin berdiskusi dan saling berbagi pengalaman. Untuk wilayah Siak sendiri, saat ini terdapat tiga pembudidaya anggur, termasuk di Kecamatan Bungaraya.

Suherman juga menjelaskan teknik budidaya yang digunakannya, mulai dari sambung drafting, sambung sisip hingga sambung pucuk.

Baca Juga:  Pastikan Nataru Aman, Bupati Siak dan Kapolres Tinjau Pos Pengamanan

Karena hasil budidayanya mulai terlihat, kini Suherman mengembangkan kebun anggur baru di samping lahannya. Pengembangan itu dilakukan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam).

“Kami membuat budidaya anggur untuk dijadikan agrowisata, bila perlu ada kafenya,” katanya.

Saat ini terdapat 24 batang pohon anggur yang dirawat di area green house yang lebih luas. Jika pengembangan selesai, lokasi tersebut direncanakan menjadi tempat edukasi bagi anak-anak sekolah untuk belajar menanam dan membudidayakan anggur.

Atas kemampuannya itu, Suherman juga pernah diminta menjadi pembicara untuk menjelaskan teknik budidaya anggur. Namun, ia memilih menolak karena merasa belum percaya diri berbicara di depan umum.

“Saya enggak bisa bicara di depan publik, jadi saya tolak. Saya bisa menjelaskan kalau ditanya seperti ini. Perbendaharaan kata saya belum banyak, mungkin saya perlu belajar lagi,” ujarnya.

Bagi Suherman, keberhasilan yang diraih saat ini tidak lepas dari proses panjang dan dukungan keluarga yang selalu mendampinginya sejak awal merintis.

Ia berharap ilmu yang dimilikinya bisa bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi motivasi agar tidak mudah menyerah saat menjalani proses.

“Semua ada prosesnya. Saat berproses jangan mudah menyerah, terus gali dan tekuni. Insya Allah pada satu titik akan ketemu hasil dari ketekunan itu,” tutupnya.(mng)

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari