Sabtu, 2 Maret 2024

Alat Berat Dikerahkan Tarik Truk Towing yang Mogok di Jalintim

Banjir Makin Parah, Buka Tutup setiap 2 Jam

RIAUPOS.CO – Tingginya curah hujan dan pembukaan pintu waduk PLTA Koto Panjang Kampar membuat banjir di Kabupaten Pelalawan tak kunjung surut.

Bahkan, Jumat (12/1), tinggi permukaan air yang menggenangi sejumlah badan jalan di tujuh kecamatan kembali makin parah dan mengalami peningkatan.

Kapolres Pelalawan AKBP Suwinto SH SIK didampingi Kasat Lantas, AKP Akira Ceria SIK MM memaparkan, kondisi banjir di Jalintim Km 75-84 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, semakin parah dan ketinggian air terus meningkat hingga mencapai 1,5 meter, Jumat (12/1).

Kondisi tersebut telah menyebabkan banyak kendaraan besar yang terjebak di tengah banjir, termasuk masyarakat yang ikut di dalam mobil jasa angkut kendaraan penyeberangan atau towing. “Ya, banyak truk yang terjebak di dalam banjir karena mogok akibat air yang merendam badan jalintim terus bertambah,’’ ujarnya.

Dua mobil terendam air dan ditinggal pengemudi karena mogok akibat banjir merendam Jalan Desa Langgam,, Kabupaten Pelalawan, Jumat (12/1/2024). (H Said Fahmi Media Pemkab Pelalawan)

‘’Apalagi yang mati mesin ini truk gendong yang banyak mengangkut penumpang. Sehingga kita bersama petugas gabungan baik TNI, BPBD dan Dishub langsung melakukan evakuasi penumpang ke tempat yang aman. Kami menarik truk mogok itu keluar dari genangan air supaya arus lalu lintas dapat bergerak,” terang Kapolres Pelalawan.

- Advertisement -

Dikatakan mantan Danyon C Pelopor Sat Brimob Polda Kaltim ini, setidaknya ada 20 truk besar yang mogok terjebak di tengah banjir sejak Jumat (12/1) dini hari. Alhasil, tim gabungan pun bekerja keras untuk  menarik satu per satu kendaraan besar tersebut agar arus lalu lintas tidak menjadi stak atau bisa bergerak dengan sistem buka tutup.

Bahkan, untuk melakukan upaya evakuasi puluhan truk tersebut, tiga unit mobil alat berat diturunkan untuk menarik kendaraan mogok di sejumlah titik jalintim, tepatnya di Km 81-83. “Alhamdulillah, saat ini proses evakuasi masih terus dilangsungkan. Setidaknya baru sekitar 8 truk yang telah berhasil dievakuasi. Dan sisanya 12 kendaraan lainnya akan dimaksimalkan evakuasinya,” jelas Suwinto.

- Advertisement -

Kasat Lantas Polres Pelalawan, AKP Akira Ceria SIK menambahkan bahwa kian meningkat tinggi permukaan air yang merendam badan jalintim Desa Kemang ini membuat proses evakuasi truk mogok tersebut cukup sulit dilakukan.

“Ya, tinggi airnya makin parah. Khususnya di Km 80 sampai 83, tingginya mencapai 1,5 meter lebih atau lebih dari sedada orang dewasa. Kondisi ini menyulitkan petugas gabungan melakukan evakuasi. Namun demikian, upaya evakuasi masih tetap diupayakan di lapangan,” sebutnya.

Disinggung terkait arus lalu lintas, mantan Kasat Lantas Polres Dumai ini menambahkan, arus lalu lintas tetap dibuka dengan pola buka tutup jalan. Namun demikian, diakuinya kondisi ini menyebabkan penumpukan kendaraan yang berdampak kemacetan semakin panjang. Yakni kurang lebih sekitar 20 km.

Baca Juga:  Banjir Jalintim Tinggal 50 Cm

“Artinya akses tidak kita tutup, namun tetap menerapkan sistem buka tutup jalan menggunakan satu jalur dengan jangka waktu 2 jam. Dan kita juga memberikan imbauan kepada pengendara truk roda 10 ke atas bahwa kondisi air semakin tinggi,’’ ujarnya.

“Bagi supir truk yang berani dan mahir mengemudi, tetap lewat dan berhasil melintas menunju jalan yang tidak direndam air. Tapi, para supir truk yang takut, tetap bertahan di jalan yang tidak dalam airnya sambil menunggu permukaan air menurun dan aman dilintasi,” tambahnya.

Semakin tingginya air diakui Suryadi, salah seorang pemilik warung di Jalintim Km 74. “Ya, tinggi permukaan air yang menggenangi badan Jalan Lintas Timur (Jalintim) Km 73-84 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras kembali meningkat. Kalau diperkiraan, naik sekitar 2 atau 3 centimeter,” terangnya kepada Riau Pos, Jumat (12/1).

Pria yang akrab disapa Bang Kumis ini menambahkan, sejak hampir satu bulan banjir yang merendam badan jalan lintas provinsi ini tidak menunjukkan tanda penyurutan, bahkan malah bertambah. “Bagaimana banjir ini mau surut kalau PLTA Koto Panjang buang air terus,’’ ujarnya.

‘’Belum lagi hujan deras yang hampir setiap harinya turun mengguyur daerah ini. Untuk itu, kami minta PLTA Koto Panjang Kampar tidak kembali membuka pintu pembuangan air sehingga banjir di Pelalawan ini dapat segera surut total dan aktivitas warga dalam kembali berjalan normal,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pelalawan menjelaskan, berdasarkan penghitungan alat pengukur level debit ketinggian permukaan air Sungai Kampar, menunjukkan adanya penyurutan 3 cm, Jumat (12/1).

“Jadi, ketinggian air tidak bertambah, malah berkurang 3 cm. Sedangkan kenaikan air di sejumlah badan jalan, khususnya Jalintim Desa Kemang, diperkirakan akibat dampak terjadinya pasang surut air aliran sungai Kampar,” bebernya.

Mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelawan ini memaparkan, meski tinggi permukaan air menurun, namun banjir diprediksi akan kembali naik. Pasalnya, pembukaan pintu waduk PLTA Koto Kampar dengan tinggi 30 cm baru akan masuk ke Pelalawan lima hari ke depan atau pada Ahad (14/1) depan.

“Jadi, banjir dampak pembukaan pintu PLTA Koto Kampar ini akan masuk lima hari setelah dibuka. Diprediksi banjir, khusus yang merendam badan Jalintim Desa Kemang akan kembali naik pada Ahad (14/1). Untuk itu, kita berharap pintu waduk PLTA Koto Kampar ini dapat segera ditutup sehingga banjir di Pelalawan dapat segera surut total,” ujarnya.

Di sisi lain, Jembatan Sungai Solok di Jalan Lintas Timur KM 183 Desa Barangan Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) terjadi dua kali ambruk susulan. Akibatnya, jalur Lintas Timur sempat ditutup total untuk semua kendaraan.

Baca Juga:  Beredar SK Pencopotan Rektor UIN Suska

Kapolres Inhu, AKBP Dody Wirawijaya SIK melalui Kasubsi Penmas, Aiptu Misran ketika dikonfirmasi, membenarkan sempat terjadi dua kali ambruk susulan. ‘’Benar, ketika terjadi ambruk susulan, di Jalan Lintas Timur KM 183 sempat ditutup,” ujar Kasubsi Penmas, Aiptu Misran, Jumat (12/1).

Dijelaskannya, ambruk susulan itu terjadi pada Kamis (11/1) sekitar pukul 20.00 WIB. Ambruk itu terjadi pada badan jalan sisi kiri arah Pematang Reba-Pekanbaru. Sehingga langsung dilakukan penanganan bersama hingga personel yang ada di lokasi ikut turun tangan.

Untuk penanganan kali ini masih dilakukan dengan cara menimbun bagian yang ambruk dengan batu tanah atau batu base. “Proses mendatangkan material berjalan cukup lama. Selain itu jumlah material untuk menutup bekas badan jalan yang ambruk cukup banyak,” sebut Misran.

Pekerjaan untuk menutupi badan jalan tersebut berlangsung hingga Jumat (12/1) sekira pukul 06.30 WIB. Akibatnya, antrean kendaraan di dua arus berlawanan mencapai sekitar 5 km. “Sisi kanan dari Pematang Reba-Pekanbaru memang belum ditimbun karena ada lubang besar di ujung jembatan sisi kanan arah Pematang Reba-Pekanbaru,” ungkapnya.

Pada Jumat (11/1) pagi hingga malam, arus lalu lintas di Jalan Lintas Timur Km 183 berjalan lancar yakni padat lancar untuk semua kendaraan. Hanya saja, pada jalan yang diberlakukan buka tutup, jembatan Sungai Solok kembali terjadi ambruk pada sekira pukul 19.30 WIB.

Sehingga penanganan kembali dilakukan seperti sebelumnya. Pekerjaan penimbunan ke tiga kali ini hanya berlangsung selama lebih kurang satu jam atau sekira pukul 20.45 WIB dan kembali bisa dilewati semua kendaraan.

Untuk itu diimbau, bagi warga Kabupaten Inhu yang tidak berurusan penting agar menunda perjalanan melewati Jalan Lintas Timur KM 183. “Kepada pengendara antar kota dan antar provinsi hendaknya selalu waspada dan hati-hati,” harapnya.

Dalam pada itu, Kepala KPBD Inhu, Mulyadi S Sos mengatakan bahwa, debit air Sungai Indragiri sejak beberapa hari belakangan ini terus turun. ‘’Alhamdulillah, debit air Sungai Indragiri sudah jauh surutnya,” ucapnya.

Luapan air Sungai Indragiri sebutnya, hanya berdampak di Kecamatan Kuala Cenaku atau wilayah paling hilir Kabupaten Inhu.

“Debit air Sungai Indragiri sudah mencapai 6,78 meter atau berkurang 15 centimeter. Bahkan di bagian hulu sudah ada yang berkurang mencapai 30 cm,” terangnya.(sol/amn/kas/das)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

 

 

RIAUPOS.CO – Tingginya curah hujan dan pembukaan pintu waduk PLTA Koto Panjang Kampar membuat banjir di Kabupaten Pelalawan tak kunjung surut.

Bahkan, Jumat (12/1), tinggi permukaan air yang menggenangi sejumlah badan jalan di tujuh kecamatan kembali makin parah dan mengalami peningkatan.

Kapolres Pelalawan AKBP Suwinto SH SIK didampingi Kasat Lantas, AKP Akira Ceria SIK MM memaparkan, kondisi banjir di Jalintim Km 75-84 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, semakin parah dan ketinggian air terus meningkat hingga mencapai 1,5 meter, Jumat (12/1).

Kondisi tersebut telah menyebabkan banyak kendaraan besar yang terjebak di tengah banjir, termasuk masyarakat yang ikut di dalam mobil jasa angkut kendaraan penyeberangan atau towing. “Ya, banyak truk yang terjebak di dalam banjir karena mogok akibat air yang merendam badan jalintim terus bertambah,’’ ujarnya.

Dua mobil terendam air dan ditinggal pengemudi karena mogok akibat banjir merendam Jalan Desa Langgam,, Kabupaten Pelalawan, Jumat (12/1/2024). (H Said Fahmi Media Pemkab Pelalawan)

‘’Apalagi yang mati mesin ini truk gendong yang banyak mengangkut penumpang. Sehingga kita bersama petugas gabungan baik TNI, BPBD dan Dishub langsung melakukan evakuasi penumpang ke tempat yang aman. Kami menarik truk mogok itu keluar dari genangan air supaya arus lalu lintas dapat bergerak,” terang Kapolres Pelalawan.

Dikatakan mantan Danyon C Pelopor Sat Brimob Polda Kaltim ini, setidaknya ada 20 truk besar yang mogok terjebak di tengah banjir sejak Jumat (12/1) dini hari. Alhasil, tim gabungan pun bekerja keras untuk  menarik satu per satu kendaraan besar tersebut agar arus lalu lintas tidak menjadi stak atau bisa bergerak dengan sistem buka tutup.

Bahkan, untuk melakukan upaya evakuasi puluhan truk tersebut, tiga unit mobil alat berat diturunkan untuk menarik kendaraan mogok di sejumlah titik jalintim, tepatnya di Km 81-83. “Alhamdulillah, saat ini proses evakuasi masih terus dilangsungkan. Setidaknya baru sekitar 8 truk yang telah berhasil dievakuasi. Dan sisanya 12 kendaraan lainnya akan dimaksimalkan evakuasinya,” jelas Suwinto.

Kasat Lantas Polres Pelalawan, AKP Akira Ceria SIK menambahkan bahwa kian meningkat tinggi permukaan air yang merendam badan jalintim Desa Kemang ini membuat proses evakuasi truk mogok tersebut cukup sulit dilakukan.

“Ya, tinggi airnya makin parah. Khususnya di Km 80 sampai 83, tingginya mencapai 1,5 meter lebih atau lebih dari sedada orang dewasa. Kondisi ini menyulitkan petugas gabungan melakukan evakuasi. Namun demikian, upaya evakuasi masih tetap diupayakan di lapangan,” sebutnya.

Disinggung terkait arus lalu lintas, mantan Kasat Lantas Polres Dumai ini menambahkan, arus lalu lintas tetap dibuka dengan pola buka tutup jalan. Namun demikian, diakuinya kondisi ini menyebabkan penumpukan kendaraan yang berdampak kemacetan semakin panjang. Yakni kurang lebih sekitar 20 km.

Baca Juga:  835 KK Warga Pelalawan Terdampak Banjir Terima Bantuan RAPP

“Artinya akses tidak kita tutup, namun tetap menerapkan sistem buka tutup jalan menggunakan satu jalur dengan jangka waktu 2 jam. Dan kita juga memberikan imbauan kepada pengendara truk roda 10 ke atas bahwa kondisi air semakin tinggi,’’ ujarnya.

“Bagi supir truk yang berani dan mahir mengemudi, tetap lewat dan berhasil melintas menunju jalan yang tidak direndam air. Tapi, para supir truk yang takut, tetap bertahan di jalan yang tidak dalam airnya sambil menunggu permukaan air menurun dan aman dilintasi,” tambahnya.

Semakin tingginya air diakui Suryadi, salah seorang pemilik warung di Jalintim Km 74. “Ya, tinggi permukaan air yang menggenangi badan Jalan Lintas Timur (Jalintim) Km 73-84 Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras kembali meningkat. Kalau diperkiraan, naik sekitar 2 atau 3 centimeter,” terangnya kepada Riau Pos, Jumat (12/1).

Pria yang akrab disapa Bang Kumis ini menambahkan, sejak hampir satu bulan banjir yang merendam badan jalan lintas provinsi ini tidak menunjukkan tanda penyurutan, bahkan malah bertambah. “Bagaimana banjir ini mau surut kalau PLTA Koto Panjang buang air terus,’’ ujarnya.

‘’Belum lagi hujan deras yang hampir setiap harinya turun mengguyur daerah ini. Untuk itu, kami minta PLTA Koto Panjang Kampar tidak kembali membuka pintu pembuangan air sehingga banjir di Pelalawan ini dapat segera surut total dan aktivitas warga dalam kembali berjalan normal,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pelalawan menjelaskan, berdasarkan penghitungan alat pengukur level debit ketinggian permukaan air Sungai Kampar, menunjukkan adanya penyurutan 3 cm, Jumat (12/1).

“Jadi, ketinggian air tidak bertambah, malah berkurang 3 cm. Sedangkan kenaikan air di sejumlah badan jalan, khususnya Jalintim Desa Kemang, diperkirakan akibat dampak terjadinya pasang surut air aliran sungai Kampar,” bebernya.

Mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelawan ini memaparkan, meski tinggi permukaan air menurun, namun banjir diprediksi akan kembali naik. Pasalnya, pembukaan pintu waduk PLTA Koto Kampar dengan tinggi 30 cm baru akan masuk ke Pelalawan lima hari ke depan atau pada Ahad (14/1) depan.

“Jadi, banjir dampak pembukaan pintu PLTA Koto Kampar ini akan masuk lima hari setelah dibuka. Diprediksi banjir, khusus yang merendam badan Jalintim Desa Kemang akan kembali naik pada Ahad (14/1). Untuk itu, kita berharap pintu waduk PLTA Koto Kampar ini dapat segera ditutup sehingga banjir di Pelalawan dapat segera surut total,” ujarnya.

Di sisi lain, Jembatan Sungai Solok di Jalan Lintas Timur KM 183 Desa Barangan Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) terjadi dua kali ambruk susulan. Akibatnya, jalur Lintas Timur sempat ditutup total untuk semua kendaraan.

Baca Juga:  Ketua KI Riau Temui Kajati Riau Mia Amiati

Kapolres Inhu, AKBP Dody Wirawijaya SIK melalui Kasubsi Penmas, Aiptu Misran ketika dikonfirmasi, membenarkan sempat terjadi dua kali ambruk susulan. ‘’Benar, ketika terjadi ambruk susulan, di Jalan Lintas Timur KM 183 sempat ditutup,” ujar Kasubsi Penmas, Aiptu Misran, Jumat (12/1).

Dijelaskannya, ambruk susulan itu terjadi pada Kamis (11/1) sekitar pukul 20.00 WIB. Ambruk itu terjadi pada badan jalan sisi kiri arah Pematang Reba-Pekanbaru. Sehingga langsung dilakukan penanganan bersama hingga personel yang ada di lokasi ikut turun tangan.

Untuk penanganan kali ini masih dilakukan dengan cara menimbun bagian yang ambruk dengan batu tanah atau batu base. “Proses mendatangkan material berjalan cukup lama. Selain itu jumlah material untuk menutup bekas badan jalan yang ambruk cukup banyak,” sebut Misran.

Pekerjaan untuk menutupi badan jalan tersebut berlangsung hingga Jumat (12/1) sekira pukul 06.30 WIB. Akibatnya, antrean kendaraan di dua arus berlawanan mencapai sekitar 5 km. “Sisi kanan dari Pematang Reba-Pekanbaru memang belum ditimbun karena ada lubang besar di ujung jembatan sisi kanan arah Pematang Reba-Pekanbaru,” ungkapnya.

Pada Jumat (11/1) pagi hingga malam, arus lalu lintas di Jalan Lintas Timur Km 183 berjalan lancar yakni padat lancar untuk semua kendaraan. Hanya saja, pada jalan yang diberlakukan buka tutup, jembatan Sungai Solok kembali terjadi ambruk pada sekira pukul 19.30 WIB.

Sehingga penanganan kembali dilakukan seperti sebelumnya. Pekerjaan penimbunan ke tiga kali ini hanya berlangsung selama lebih kurang satu jam atau sekira pukul 20.45 WIB dan kembali bisa dilewati semua kendaraan.

Untuk itu diimbau, bagi warga Kabupaten Inhu yang tidak berurusan penting agar menunda perjalanan melewati Jalan Lintas Timur KM 183. “Kepada pengendara antar kota dan antar provinsi hendaknya selalu waspada dan hati-hati,” harapnya.

Dalam pada itu, Kepala KPBD Inhu, Mulyadi S Sos mengatakan bahwa, debit air Sungai Indragiri sejak beberapa hari belakangan ini terus turun. ‘’Alhamdulillah, debit air Sungai Indragiri sudah jauh surutnya,” ucapnya.

Luapan air Sungai Indragiri sebutnya, hanya berdampak di Kecamatan Kuala Cenaku atau wilayah paling hilir Kabupaten Inhu.

“Debit air Sungai Indragiri sudah mencapai 6,78 meter atau berkurang 15 centimeter. Bahkan di bagian hulu sudah ada yang berkurang mencapai 30 cm,” terangnya.(sol/amn/kas/das)

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

 

 

Berita Lainnya

Terbaru

Terpopuler

Trending Tags

Rubrik dicari