Rabu, 19 Juni 2024

Selamatkan Ekosisten Meranti, Perlu Kolaborasi Semua Pihak

Kepulauan Meranti merupakan kabupaten dengan geografis kepulauan yang berada di sepanjang pantai timur Sumatra dan rentan terhadap abrasi. Gugusan pulau yang merupakan endapan tanah bergambut itu merupakan faktor utama penyebab kerusakan alam dan lingkungan.

RIAUPOS.CO – “Hal inilah yang menjadi pemicu Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk tetap konsen terhadap program rehabilitasi hutan dan lahan,” terang Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Randolph WH ketika menghadiri penanaman pohon serentak seluruh Indonesia, di Desa Lukit Kecamatan Merbau, Rabu (7/2/2024).

- Advertisement -

Untuk itu, rehabilitasi lahan menjadi langkah yang cukup perlu namun bukan pekerjaan yang mudah, melainkan harus didukung oleh dana yang besar dan Sumber daya Manusia (SDM) yang memadai.

Perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi cukup dinanti dalam upaya pemulihan kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dengan dimikian Randolph menyambut baik dan mengucapkan terima kasih kepada KLHK dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan turut serta dalam program pemulihan ekosistem gambut dan pelestarian lingkungan. Terutama atas terselenggaranya kegiatan penanaman pohon serentak di sepanjang musim penghujan 2024.

- Advertisement -

Dalam aksi pelestarian lingkungan tersebut, hadir mewakili Menteri KLHK yakni Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati, Kepala BRGM RI Hartono, Plt Kepala DLHK Provinsi Riau Job Kurniawan dan Staf Ahli Pemkab Kepulauan Meranti, Randolph WH.

“Kegiatan ini sebagai tindak lanjut arahan Presiden RI pada acara penanaman pohon di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), pada 30 Desember tahun lalu,” sebut Randolph

Ia berharap kegiatan ini dapat dilakukan terus menerus. Dengan jenis pohon yang tepat, maka kualitas lingkungan hidup akan meningkat yang berdampak positif bagi kecukupan air bersih, dan ketahanan pangan di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Sementara itu, Kepala BRGM Hartono mengatakan bahwa, lahan basah, termasuk gambut dan mangrove, memiliki manfaat yang begitu besar, oleh karenanya harus dikelola secara bijak.

Baca Juga:  Anak Meranti Raih Emas di Korsel

“Desa Lukit, Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan salah satu dari wilayah Provinsi Riau yang menjadi lokasi penanaman pohon serentak pada peringatan hari lahan basah sedunia,” terangnya.

Dirjen PSLB3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan bahwa, program penanaman pohon ini dilaksanakan serentak seluruh Indonesia dalam rangka Hari Lahan Basah Sedunia. “Secara serentak penanaman dilaksanakan di Indonesia, kegiatan yang kita laksanakan ini merupakan upaya konkret dan strategis dalam penanganan triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi, dan ancaman kehati,” tutur Vivien.

Dijelaskannya, bahwa pohon memiliki manfaat multiguna bagi makhluk hidup dan alam. Sebagai garda terdepan perlindungan ekosistem, KLHK terus berkomitmen dalam mengurangi emisi dan menjaga ekosistem tetap lestari.

“Mari kita bangun harmoni dengan alam, mulailah menanam. Kami terima kasih dan apresiasi kepada Pemprov Riau, Pemda Meranti dan seluruh pihak yang mendukung penanaman pohon. Terima kasih juga atas kolaborasi PT Pertamina Hulu Rokan, dengan adanya PHR maka membantu terselenggaranya acara ini. Dan Alhamdulillah telah berjalan dengan sukses,” ungkapnya.

Kegiatan yang diikuti PHR sebagai salah satu Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini juga sejalan dengan misi Pemprov Riau dalam menciptakan Riau hijau dan rendah karbon. “Mudah-mudahan kita semua dapat terus berkolaborasi dalam mendukung kelestarian lingkungan khususnya di Provinsi Riau. Peran serta kita semua sangat berarti untuk alam,” kata Plt Kadis LHK Riau, Job Kurniawan.

Corporate Secretary PHR WK Rokan, Rudi Ariffianto mengungkapkan bahwa selain berfokus pada operasi dalam mendukung ketahanan energi, PHR juga terus berikhtiar dalam menjaga lingkungan.

“PHR memiliki program TJSL yang berfokus pada 4 pilar, yakni pendidikan, pemberdayaan ekonomi, lingkungan hidup dan kesehatan. Penanaman pohon bersama KLHK ini merupakan salah satu upaya PHR untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Semoga alam tetap lestari, saat ini dan hingga nanti,” katanya.

Baca Juga:  Murid Keracunan Massal di Meranti Bertambah Dua Kali Lipat

Pada kegiatan tersebut, Kepala BRGM Hartono menyatakan bahwa lahan basah, termasuk gambut dan mangrove, memiliki manfaat yang sangat besar, sehingga perlu dikelola secara bijak. BRGM dan Kementerian LHK bekerja sama dengan masyarakat dalam pelaksanaan penanaman di lahan gambut dan mangrove untuk mendorong keberlanjutan pengelolaan pada masa depan.

“Sagu yang kami tanam hari ini, selain bisa membantu dalam menahan air agar gambut tidak terbakar juga dapat mendukung ketahanan pangan melalui diversifikasi,” ujarnya.

Dijelaskannya bahwa penanaman sagu di Pulau Pedang memiliki empat tujuan utama. Pertama; untuk mencegah kebakaran dan mengurangi emisi dari lahan gambut, baik yang disebabkan oleh kebakaran maupun dekomposisi gambut.

Kedua; sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar, karena sagu merupakan tanaman dengan nilai ekonomi yang tinggi. Dan ketiga; sebagai upaya untuk mencegah terjadinya bencana yang disebabkan oleh penurunan permukaan tanah (land subsidence).

Sebagai informasi, ekosistem lahan basah gambut dan mangrove di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dengan ekosistem gambut seluas 13,9 juta hektar dan mangrove seluas 3,36 juta ha. Kedua ekosistem tersebut memiliki peran penting dalam menyediakan berbagai manfaat nilai intrinsik dan fungsi kehidupan, seperti menyimpan cadangan karbon, memberikan perlindungan dari bencana alam, menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati, serta memenuhi berbagai kebutuhan manusia yang memiliki nilai ekonomi, termasuk dalam sektor eco-tourism.

Pada tanggal 2 Februari 2024, dunia merayakan Hari Lahan Basah dengan tema “Wetlands and Human Wellbeing,” yang menekankan pentingnya pelestarian dan pengelolaan lahan basah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sehari-hari.

Peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan ekosistem gambut dan mangrove.(gus)

Laporan WIRA SAPUTRA, Selatpanjang

 

Kepulauan Meranti merupakan kabupaten dengan geografis kepulauan yang berada di sepanjang pantai timur Sumatra dan rentan terhadap abrasi. Gugusan pulau yang merupakan endapan tanah bergambut itu merupakan faktor utama penyebab kerusakan alam dan lingkungan.

RIAUPOS.CO – “Hal inilah yang menjadi pemicu Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk tetap konsen terhadap program rehabilitasi hutan dan lahan,” terang Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Randolph WH ketika menghadiri penanaman pohon serentak seluruh Indonesia, di Desa Lukit Kecamatan Merbau, Rabu (7/2/2024).

Untuk itu, rehabilitasi lahan menjadi langkah yang cukup perlu namun bukan pekerjaan yang mudah, melainkan harus didukung oleh dana yang besar dan Sumber daya Manusia (SDM) yang memadai.

Perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi cukup dinanti dalam upaya pemulihan kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Dengan dimikian Randolph menyambut baik dan mengucapkan terima kasih kepada KLHK dan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan turut serta dalam program pemulihan ekosistem gambut dan pelestarian lingkungan. Terutama atas terselenggaranya kegiatan penanaman pohon serentak di sepanjang musim penghujan 2024.

Dalam aksi pelestarian lingkungan tersebut, hadir mewakili Menteri KLHK yakni Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati, Kepala BRGM RI Hartono, Plt Kepala DLHK Provinsi Riau Job Kurniawan dan Staf Ahli Pemkab Kepulauan Meranti, Randolph WH.

“Kegiatan ini sebagai tindak lanjut arahan Presiden RI pada acara penanaman pohon di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), pada 30 Desember tahun lalu,” sebut Randolph

Ia berharap kegiatan ini dapat dilakukan terus menerus. Dengan jenis pohon yang tepat, maka kualitas lingkungan hidup akan meningkat yang berdampak positif bagi kecukupan air bersih, dan ketahanan pangan di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Sementara itu, Kepala BRGM Hartono mengatakan bahwa, lahan basah, termasuk gambut dan mangrove, memiliki manfaat yang begitu besar, oleh karenanya harus dikelola secara bijak.

Baca Juga:  Sempat Alami Kelangkaan, Gas LPG 3 Kg di Meranti Hari Ini Dipasok

“Desa Lukit, Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan salah satu dari wilayah Provinsi Riau yang menjadi lokasi penanaman pohon serentak pada peringatan hari lahan basah sedunia,” terangnya.

Dirjen PSLB3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati mengatakan bahwa, program penanaman pohon ini dilaksanakan serentak seluruh Indonesia dalam rangka Hari Lahan Basah Sedunia. “Secara serentak penanaman dilaksanakan di Indonesia, kegiatan yang kita laksanakan ini merupakan upaya konkret dan strategis dalam penanganan triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi, dan ancaman kehati,” tutur Vivien.

Dijelaskannya, bahwa pohon memiliki manfaat multiguna bagi makhluk hidup dan alam. Sebagai garda terdepan perlindungan ekosistem, KLHK terus berkomitmen dalam mengurangi emisi dan menjaga ekosistem tetap lestari.

“Mari kita bangun harmoni dengan alam, mulailah menanam. Kami terima kasih dan apresiasi kepada Pemprov Riau, Pemda Meranti dan seluruh pihak yang mendukung penanaman pohon. Terima kasih juga atas kolaborasi PT Pertamina Hulu Rokan, dengan adanya PHR maka membantu terselenggaranya acara ini. Dan Alhamdulillah telah berjalan dengan sukses,” ungkapnya.

Kegiatan yang diikuti PHR sebagai salah satu Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini juga sejalan dengan misi Pemprov Riau dalam menciptakan Riau hijau dan rendah karbon. “Mudah-mudahan kita semua dapat terus berkolaborasi dalam mendukung kelestarian lingkungan khususnya di Provinsi Riau. Peran serta kita semua sangat berarti untuk alam,” kata Plt Kadis LHK Riau, Job Kurniawan.

Corporate Secretary PHR WK Rokan, Rudi Ariffianto mengungkapkan bahwa selain berfokus pada operasi dalam mendukung ketahanan energi, PHR juga terus berikhtiar dalam menjaga lingkungan.

“PHR memiliki program TJSL yang berfokus pada 4 pilar, yakni pendidikan, pemberdayaan ekonomi, lingkungan hidup dan kesehatan. Penanaman pohon bersama KLHK ini merupakan salah satu upaya PHR untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Semoga alam tetap lestari, saat ini dan hingga nanti,” katanya.

Baca Juga:  Setelah Dievaluasi, Panwascam Existing Meranti Penuhi Syarat

Pada kegiatan tersebut, Kepala BRGM Hartono menyatakan bahwa lahan basah, termasuk gambut dan mangrove, memiliki manfaat yang sangat besar, sehingga perlu dikelola secara bijak. BRGM dan Kementerian LHK bekerja sama dengan masyarakat dalam pelaksanaan penanaman di lahan gambut dan mangrove untuk mendorong keberlanjutan pengelolaan pada masa depan.

“Sagu yang kami tanam hari ini, selain bisa membantu dalam menahan air agar gambut tidak terbakar juga dapat mendukung ketahanan pangan melalui diversifikasi,” ujarnya.

Dijelaskannya bahwa penanaman sagu di Pulau Pedang memiliki empat tujuan utama. Pertama; untuk mencegah kebakaran dan mengurangi emisi dari lahan gambut, baik yang disebabkan oleh kebakaran maupun dekomposisi gambut.

Kedua; sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar, karena sagu merupakan tanaman dengan nilai ekonomi yang tinggi. Dan ketiga; sebagai upaya untuk mencegah terjadinya bencana yang disebabkan oleh penurunan permukaan tanah (land subsidence).

Sebagai informasi, ekosistem lahan basah gambut dan mangrove di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dengan ekosistem gambut seluas 13,9 juta hektar dan mangrove seluas 3,36 juta ha. Kedua ekosistem tersebut memiliki peran penting dalam menyediakan berbagai manfaat nilai intrinsik dan fungsi kehidupan, seperti menyimpan cadangan karbon, memberikan perlindungan dari bencana alam, menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati, serta memenuhi berbagai kebutuhan manusia yang memiliki nilai ekonomi, termasuk dalam sektor eco-tourism.

Pada tanggal 2 Februari 2024, dunia merayakan Hari Lahan Basah dengan tema “Wetlands and Human Wellbeing,” yang menekankan pentingnya pelestarian dan pengelolaan lahan basah untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sehari-hari.

Peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan ekosistem gambut dan mangrove.(gus)

Laporan WIRA SAPUTRA, Selatpanjang

 

Follow US!
http://riaupos.co/
Youtube: @riauposmedia
Facebook: riaupos
Twitter: riaupos
Instagram: riaupos.co
Tiktok : riaupos
Pinterest : riauposdotco
Dailymotion :RiauPos

Berita Lainnya

spot_img

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari