AGAKNYA memang tetap mesti disyukuri bahwa koran, tepatnya di edisi akhir pekan, memberi ruang pemuatan bagi karya sastra. Akan tetapi, ketika dicermati dengan lebih teliti, akanlah tampak serangkaian persoalan yang didatangkan dan esai ini hendaklah menunjuk-buktikan hal tersebut; serta menelusuri apa-apa yang membersamai. Meski demikian, esai ini tidaklah hendak menyoal legitimasi pemuatan dan kualitas; walaupun hal demikian sebenarnya juga kentara masuk pada apa yang disebut persoalan. Di samping itu, esai ini menyadari bahwa menyoal legitimasi dan kualitas memerlukan pembacaan yang lain dan yang lebih dalam. Hal demikian ditakutkan akan membuat esai ini kehilangan fokusnya.
Seperti yang jamak diketahui, beberapa harian, dari tataran lokal hingga nasional, di Indonesia, hampir memiliki halaman atau lembar kebudayaan yang di dalamnya termuat puisi, cerpen, dan esai—serta beberapa lipuran kesusastraan. Corak koran yang padat dan lekas tentulah menjadi suatu hal yang melekat dan terbawa sehingga memengaruhi puisi, cerpen, dan esai yang masuk. Hal semacam inilah yang sebenarnya membawa muatan ganda yang menjadi keuntungan, tetapi juga persoalan—di dalam kasus sastra!
Secara sederhana, baik disadari atau tidak, pengertian dan puitika sastra di publik dibangun koran. Ambillah contoh, kebanyakan terbiasa pada pengertian cerita pendek yang berentang 750—1.500 kata; juga bahwa esai tidak jauh beda dengan ukuran rentang cerita pendek. Hal barusan barulah pada tataran panjang-ukuran ruang. Karenanya, betapa publik di Indonesia jadi asing dengan puisi panjang, esai panjang, dan cerita pendek yang panjang. Padahal, ambillah kasus cerpen, ketika membuka kamus, akanlah didapati bahwa sebuah cerita masih bisa disebut cerpen ketika belum melebihi 10.000 kata! Hal yang demikian belumlah pula bila ditambah persoalan—sebab keterbatasan—publik sastra (di) Indonesia menjadi asing dengan genre sastra semacam naskah drama. Ya, memang ganjil pula teks dramatik tampil di halaman kebudayaan. Tentu, pernyataan barusan bisa dicurigai pula sebab kelumrahan tadi. Pada persoalan yang semacam ini baru bisa diajukan tanya: Apa koran memang harus memberi ruang pemuatan?
Persoalan yang baru saja disampaikan pun masihlah perkara ruang dan belum pada isi serta muatan karya. Akan tetapi, esai ini hendaklah menegaskan bahwa ruang atau bentuk dan isi tidaklah bisa genap dipisahkan. Contoh persoalan lain, yang diberi lembar kebudayaan pada sastra (di) Indonesia, adalah asingnya pembaca dan penulis pada tema-tema tertentu. Hal itu bisa ditelusuri kembali dari corak koran tadi: aktual. Cerpen atau puisi yang tayang adalah yang aktual dan sejenis itu dan hal-hal yang tak aktual hanya menjadi variasi. Andai berpijak pada realisme, tentulah realisme yang lekas. Bahkan, membawa pemahaman bahwa realisme itu adalah yang demikian, padahal realisme pun memiliki cakupan yang luas pula. Penulis-penulis pun—sebab ingin tayang di media—, baik keperluan finansial atau lainnya, memilih untuk mengangkat tema atau corak yang demikian.
Akan tetapi, apakah yang demikian salah dan keliru atau tidak bolehkah koran melakukan kebijakan yang demikian? Agaknya tidak. Esai ini tidaklah hendak menggugat koran atau sejenisnya—toh amatlah mungkin esai ini tayang di sebuah harian akhir pekan. Corak padat dan aktual atau sejenisnya pun tidak mutlak membawa keburukan sebab bisa pula dijumpai bahwa pengarang-penyair yang bersiasat dengan ruang demikian pun membawa pada karya yang amat padat dan penuh siasat. Namun kembali, mestilah ada dan diadakan media yang bisa dipakai untuk menguji bentuk-bentuk yang lebih panjang dan bahkan eskperimental. Oleh karena itu, esai ini sebenarnya hendak mengingatkan kembali bahwa publik sastra (di) Indonesia membutuhkan majalah atau jurnal sastra. Sebab itu pula, esai ini tidak memunculkan opsi media yang memberikan ruang pemuatan secara cuma-cuma tanpa kurasi. Tentu saja, kita juga paham bahwa pada kurun yang semacam ini untuk membuat dan mengadakan majalah sastra yang cetak bukanlah hal sederhana, bahkan, malah suatu langkah yang dilimpahi susah. Oleh karena itu, esai ini menaruh minat dan seruan pula pada laman atau halaman daring yang fokus dan memang menyediakan diri pada pemuatan karya. Namun, perlulah lekas ditambahkan, bahwa laman atau halaman daring tersebut mestilah menawarkan suatu puitika ataupun dramaturgi yang lain: yang seminimalnya memungkinkan karya panjang dan serangkaian ujud eksperimental. Bukankah agak disayangkan apabila laman internet yang memiliki ruang luas dan berbagai kemungkinan eksperimental hanya hadir sebagai ruang koran digital? Bukankah bentuk-bentuk baru bisa diuji coba dan dipublikasikan dengan lebih menarik dan luas?
Lalu, tidaklah boleh dilupakan pula, ruang bagi kritik! Sebab keterbatasan ruang dan sejenisnya yang telah disampaikan di muka tulisan, betapa asing pula publik kita pada tulisan kritik yang panjang—dan terbiasa hanya pada ulasan singkat dan resensi-resensi. Oleh karena itu, diperlukan pula media untuk menampung dan juga menyebarkan kritik yang lebih panjang tersebut. Tentu, dalam hal ini, yang dimaksud adalah kritik yang cair dalam bentuk esai atau sejenisnya—sebab bila dalam bentuk formal dan kaku, jurnal-jurnal tentulah menyediakan diri paling depan—meski soal keterbacaan menjadi persoalan tersendiri pula.
Sebagai penutup, esai ini, sekali lagi, tidaklah hendak menyalahkan dan mengutuki—sebab ruang yang padat pun perlu pula. Esai ini lebihlah ingin hadir sebagai upaya mengimbau, memunculkan ruang-ruang yang bisa lebih memperbanyak kemungkinan sehingga amatlah mungkin beberapa pembaca akan berpikir: mengapa harus di koran, majalah, dan juga laman internet untuk memublikasikan karya, mengapa tidak langsung menjadi buku saja? Betapa hal yang demikian memanglah mungkin dan bisa, tetapi ada pula ruang pada koran atau media seperti majalah dan laman lebih mudah lekas menyentuh pembaca—di samping ada imbalan finansial secara agak lebih lekas—atau bila persoalan yang demikian masih dirasa janggal sebagai sebuah jawaban, tentulah dibutuhkan ruang maupun platfom untuk mengujinya sebelum hadir kepada publik dalam bentuk yang kokoh seperti buku.***
Polanco S. Achri (Mahasiswa Magister Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)



